Connect with us
PERTAMINA

HIGHLIGHT BUMN

Siapa Pantas Jadi Dirut Garuda, Susi Atau Jonan? Ini Kata Dahlan Iskan

CHRIESTIAN

Published

on

Dirut Garuda

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Dirut Garuda Indonesia Ari Askhara beserta jajaran direksi lainnya resmi dicopot Menteri BUMN Erick Thohir. Hal ini menyusul kegaduhan di tubuh maskapai pelat merah tersebut usai penyelundupan motor Harley Davidson dan sepeda Brompton di pesawat Garuda dalam penerbangan perdana dari Toulouse di Perancis menuju Jakarta.

Usai pemecatan tersebut beredar nama-nama yang dinilai dianggap pantas menjadi Dirut Garuda. Namun hanya ada dua nama yang kemudian santer yang dianggap mampu mengembalikan kejayaan maskapai berkode saham GIAA tersebut dari keterpurukan kinerja.

Adalah mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti dan mantan Menteri ESDM Ignasius Jonan. Kedua nama tersebut dianggap sangat kapabel melambungkan kinerja perusahaan yang jauh lebih baik.

Menurut mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan, dirinya memiliki pandangan terhadap dua nama tersebut. Melalui laman pribadinya, disway.id. mantan Dirut PLN ini menyampaikan perspektifnya dengan tajuk “Garuda Menteri”.

Dalam tulisannya, Dahlan Iskan menilai figur Ignasius Jonan jika menjadi Dirut Garuda dianggap akan berhasil. Hal ini lantaran Jonan memiliki pengalaman dalam membenahi PT Kereta Api Indonesia (Persero) / PT KAI dan terbukti berhasil.

Keberhasilannya dalam membenahi PT KAI pun berbuntut dipanggilnya Jonan oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi Menteri Perhubungan (2014-2016) dan Menteri ESDM (2016-2019).

Dahlan Iskan menambahkan bahwa Jonan termasuk tipe pekerja keras dan siap bertugas kemanpun dibutuhkan. Tawaran menjadi Dirut Garuda, imbuh Dahlan, dianggap sebagai tantangan baru Jonan.

“Punya semangat anti korupsi yang tinggi! dan merupakan tipikal yang siap ditugaskan dimana saja termasuk yang sulit-sulit. Menjadi Dirut Garuda apabila sukses maka sejarah akan mencatat sebagai hattrick keberhasilan, mulai dari PT KAI, Freeport dan Garuda Indonesia,” papar Dahlan. []

HIGHLIGHT BUMN

Ventilator Buatan Pindad Segera Diproduksi Massal

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Ventilator buatan Pindad

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Ventilator buatan Pindad / PT Pindad (Persero) dalam waktu dekat akan segera diproduksi secara massal. Sejauh ini Pindad telah berhasil memproduksi alat bantu pernafasan atau ventilator tersebut dan masih dilakukan uji sertifikasi dan uji klinis.

Jika sudah lolos dari kedua uji coba ini, alat ventilator buatan ini akan diproduksi massal dan dilepas ke pasaran. Langkah produksi ventilator secara massal menjadi bagian dari upaya BUMN tersebut untuk membantu penanganan pasien positif corona.

Direktur Utama Pindad Abraham Mose mengatakan, perkiraan waktu untuk uji coba ini bisa selesai dalam dua minggu lagi.

“Kurang lebih waktunya dua mingguan. Soalnya ini harus cepat karena alat ventilator itu sangat dibutuhkan saat ini,” kata Abraham, Rabu (8/4/2020).

Adapun biaya produksi ventilator buatan Pindad per unitnya senilai Rp4 juta hingga Rp 5 juta. Pindad sendiri berencana menjual ventilator buatanya senilai Rp10 juta per unit. Namun harga itu masih bisa turun di kisaran Rp7 juta jika bahan baku pembuatannya relatif mudah didapat.

Abraham menyatakan, ventilator buatan Pindad ini masih uji sertifikasi kelayakan di Balai Pengawasan Peralatan Kesehatan (BPPK). Setelah itu, ventilator Pindad akan masuk tahapan uji operasi dan uji klinis.

Jika ventilator buatan Pindad tersebut lolos uji kelayakakan, maka PT Pindad akan menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) dan BUMN lainnya untuk memproduksi alat ini secara massal.

“Sementara ini, ventilator ini kita utamakan yang di Rumah Sakit Pindad yang ada di Bandung terlebih dahulu,” katanya.

Sebelumnya, PT Pindad telah membuat prototype ventilator dan mempresentasikan di depan Menteri Pertahanan dan Menteri Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pindad memproduksi tiga ventilator yang telah digunakan di beberapa rumah sakit di Bandung.

Terkait produksi ventilator buatan dalam negeri, Kementerian Perindustrian menilai sejumlah perguruan tinggi di Indonesia siap dan mampu melakukannya.

Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang mengatakan, pihaknya mendapat laporan bahwa tim dari perguruan tinggi sudah memiliki mitra dalam upaya memproduksi ventilator. Namun masih terkendala ketersediaan bahan baku.

“Untuk mendorong percepatan produksi ventilator kami siap membantu, dan memastikan dua komponen tersebut akan tersedia. Tim dari perguruan tinggi berupaya segera membuat blueprint ventilator yang kemudian dikoordinasikan dengan Kementerian Kesehatan,” tutur Agus.

Menperin juga mengapresiasi sejumlah perguruan tinggi yang berminat untuk memproduksi ventilator. Ada empat perguruan tinggi yang melakukan proses pembuatan ventilator, yaitu Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi 10 November Surabaya.

Menurutnya, proses pembuatan ventilator juga membutuhkan model bisnis, karena akan menjadi langkah strategis jangka panjang.

“Kami ucapkan terima kasih pada kampus serta mitranya yang terlibat dalam pembuatan ventilator ini. Saat ini memang menjadi momen yang tepat untuk kita bersama membantu mengatasi pandemi Covid-19. Selain itu, dapat membangkitkan gairah industri alat kesehatan di dalam negeri, yang diawali dengan produksi ventilator,” tandasnya. []

Continue Reading

HIGHLIGHT BUMN

Ada Corona! Bagaimana Nasib Gelaran MotoGP Mandalika?

CHRIESTIAN

Published

on

Nasib gelaran MotoGP

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Nasib gelaran MotoGP Mandalika banyak dipertanyakan lantaran badai virus corona yang menghantam dunia tidak terkecuali Indonesia.

Seperti diketahui bahwa berbagai persiapan telah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka menyambut gelaran perdana MotoGP di sirkuit Mandalika Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Oktober 2021 nanti.

Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio pihaknya belum bisa memastikan nasib gelaran MotoGP Mandalika, lantaran ia belum mengetahui akankah virus corona berdampak terhadap molor atau tidaknya penyelenggaraan MotoGP.

“Nasib gelaran MotoGP masih jadi pertanyaan bagi kita, apakah nantinya penyelenggaraannya tetap sesuai dengan jadwal atau tidak. Jadi belum ada pengumuman secara resmi,” jelas Tama ketika rapat kerja telekonferensi dengan Komisi X DPR RI (06/04).

Tama sangat berharap pandemi ini akan segera berakhior sehingga nasib gelaran MotoGP menjadi jelas sesuai dengan yang telah dijadwalkan, sehingga mempercepat pemulihan sektor pariwisata Indonesia.

“Harapan besar kami adalah gelaran MotoGP tetap berjalan sesuai jadwal karena dengan gelaran internasional tersebut menjadi daya tarik dunia kepada pariwisata Indonesia. Insha allah pandemic virus corona akan segera berakhir,” tambahnya.

Dalam rapat tersebut anggota Komisi X DPR RI Muhammad Khadafi menginginkan Kemenparekraf memiliki skenario yang tepat adabila nasib gelaran MotoGP harus ditunda.

“Harus dikaji lagi soal kesiapan sirkuit akan seperti apa dan apakah memungkinkan terlaksana di tahun 2021. Jika tidak memungkinkan bagaimana langkah selanjutnya, dan bagaimana soal penjualan tiket yang sempat dibuka. Jadi respon kita harus cepat jangan sampai orang-orang banyak yang menunggu kepastian,” ujar Khadafi. []

Continue Reading

HIGHLIGHT BUMN

Kebutuhan Ventilator Tinggi, Erick Thohir: “BUMN Belum Akan Produksi”

CHRIESTIAN

Published

on

Kebutuhan ventilator

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Kebutuhan ventilator terus bertambah seiring meningkatnya pasien positif corona yang tengah dalam perawatan. Seperti diketahui bahwa Ventilator merupakan salah satu peralatan medis yang digunakan untuk membantu pernapasan bagi para pasien yang terjangkit virus corona.

Melihat tingginya kebutuhan ventilator, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan jika pihaknya akan mengusahakan pengadaan ventilator dengan cara membeli atau dengan menerima sumbangan.

“Kebutuhan ventilator tinggi, tapi saya rasa BUMN tidak akan produksi sendiri namun kita akan coba beli atau menerima sumbangan,” ujar Erick dalam teleconference, (06/04).

Sebelumnya, lanjut Erick, memang ada sejumlah perguruan tinggi dalam negeri yang telah melakukan penelitan atas mesin pernafasan ini. bahkan beberapa industri di dalam negeri pun juga melirik alat ini.

“Pada industri pertahanan saya dapat info kalau BPPT LEN sedang melakukan kajian. Jadi kalau nantinya bisa produksi sendiri mengapa tidak,” tambah Erick.

Walaupun kebutuhan ventilator sangat tinggi saat ini, namun Erick menyebut saat ini tahapan yang tepat dengan membeli dan menerima sumbangan.

“Karena tentu saja saya tidak mau berbicara sesuatu yang belum nyata bagaimana produksi dan kapitasnya, dsb. Oleh karenanya tahapan dengan kondisi saat ini yaitu melakukan pembelian serta menerima sumbangan,” pungkas Erick. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM