Transformasi Strategis Ala INALUM

by

PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM yang dikenal sebagai Anchor Kawasan Industri Kuala Tanjung telah ditunjuk menjadi Induk Holding Industri Pertambangan pada tanggal 27 November 2017 lalu beranggotakan PT Antam Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Timah Tbk dan 9,36% saham PT Freeport Indonesia sebagai anggota Holding. Dengan ditunjuknya INALUM sebagai induk Holding, INALUM tidak hanya terbatas untuk menggerakkan PLTA nya yang fenomenal dan Pabrik peleburannya yang legendaris tetapi juga diamanahkan untuk menguasai cadangan sumber daya mineral, Hilirisasi produk dan kandungan lokal serta menjadi world class company.

Pada keterangan tertulisnya,  Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama INALUM menjelaskan bahwa INALUM telah menjadi Induk Holding Industri Pertambangan dan beberapa proyek Pengembangan INALUM yang merupakan salah satu proyek strategis nasional terus bertransformasi untuk menjadi perusahaan kelas dunia (Fortune 500).

Saat ini INALUM telah berhasil memproduksi produk turunan aluminium berupa Billet dan Foundry Alloy, melakukan uji coba proyek optimalisasi dan up-grading tungku peleburan, finalisasi studi kelayakan untuk pengembangan smelter baru, ekspansi pelabuhan, pabrik Calcined Petroleum Coke (CPC) bekerjasama dengan Pertamina dan pabrik Slab Sheet dan Wire rod menunjukkan progres yang positif.

Lebih lanjut, untuk mencapai target produksi 1 juta ton aluminium di tahun 2025, INALUM juga berencana untuk melakukan ekspansi pengembangan klaster aluminium di provinsi Kalimantan Utara tepatnya di Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning, yang saat ini tengah finalisasi pra-studi kelayakan dan persiapan lahan.

Pada tahun ini INALUM masih terus mengejar realisasi beberapa proyek pengembangan. Salah satunya yang dikebut adalah adalah proyek Smelter Grade Alumina (SGA) di Mempawah – Kalimantan Barat bersama ANTAM dan investor dari Tiongkok yang ditarget dapat berproduksi secara komersial pada 2020.

Head of Corporate Secretary INALUM, Ricky Gunawan menjelaskan bahwa Kerja keras dan tujuh prinsip bushido yang masih tertanam dalam diri insan INALUM sejak masa Penanaman Modal Asing dulu juga telah berhasil merealisasikan proyek diversifikasi produknya berupa Billet dan Foundry Alloy yang membutuhkan teknologi canggih dengan tepat waktu sejak groundbreaking oleh Presiden RI, Bapak Joko Widodo pada 27 Januari 2015 hingga pengiriman perdananya kepada pelanggan setia pada 23 Juni 2017 yang lalu. Ditargetkan nantinya proyek diversifikasi ini mampu memproduksi 30.000 ton Billet dan 90.000 ton Foundry Alloy per tahun.

Tak hanya itu, untuk mengantisipasi peningkatan kapasitas produksi Aluminium dan produk hilirnya, INALUM sebagai Anchor kawasan industri Kuala Tanjung siap untuk mengembangkan pelabuhannya di Kuala Tanjung.

Sebagaimana diketahui Saat ini INALUM memiliki dan terus mengoperasikan dua dermaga yaitu dermaga A dan dermaga B yang menjorok ke laut sepanjang 2,5 km yang telah beroperasi sejak tahun 1982. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *