Waskita Karya Tunda Terbitkan Obligasi Rp3,5 Triliun

oleh
Waskita Karya

Waskita Karya (PT Waskita Karya Tbk / WSKT) dipastikan membatalkan penerbitan obligasi senilai Rp 3,5 triliun. Adapun obligasi tersebut merupakan rangkaian obligasi Berkelanjutan IV perseroan Tahap I Tahun di 2019 yang sebelumnya sudah mendapatkan peringkat A- dari Pefindo (PT Pemeringkat Efek Indonesia).

Direktur Keuangan Waskita Karya, Haris Gunawan mengatakan bahwa sebelumnya pada bulan lalu pihaknya telah menyampaikan kepada publik jika perseroan akan menerbitkan dua tenor obligasi namun dipastikan ditunda.

“Sebelumnya penawaran ini dijadwalkan pada 25 September 2019 tetapi dipastikan kami hold dan kemungkinan akan dilakukan pada tahun 2020,” paparnya.

Haris memastikan jika perseroan akan melakukan konsultasi dengan pihak underwriter. Semula Waskita Karya akan menggunakan dana hasil obligasi tersebut untuk pekerjaan konstruksi bangunan sipil, gedung, Engineering, Procurement and Construction (EPC) serta pembangunan transmisi 500 KV di Sumatera.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, penerbitan obligasi tersebut tercatat pada pos liabilitas atau utang. Pada semester I tahun 2019 Waskita Karya tercatat memiliki utang obligasi jangka pendek sebesar Rp747 miliar serta utang obligasi jangka panjang sebesar Rp12,95 triliun.

Sementara total utang perusahaan BUMN ini mencapai Rp103,79 triliun. Adapun jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 8,6 persen adapbila dibandingkan dengan posisi akhir tahun 2018.

Rasio Utang Waskita Karya

Sebagai informasi tambahan bahwa Moody’s Investors Service pada September lalu mengatakan jika Waskita Karya termasuk perusahaan pelat merah yang masuk dalam kategori risiko utang mengkhawatirkan.

Rasio utang BUMN konstruksi ini terhadap ekuitasnya menurut catatan Moody’s Investors Service mencapai 359,1persen. Adapun nilai ekuitas perseroan pada semester I tahun 2019 tercatat mencapai Rp28,85 triliun.

Berdasarkan data dan penelitian tersebut, Haris menyebut jika perusahaan akan mengandalkan kas masuk dari piutang beberapa proyek untuk menjaga kondisi keuangan tetap sehat.

“Kondisi gearing ratio perusahaan saat ini 2,7 kali,” ujar Haris.

Maka dengan strategi tersebut perseroan, sebut Haris, membidik target gearing ratio di akhir tahun mencapai level 2,3 kali.

“Pada kuartal IV tahun 2019, kami menargetkan menerima pencairan proyek turnkey sebesar Rp21,5 triliun,” tutup Haris. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *