Ekonomi Review
Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 Dipangkas Jadi 5,5%, Ekonomi Nasional Masih Tangguh?
MEDIABUMN.COM, Jakarta – Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 menghadapi penyesuaian proyeksi setelah Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mencermati tekanan ekonomi global. Meski demikian, pemerintah tetap optimistis terhadap ketahanan ekonomi nasional.
KSSK memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,4–5,5% sepanjang 2026. Perkiraan tersebut lebih rendah daripada proyeksi Agustus sebesar 5,6–6,0%.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan penyesuaian tersebut dalam konferensi pers KSSK di Jakarta, Selasa (3/11/2026).
Menurut Suahasil, perekonomian domestik masih memiliki fondasi kuat meskipun ketidakpastian global terus meningkat.
Permintaan masyarakat, investasi, dan ekspor menjadi sejumlah faktor penting yang menopang aktivitas ekonomi Indonesia.
Pemerintah juga terus mengoptimalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menjaga daya beli masyarakat.
Melalui kebijakan fiskal, pemerintah mempertahankan subsidi, perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan, dan berbagai program penciptaan lapangan kerja.
Langkah tersebut bertujuan mengurangi dampak gejolak ekonomi sekaligus menjaga konsumsi rumah tangga.
Pertumbuhan Ekonomi RI 2026 Tetap Ditopang Konsumsi, Investasi, dan Ekspor
KSSK menilai aktivitas ekonomi nasional masih menunjukkan perkembangan positif melalui sejumlah indikator penting.
Pada September 2026, penjualan mobil meningkat 28,1% secara tahunan. Sementara itu, penjualan sepeda motor tumbuh 15,4%.
Pertumbuhan tersebut memberikan gambaran mengenai aktivitas konsumsi masyarakat yang masih bergerak di tengah tekanan ekonomi.
Sektor manufaktur juga menunjukkan perkembangan positif melalui peningkatan Purchasing Managers’ Index (PMI).
PMI manufaktur Indonesia naik dari kisaran 52 pada September menjadi 54 pada Oktober 2026.
Angka di atas 50 menandakan aktivitas manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.
Selain konsumsi, pemerintah mengandalkan investasi melalui pembangunan infrastruktur dan pengembangan industri hilirisasi.
Kegiatan tersebut berpotensi menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja, dan meningkatkan kapasitas produksi nasional.
Dari sisi perdagangan internasional, ekspor nonmigas masih memberikan kontribusi positif terhadap aktivitas ekonomi.
Permintaan komoditas global dan perkembangan harga ekspor turut mendukung peluang pertumbuhan perdagangan Indonesia.
Namun, KSSK tetap mewaspadai kenaikan harga energi dunia, konflik geopolitik, serta kebijakan moneter global yang ketat.
Tekanan terhadap nilai tukar dan likuiditas domestik juga membutuhkan perhatian otoritas ekonomi.
Karena itu, pemerintah memperkuat koordinasi bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan.
Kolaborasi tersebut bertujuan menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pembiayaan kegiatan ekonomi produktif.
Pemerintah juga memperkuat sinergi bersama Danantara untuk meningkatkan investasi dan menciptakan pertumbuhan ekonomi bernilai tambah.
Meski proyeksi mengalami penurunan, revisi tersebut tidak berarti perekonomian Indonesia mengalami kontraksi.
Perkiraan 5,4–5,5% tetap menunjukkan pertumbuhan positif, meskipun lebih moderat daripada target sebelumnya.
Ke depan, keberhasilan menjaga konsumsi, memperluas investasi, dan meningkatkan ekspor akan menjadi faktor penting bagi pencapaian target ekonomi.
Dengan koordinasi kebijakan yang konsisten, Indonesia berpeluang mempertahankan stabilitas sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang. []


