Connect with us
PERTAMINA

Agrobisnis & Pangan

Status Perindo Dari Perum Jadi Persero Diresmikan!

Published

on

Status Perindo

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Status Perindo atau Perikanan Indonesia resmi berganti dari sebelumnya Perusahaan Umum (Perum) menjadi Persero.

Perubahan status Perindo ini disahkan oleh Presiden RI Joko Widodo melalui Peraturan Pemerintah nomor 76 tahun 2021.

Perubahan status Perindo ini bertujuan untuk melaksanakan kegiatan dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya perusahaan sesuai dengan prinsip tata kelola perusahaan yang baik.

Dalam aturan terbaru ini, beberapa hal yang terkait kinerja perusahaan ini juga akan berubah sesuai dengan ketentuan perseroan, seperti kekayaan, hak, dan kewajiban serta hubungan perusahaan.

Diketahui, aturan terkait BUMN berstatus Persero dan Perum diatur dalam Undang Undang nomor 19 tahun 2003.

Dalam UU ini, ada perbedaan antara perusahaan yang berstatus Persero dengan Perum.

Yaitu Persero lebih diutamakan untuk mengejar keuntungan, sementara perusahaan berstatus Perum lebih fokus pada pelayanan dan kepentingan masyarakat.

Perum juga dapat melakukan penyertaan modal dalam badan usaha lain sesuai dari persetujuan Menteri BUMN.

Adapun status Perindo sebagai Persero memiliki beberapa kegiatan utama, di antaranya penyaluran benih ikan, pakan, dan sarana produksi lainnya.

Kemudian penyelenggaraan usaha budi daya sumber daya ikan, pemasaran ikan hias dan pengelolaan pasar ikan higienis, perdagangan ikan dan produk perikanan dan perdagangan lainnya yang terkait dengan bisnis perikanan.

“Selanjutnya, pelayanan docking dan galangan kapal perikanan, pelayanan logistik serta perbekalan awak kapal perikanan dan kapal perikanan, penyelenggaraan wisata bahari dan pelayanan jasa lainnya yang sesuai dengan aturan Undang Undang,” seperti ditulis dalam aturan tersebut.

Di sisi lain, BUMN Sektor Pangan ini tengah mengejar prospek ekspor yang cerah di tahun ini, meski dalam situasi pandemi.

Direktur Operasional Perindo, Raenhat Tiranto Hutabarat mengatakan saat ini pihaknya menargetkan ekspor perikanan ke beberapa negara, seperti Vietnam, Thailand dan Jepang.

Perindo menargetkan nilai penjualan adalah US$ 855.000/bulan, dan jumlah itu masih bisa bertambah.
Untuk menjalankan target itu, ada beberapa strategi yang disiapkan perusahaan, salah satunya memaksimalkan kantor cabang yang memiliki unit pengolahan ikan.

Nantinya cabang akan mengolah perikanan yang sesuai dengan permintaan pembeli dan bekerjasama dengan mitra untuk pemenuhan kuantitas dan kualitas ekspor.

Perindo juga melakukan ekspansi ke lokasi lokasi sumber perikanan yang dinilai memiliki nilai lebih, sehingga juga dapat memenuhi volume dan kualitas yang diinginkan pembeli. []

Agrobisnis & Pangan

Subsidi Bibit Tebu, PTPN III: “Untuk Ketahanan Gula Nasional”

Published

on

Subsidi bibit tebu

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Subsidi bibit tebu unggul resmi diluncurkan oleh Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero).

Program subsidi ini merupakan salah satu upaya Holding PTPN III dalam mendukung ketahanan gula nasional.

Subsidi bibit tebu ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam peningkatan produksi petani tebu yang merupakan mitra strategis dan garda terdepan dalam menyukseskan ketahanan gula nasional.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir telah meminta BUMN ini untuk dapat meningkatkan produksi gula dan mendukung swasembada pangan nasional.

Ia juga meminta keterlibatan petani tebu rakyat untuk keberlangsungan peningkatan produksi komoditi tebu guna meningkatkan ekspor gula dan menekan impor gula.

Atas hal itu, PTPN III terus berupaya meningkatkan kinerja, salah satunya dengan pemberian subsidi bibit tebu.

Pemberian subsidi bibit tebu ini dilakukan oleh Direktur Pengembangan dan Produksi Holding PTPN III, Mahmudi kepada petani binaan Pabrik Gula Ngadiredjo, salah satu PG milik PTPN X.

Dalam kesempatan ini, Holding PTPN memberikan bantuan bibit unggul untuk luasan lahan 496 Ha kepada 386 petani tebu binaan.

Mahmudi mengatakan program subsidi bibit tebu unggul ini adalah upaya perseroan meningkatkan produktivitas lahan.

Bantuan ini juga dihararapkan dapat menurunkan Harga Pokok Produksi (HPP) yang berujung pada peningkatan kesejahteraan para petani.

“Subsidi bibit ini akan meningkatkan potensi produksi per hektarnya. Ini tentunya diimbangi dengan pengawalan teknis budidaya tebu secara ketat dan berkelanjutan,” ujar Mahmudi dikutip Senin (18/10/2021).

Mahmudi menambahkan, pemberian subsidi bibit tebu unggul ini juga upaya untuk bersama-sama memberikan kontribusi terbaik dalam pencapaian swasembada gula secara nasional.

Subsidi Bibit Tebu Dorong Produktivitas

Diketahui, Holding PTPN III memberikan bantuan bibit unggul kepada petani binaan PTPN VII, PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, dan PTPN XII.

Pada masa tanam tahun 2020-2021 lalu, BUMN ini telah menyalurkan subsidi bibit tebu untuk luasan lahan hingga 1.307 Hektar.

Sedangkan masa tanam 2021-2022, subsidi bibit tebu disalurkan dengan total luasan 1.563 Hektar dengan rincian tebu kategori PC 1.135 Hektar dan tebu kategori Bongkar Ratoon sebesar 428 Hektar.

“Bantuan subsidi bibit tebu ini meningat sebesar 19,6 persen jika dibandingkan tahun lalu, dan akan terus ditingkatkan. Untuk masa tanam tahun depan, kami akan menyalurkan bantuan subsisi bibit tebu seluas 4.167 Hektar,” ungkapnya.

Guna peningkatan produksi, Holding PTPN III juga terus menjalankan transformasi di sektor kinerja yang diikuti dengan perbaikan di sisi off farm.

Seluruh anak perusahaan yang tegabung di Holding ini juga melakukan pengawasan dan evaluasi dalam setiap periode giling untuk tercapainya target Holding.

Mahmudi menegaskan, transformasi adalah sebuah kewajiban, agar Holding PTPN III bisa memberikan hasil terbaik bagi bangsa.

“Langkah ini juga untuk mewujudkan Holding PTPN III menjadi perusahaan perkebunan kelas dunia, dan mendukung kesejahteraan petani yang merupakan mitra kami,” tandasnya.

Continue Reading

Agrobisnis & Pangan

Distribusi Pupuk, Petrokimia Gresik Gandeng PPI Jadi Distributor Eksklusif

Published

on

Distribusi pupuk

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Distribusi pupuk hasil produksi PT Petrokimia Gresik dikerjakan oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) atau PPI.

Hal itu lantaran kedua perusahaan tersebut kembali menjalin kerjasama dalam distribusi pupuk, dimana cabang-cabang PPI di berbagai daerah menjadi distributor exclusive.

Adapun distribusi pupuk yang dijalankan PPI dikhususkan untuk pupuk nonsubsidi SP 26 Petro, Petroniphos, Nitralite.

Beberapa cabang PPI telah menandatangani kerjasama distribusi pupuk ini, mulai dari Cabang Aceh, Pekanbaru, Jambi, Surabaya, Madiun, Manado, hingga Palu.

Koordinator Wilayah Barat PPI Rahman Saidi mengatakan, kerjasama distribusi pupuk ini adalah solusi berbagai masalah pertanian di berbagai daerah.

Pihaknya berharap distribusi pupuk yang semakin lancar dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani.

Rahman optimis, dengan pengalaman panjang PPI dan keberadaan cabang, gudang-gudang, dan kendaraan operasional, distribusi pupuk Petrokimia akan semakin lancar.

“Sejak awal Oktober hingga sekarang, sudah ada beberapa cabang PPI yang menandatangani kerjasama sebagai distributor eksekutif di Petrokimia Gresik. Kolaborasi ini kita harapkan membantu petani di daerah dalam mendapatkan pupuk tersebut,” kata Rahman Saidi, Kamis 14 Oktober 2021.

Menurutnya, peran PPI dalam distribusi pupuk merupakan salah satu model bisnis setelah dimerger dengan PT BGR.

Merger dua BUMN ini sudah disetujui Presiden Joko Widodo melalui PP Nomor 97 tahun 2021 yang diteken pada 15 September lalu.

“Merger ini merupakan bagian dari pembentukan Holding BUMN Pangan, kami turut berperan dalam penguatan rantai ekosistem perdagangan dan logistik, termasuk distribusi pupuk ke berbagai daerah,” jelasnya.

Pengalaman Dalam Distribusi Pupuk

Adapun jenis-jenis pupuk nonsubsidi yang disalurkan cabang PPI yaitu pupuk SP-26 Petro untuk menyesuaikan unsur hara P dan alternatif atas penyesuaian alokasi pupuk SP-36 bersubsidi.

Pupuk berwarna abu-abu kecoklatan ini memiliki kandungan unsur hara makro Fosfor 26 persen, Sulfur 5 persen dengan granul yang ukurannya bervariasi.

Kemudian pupuk Petro Niphos mengandung unsur hara N minimal 20 persen, Fosfor minimal 20 persen dan Sulfur minimal 13 persen yang berbentuk granul, dan dikhususkan bagi komoditas sayuran daun dan pangan.

Ada juga pupuk Nitralite yang memiliki kandungan unsur hara Nitrogen sebesar 25 persen, Sulfur 9 persen, dan Kalsium 7 persen yang memiliki banyak manfaat untuk tanaman.

Di antaranya membuat tanaman lebih hijau segar, mempercepat dan meningkatkan pertumbuhan tanaman berupa jumlah cabang dan jumlah anakan, meningkatkan kandungan protein hasil panen, hingga memperbaiki struktur tanah.

Pihak PPI memastikan distribusi pupuk dari Petrokimia akan berjalan lancar, sebab PPI sudah berpengalaman dan memiliki 32 cabang di seluruh Indonesia. []

Continue Reading

Agrobisnis & Pangan

Produksi Listrik EBT di PTPN Group Capai 318 Mega Watt

Published

on

Produksi listrik EBT

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Produksi listrik EBT atau Energi Baru Terbarukan di Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) terus meningkat.

Saat ini produksi listrik EBT di Holding PTPN III sudah mencapai 318 Mega Watt (MW) atau setara 1.831.680 MWh per tahun.

Pemanfaatan produk listrik EBT di BUMN ini pun terus digenjot agar bisa mencapai target bauran EBT secara nasional sebesar 23 persen di tahun 2025 mendatang.

Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), M Abdul Ghani mengatakan, produk listrik EBT ini dapat dioptimalkan untuk operasional di perkebunan.

Dari total produksi listrik EBT ini mampu mengurangi emisi atau dekarbonisasi hingga 1,9 juta ton CO2 per tahun.

“Operasional di semua anak usaha group PTPN telah memanfaatkan produk listrik EBT sebagai sumber energi yang kita dapat dari beberapa pembangkit, seperti PLTA, PLTBm, PLTBg, dan PLTS,” ujar Ghani dalam keterangan tertulisnya Selasa (12/10/2021).

Diketahui, pembangkit yang telah menghasilkan produksi listrik EBT yang dimiliki PTPN Group memang sangat beragam.

Di antaranya 10 unit PLTA dengan kapasitas 17,14 MW, 2 unit pembangkit berbasis biomassa berkapasitas 9,2 MW, 9 unit pembangkit biogas dari POME berkapasitas 11,35 MW dan 1 unit Pembangkit Listrik Tenaga Matahari berkapasitas 2 MWp.

Target Produksi Listrik EBT

Ghani mengatakan, pihaknya mendukung penuh program pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29 persen di tahun 2030.

Target ini dijalankan melalui program kerja perusahaan dalam penggunaan biomassa perkebunan sebagai sumber energi utama, hilirisasi bisnis perkebunan, serta optimasi pembangkit listrik EBT lainnya.

Program peningkatan produksi listrik EBT ini dijalankan secara mandiri maupun bekerja sama dengan mitra strategis yang ahli di bidang tersebut.

Adapun penggunaan produksi listrik EBT di PTPN III yaitu seperti di pabrik kelapa sawit (PKS) dan pabrik gula (PG) milik BUMN tersebut.

Saat ini telah menggunakan biomassa sebagai bahan bakar utama yang mampu menghasilkan listrik untuk memenuhi kebutuhan operasional pabrik.

“Bahan bakar yang digunakan di PKS adalah cangkang dan serabut kelapa sawit, sementara di PG bahan utamanya bagas tebu,” jelasnya.

Tercatat jumlah PKS PTPN Group ada sebanyak 75 unit dan telah memanfaatkan produksi listrik EBT yang dihasilkan 80 MW.

Sementara total pabrik gula yang telah menggunakan produksi listrik EBT yaitu 31 unit dengan kapasitas yang dihasilkan 198 MW.

Saat ini, Holding PTPN terus memperluas kerja sama pengolahan limbah sebagai sumber energi berbasis EBT dengan beberapa mitra strategis. []

Continue Reading

BNI

Label

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!