Manufaktur
Babak Baru Penyelamatan Industri Baja Nasional, Ini Seruan Krakatau Steel
MEDIABUMN.COM, Jakarta – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mendorong pemerintah segera menata struktur pasar guna memperkuat daya saing Industri Baja Nasional. Langkah ini dinilai krusial di tengah tekanan global yang semakin kompleks, mulai dari dominasi pasokan bahan baku hingga banjir produk impor dengan harga agresif.
Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, menegaskan bahwa industri baja nasional membutuhkan ekosistem persaingan yang sehat agar mampu tumbuh secara berkelanjutan. Menurutnya, pasar yang tidak seimbang akan melemahkan fondasi industri dan menggerus kapasitas produksi dalam negeri.
Penataan pasar domestik, pengendalian impor, serta kebijakan protektif yang terukur dinilai menjadi kunci untuk menjaga ketahanan sektor baja. Tanpa dukungan regulasi yang tepat, industri nasional akan semakin tertekan, sementara potensi nilai tambah justru mengalir ke luar negeri.
Menata Pasar Industri Baja Nasional
Struktur pasar baja global saat ini menunjukkan ketimpangan yang sistemik. Konsentrasi pasokan bahan baku di tangan segelintir pemain besar, kelebihan kapasitas produksi di sejumlah negara, serta kebijakan perdagangan agresif menciptakan tekanan besar bagi produsen baja nasional. Kondisi ini menjadikan mekanisme pasar murni tidak lagi cukup untuk melindungi industri strategis.
Krakatau Steel menilai pengalaman internasional dapat menjadi referensi, terutama dalam memahami pentingnya peran negara dalam mengoreksi distorsi pasar. Meski tidak perlu meniru kebijakan negara lain secara mentah, pendekatan berbasis diagnosis struktural dinilai relevan untuk konteks Indonesia.
Pengamat Industri Baja dan Pertambangan dari Steel & Mining Insights, Widodo Setiadharmaji, menilai dominasi perusahaan tambang global atas pasokan bijih besi telah melemahkan posisi tawar produsen baja di banyak negara. Ketika struktur pasar mengalami distorsi, peran negara menjadi penting untuk menjaga keseimbangan dan keberlanjutan industri domestik.
Ia mencontohkan kebijakan China yang membentuk lembaga konsolidasi pengadaan bahan baku strategis sebagai langkah korektif terhadap kegagalan mekanisme pasar. Pendekatan ini bertujuan memperkuat posisi tawar industri baja dan menjaga stabilitas pasokan.
Dalam konteks Indonesia, tekanan tidak hanya datang dari sisi bahan baku, tetapi juga dari derasnya arus impor baja. Produk impor yang masuk dengan harga kompetitif menekan utilisasi kapasitas industri dalam negeri, mengurangi kepastian pasar, dan meningkatkan risiko investasi jangka panjang.
Widodo menilai persoalan daya saing tidak dapat disederhanakan sebagai isu efisiensi internal perusahaan semata. Tanpa penataan struktur pasar, perbaikan operasional hanya memberikan dampak terbatas. Pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang mampu menciptakan iklim persaingan sehat, sekaligus melindungi kepentingan strategis nasional.
Krakatau Steel berharap pemerintah segera merumuskan kebijakan komprehensif yang mencakup pengendalian impor, optimalisasi rantai pasok domestik, serta penguatan industri hulu. Dengan langkah terarah, Industri Baja Nasional diharapkan mampu menjadi pilar utama pembangunan dan mendukung kemandirian ekonomi Indonesia. []


