PT Krakatau Steel Terus Restrukturisasi Bisnis Hadapi Impor

oleh
PT Krakatau Steel

PT Krakatau Steel (Persero), melalui Direktur Utamanya Silmy Karim mengatakan bahwa, saat ini tantangan yang sangat nyata dihadapi perseroan adalah impor baja. Adanya impor baja yang masih tinggi ini terus menghantam industri baja nasional.

Pada Sabtu (3/8), Silmy berujar bahwa impor baja ini dominan dan semakin menekan industri baja dalam negeri. Tingkat utilisasi produksi HRC sekarang masih di bawah 50 persen, dikarenakan porsi impor yang cukup dominan untuk pemenuhan baja domestik.

PT Krakatau Steel Jalankan Restrukturisasi

Berdasarkan data dari The South East Asia Iron and Steel Institute (SEAISI) tahun 2018, total impor baja di Indonesia mencapai 7,6 juta ton. Komoditas besi dan baja pun tercatat sebagai komoditi impor terbesar ketiga, mencapai 6,45 persen. Ini dihitung dari total importasi yang bernilai 10,25 miliar USD.

Silmy mengimbuhkan, bahwa data dari BPS pada Januari hingga Maret 2019 impor besi ini totalnya meningkat sampai 14,75 persen secara year on year. Nilainya menjadi 2,76 miliar USD. Kenaikan ini sekaligus menjadi yang terbesar keempat.

Karena itu, PT Krakatau Steel terus berupaya menjalankan program restrukturisasinya supaya kinerja perseroan bisa kembali optimal serta mencatatkan keuntungan. Restrukturisasi yang tengah dijalankan perseroan adalah restrukturisasi hutang dan transformasi bisnis.

Ini bertujuan supaya PT Krakatau Steel lebih kompetitif dan efisien di tengah persaingan industri baja yang mengglobal. Selain itu, hal tersebut juga merupakan bentuk komitmen dari perseroan pada para pemegang saham dan pihak stakeholder lain.

Langkah-langkah yang akan dilakukan antara lain, optimalisasi aset-aset non-core supaya lebih berguna. Selain itu, pencarian mitra bisnis yang strategis dan pelepasan unit kerja yang hanya melayani induk perusahaan juga dilakukan. Perampingan organisasi dan menjadi bagian dari pengembangan bisnis anak usaha hingga menjadi profit center juga diupayakan.

Operasi lainnya yang dilakukan perseroan juga terus digencarkan. Seperti pola penjualan produk yang mulai diperbaiki, sehingga diharapkan bisa menaikkan volume penjualan. Begitu juga dengan pola konsumsi energi serta peningkatan yield produksi di pabrik Hot Strip Mill sebagai upaya penekanan biaya produksi. [

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *