Connect with us
PERTAMINA

Finansial

PT Bahana TCW Apresiasi Langkah Pemerintah Redam Impor

MediaBUMN

Published

on

PT Bahana

Dampak krisis mata uang Turki terhadap perekonomian Indonesia dinilai relatif terbatas. Budi Hikmat, Direktur Strategi dan Kepala Makro Ekonomi PT Bahana TCW Investment Management mengatakan, perbankan Indonesia sejauh ini tak memiliki eksposure terhadap surat berharga Turki. Akan tetapi, memburuknya ekonomi Turki akibat defisit fiskal dan neraca berjalan telah menyeret pasar modal Indonesia.

Seperti diketahui, pasar finansial negara berkembang, termasuk Indonesia tertekan sejak awal pekan ini. Dua komponen utama menjadi penyebab tertekannya kondisi pasar di Indonesia. Pertama, menguatnya Dolar Amerika Serikat (AS) terhadap mayoritas mata uang negara berkembang. Kedua, memburuknya sentimen terhadap negara berkembang akibat krisis mata uang Turki, Lira yang terjadi pada beberapa hari ini.

Sejak awal tahun, Rupiah telah melemah sebesar 7,59% terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat (AS). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1,73%, dan ditutup pada level 5.769,88 pada awal minggu ini. Sementara, tingkat imbal hasil obligasi pemerintah (SUN) untuk seri acuan 10 tahun telah menembus level psikologis 8%.

“Secara fundamental, ekonomi Indonesia jauh lebih prudent dibanding negara lain. Kita jauh dari overheated situation, dimana pertumbuhan kredit lebih lambat tingkat inflasi kuartal 2 masih terjaga,” ungkap Budi Hikmat, dalam siaran pers.

Sebagai perbandingan, kondisi ekonomi Indonesia masih jauh dari situasi overheated dibandingkan Turki. Secara fundamental, pengelolaan ekonomi Turki saat ini kurang sehat dan memburuknya twin deficit yang ditaksir sekitar 9% dari GDP, dimana berdasarkan data Bloomberg, proyeksi defisit transaksi berjalan (CAD) berkisar 6.4% pada akhir tahun.

Di samping itu, kondisi politik dengan Presiden Amerika Serikat semakin memperburuk situasi. Kurs mata uang Lira terhadap Dollar AS telah anjlok 70,99%, Yield obligasi negara Turki meningkat hingga 22% sepanjang tahun berjalan.

Sementara, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup baik, dimana defisit neraca berjalan (CAD) Indonesia pada kuartal 2-2018 sebesar 3% dari Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB). Tingkat inflasi Indonesia pun jauh lebih rendah, yakni 3.2% dibandingkan tingkat inflasi Turki sebesar 15.9%. Tingkat pengangguran Indonesia sebesar 5.1%, sementara Turki sebesar 10.5%.

Akan tetapi, Budi mengingatkan agar pemerintah Indonesia harus berhati-hati dengan defisit transaksi berjalan yang telah menembus angka 3% terhadap PDB. “Ini menjadi alarm untuk Indonesia, agar kembali mengaktifkan mesin pendulang valas. Jika tidak, CAD akan terus tertekan,” ucap Budi.

Saat ini, Indonesia masih bergantung pada ekspor komoditas seperti batubara dan migas. Sementara ekspor non migas turun di tengah kenaikan harga impor bahan baku dan barang modal. Adapun, terjadi defisit pada sektor neraca migas akibat impor migas seiring kenaikan harga minyak global dan permintaan minyak lebih tinggi selama lebaran dan liburan sekolah.

Untuk menekan defisit transaksi berjalan, pemerintah Indonesia pekan ini mengumumkan sejumlah langkah untuk mengendalikan impor, baik pada barang konsumsi, bahan baku dan barang modal. Bahana TCW Investment Management mengapresiasi positif langkah yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki neraca pembayaran.

“Pemerintah harus mempercepat upaya untuk memanfaatkan penguatan Dolar dan kenaikan harga energi minyak baik melalui kebijakan substitusi energi (B20 biodiesel) dan memacu pariwisata dan manufaktur yang bisa menghasilkan devisa bagi negara,” papar Budi. []

Perbankan

Bisnis Dana Pensiun Masih Didominasi BNI

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Bisnis dana pensiun

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Bisnis dana pensiun sejauh ini masih didominasi PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Bank pelat merah ini menguasai 25,8 persen dari total dana kelolaan Dana Pensiun Lembaga Jasa Keuangan (DPLK).

Di posisi kedua ada Manulife sebesar 19,3 persen, Bank BRI sebesar 13,9 persen, AIA 8,8 persen, dan AXA Mandiri memiliki 8,6 persen.

Sementara 23,7 persen pasar bisnis dana pensiun lainnya digarap oleh sejumlah lembaga keuangan lainnya.

Wakil Ketua 3 Perkumpulan DPLK Saktimaya Murti membenarkan bahwa industri DPLK ini masih dikuasai oleh lima lembaga keuangan besar tersebut.

Saktimaya mengakui, ada tantangan yang harus dilalui, baik dari segi regulasi maupun jumlah peserta.

Menurutnya jumlah penyelenggara DPLK di tahun 2018 sebanyak 25 lembaga, dan di tahun ini menjadi 23 lembaga.

Jumlah peserta DPLK juga mengalami penurunan, di tahun 2018 sebanyak 3,29 juta orang, di tahun ini menjadi 3,01 juta orang.

Pemimpin Unit DPLK BNI memaparkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total aset kelolaan industri DPLK hingga Agustus tahun ini sebesar Rp 98,57 triliun.

Nilai itu tumbuh 11,28 persen secara tahunan (yoy) dari periode yang sama tahun lalu senilai Rp 98,57 triliun.

Menurutnya industri DPLK punya potensi yang besar karena saat ini terdapat 133,56 juga angkatan kerja dengan rata-rata gaji mencapai Rp2,9 juta.

“Maka dengan membidik 10 persen saja dari pekerja formal dan 5 persen dari penghasilan selama satu tahun, maka potensi dana kelolaan industri ini bisa bertambah Rp 23,32 triliun per tahun,” ungkapnya.

Namun ia menyebutkan tantangan untuk edukasi terkait DPLK bagi masyarakat tidaklah mudah.

Maka perlu ada transformasi pemasaran produk ke arah digital dan meningkatkan SDM di tiap pelaku bisnis DPLK.

M. Ihsanuddin selaku Deputi Komisioner Pengawasan Industri Keuangan Non Bank OJK menambahkan, pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini telah mempercepat adaptasi digital di semua lini.

Untuk itu, ia menyarankan agar para pelaku industri DPLK bisa mengikuti tren digital tersebut.

“Sejauh ini baru empat lembaga yang punya website DPLK sendiri. Untuk itu, perlu dibangun platform sendiri dan eksis di setiap media sosiala agar semakin dikenal oleh masyarakat,” ujar Ihsanuddin. []

Continue Reading

Perbankan

Tabungan Haji BNI Syariah Tetap Tumbuh Meski Diterpa Pandemi

Alfian Setya Saputra

Published

on

Tabungan haji

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Tabungan haji di PT Bank BNI Syariah mengalami pertumbuhan meski di tengah pandemi covid-19.

Pada kuartal III 2020 atau di akhir September lalu, nilai tabungan haji BNI Syariah mencapai Rp2,18 triliun, tumbuh 13 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019.

Direktur Bisnis Ritel dan Jaringan BNI Syariah, Iwan Abdi berharap tren positif pertumbuhan Tabungan BNI Baitullah iB Hasanah ini akan terjaga hingga akhir tahun.

“Kami bersyukur nilai rekening tabungan haji BNI Syariah tahun ini tetap bertumbuh hingga 13 persen,” ungkapnya, dalam siaran pers, Kamis (29/10/2020).

Anak usaha PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk ini pun berharap pertumbuhan tabungan haji bisa mencapai 11 persen secara tahunan (yoy) sampai akhir tahun 2020.

Untuk mencapai target tersebut, pihak BNI Syariah gencar melakukan sosialisasi perencanaan persiapan haji kepada karyawan di berbagai institusi dan lembaga.

Salah satunya dengan menggelar webinar belum lama ini bekerjasama dengan PT Pembangunan Perumahan Tbk.

Sosialisasi Tabungan Haji

Dalam kegiatan ini, BNI Syariah memaparkan persiapan haji dan memperkenalkan produk haji dan umrah unggulan, mulai dari tabungan, pembayaran Haji Khusus dan sebagainya.

“Kami menyampaikan berbagai layanan persiapan haji kepada berbagai pihak agar target pertumbuhan 11 persen itu bisa tercapai,” ungkapnya.
Bank pelat merah ini juga berupaya meraih berbagai peluang baru dan menjadi partner yang baik bagi seluruh stakeholders.

Salah satunya layanan belajar mengaji online gratis seumur hidup, peserta mendapatkan hadiah uang tunai (cashback) sampai dengan Rp1 juta.

Bagi pendaftar haji khusus sampai 3 November, akan mendapatkan cashback Tabungan haji Rp1,5 juta, dan hadiah logam mulia 2,5 gram.

Meski begitu para pendaftar ibadah haji harus menunggu cukup lama, pasalnya masa antrian keberangkatan haji dari Indonesia bisa mencapai 15 hingga 20 tahun.

Untuk menyiasati hal tersebut, banyak perbankan menawarkan produk tabungan sebagai solusinya.

Produk tabungan haji sebagai simpanan untuk memenuhi kebutuhan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH).

Untuk kepastian keberangkatan haji, data dari para nasabah dapat dilihat dalam Sistem Komputerisasi Haji Terpadu atau Siskohat. []

Continue Reading

Jasa Keuangan

Outlet Pegadaian di Seluruh Indonesia Distandarisasi

EKO PRASETYO

Published

on

Outlet Pegadaian

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Outlet Pegadaian di seluruh daerah dilakukan standarisasi untuk meningkatkan brand image Pegadaian menjadi lebih modern.

Langkah standarisasi terhadap 220 outlet Pegadaian ini akan meningkatkan segmentasi calon nasabah baru dengan tampilan gedung yang lebih elegan.

Direktur Utama PT Pegadaian Persero, Kuswiyoto mengatakan, standarisasi ini bisa memberikan suasana dan semangat kerja yang baru bagi para karyawan untuk meningkatkan mutu layanan.

“Outlet Pegadaian yang distandarisasi ini kita fokuskan untuk menyediakan kemudahan akses, interaksi, fleksibel dan fungsi ruang yang lebih nyaman,” Kata Kuswiyoto dalam siaran pers, Kamis (29/10/2020).

Dijelaskannya, perbedaan outlet setelah dilakukan standarisasi ini ada pada desainnya yang lebih modern dan elegan.

Sehingga di outlet tersedia ruangan untuk fungsi penjualan relationship officer, bahkan bisa dibuat ruang layanan khusus bagi nasabah prioritas jika luas gedungnya mencukupi.

Spesifikasi material yang digunakan juga akan diganti dengan yang kualitas lebih baik dari sebelumnya.

Di tiap outlet juga dipasang penyekat berbahan acrylic pada counter dan meja transaksi, tempat duduk terpisah, fasilitas cuci tangan dan hand sanitizer.

Berbagai fasilitas baru ini disiapkan untuk memberikan pelayanan sesuai protokol kesehatan di masa new normal.

Program Standarisasi Outlet Pegadaian

Kuswiyoto berharap standarisasi ini juga akan meningkatkan semangat bekerja para karyawan agar lebih semangat, dan tetap memberikan pelayanan terbaik.

Sementara Sri Suryani selaku Direktur Pesona Indonesia Jaya (PIJ) yang juga penanggung jawab standarisasi outlet Pegadaian menyebutkan, langkah ini sebagai sejarah baru di Pegadaian.

Pasalnya Pegadaian telah melakukan transformasi produk, sistem dan budaya kerja, kini dilakukan pula di seluruh outlet.

“Hingga bulan ini progres pembangunannya sudah mencapai 76 persen. Standarisasi 220 outlet Pegadaian ini ditarget selesai pada akhir Desember mendatang,” ujarnya.

Dijelaskannnya, proses pembangunan masih terus dilakukan, yakni 52 outlet Pegadaian dalam tahap desain, dan 78 lainnya sudah dalam pengerjaan.

Dalam pengerjaannya, tim PIJ fokus pada tiga titik utama yaitu tampilan depan, ruang publik, dan back office.

Setelah standarisasi outlet di tahun 2020 rampung, PT Pegadaian akan melanjutkan program serupa di tahun depan dengan penambahan sekitar 200 kantor cabang Pegadaian.

Ke depannya, standarisasi outlet Pegadaian akan diterapkan di seluruh Indonesia secara bertahap. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!