Connect with us

Energi & Tambang

Pertamina Tingkatkan Daya Saing Homestay Lokal Sambut MotoGP Mandalika 2026

Berita BUMN Terbaru

Published

on

homestay

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit tak hanya menjadi magnet bagi wisatawan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat di sekitar kawasan.

Salah satunya dirasakan para pelaku homestay di Desa Kuta, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), yang mengalami peningkatan menjelang balapan puncak yang diselenggarakan pada 9-11 Oktober 2026.

Pertamina hadir bukan hanya mendukung ajang balapan saja, namun juga mendukung pariwisata termasuk mengembangkan homestay. Tak hanya memberikan dampak ekonomi secara langsung, kehadiran Pertamina Grand Prix Of Indonesia juga mendorong masyarakat setempat meningkatkan kualitas pelayanan kepada wisatawan. Pertamina bersama Universitas Mataram (Unram) memberikan pelatihan hospitality, manajemen homestay, hingga kemampuan berbahasa Inggris bagi para pengelola dan pekerja homestay.

Corporate Secretary Pertamina Arya Dwi Paramita mengatakan, penguatan kapasitas masyarakat tersebut merupakan bagian dari upaya Pertamina agar keberadaan event sport tourism di Mandalika memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat sekitar. Desa Kuta, Lombok merupakan wilayah yang berada paling dekat dengan Pertamina Mandalika International Circuit. Karena itu, masyarakat Ring 1 menjadi salah satu perhatian Pertamina untuk ikut mendukung keberlangsungan event sekaligus mendapatkan manfaat ekonominya.

“Kita melihat ada beberapa kegiatan. Yang pertama adalah kita membantu memberdayakan masyarakat untuk bisa mengelola sampah. Kemudian yang kedua adalah bagaimana masyarakat di sini bisa membantu melayani wisatawan dengan baik,” ujar Arya.

Selain pelatihan hospitality dan bahasa Inggris, Pertamina juga membantu masyarakat mengembangkan pengelolaan sampah melalui bank sampah. Sampah anorganik dapat diolah menjadi produk bernilai tambah seperti kerajinan dan tas, sementara sampah organik dimanfaatkan menjadi pupuk.

Pertamina juga mendukung pengumpulan sampah dengan menyediakan sepeda motor listrik. Kendaraan tersebut mendapat pasokan energi dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kWp yang terpasang di Balai Desa Kuta, serta rumah baterai berkapasitas 20 kWh yang berfungsi sebagai sumber pengisian daya. Program tersebut menjadi bagian dari Desa Energi Berdikari Pertamina yang menggabungkan edukasi mengenai potensi energi, pemanfaatan energi, hingga pengembangan aktivitas ekonomi masyarakat berbasis energi bersih.

Arya berharap berbagai program tersebut dapat membuat manfaat Pertamina Grand Prix Of Indonesia tidak berhenti ketika balapan selesai. Sebab, menurutnya, wisatawan tidak hanya datang ketika event berlangsung, tetapi juga berkunjung ke Mandalika sepanjang tahun.

“Event tahunan ini tidak setiap hari, tapi turis yang datang ke sini kan setiap hari. Artinya mereka juga bisa mengelola itu menjadi hal yang menarik. Nah, ini yang tentunya kita latih dan kita edukasi sekarang,” tuturnya.

Salah satu pemilik homestay, Bani, mengatakan peningkatan permintaan kamar mulai terasa dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut terjadi di tengah tren pariwisata yang biasanya mulai menurun pada Oktober. Menurutnya, kehadiran Pertamina Grand Prix Of Indonesia membuat tingkat hunian homestay di Kuta dan sekitarnya justru meningkat signifikan.

“Dengan adanya Pertamina Grand Prix Of Indonesia ini karena demand yang begitu banyak, jadi kita menaikkan sedikit harga dari harga pada umumnya. Dalam satu minggu terakhir ini peningkatan jumlah okupansi pada homestay sangat tinggi untuk seluruh wilayah Kuta dan sekitarnya,” ujar Bani, pemilik Mong Bungalows.

Pada kondisi normal, tarif kamar di homestay miliknya berkisar Rp350 ribu hingga Rp500 ribu per malam, tergantung musim. Namun, tingginya permintaan selama periode MotoGP membuat tarif mengalami penyesuaian.

Bani mengapresiasi program tersebut karena memberikan tambahan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola homestay secara lebih profesional. Terlebih, sebagian pengelola homestay tidak memiliki latar belakang pendidikan pariwisata.

“Dengan adanya program ini, kami sebagai owner memiliki keahlian yang tersertifikasi dan juga bisa meningkatkan mutu dari homestay kami, baik pelayanan maupun tata kelola homestay yang lebih profesional,” katanya.

Bagi pelaku homestay lainnya, dampak ekonomi yang dirasakan bahkan lebih besar. Reddy Mardani atau Dani, perwakilan Mango Room Mandalika, mengatakan harga kamar yang biasanya dipatok sekitar Rp600 ribu per malam meningkat hingga Rp2 juta selama gelaran Pertamina Grand Prix Of Indonesia. Seluruh kamar yang ditawarkan dengan harga tersebut pun laku terjual.

“Walaupun event-nya hanya tiga hari, kami bisa menjualnya mungkin tiga kali lipat. Kami menjual dengan harga Rp2 juta per malam dan itu laku semua,” kata Dani.

Menurut Dani, peningkatan kunjungan wisatawan tidak hanya memberikan keuntungan bagi pemilik akomodasi. Para pekerja lokal, pelaku kuliner, UMKM, hingga masyarakat yang menyediakan berbagai jasa ikut merasakan perputaran ekonomi dari event olahraga internasional tersebut.

Ia menyebut, sejak Pertamina Grand Prix Of Indonesia digelar di Mandalika pada 2021, jumlah wisatawan yang datang ke kawasan Kuta mengalami peningkatan setiap tahunnya, terutama wisatawan mancanegara. Kondisi tersebut membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal.

“Semua pekerja kami pekerja lokal. Dengan adanya banyak akomodasi yang tercipta di Kuta Mandalika ini, kami berterima kasih karena sudah menyediakan wadah untuk kami bekerja. Semoga gelaran balapan ini bisa terus ada setiap tahunnya agar kita juga mendapat dampak ekonomi yang baik,” tutupnya.

Continue Reading