Connect with us
PERTAMINA

Energi & Tambang

Proyek Pabrik Baja Waskita Karya Guna Penuhi Transmisi

MediaBUMN

Published

on

Proyek pabrik baja

Proyek pabrik baja didirikan oleh Waskita Karya agar dapat memenuhi kebutuhan tower baja proyek transmisi 500 Kilo Volt Ampere di Sumatera. Pabrik ini menelan investasi sebesar Rp250 miliar, dengan anggaran Rp20 miliar untuk kebutuhan listrik.

Presiden Direktur Waskita Karya Infrastruktur, Gunadi menjelaskan pembangunan proyek pabrik baja tersebut untuk menyokong penyediaan kebutuhan tower transmisi. Sebab kebutuhan listrik di Sumatera masih belum memadai, mengingat jaringan listrik adalah kebutuhan paling penting. Dalam rangka pemerataan pembangunan serta penyediaan infrastruktur, agar semakin mendorong penanaman modal dalam negeri atau pun asing.

Perseroan berencana tahun ini dapat menyalurkan produk baja dalam waktu dua bulan sampai tiga bulan. “Enam bulan ke depan diharapkan workshop fabrikasi baja bakal beroperasi dengan memakai teknologi high end Eropa. Yang bertujuan untuk menghasilkan produk yang presisi dan proses yang efisien,” ujar Gunadi.

Proyek pabrik baja ini memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya (rooftoop solar cell) sebagai salah satu alternatif penghematan operasional workshop. Hal ini akan menghasilkan produksi sejumlah 4.000 ton per bulan. Ditargetkan kapasitas produksi dapat menjangkau 40 ribu sampai 50 ribu tahun ini.

POTENSI PROYEK PABRIK BAJA

Pemilihan lokasi proyek pabrik baja di Serang, sebab kawasan ini cukup strategis dengan akses tol. Selanjutnya, perseroan bakal menghasilkan kualitas produk dengan standar yang mumpuni.

Gunadi menuturkan, “Dua sampai tiga tahun ke depan (proyek pabrik baja) kami bakal menjadi backbone dari induk usaha. Bila pembangunan Tol Jawa dan Sumatera telah terhubung, maka kami adalah jawaban untuk sustainability investment bagi lini bisnis Waskita Karya.”

Direktur Keuangan Waskita Karya Infrastruktur, Darmanta menambahkan, perseroan menggandeng perbankan dalam kebutuhan modal kerja. Pengaturan konfigurasinya 70 persen berasal dari pendanaan eksternal dan 30 persen sisanya dari equity.

Darmanta menjelaskan, perseroan mengalokasikan dana belanja modal atau Capital Expenditure (Capex) senilai Rp1 triliun pada tahun ini. Jumlah tersebut bakal digunakan untuk mendanai beberapa proyek perseroan, salah satunya proyek pabrik baja di Serang.

“Tahun ini, kami punya mandat Rancangan Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) sejumlah Rp4,5 triliun. Dan kami harus membelanjakan Rp1 triliun, sehingga dalam nilai tersebut dibutuhkan kecepatan dan akurasi bekerja,” ungkap Darmanta. []

Energi & Tambang

Paket Konverter Kit dari Pertamina Siap Didistribusikan

Alfian Setya Saputra

Published

on

Paket Konverter Kit

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Paket Konverter Kit (konkit) siap didistribusikan oleh PT Pertamina (Persero) sebagai tindaklanjut dari penugasan yang diberikan pemerintah pusat.

Totalnya ada sebanyak 35.000 paket konverter kit yang akan disalurkan kepada para nelayan dan petani di berbagai daerah.

Sebanyak 10.000 paket konverter kit akan dibagikan untuk petani di 24 kabupaten/kota dan 25.000 paket lagi disalurkan untuk nelayan di 42 kabupaten/kota.

Fajriyah Usman selaku Vice Corporate Communication Pertamina, menyatakan paket Konverter kit ini akan meringankan biaya operasional kapal penangkap ikan bagi nelayan serta mesin pompa air bagi petani.

Karena penggunaannya lebih hemat, efisien, dan lebih ramah lingkungan, perawatan mesin juga menjadi lebih mudah.

“Pertamina mendapat penugasan melakukan konversi Bahan Bakar Minyak ke Bahan Bakar Gas. Hal ini sesuai Surat Perjanjian Pelaksanaan Pekerjaan Konversi BBM ke BBG untuk Nelayan Sasaran dan Petani Tahun Anggaran 2020,” ujarnya.

Fajriyah mengatakan, surat perjanjian ditandatangani oleh pihak Kementerian ESDM dan Pertamina di Jakarta, Selasa (4/8/2020).

Mereka yang menandatangani yaitu Plt Dirjen Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Ego Syahrial, SVP Shipping Pertamina Joko Eko, Direktur Marketing Pertamina Patra Niaga, Pejabat Pembuat Komitmen Konversi BBM ke BBG untuk Nelayan Irene Yulianingsih, Pejabat Pembuat Komitmen Konversi BBM ke BBG untuk Petani Safriyanto dan VP LPG Sales Pertamina Primarini.

“Setelah penandatanganan perjanjian, kami akan bergerak cepat dan segera melakukan proses pengadaan konverter kit yang ditargetkan selesai pada akhir September mendatang. Sehingga pada minggu kedua bulan Oktober 2020 sudah mulai didistribusikan,” ujar Fajriyah dalam siaran pers, Rabu (5/8/2020).

Untuk memperlancar distribusi, Pertamina akan menyiapkan pangkalan di wilayah petani dan nelayan yang menjadi sasaran untuk mendukung ketersediaan isi ulang LPG.

Sejak tahun 2016, BUMN energi ini telah menyalurkan paket konverter kit untuk nelayan, hingga tahun 2019 telah mendistribusikan 60.859 paket.

Sementara untuk petani, jumlah paket Konkit yang disalurkan sebanyak 1.000 paket sejak tahun 2019.

Untuk tahun ini, Pertamina akan mendistribusikan paket Konverter kit untuk nelayan sasaran ke-17 provinsi.

Mulai dari Daerah Istimewa Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.

“Sedangkan paket Konverter KIT untuk petani sasaran akan dibagikan sebanyak 10.000 paket di 6 provinsi. Kami memastikan perseroan akan menjalankan tugas ini sesuai target dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,” tandasnya. []

Continue Reading

Energi & Tambang

Laba PLN Anjlok Hingga 97 Persen!

EKO PRASETYO

Published

on

Laba PLN

MEDIABUMN.COM, Jakarta- Laba PLN (Persero) pada Semester I tahun 2020 mengalami anjlok hingga 97 persen dibandingkan periode serupa tahun 2019, yakni dari Rp7,31 triliun, kini hanya Rp251,61 miliar.

Penurunan laba PLN ini salah satunya dipicu oleh fluktuasi kurs mata uang Rupiah terhadap mata uang asing dan dampak dari pandemi covid-19 yang berkepanjangan.

PT PLN dan anak perusahaan mencatat rugi laba kurs mata uang asing bersih Rp 7,8 triliun pada Semester I/2020, padahal di periode yang sama tahun sebelumnya masih bisa mencatat laba kurs Rp 5,04 triliun.

Meski laba PLN anjlok, namun penjualan listrik masih mengalami peningkatan sebesar 1,129 GWh, naik 0,95 persen dari periode tahun lalu sebesar 118,522 GWh menjadi 119,651 GWh.

Hal ini menjadikan pendapatan dari penjualan listrik PLN masih tumbuh 1,5 persen dari Rp133,45 triliun menjadi Rp135,41 triliun.

Agung Murdifi selaku Executive Vice President Corporate Communication and CSR PLN, mengatakan laba PLN yang anjlok ini juga dipengaruhi dengan tarif tenaga listrik yang tidak mengalami perubahan sejak tahun 2017.

“Sepanjang Semester satu tahun 2020, secara keseluruhan PLN mampu membukukan pendapatan usaha Rp139,78 triliun meningkat 1,6 persen dibandingkan tahun lalu. EBITDA perusahaan senilai Rp35,29 triliun dengan EBITDA Margin sebesar 21,4 persen,” ujar Agung dalam keterangan resminya, Rabu (29/07/2020).

Agung menjelaskan, peningkatan penjualan listrik ini terjadi lantaran jumlah pelanggan PLN yang juga bertambah.

Tercatat di akhir Juni 2020, jumlah pelanggan PLN sudah mencapai 77,19 juta pelanggan, angka itu bertambah sebanyak 3,59 juta pelanggan dari posisi akhir Juni 2019.
Untuk meringankan beban kelompok masyarakat yang paling terdampak pandemi, Pemerintah pusat juga memberikan keringanan biaya listrik bagi pelanggan daya 450 VA dan 900VA bersubsidi.

Terkait pertumbuhan infrastruktur ketenagalistrikan, perusahaan strum Negara ini berrhasil menambah kapasitas terpasang pembangkit sebesar 1.285,2 MW.

Kemudian jaringan transmisi untuk evakuasi daya pembangkit yang telah beroperasi juga bertambah sepanjang 950,9 KMS, dan kapasitas Gardu Induk bertambah sebesar 2.890 MVA.

“Upaya efisiensi biaya operasional terus kami lakukan, khususnya biaya pemakaian bahan bakar. Di Semester pertama tahun 2020, pemakaian bahan bakar lebih rendah dibandingkan Semester I tahun 2019. Yaitu Rp1.368 per kWh yang lebih rendah Rp21 dibanding sebelumnya Rp1.389 per kWh,” tutupnya. []

Continue Reading

Energi & Tambang

Konversi Bahan Bakar Kapal Pertamina Trans Kontinental Dimulai

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Konversi bahan bakar

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Konversi bahan bakar kapal milik PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) mulai dilakukan sebagai bagian dari upaya efisiensi dalam operasional perusahaan.

Anak Perusahaan PT Pertamina (Persero) ini melakukan konversi bahan bakar kapal dari High Speed Diesel (HSD) menjadi Berbahan Bakar Ganda – Diesel Dual Fuel (DDF), yaitu bahan bakar HSD dan Liquified Natural Gas (LNG).

Konversi bahan bakar kapal ini ditandai dengan penandatanganan kerja sama Sinergi dua Anak Perusahaan PT Pertamina (Persero), yaitu PT Pertamina Trans Kontinental dan PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM).

Kedua Perusahaan pelat merah ini melakukan penandatangan Nota Kesepahaman melalui Video Conference, pada Rabu (29/7/2020).

Direktur Utama PTK Nepos MT Pakpahan, selain efisiensi, konversi ini dilakukan untuk mendukung Pemerintah dalam mengurangi impor HSD.

“Kondisi ekonomi saat ini sedang mengalami penurunan, baik nasional dan global. Maka seluruh perusahaan baik BUMN maupun swasta melakukan berbagai upaya untuk melakukan efisiensi,” ujar Nepos Pakpahan.

Menurutnya, penggunaan LNG untuk mengurangi impor HSD ini sejalan dengan Program Pemerintah untuk penyusunan langkah konversi penggunaan bahan bakar diesel ke gas.

Kebijakan ini ditetapkan melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 128 K/70/MEM/2020 tentang Gugus Tugas Ketahanan dan Pemanfaatan Energi.

Inovasi Konversi Bahan Bakar

Dengan konversi ini, Nepos menilai ada peluang untuk memanfaatkan perkembangan teknologi untuk peningkatan performa perusahaan, baik dalam hal operasional, efisiensi, dan optimalisasi produk BBM dalam negeri.

“Tentunya hal ini bisa terwujud dengan adanya semangat sinergi antar anak perusahaan Pertamina, dan adanya kesadaran untu memberikan nilai tambah bagi perusahaan,” jelasnya.

Untuk mewujudkan ide dan inovasi tersebut, maka PTK dan PHM membuat satu proyek percontohan (Pilot Project) Konversi Bahan Bakar kapal dari HSD menjadi DDF.

Penerapan inovasi ini dilakukan pada salah satu Kapal milik PTK yang akan dioperasikan di PHM, dan ditargetkan bisa melakukan substitusi penggunaan Bahan Bakar HSD menjadi LNG.

Nepos memastikan kerjasama ini akan memberikan keuntungan bagi kedua belah Pihak, yaitu PHM bisa mendapatkan keuntungan dengan berkurangnya pemakaian HSD hingga 60 persen.

Sementara dengan penggunaan LNG yang harganya relatif lebih murah dan ramah lingkungan, PHM akan mendapatkan nilai lebih.

“Konversi ini juga menguntungkan bagi kami, yaitu kapal-kapal milik PTK di PHM bisa disewa dengan harga cukup baik dengan kontrak jangka panjang. Maka ke depan tidak hanya satu kapal yang dikonversi, tetapi beberapa kapal untuk mengantikan kapal-kapal yang masih memakai bahan bakar HSD,” jelasnya.

Proyek konversi bahan bakar kapal ini juga mendapat dukungan dari induk usaha Pertamina, Kementerian ESDM dan SKK Migas selaku regulator karena akan menekan impor HSD dan meningkatkan penggunaan produksi dalam negeri dengan pemanfaatan LNG. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!