Connect with us

Energi & Tambang

Pendapatan ANTAM Capai Rp50,39 Triliun dari Penjualan Emas 18,1 Ton

Berita BUMN Terbaru

Published

on

Pendapatan ANTAM

MEDIABUMN.COM, Jakarta – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencatat kinerja positif pada semester I 2026. Bisnis emas menjadi salah satu penggerak utama pendapatan perseroan sepanjang enam bulan pertama tahun ini.

Antam membukukan penjualan emas sekitar 18,1 ton. Nilai penjualan tersebut mencapai sekitar Rp50,39 triliun. Kontribusi itu memperkuat posisi emas dalam portofolio bisnis perseroan.

Secara total, Antam mencatat pendapatan Rp62,71 triliun pada semester I 2026. Perseroan juga membukukan laba bersih sebesar Rp6,91 triliun.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Antam Arini Kasmira mengatakan bisnis emas memberikan kontribusi positif. Perseroan akan terus mencermati perubahan pasar komoditas.

Antam juga menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat bisnis logam mulia. Langkah tersebut mencakup penguatan pasokan bahan baku, pengolahan, manufaktur, dan akses pasar.

Pendapatan ANTAM Ditopang Kuatnya Bisnis Emas

Besarnya kontribusi emas terlihat dari struktur penjualan perseroan. Dari total pendapatan Rp62,71 triliun, sekitar Rp50,39 triliun berasal dari bisnis emas.

Angka tersebut menunjukkan peran strategis emas bagi kinerja Antam. Perseroan tetap perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan penjualan dan ketersediaan pasokan.

Untuk memperkuat kapasitas produksi, Antam menyiapkan fasilitas manufaktur Logam Mulia di Gresik. Proyek tersebut masih berada dalam tahap prakonstruksi.

Fasilitas itu memiliki proyeksi kapasitas sekitar 30 ton per tahun. Pengembangan tersebut akan memperkuat kemampuan manufaktur sekaligus mendukung kebutuhan pasar emas.

Di luar emas, Antam tetap mengembangkan bisnis berbasis nikel dan bauksit. Strategi ini menjadi bagian dari upaya menjaga diversifikasi portofolio komoditas.

Pada bisnis nikel, Antam mencatat produksi bijih sekitar 7,78 juta wet metric ton (wmt). Volume penjualan mencapai sekitar 6,77 juta wmt sepanjang semester I 2026.

Seluruh penjualan bijih nikel tersebut menyasar kebutuhan pasar domestik. Perseroan juga terus mendorong pengembangan hilirisasi nikel.

Rantai bisnis nikel Antam mencakup pertambangan hingga pengolahan. Perseroan mengembangkan fasilitas RKEF dan HPAL serta material baterai.

Pengembangan tersebut mendukung pembentukan ekosistem baterai kendaraan listrik. Antam melihat hilirisasi sebagai bagian penting dari strategi pertumbuhan jangka panjang.

Pada komoditas bauksit, perseroan juga memperkuat integrasi rantai nilai. Bisnis tersebut mencakup kegiatan pertambangan hingga produksi alumina.

Antam memiliki tambang bauksit di Tayan, Kalimantan Barat. Perseroan juga mengoperasikan fasilitas Chemical Grade Alumina (CGA) melalui PT Indonesia Chemical Alumina.

Fasilitas tersebut memiliki kapasitas terpasang sekitar 300 ribu ton per tahun. Penguatan rantai nilai diharapkan meningkatkan kontribusi bauksit terhadap portofolio perseroan.

Dengan kinerja emas yang kuat, Antam memiliki basis pendapatan yang solid. Namun, perseroan tetap perlu menjaga diversifikasi melalui nikel dan bauksit.

Strategi tersebut penting untuk menghadapi perubahan harga komoditas. Pada saat yang sama, penguatan hilirisasi dapat membuka sumber pertumbuhan baru bagi Antam. []

Continue Reading