Connect with us
PERTAMINA

Farmasi

Vaksin Covid, Erick Thohir: “Bio Farma Siap Produksi 250 Juta Dosis”

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Vaksin Covid

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Vaksin Covid-19 tampaknya tidak akan lama lagi dapat diproduksi di Indonesia melalui pelat merah PT Bio Farma (Persero).

Hal ini ditegaskan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Menurut Erick pemerintah akan menyiapkan 250 juta dosis vaksin merah-putih.

Bio Farma, imbuh Erick, diketahui memiliki fasilitas vaksin yang sangat baik dan hal ini sudah teruji secara mendunia.

“Bio Farma sangat siap untuk melakukan produksi vaksin covid-19 sebanyak 250 juta dosis, dimana 100 juta dosis tersebut sudah tersertifikasi oleh lembaga BPOM,” jelas Erick.

Lebih lanjut Erick mengatakan bahwa pada periode Maret nanti aka nada tambahan vaksin sebanyak 150 juta dosis yang tentunya juga akan disertifikasi BPOM untuk bisa diproduksi.

Pada pertengahan Januari ini akan tiba bahan baku vaksin sebanyak 5,8 juta dosis, kemudian di Bulan Februari sebanyak 10,4 juta dosis dan pada bulan Maret sebanyak 13,3 juta dosis.

“Tentu hal ini sangat penting untuk dikawal sebaik-baiknya. Pendistribusian harus terkontrol dengan baik,” pungkas Erick.

Untuk mencegah penyalahgunaan vaksin oleh oknum yang ingin mencari keuntungan, maka distribusi vaksin ini akan diberi barcode agar terdata bagi masyarakat yang telah melakukan vaksin covid-19 melalui nomor KTP.

Sementara itu, menurut Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Alexander Marwata, adanya sistem barcode tersebut sangat memudahkan pemerintah dalam melakukan tracking distribusi vaksin tersebut.

“Jadi barcode nantinya langsung terhubung langsung dengan data orang yang disuntik, jadi satu per satu orang akan diketahui siapa yang sudah menerima vaksin” ujarnya.

Adapun pemasangan barcode tersebut akan terpasang pada setiap botol vaksin covid-19. []

Farmasi

Harga Vaksin Covid-19 Mandiri Paling Mahal Rp100 Ribu

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Harga Vaksin

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Harga Vaksin Covid-19 untuk kategori mandiri diusulkan oleh Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) paling mahal Rp100 ribu.

Harga ini dinilai sesuai dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang disebut harga wajar.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Komisi Penelitian dan Pengembangan BPKN Anna Maria Tri Anggraini pada Senin (14/12/2020).

Menurutnya, BPKN sudah beberapa kali melakukan wawancara dengan WHO terkait harga vaksin Covid-19 di pasaran.

Rekomendasi harga vaksin ini menurut Anna juga menyesuaikan kemampuan masyarakat secara umum, sehingga seluruh warga bisa mendapatkan vaksin tersebut.

“Semua masyarakat harus bisa ikut vaksinasi. Baik vaksin bantuan yang digratiskan pemerintah, maupun vaksin berbayar. Jadi kami usulkan harga wajar maksimal Rp100 ribu untuk vaksin mandiri,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Ketua BPKN, Rizal E. Halim yang menyebutkan pihaknya sudah mengirimkan beberapa rekomendasi kepada Kementerian Kesehatan.

Baik itu biaya tes, skema vaksinasi maupun alat kesehatan yangdigunakan harus sesuai Undang Undang Kesehatan.

“Kami merekomendasikan agar penerapannya sesuai UU Kesehatan. Dalam hal ini pemerintah harus bertanggung jawab penuh atas kesehatan masyarakat. Jadi ada beberapa data yang kami sampaikan. Seperti pengaturan harga rapid test, PCR test, swab test,” kata dia.

Rizal juga menyebutkan harga vaksin covid-19 harus ditetapkan berdasarkan kemampuan masyarakat sesuai standar dan nilai keekonomian.

Terkait harga vaksin mandiri, menurutnya, jika diterapkan bagi masyarakat mampu, maka Harga Eceran Tertinggi (HET) harus ditetapkan pemerintah.

Sebelumnya, PT Bio Farma (Persero) menyatakan hingga saat belum melayani pemesanan vaksin Covid-19 untuk jalur mandiri, baik untuk keperluan fasilitas kesehatan maupun untuk perorangan.

Hal ini ditegaskan oleh Bip Farma menyikapi adanya iklan mengenai Pre-Order Vaksinasi Covid-19 yang baru-baru ini beredar di sosial media.

Juru Bicara Bio Farma, Bambang Heriyanto mengatakan, pihaknya sedang mengembangkan sistem distribusi vaksin.

Sistem yang dirancang ini akan digunakan untuk pemesanan vaksin Covid-19, terutama untuk vaksin mandiri.

“Tapi untuk pengaturan teknis dari pemerintah memang belum keluar. Yang terpenting saat ini adalah pelaksanaan vaksinasinya yang masih menunggu izin penggunaan dari BPOM,” kata dia.

Bio Farma Dapat Dana Rp2,68 Triliun

Terkait penyaluran vaksin covid-19, PT Bio Farma (Persero) baru saja mendapat dana segar dari PT Bank Maybank Indonesia Tbk.

Total dana yang diterima Bio Farma untuk pembiayaan vaksin ini mencapai Rp2,68 triliun.

Maybank menjadi bank pertama di Indonesia yang memberikan dukungan dana kepada Bio Farma atas peran pentingnya dalam penanggulangan Covid-19 melalui pengadaan vaksin.

Fasilitas pembiayaan ini disalurkan kepada Bio Farma, melalui beberapa termin, yaitu syariah, musharakah trade financing serta forward hedging.

Diketahui, Bio Farma sedang berupaya memenuhi kebutuhan vaksin dengan target produksi sebanyak 15 juta bulk vaksin di tahap pertama.

Direktur Keuangan dan Mitra Bisnis, PT Bio Farma, I Gusti Ngurah Suharta mengatakan, pihaknya bersama PT Kimia Farma Tbk. dan PT Indofarma (Persero) Tbk. tengah melakukan kegiatan usaha yang berfokus pada penanggulangan pandemi Covid-19.
“Kami berharap kerja sama ini akan berjalan dengan baik agar dapat memulihkan kondisi perekonomian masyarakat dari dampak pandemi,” tutup Suharta. []

Continue Reading

Farmasi

Penerima Vaksin Covid-19 Di Kuartal I 2021 Ditarget 16,5 Juta Orang

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Penerima vaksin

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Penerima vaksin covid-19 dari pemerintah pada kuartal pertama tahun 2021 ditarget mencapai 16,5 juta orang.

Jumlah itu merupakan target minimal dari PT Bio Farma (Persero) selaku BUMN Farmasi yang mengurusi vaksinasi massal tersebut.

Setiap penerima vaksin ini akan mendapatkan dua dosis vaksin covid-19 guna menangkal peredaran virus corona.

Vaksin yang dimaksud yaitu hasil produksi PT Bio Farma maupun vaksin impor dari beberapa negara.

Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir mengatakan, pihaknya berencana memproduksi 30 juta vaksin covid-19 di triwulan pertama tahun depan.

“Dengan penambahan vaksin lainnya, target minimal kita di awal tahun depan sekitar 16,5 juta orang,” ujar Honesti dalam acara konferensi pers, Rabu (9/12/2020).

Untuk itu, PT Bio Farma masih terus mencari akses vaksin lainnya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menurutnya, puncak akses vaksin diperkirakan pada kuartal pertama tahun 2021 karena sebagian besar vaksin yang dikembangkan akan mendapat izin penggunaan darurat.

Penerima Vaksin Mandiri Belum Rampung

Di sisi lain, pemerintah belum menetapkan jumlah penerima vaksin covid-19 untuk kategori mandiri atau berbayar.

Juru Bicara Pemerintah untuk Program Vaksinasi Siti Nadia Tarmizi mengatakan, saat ini, pemerintah masih melakukan perhitungan untuk finalisasi.

“Yang pasti, penerima vaksin ini sudah ditargetkan sebanyak 107,2 juta orang. Setiap penerima vaksin akan mendapat dua dosis, maka total vaksin yang diproduksi mencapai 214,4 juta dosis,” ungkapnya.

Selain itu, pemerintah juga akan menyiapkan vaksin sekitar 15 persen dari total kebutuhan. Artinya akan ada total vaksin sebanyak 246,57 juta dosis.

Siti Nadia mengatakan penerima vaksin akan diprioritaskan untuk beberapa kalangan tertentu, seperti tenaga kesehatan, pelayan publik, dan warga yang rentan.

Sementara untuk vaksin bantuan dari pemerintah akan diberikan gratis kepada warga kurang mampu, terutama kepada peserta BPJS Kesehatan.

Namun jumlah total penerima vaksin gratis juga belum ada kepastian jika mengaku pada jumlah PBI BPJS Kesehatan.

Sebab total peserta PBI BPJS Kesehatan saat ini jumlahnya sangat banyak, mencapai 96,51 juta orang.

Terkait hal ini, pihak manajemen BPJS Kesehatan belum memberikan
Keterangan soal rencana pemberian vaksin covid-19 untuk peserta PBI BPJS.

Karena pihak BPJS juga masih menunggu ketentuan resmi dari pemerintah. []

Continue Reading

Farmasi

Distribusi Vaksin Covid-19 Ditargetkan Mulai Februari 2021

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Distribusi Vaksin

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Distribusi Vaksin Covid-19 ditargetkan mulai berjalan pada bulan Februari 2021 mendatang.

Vaksin yang dimaksud yaitu vaksin Sinovac China yang telah tiba di Indonesia pada Minggu (6/12) sebanyak 1,2 juta dosis.

Selanjutnya PT Bio Farma (Persero) selaku BUMN Farmasi akan melakukan distribusi vaksin tersebut setelah mendapatkan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA).

Sekretaris Perusahaan PT Bio Farma (Persero), Bambang Heriyanto menjelaskan vaksin covid-19 yang sudah diterima sebanyak 1,2 juta vial.

Sebanyak 568 vial di antaranya akan dijadikan sampling uji mutu oleh Bio Farma dan Badan Pengawas Obat Makanan (BPOM) RI.

“Total vaksin CovidVac ini ada 3 juta dosis yang kita impor. Jadi masih ada tambahan 1,8 juta dosis lagi yang akan tiba di akhir Desember atau awal Januari 2021 nanti,” kata Bambang dalam acara virtual, Selasa (8/12/2020).

Menurutnya Bambang, pihaknya juga akan menerima vaksin dalam bentuk bahan baku (bulk) sebanyak 15 juta dosis di akhir bulan ini.

Selanjutnya di bulan Januari 2021, akan ada tambahan 30 juta dosis yang masih berbentuk bahan baku yang kembadi dikirim ke Indonesia.

“Jadi vaksin yang diimpor ke kita ada yang sudahjadi, ada juga yang masih bahan baku. Jadi harganya tentu berbeda dan kami belum bisa menyampaikan nilai totalnya,” kata Bambang.

Terkait jadwal distribusi vaksin ini, ia kembali menjelaskan bahwa pihaknya siap melakukan penyaluran setelah ada izin EUA.

“Yang jelas di Februari kita upayakan sudah jalan. Karena vaksin yang masuk kan sudah dalam bentuk jadi, maka kita tinggal menunggu izin. Sesudah itu, bisa langsung digunakan,” jelasnya.

Terkait harga vaksin Sinovac, menurutnya kisaran harga yang diberikan kepada pemerintah Rp200 ribu per dosis, sementara satu orang membutuhkan dua dosis dengan haraga Rp400 ribu per orang.

Namun, untuk vaksinasi mandiri, Bio Farma belum bisa memerinci kisaran harganya, namun dipastikan berbeda dengan vaksin bantuan dari pemerintah.

Distribusi Vaksin Sinovac & Hasil Uji Klinis

PT Bio Farma juga menyebut bahwa vaksin Sinovac menjadi salah satu dari 6 vaksin paling cepat masuk ke uji klinis tahap tiga.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan, dari sisi metode pembuatan, vaksin itu menggunakan metode inaktivasi yang sudah terbukti pada jenis-jenis vaksin lainnya.

Faktor lainnya yang membuat vaksin ini cepat masuk uji tahap III yaitu sistem mutu yang sudah diakui oleh WHO.

Dalam kerjasama dengan Bio Farma, sambung dia, pihak Sinovac siap melakukan transfer teknologi dalam hal pengujian yang dibutuhkan.

“Pemilihan vaksin sudah diatur untuk memenuhi beberapa faktor penting, seperti keamanan, dan kecepatan. Selain itu khasiat dan mutunya harus terjamin oleh lembaga terkait. Ini harus dapat dibuktikan dari serangkaian pengujian, mulai dari pra klinis, uji klinis I sampai dengan III,” bebernya.

Honesty mengatakan dalam hal ini, PT Bio Farma sudah memiliki pengalaman yang sangat panjang dalam distribusi vaksin, baik untuk kebutuhan pemerintah maupun swasta.

Untuk distribusi vaksin, ia juga menegaskan wajib memperhatikan sistem rantai dingin untuk menjamin kualitas vaksin tetap baik dan layak digunakan. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!