Suku Bunga Acuan Turun, Ini Kata BNI

oleh
Suku bunga acuan

Suku bunga acuan kembali diturunkan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 basis poin (bps) sehingga ada di level 5,25 persen. Keputusan BI tersebut merupakan langkah konsisten dalam menyikapi perlambatan pertumbuhan ekonomi karena pengaruh eksternal.

Dari sisi eksternal, perekonomian yang melambat tersebut terjadi karena adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok, Brexit, risiko geopolitik, langkah proteksionisme, penurunan volume perdagangan dunia, serta harga komoditas global.

Penurunan suku bunga acuan BI tersebut juga diikuti oleh turunnya deposit facility sebesar 25 bps menjadi 4,5 persen serta suku bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 6 persen.

SPV Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto menilai langkah bank sentral yang menurunkan suku bunga acuan tersebut sangat tepat. Hal ini, sambungnya, sangat dibutuhkan oleh perbankan serta pelaku sektor riil.

Lebih lanjut Ryan menilai jika hal tersebut sebagai pengaruh dari ekspektasi inflasi yang terkendali, yaitu berada di kisaran 3,3 persen (full year), serta juga sikap dovish beberapa bank sentral di dunia.

“Bahkan ada negara yang memutuskan untuk memiliki negative interest rate seperti Jepang dan Eropa,” tandasanya.

Hal Ini, lanjut Ryan, juga ditengarai sebagai salah satu langkah yang diambil BI untuk mengimbangi langkah The Fed dalam menurunkan fed fun rate (FFR) yang sebesar 25 basis poin (bps) sehingga berada pada level 1,75 persen sampai 2,00 persen.

Suku Bunga Acuan Masih Akan Turun?

Faktor lain yang mempengaruhi keputusan BI dalam menurunkan suku bunga acuan yaitu ruang fiskal oleh pemerintah kementerian dan lembaga yang juga dinilai masih cukup besar, nilai tukar rupiah yang relative stabil, serta untuk menjaga momentum pertumbuhan agar tidak hilang.

Hanya saja, imbuh Ryan, langkah tersebut dinilai belum cukup. Kebijakan BI saat ini dinilai harus juga seimbang dengan kebijakan fiskal serta kebijakan ekonomi dan investasi.

“Ke depannya kami berharap pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) bisa berada pada kisaran 8 persen hingga 10 persen serta diikuti pertumbuhan kredit yang berada pada di kisaran 11 persen hingga 13 persen di tahun ini,” tutup Ryan. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *