Perbankan
Kredit Perbankan Tumbuh 13,69 Persen, Cetak Rekor Tertinggi dalam 10 Tahun!
MEDIABUMN.COM, Jakarta – Kredit perbankan Indonesia menunjukkan pertumbuhan impresif sebesar 13,69 Persen secara tahunan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut pencapaian tersebut sebagai pertumbuhan tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir.
Capaian ini menjadi sinyal positif bagi ketahanan industri keuangan nasional sekaligus memperkuat optimisme terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan perkembangan tersebut dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) 2026.
Acara tersebut berlangsung di Jakarta, Kamis (22/10/2026), dengan fokus memperluas akses keuangan serta mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.
Friderica menilai ekspansi kredit mencerminkan kemampuan sektor perbankan dalam menjaga fungsi intermediasi di tengah tantangan ekonomi global.
Pertumbuhan pembiayaan tersebut juga memberikan modal penting bagi dunia usaha untuk memperluas investasi, meningkatkan produksi, dan mengembangkan kegiatan ekonomi.
Menariknya, pencapaian ini berlangsung ketika berbagai negara menghadapi ketidakpastian geopolitik, tekanan inflasi, serta tingkat suku bunga global yang relatif tinggi.
Kredit Perbankan Tumbuh Solid, Peluang Ekonomi Nasional Semakin Besar
Selain mencatat pertumbuhan kredit yang kuat, industri perbankan nasional menunjukkan kemampuan penghimpunan dana masyarakat yang semakin solid.
OJK melaporkan dana pihak ketiga (DPK) telah mencapai sekitar Rp10.400 triliun dengan pertumbuhan dua digit.
Kondisi tersebut mencerminkan kapasitas pendanaan perbankan yang tetap kuat untuk menopang kebutuhan pembiayaan masyarakat dan sektor produktif.
Sementara itu, data resmi OJK sebelumnya mencatat total penyaluran kredit sebesar Rp9.178 triliun pada Agustus 2026.
Dalam laporan tersebut, pertumbuhan kredit mencapai 13,65 Persen secara tahunan. Kredit investasi mencatat ekspansi tertinggi sebesar 25,11 Persen.
Kredit modal kerja juga tumbuh 11,45 Persen, sedangkan kredit konsumsi meningkat 5,07 Persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perkembangan ini menunjukkan aktivitas pembiayaan terus bergerak, terutama untuk mendukung investasi dan kebutuhan operasional perusahaan.
Dari sisi ketahanan industri, OJK menilai permodalan perbankan tetap kuat dan kualitas kredit masih terjaga.
Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga kesehatan perbankan.
Dengan pengelolaan risiko yang baik, pertumbuhan kredit berpotensi memberikan kontribusi lebih luas terhadap aktivitas ekonomi nasional.
Namun, perbankan tetap perlu menjaga kualitas pembiayaan agar ekspansi usaha berjalan seimbang dengan kemampuan pembayaran debitur.
OJK juga terus memperkuat pengawasan terhadap ribuan lembaga jasa keuangan dari berbagai sektor industri.
Langkah tersebut bertujuan menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan.
Selain itu, peningkatan akses pembiayaan formal berpeluang membantu UMKM mengembangkan usaha dan memperluas kesempatan kerja.
Ke depan, pertumbuhan kredit yang sehat dapat menjadi salah satu penggerak investasi, produktivitas, serta konsumsi rumah tangga.
Dengan dukungan likuiditas, permodalan, dan pengawasan yang kuat, sektor perbankan berpeluang memperbesar kontribusi terhadap pembangunan ekonomi Indonesia. []


