SKK Migas: “Lifting Migas Belum Memuaskan”

oleh
SKK Migas

SKK Migas atau Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi menyatakan, lifting migas belum memuaskan. Di sepanjang periode semester pertama tahun 2019 ini, hanya sekitar 85 persen saja dari target APBN 2019. Yakni sebesar 7.000 MMscfd menjadi hanya 5.950 MMscfd saja.

Rendahnya lifting gas tersebut dikarenakan kurang maksimalnya produksi gas, seperti yang terjadi di Blok Mahakam. Selain itu juga karena tidak maksimalnya penyerapan gas oleh pembeli.

Kinerja SKK Migas

Wisnu Prabawa Taher selaku Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas mengatakan, “Salah satunya LNG Bontang (yang) belum diserap maksimal. Oleh Pertamina yang menyebabkan harus ada penurunan intake gas dari seluruh produser gas di Kalimantan Timur.”

Sementara untuk lifting minyak, di sepanjang semester satu 2019 ini mencapai 95 persen dari target APBN 2019. Yakni sebanyak 775 ribu barel per hari (bopd) menjadi sekitar 736.250 bopd. “Memang (masih) belum mencapai target karena kemampuan cadangannya perlu dijaga. Agar terus optimal jangan sampai water cut-nya naik,” jelas Wisnu.

SKK Migas pun mencatat terdapat lima kontraktor sebagai penyumbang lifting migas terbesar. Khusus pada lifting minyak, ada ExxonMobil Cepu Ltd dengan realisasi hingga 220 ribu bopd. Ada pula PT Chevron Pacific Indonesia sebanyak 194 ribu bopd, Pertamina EP sebanyak 80 ribu bopd. Pertamina Hulu Mahakam sebanyak 37 ribu bopd, serta PHE OSES sebanyak 29 ribu bopd.

Sedangkan untuk lifting gas realisasi BP Berau Ltd sebanyak 971 juta MMscfd, ConocoPhilips Grissik Ltd sebanyak 827 MMscfd. Ada pula Pertamina EP sebanyak 768 MMscfd, Pertamina Hulu Mahakam 662 MMscfd, serta Eni Muara Bakau sebanyak 589 MMscfd.

Wisnu menyampaikan lebih lanjut, SKK Migas bersama kontraktor migas terus berusaha melakukan pengembangan secara berkelanjutan. Guna meningkatkan produksi migas serta melakukan eksplorasi untuk mencari cadangan migas.

SKK Migas targetkan lifting minyak untuk tahun depan hanya sebanyak 734 ribu bopd. Target itu lebih rendah dari proyeksi lifting akhir 2019 ini. Penurunan tersebut bakal terjadi karena adanya penurunan produksi atau decline pada beberapa blok migas. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *