Connect with us

Konstruksi & Properti

Utang BUMN Karya dan Risiko Kredit, Seberapa Besar Dampaknya ke Himbara?

Berita BUMN Terbaru

Published

on

utang BUMN Karya

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Rencana perpanjangan pembayaran Utang BUMN Karya menjadi perhatian industri perbankan nasional. Kebijakan tersebut dapat memberi ruang bagi perusahaan konstruksi negara. Namun, langkah itu juga membawa risiko bagi bank-bank Himbara yang memiliki eksposur pembiayaan terhadap proyek infrastruktur.

Bank Mandiri menjadi salah satu bank dengan pembiayaan besar kepada ekosistem pemerintah dan BUMN. Hingga Juni 2026, kredit Bank Mandiri kepada segmen tersebut mencapai Rp489 triliun. Nilainya tumbuh 41,6% secara tahunan.

Corporate Secretary Bank Mandiri Adhika Vista mengatakan perseroan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian. Bank juga akan menilai kondisi setiap debitur sebelum mengambil keputusan terkait restrukturisasi.

“Kami akan melakukan assessment secara komprehensif. Setiap langkah mempertimbangkan kondisi debitur dan ketentuan yang berlaku,” ujar Adhika.

Utang BUMN Karya Jadi Perhatian Bank Himbara

Bank Mandiri mencatat kualitas aset tetap terjaga hingga Juni 2026. Rasio NPL bank only berada pada level 0,98%. Sementara itu, NPL coverage mencapai 242%.

Kondisi berbeda terlihat pada BTN. Eksposur BTN terhadap BUMN Karya relatif terbatas. Kredit infrastruktur kepada kelompok tersebut hanya mencapai 0,97% dari total kredit korporasi.

Direktur Corporate Banking BTN Helmy Afrisa Nugroho mengatakan BTN terus memantau kebijakan pemerintah. Perseroan juga berkoordinasi dengan Danantara terkait penyelesaian pembiayaan infrastruktur.

BTN menyiapkan pencadangan berdasarkan kualitas kredit dan kemampuan bayar debitur. Bank juga mempertimbangkan arus kas proyek, kondisi agunan, serta prospek usaha.

Jika pemerintah memperpanjang pembayaran, BTN akan melakukan kajian menyeluruh. Restrukturisasi harus memperbaiki kemampuan bayar. Langkah tersebut tidak boleh sekadar menunda kewajiban.

Sementara itu, BNI mencatat pertumbuhan kredit kepada perusahaan BUMN. Hingga semester I-2026, penyalurannya mencapai Rp241,7 triliun. Angka tersebut tumbuh 49,98% secara tahunan.

Ekonom Indef M. Rizal Taufikurahman menilai perpanjangan tenor dapat memberi ruang napas bagi BUMN Karya. Namun, risiko kredit tetap ada. Risiko tersebut hanya bergeser ke periode berikutnya.

Menurut Rizal, masalah dapat muncul jika kemampuan bayar debitur tidak membaik. Bank berpotensi meningkatkan CKPN ketika risiko kredit naik. Kondisi tersebut akhirnya dapat menekan laba dan permodalan.

Ia menilai restrukturisasi masih layak jika proyek memiliki prospek kuat. Proyek juga harus memiliki arus kas dan sumber pembayaran yang jelas.

Restrukturisasi berulang tanpa perbaikan fundamental justru dapat menciptakan moral hazard. Bank juga berisiko menghadapi tekanan untuk mempertahankan pembiayaan kepada debitur bermasalah.

Head of Research and Product Development LPPI Trioksa Siahaan berpandangan serupa. Menurutnya, restrukturisasi harus selektif dan berbasis prospek proyek.

Solusi tidak cukup melalui perpanjangan tenor. BUMN Karya perlu melakukan restrukturisasi neraca secara menyeluruh. Strateginya dapat mencakup penjualan aset noninti, tambahan modal, dan pengalihan aset strategis melalui Danantara.

Dengan pendekatan tersebut, penyelesaian Utang BUMN Karya dapat berjalan tanpa mengganggu kesehatan Himbara. Bank tetap perlu menjaga kualitas aset dan kapasitas pembiayaan sektor produktif. Keseimbangan ini menjadi kunci agar restrukturisasi memberi solusi jangka panjang, bukan sekadar menunda risiko. []

Continue Reading