Connect with us

Ekonomi Review

Jurus Menkeu Suahasil Racik APBN untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen

Berita BUMN Terbaru

Published

on

Menkeu Suahasil

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkap strategi pemerintah dalam mengoptimalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. APBN tidak hanya berfungsi sebagai instrumen menjaga stabilitas, tetapi juga menjadi penggerak konsumsi, investasi, dan aktivitas ekonomi.

Menurut Suahasil, kondisi ekonomi global yang penuh tantangan membutuhkan kebijakan fiskal yang fleksibel. Pemerintah harus mampu menyesuaikan strategi anggaran agar tetap menjaga perlindungan masyarakat sekaligus mempercepat pertumbuhan.

“Di tengah dunia yang makin bergejolak, kebijakan fiskal harus adaptif dan mampu menyesuaikan kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujar Suahasil.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen pada 2027. Untuk mencapai sasaran tersebut, kebijakan fiskal perlu berjalan bersama dengan peningkatan investasi, kontribusi sektor swasta, serta dukungan kebijakan moneter.

Menkeu Suahasil Dorong APBN Adaptif Lewat Investasi dan Reformasi Fiskal

Salah satu strategi utama pemerintah adalah memperkuat investasi sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Suahasil menyebut investasi pada semester I 2026 tumbuh 6,87 persen.

Ke depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan investasi sekitar 7 persen atau lebih. Peningkatan investasi tersebut diharapkan mampu memperkuat kapasitas produksi nasional dan membuka peluang usaha baru.

Dari sisi pengelolaan anggaran, pemerintah terus mendorong APBN agar lebih responsif terhadap kebutuhan ekonomi. Hingga akhir Agustus 2026, realisasi belanja negara telah mencapai 59,7 persen dari pagu anggaran.

Sementara itu, pendapatan negara mencapai 65,2 persen dari target. Suahasil menilai belanja negara harus memberikan dampak nyata bagi perekonomian dengan tetap mengedepankan prinsip efisiensi.

Pada sektor penerimaan, pemerintah memperkuat kepatuhan pajak dan memperluas basis wajib pajak. Optimalisasi sistem Coretax juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan efektivitas administrasi perpajakan.

Pemerintah berharap strategi tersebut mampu memperkuat penerimaan negara sekaligus memperbaiki rasio pajak atau tax ratio.

Selain meningkatkan penerimaan, pemerintah tetap menggunakan insentif perpajakan untuk menjaga aktivitas ekonomi. Nilai tax expenditure pada 2026 diperkirakan mencapai Rp576 triliun atau sekitar 2,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Menurut Suahasil, insentif pajak bukan hanya mengurangi penerimaan negara dalam jangka pendek. Kebijakan tersebut juga bertujuan menjaga daya beli masyarakat, meningkatkan konsumsi, dan mendorong investasi.

Di sisi investasi strategis, pemerintah juga memanfaatkan peran Danantara sebagai katalis pertumbuhan. Suahasil menjelaskan Danantara bukan bagian dari APBN, tetapi dapat mempertemukan potensi investasi BUMN dengan sektor swasta.

Langkah tersebut diarahkan untuk mempercepat investasi pada sektor prioritas yang memiliki dampak besar terhadap perekonomian.

Untuk menjaga kesehatan fiskal, pemerintah tetap menjaga tingkat defisit APBN. Defisit APBN 2026 diproyeksikan berada di sekitar 2,85 persen terhadap PDB.

Sementara itu, Rancangan APBN 2027 menargetkan defisit lebih rendah, yaitu 2,4 persen terhadap PDB. Pemerintah ingin menjaga keseimbangan antara ekspansi ekonomi dan keberlanjutan fiskal.

Suahasil menegaskan APBN yang sehat menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan dunia usaha. Stabilitas fiskal memberikan kepastian bagi pelaku usaha dalam menjalankan investasi dan ekspansi bisnis.

Melalui kombinasi reformasi penerimaan, efisiensi belanja, penguatan investasi, dan pengelolaan pembiayaan, pemerintah optimistis APBN dapat menjadi fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. []

Continue Reading