Connect with us
banner pln 2023

Agrobisnis & Pangan

Produksi Garam Nasional Belum Optimal, Siapa Salah?

Published

on

Produksi garam

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Produksi garam lokal yang dihasilkan petambak garam Indonesia sampai saat ini masih cukup rendah.

Minimnya hasil produksi garam ini tidak bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga pemerintah harus impor garam hingga 2,83 juta ton sepanjang tahun 2021.

Kondisi ini pun dipertanyakan oleh Komisi VI DPR RI saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI dengan PT Garam Indonesia, Senin, (05/09/2022).

Anggota Komisi VI DPR RI, I Nyoman Parta mengatakan, Indonesia sebenarnya punya lahan potensial yang besar untuk meningkatkan produksi garam lokal.

Namun sampai sekarang produk garam rakyat belum optimal, termasuk dalam pemanfaatan teknologi yang belum merata, ongkos produksi yang mahal serta harga jual yang tak menentu.

I Nyoman Parta mengatakan, produksi garam nasional tak bisa mencukupi kebutuhan nasional, yaitu hanya sebesar 1,09 juta ton di tahun 2021.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), jumlah itu turun 20,44 persen dari tahun 2020 yang mencapai 1,37 ton.

Bahkan jumlah produksi itu hanya mencapai 61,9 persen dari target nasional, yaitu sebanyak 2,1 juta ton sehingga pemerintah terpaksa mengimpor garam hingga 2,8 juta ton.

Wakil Rakyat dari Fraksi PDIP ini juga menyoroti beberapa faktor lain yang sering dialami oleh petani kecil, yaitu standarisasi produk.

Pasalnya garam yang dihasilkan petani sering dianggap kurang bermutu, seperti kandungan NaCL yang rendah di bawah 92 persen dan tidak bisa memenuhi standar kebutuhan infustri sebesar 97 hingga 99 persen.

Menurutnya, standarisasi yang dibuat terlalu tinggi justru menyusahkan produk garam lokal tidak terserap dan akhirnya menjadi kesempatan besar masuknya produk impor.

PRODUKSI GARAM RENDAH

Sementara Direktur Utama PT Garam Arif Haendra menjelaskan penyebab rendahnya jumlah produksi lokal karena tidak tidak semua pantai di Indonesia bisa menjadi tempat produksi garam.

Pasalnya lokasi yang cocok untuk pembuatan garam di Indonesia hanya berada di pantai utara Pulau Jawa, Jawa Timur, dan Madura.

Arif menjelaskan, untuk proses produksi membutuhkan radiasi panas yang sangat besar sehingga tidak mungkin bisa dilakukan di pantai Sumatera atau Sulawesi.

“Beberapa wilayah pantai di Indonesia radiasi panasnya tidak maksimal, selain itu wilayah yang terjalu terjal juga tidak cocok karena yang dibutuhkan adalah lahan datar di sepanjang pantai,” jelasnya.

Ia mencontohkan kualitas garam dari Australia jauh lebih baik karena di sana ada sistem aliran air laut sepanjang 40 km dari pantai dan dikeringkan di gurun.

Kemudian hasil garam itu masih dilakukan pencucian dan dijemur selama 3 sampai 5 tahun sebelum diekspor,sementara di Indonesia, hasil panennya langsung dijual.

Meski begitu, PT Garam berkomitmen untuk terus meningkatkan daya saing dari produk impor agar bisa memenuhi kebutuhan industri

Arif Haendra mengatakan, pada saat harga rendah, pihaknya akan berupaya mengejar harga dari garam impor.

BUMN ini juga menargetkan mulai tahun 2025 mendatang, tidak akan lagi menjual garam bahan baku ke pasar nasional, karena akan difokuskan menjadi soda es atau soda kaustik. []

Continue Reading

BNI

Label

Copyright © 2023 MEDIABUMN.COM