Connect with us
PERTAMINA

Farmasi

PT Indofarma Alami Penurunan Penjualan

MediaBUMN

Published

on

PT Indofarma

PT Indofarma (Persero) performance kinerja keuangannya masih tertekan di sepanjang semester pertama tahun 2019 ini. Dalam laporan keuangan yang dirilis, emiten farmasi tersebut telah membukukan penjualan bersih sebesar Rp368,81 miliar.

Sejalan dengan hal itu, beban pokok penjualan juga alami penurunan 2,84 persen menjadi sebesar Rp256,83 miliar. Sehingga mendapatkan laba kotor sebesar Rp111,98 miliar, beban penjualan juga turun menjadi Rp70,98 miliar. Sementara beban umum dan administrasi naik menjadi Rp49,9 miliar.

Dari perolehan angka tersebut, PT Indofarma membukukan rugi usaha hingga mencapai Rp8,42 miliar. Padahal di periode tahun sebelumnya, persero mendapat laba Rp30,02 miliar. Realisasi tersebut terbilang cukup jauh dari pencapaian sebelumnya, yakni laba sebesar Rp253,19 miliar.

Dari sisi lain, nilai aset PT Indofarma menyusut dari angka Rp1,44 triliun pada tahun 2018 menjadi hanya Rp1,4 triliun saja. Sedangkan, liabilitas perseroan mencapai Rp927,56 miliar dan untuk ekuitas mencapai Rp472,29 miliar. Dengan alokasi belanja modal sebanyak Rp83 miliar guna ekspansi bisnis.

PT Indofarma Lakukan Kerja Sama

Saat ini, PT Indofarma melaksanakan sembilan kerja sama bisnis aliansi strategis bersama dengan mitra internasional yang telah diinisiasi sejak 2018. Secara rinci terdiri dari 4 join operation serta 5 join venture.

Herry Triyatno selaku Direktur Keuangan dan SDM PT Indofarma berpendapat, strategi mendiversifikasi portofolio bisnis. Diyakini bisa memperbaiki kinerja keuangan persero, oleh karena itu di tahun ini mampu mencetak laba mencapai Rp6 miliar. Dengan pertumbuhan pendapatan sebanyak 13 persen.

Terdapat sejumlah project yang bakal di-groundbreaking pada tahun ini, yaitu pembangunan produksi bahan medis habis pakai. Yang ditargetkan bakal diproduksi secara komersial oleh pabrik di Cibitung pada tahun depan. Bekerja sama dengan perusahaan asal Korea Selatan.

“Outputnya peralatan medis sekali pakai seperti kateter, selang guna kebutuhan operasi. Agreement telah selesai, tinggal menyelesaikan Funding, kita (akan) bangun tempat lalu beroperasi,” tutur Herry.

Selain itu, persero juga membidik join operation dengan perusahaan asal Amerika yang berbasis di India. Guna pengembangan Oncology Product atau obat untuk cancer, yang masih dalam tahap penjajakan. Targetnya JoA signing bakal rampung tahun ini dan mulai diproduksi komersial pada tahun 2021 mendatang. Kelak oncology product bakal memberi margin yang cukup tebal, berbeda dengan obat generik yang murah.

Industri farmasi masih harus menghadapi tantangan yang cukup berat, terlihat dari kinerja perseroan. Sebab, triwulan pertama di tahun 2019 masih belum juga menggembirakan yang terjadi pula pada PT Indofarma. []

Farmasi

Jadi Leader Holding BUMN Farmasi! Bio Farma Incar Pendapatan Rp16,8 Triliun

EKO PRASETYO

Published

on

Farmasi

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir telah resmi membentuk holding BUMN farmasi, dimana PT Bio Farma (Persero) ditetapkan sebagai leader atau induk dari holding tersebut.

Adapun holding BUMN farmasi tersebut beranggotakan PT Kimia Farma Tbk dan PT Indonesia Farma Tbk dengan total aset yang kini dimiliki oleh ketiga perusahaan tersebut mencapai Rp30,6 triliun.

Juru bicara Kementerian BUMN, Arya Sinulingga mengatakan bahwa holding BUMN farmasi tersebut telah dibentuk Erick Thohir sejak akhir Januari 2020 lalu.

“Jadi ini KPI kami juga berhasil buat sub holding (farmasi). (Pembentukannya berdasarkan) Kepmen No 862/kmk.06/2019,” jelas Arya kepada MEDIABUMN (5/2).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa pembentukan holding bumn farmasi ini lantaran semakin pesatnya pertumbuhan industri tersebut.

“Pertumbuhannya luar biasa! Yang terjadi biaya kesehatan negara hampir mencapai dua kali lipat dari pertumbuhan perekonomian. Misal pertumbuhan ekonomi mencapai 5 persen artinya biaya kesehatan bisa mencapai dua kali lipatnya. Ini sangat prospektif sekali,” papar Arya.

Dengan terbentuknya holding BUMN farmasi ini maka diharapkan akan menekan seminimal mungkin upaya impor. Dengan demikian, lanjutnya, neraca perdagangan nasional ke depannya akan jauh lebih baik.

Bidik Pendapatan Rp16,8 Triliun

PT Bio Farma (Persero) sebagai menjadi induk dari holding BUMN farmasi menganggarkan belanja modal mencapai Rp3 triliun dengan target pendapatan sebesar Rp16,8 triliun pada tahun 2020.

Dalam paparan kepada media, Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir memaparkan rincian belanja modal sebesar Rp2 triliun dikeluarkan Kimia Farma untuk membangun pabrik bahan baku di Banjaran, Pulo Gadung.

“Kemudian sebesar Rp500 miliar oleh Bio Farma yang akan digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan sisanya sekitar Rp500 miliar akan dikeluarkan Indofarma untuk kebutuhan peralatan medis dan herbal,” papar Honesti.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa ke depannya tidak menutup kemungkinan adanya aksi korporasi seperti right issue mengingat akuisisi Phapros yang dilakukan Kimia Farma banyak meninggalkan utang dan fasilitas refinancing karena terjadinya penurunan suku bunga.

“Mana yang paling cepat dan paling efektif nanti saja kita lihat. Soal rights issue nanti kita lihat terlebih dahulu kondisi market lah,” ujar Honesti.

Namun, lantaran pasar saat ini dinilai cenderung tidak kondusif maka upaya penerbitan rights issue bukanlah keputusan yang tepat. Perseroan tentunya akan mengkaji prospek pendanaan dari investor secara langsung.

“Kita akan lihat mekanisme pendanaannya seperti apa yang akan kita lakukan, apakah kondisi makronya juga kondusif sehingga kita bisa teruskan rencana untuk rights issue. Tapi kalau nggak, anak perusahaannya kita lagi (cari pendanaan) dari direct invest saja,” tutup Honesti. []

Continue Reading

Farmasi

Kimia Farma Bakal Gelar RUPSLB Tawarkan Rights Issue

MediaBUMN

Published

on

Kimia Farma

Kimia Farma berencana untuk melaksanakan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu. Disebut juga dengan rights issue atau PMHNETD guna mempertebal modal kerja serta pengembangan usaha perseroan.

Berdasarkan data dari keterbukaan informasi pada Bursa Efek Indonesia, Selasa, 13 Agustus 2019. Kimia Farma berencana menerbitkan hingga 1,58 miliar saham seri B yang bakal ditawarkan dengan cara rights issue.

Hal itu berarti sekitar 22,14 persen dari modal bakal ditempatkan dan disetor secara penuh setelah rights issue. Adapun untuk harga pelaksanaan bakal diumumkan selanjutnya dalam agenda prospektus PMHMETD.

Kimia Farma Agendakan RUPSLB September Mendatang

Kimia Farma bisa mengajukan pelaksanaan pendaftaran penambahan modal itu setelah mendapatkan persetujuan RUPSLB. Atau dalam rapat umum pemegang saham luar biasa yang bakal diselenggarakan pada 18 September 2019 mendatang. Dengan begitu, pelaksanaan rights issue bisa dilaksanakan paling lambat 12 bulan. Setelah tanggal pelaksanaan RUPSLB atau berarti tanggal 18 September 2020.

Sedangkan pemegang saham yang tidak menggunakan hak HMETD-nya, bakal terkena dilusi. Atas persentase porsi kepemilikan pada perseroan dari jumlah maksimum 22,14 persen dari modal akan ditempati dan disetor secara penuh.

Pada akhir Maret 2019 lalu, Honesti Basyir selaku Direktur Utama Kimia Farma menuturkan bahwa perseroan berencana untuk melakukan right issue untuk memperoleh dana segar. Guna mendanai ekspansi anorganik serta refinancing atas pinjaman bank. Target dana yang diincar pada rencana tersebut sebanyak Rp2 triliun hingga Rp3 triliun.

Apabila rencana itu mendapatkan persetujuan dari pemegang saham, maka floating share dari Kimia Farma akan meningkat. Menjadi 20 hingga 30 persen dari saat ini yang hanya sekitar 9,98 persen yang masih mempunyai peluang meningkatkan value dari perseroan itu sendiri.

Setelah aksi akuisisi 56,77 persen saham PT Phapros Tbk yang dimiliki oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia senilai Rp1,361 triliun. Kimia Farma kembali mengincar segmen health care sebagai ekspansi anorganik selanjutnya di tahun ini.

Saat ini, Kimia Farma tengah mengkaji guna mengakuisisi lebih dari satu rumah sakit, baik swasta maupun BUMN. Dengan ditargetkan untuk rampung pada semester kedua tahun 2019 ini. []

Continue Reading

Farmasi

Holding BUMN Farmasi! Siapa menjadi Induk?

MediaBUMN

Published

on

Holding BUMN Farmasi

Holding BUMN Farmasi terus bergulir pembentukannya. Namun hingga saat ini masih menemukan sejumlah kendala. Padahal sebelumnya Deputi Bidang Usaha Industri agro dan Farmasi Kementerian BUMN, Wahyu Kuncoro, mengatakan bahwa holding BUMN farmasi akan teralisasi pada semester pertama. Wahyu optimis karena sudah ada pembahasan antar kementerian yang terkait perihal pembentukan holding.

Holding BUMN Farmasi, rencananya akan menyatukan emiten farmasi BUMN, seperti PT Kima Farma Tbk (KAEF), PT Indofarma Tbk (INAF), dan PT Bio Farma. Pemerintah belum memastikan BUMN farmasi mana yang akan menjadi induk holding farmasi.

Padahal, tiga BUMN tersebut sudah siap menjalankan aksi korporasi dan sudah berbagi tugas. Baik KAEF dan INAF masih terkendala berbagai hal untuk menjadi induk holding.

Holding BUMN Farmasi Urung Terwujud

Pemerintah sempat menyebutkan bahwa kemungkinan PT Kimia Farma atau PT Bio Farma yang akan menjadi induk holding BUMN farmasi. Ini dimungkinkan perkembangan kedua farmasi ini dinilai cukup bagus.

Apalagi PT Kimia Farma di tahun 2019 ini sudah mengakuisisi alias membeli saham mayoritas PT Phapros Tbk (PEHA) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang juga perusahaan pelat merah. Sementara PT Rajawali Indonsia juga memiliki saham 56,8 persen saham Phapros.

KAEF dan INAF tetap masih sulit menjadi induk holding meski KAEF sudah mengakuisisi Phapros. Hal tersebut dikarenakan praktik holding yang pernah dilakukan sebelumnya oleh emiten BUMN lain. Induk hoding BUMN farmasi yang sudah ada merupakan perusahaan yang 100 persen menjadi milik negara. dalam hal ini seluruh saham milik kementerian BUMN.

Sedangkan PT Kimia Farma Tbk merupakan perusahaan terbuka. Tidak seluruh saham dimiliki kementerian BUMN. Sejumlah 554 juta saham atau setara dengan 9,97 persen dari total saham dimiliki oleh investor lain atau investor publik.

Dengan tidak berpeluangnya KAEF dan INAF menjadi induk holding, peluang terbuka pada PT Bio farma. Namun, manajeman Bio Farma belum mau memberikan komentarnya perihal holding farmasi.

Head of Corporate Communications PT Bio Farma, Iwan Setiawan menjelaskan bahwa kewenangan holding terletak pada kementerian BUMN. Begitu pula dengan penunjukan induk holding, KAEF dan INAF, atau Bio Farma semua menjadi wewenang Kementerian BUMN sebagai pemegang saham. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM