Connect with us
PERTAMINA

CEO TALK

Potret Bisnis Pos Indonesia di 2022

Published

on

Pos Indonesia

MEDIABUMN.COM, – PT Pos Indonesia (Persero) menatap optimis akan proyeksi bisnisnya di tahun 2022. Berbekal fondasi bisnis yang telah terbangun dengan baik dan terarah, Pos Indonesia diproyeksikan akan melaju lebih cepat di tahun 2022 dan mampu meraih pangsa pasar yang lebih luas serta mengejar sejumlah ketertingalan dari para kompetitor.

Hal ini tercermin dari berbagai infrastruktur bisnis khususnya dari sisi teknologi yang dulu sempat membuat perseroan keteteran, kini jauh lebih kuat dan mampu berdaya bersaing. Belum lagi inovasi yang dibangun dalam upaya peningkatan pelayanan secara total dan keunggulan jaringan bisnis yang dimiliki hingga ke rural area.

Dengan menggelorakan semangat transformasi yang dibangun, Pos Indonesia kian solid mengucapkan “selamat tinggal” pada pola-pola bisnis lama yang sudah tidak relevan dan semakin percaya diri menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat dengan berbekal teknologi.

Seperti diketahui bahwa disrupsi pada tubuh Pos Indonesia sudah terjadi dari zaman ke zaman di masa lalu. Metamorfosa terus-menerus bergulir meskipun pada kenyataannya berbagai tantangan mampu dilalui BUMN orange ini dengan baik meskipun tidak mudah.

Dengan pasang surut yang dialami dari masa ke masa, tentu semakin mengasah kemampuan dan pengalaman perseroan dalam menghadapi segala bentuk tantangan. Pos Indonesia mampu melewati berbagai fase perubahan zaman dengan tantangan yang berbeda.

Perlahan tapi pasti, perseroan mampu mengurai benang yang kusut satu persatu dan merespon disrupsi digital dengan menghadirkan produk dan layanan yang relavan dengan kebutuhan zaman. Sehingga faktanya hingga kini Pos Indonesia masih berdiri kokoh menjalankan visinya menjadi postal operator, penyedia jasa kurir, logistik dan keuangan paling kompetitif.

Ke depan, tentunya Pos Indonesia akan jauh lebih responsif terhadap segala perubahan yang akan terjadi di masa mendatang. Sehingga perseroan mampu mengantisipasinya dengan menyiapkan fondasi bisnis yang jauh lebih kuat dan terukur.

Dengan kata lain, Pos Indonesia tidak ingin lagi terlambat merespon dinamika bisnis yang akan terjadi di masa mendatang karena telah menyiapkan fondasi bisnis yang jauh lebih kuat ke depan.

Menurut Direktur Kelembagaan PT Pos Indonesia (Persero), Nezar Patria, Sejak berdiri pada 1746 silam, ketika menjadi Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pos Indonesia mengalami beberapa fase, termasuk fase guncangan, masuk ke pasar bebas, dan beradaptasi dengan kompetisi yang sangat ketat. “Transformasi bukan hal baru. Sejak tahun 2000, transformasi menjadi satu kata kunci di tengah disrupsi teknologi yang mengancam bisnis jasa perposan di seluruh dunia,” jelas Nezar.

Berdasarkan perjalanannya, Lanjut Nezar, Pos Indonesia semula bertumpu pada bisnis pengiriman surat-menyurat. Kemudian berubah menjadi bisnis paket pengiriman barang. Pada akhirnya, revolusi digital mengubah kondisi pasar dan turut mengubah aktivitas bisnis perusahaan.

Pada 2010, industri e-commerce semakin matang, dan terus kokoh sampai saat ini, terutama ketika pandemi Covid-19 muncul. Hal ini turut mendorong pertumbuhan industri kurir dan logistik yang kini memiliki ukuran pasar mencapai Rp3.400 triliun.

Era teknologi, termasuk perdagangan elektronik atau e-commerce, menciptakan budaya baru berupa proses integrasi, kolaborasi, dan kenyamanan transaksi bisnis yang lebih cepat. Pos Indonesia mengambil posisi untuk mendukung proses transaksi perdagangan digital tersebut sekaligus mendorong peningkatan kinerja perusahaan.

Di sisi lain, imbuh Nezar, Pos Indonesia berhadapan dengan perkembangan landscape dan kompetisi bisnis yang cukup keras. Para pemain di industri kurir dan logistik juga turut berkembang. industri terbuka lebar, perusahaan swasta dan modal asing masuk secara deras.

“Kendati demikian, Pos Indonesia terus berupaya agresif merebut pangsa pasar dengan pertumbuhan yang cukup menjanjikan selama 10 tahun terakhir. Caranya, dengan merestrukturisasi strategi dan menciptakan produk baru,” jelas Nezar Patria.

TRANSFORMASI STRATEGIS

Menurut Nezar Patria, di tahun Pos Indonesia telah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk meningkatkan pangsa pasar yang lebih luas. Pada Tahun Macan ini, Pos Indonesia berfokus pada pertumbuhan organik bisnis utama, yakni divisi kurir, logistik, dan jasa layanan keuangan. Perusahaan memproyeksi pertumbuhan omzet bisa mencapai 21,51% dan peningkatan EBITDA 6,63%.

Fokus lain adalah pada pertumbuhan anorganik, yakni dengan menciptakan nilai melalui kapitalisasi integrasi bisnis, kerja sama strategis, merger dan akuisisi, serta menciptakan nilai bisnis dan korporasi.

“PT Pos memiliki prospek dan peluang dalam meraih pangsa pasar industri Courier express dan parsel yang saat ini terus tumbuh,” ujar Nezar.

Adapun fokus bisnis organik dan anorganik tentunya tidak terlepas dari upaya transformasi pada 7 sektor yang tengah dijalankan oleh Perseroan. 7 sektor tersebut antara lain yaitu meliputi:

(1) Transformasi pada sektor bisnis, yang dilakukan demi meningkatkan pangsa pasar di bidang bisnis inti, yaitu kurir, jasa keuangan dan logistik.

(2) Transformasi produk dan saluran, yang dilakukan melalui pembaruan operasional dan layanan teknologi informasi dari semula fisik menjadi digital.

(3) Transformasi proses, yaitu melakukan program transformasi proses dari manual menjadi otomasi dengan digitalisasi dan sentralisasi proses.

(4) Transformasi teknologi. yaitu untuk meningkatkan kelincahan, ketersediaan,keandalan, dan penguatan fitur pada setiap platform yang dimiliki Pos Indonesia.

(5) Transformasi sumber daya manusia (SDM), melalui program transformasi dengan membangun SDM yang kompetitif. Selain itu, membangun kinerja yang produktif, dengan membangun sistem manajemen karyawan.

(6) Transformasi organisasi dengan memperkuat proses penjualan dan operasional.

(7) Transformasi budaya, yaitu dalam rangka mengubah dari perilaku menjadi karakter untuk membangun soliditas dan tim yang terpercaya.

Bukan hanya transformasi di 7 sektor strategis saja, Pos Indonesia juga menjalankan 13 inisiatif strategis yang melahirkan program kerja di bidang bisnis, operasi, dan layanan yang seluruhnya berorientasi kepada pemangku kepentingan, pelanggan, mitra bisnis, dan pemerintah sebagai regulator.

Selain itu, perusahaan juga melakukan strategi yang berbeda untuk yang masuk kategori red ocean dan blue ocean. Hal ini dilakukan demi meningkatkan pangsa pasar Pos Indonesia di antara perusahaan di industri sejenis.

“Di kategori red ocean, Pos Indonesia melakukan peningkatan kualitas dan kepuasan pelanggan dengan sistem operasi berbasis digital. Sedangkan di kategori blue ocean, melakukan penetrasi kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) socio-commerce,” papar Nezar. []

CEO TALK

276 Tahun Pos Indonesia: Transformasi SDM Pos Indonesia Membuahkan Hasil Positif

Published

on

Transformasi SDM

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Dalam perjalanannya, Pos Indonesia membuahkan hasil di bidang SDM dari hasil transformasi yang dilakukan perusahaan. Hal ini dibuktikan dengan prestasinya dalam meraih sejumlah penghargaan bergengsi. Salah satu yang terbaru, Pos Indonesia memperoleh dua penghargaan dalam Human Capital on Resilience Award 2022 yang diselenggarakan di Bandung pada 29 Juli 2022 lalu.

Penghargaan yang diterima perusahaan adalah The Best Human Capital Support on Business Transformation dan The Best Human Capital in Digital Transformation. Penghargaan yang diterima Pos Indonesia merupakan hasil keseriusan perusahaan dalam melakukan transformasi, terutama yang terkait dengan pengelolaan SDM untuk menghadapi perubahan bisnis.

Menurut Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Faizal Rochmad Djoemadi, di usianya yang menginjak 276 tahun, Pos Indonesia telah memiliki 17.300 lebih karyawan yang harus terus dijaga agar tetap relevan dengan kebutuhan pelanggan. Menjaga diri tetap relevan merupakan pekerjaan yang tidak mudah, terlebih lagi di zaman yang perubahannya sangat cepat terjadi, sulit diprediksi dan sulit dikendalikan.

Bentuk transformasi SDM yang dilakukan Pos Indonesia antara lain: (1) Menyiapkan struktur organisasi yang lebih fokus pada bisnis, simplifikasi birokrasi, dan sentralisasi fungsi pendukung dengan menyeimbangkan kembali organisasi Regional dari 11 regional menjadi 6 regional dan 205 Kantorpos menjadi 42 Kantor Cabang Utama dan 169 Kantor Cabang.

(2) Menyiapkan pemimpin-pemimpin Pos Indonesia dengan melakukan program pengembangan sesuai dengan kebutuhan bisnis. Untuk mengisi kebutuhan pemimpin Pos Indonesia di masa mendatang, Pos Indonesia menyelenggarakan Talent Development Program untuk mengejar gap kompetensi yang dibagi berdasarkan talent pool.

(3) Mengubah perencanaan man-power sesuai dengan perkembangan bisnis yang baru, mendorong program kemitraan di bidang pekerjaan tertentu dan pembentukan kompetensi baru sesuai dengan kebutuhan bisnis untuk mendorong productivity enhancement.

STRATEGI TRANSFORMASI MASUK RJPP

Faizal memaparkan, transformasi merupakan proses yang panjang, sehingga diharapkan programnya bisa berjalan terus, ada atau tidak ada dirinya sebagai pemimpin dalam perusahaan.

Hal itu yang mendasari keputusan bahwa program transformasi harus dicantumkan dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) Pos Indonesia pada periode 2023-2027. “Saat ini sedang disahkan Kementerian BUMN dan dijadikan pedoman 5 tahun ke depan, siapapun pengurusnya, (program transformasi) harus dijalankan,”ujar Faizal.

Pada akhirnya, RJPP akan menjadi dasar bagi pemimpin perusahaan untuk Menyusun Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) setiap tahunnya. Tak dapat dipungkiri, perusahaan mengalami perubahan target performa dalam beberapa tahun terakhir, seiring terjadi pandemi Covid-19. Terlebih, kondisi ekonomi global juga mengalami fluktuasi, terdapat pula kondisi kelangkaan pangan dan energi akibat perang antara Rusia dan Ukraina yang mempengaruhi penawaran dan permintaan di seluruh dunia. Hal ini berdampak pada kondisi ekonomi makro di Indonesia.

Pada dasarnya, dalam jangka pendek, Pos Indonesia berambisi meningkatkan proses bisnis yang membuahan profitabilitas tinggi. Selain itu, melakukan reorganisasi untuk mendorong strategi bisnis, dan memberi kepuasan terhadap pelanggan.

Dalam jangka menengah, perusahaan pelat merah ini berencana melakukan investasi di bidang proses dan teknologi demi meningkatkan kualitas dan layanan bagi pelanggan. Hal tak kalah penting ialah membangun tata kelola perusahaan dan sumber daya manusia untuk menciptakan budaya yang cocok dengan industri.

Sementara itu, dalam jangka panjang, Pos Indonesia berharap bisa berkembang melalui kolaborasi dengan perusahaan dan bisnis lain serta memberi kontribusi kepada pemerintah dan pemangku kepentingan lain.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pos Indonesia memiliki dua peran strategis yaitu sebagai korporasi perseroan harus mencetak keuntungan, sementara di sisi lain, sebagai perusahaan milik negara, Pos Indonesia juga mengemban tugas menjadi agen pembangunan (agent of development). Hal ini dilakukan melalui kontribusi dan berperan langsung dan tidak langsung dalam pertumbuhan ekonomi dan program pemerintah.

Nyatanya Pos Indonesia mampu menjalankan kedua peran tersebut dengan baik dan seimbang. Perusahaan terus berupaya melakukan penghitungan dan analisis bisnis secara matang. Hal itu dibutuhkan agar perusahaan tidak mengalami kerugian, terutama di masa kritis seiring kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Pada intinya adalah perusahaan selalu berupaya menyelesaikan tugas membantu program pemerintah secara optimal. Hal itu dilakukan tentu dengan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat, tetapi juga tetap concern terhadap aspek komersial lainnya agar Pos Indonesia juga mampu berperan dengan berkontribusi kepada negara dari sisi pajak dan profit. []

Continue Reading

CEO TALK

276 Tahun Pos Indonesia: Membangun Transformasi Untuk 276 Tahun Ke Depan

Published

on

276 Tahun

MEDIABUMN.COM, Jakarta – 276 tahun menjadi perjalanan panjang bagi PT Pos Indonesia (Persero) untuk hadir melayani seluruh kebutuhan perposan di tanah air. Dengan pasang surut yang dialami dari masa ke masa, tentu telah mengasah pengalaman dan kemampuan perusahaan dalam menghadapi segala bentuk tantangan.

Seperti saat ini, dimana Pos Indonesia tengah dihadapi oleh persaingan yang begitu ketat. Namun dengan semangat transformasi yang tengah dibangun, Pos Indonesia kian solid dan optimis menghadapi berbagai tantangan dengan menghadirkan beragam inovasi yang tentunya sangat relevan dengan kebutuhan zaman.

Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Faizal Rochmad Djoemadi mengungkapkan filosofinya dalam memaknai usia perusahaan. “Setiap pondasi harus lebih dalam dan besar dari bangunannya. 276 tahun itu bermaksa sebagai akar dan pondasi yang kokoh untuk membuat bangunan yang lebih tinggi lagi ke depan,” ujar Faizal.

Faizal berupaya membandingkan kondisi perusahaan yang mampu bertahan selama lima tahun dan bertahan selama ratusan tahun. Menurut dia, kekuatan besar tentu berada pada perusahaan yang mampu bertahan ratusan tahun. Hal itu pula yang terjadi pada Pos Indonesia.

Sejarah mencatat keberadaan Pos Indonesia begitu panjang, Kantor Pos pertama didirikan di Batavia atau saat ini Bernama DKI Jakarta pada 26 Agustus 1746. Tujuannya, untuk menjamin keamanan surat-surat penduduk, terutama bagi pedagang, dari kantor-kantor di luar Jawa dan Belanda.

Pos Indonesia mengalami beberapa kali perubahan status, mulai dari Jawatan Post, Telegraph, dan Telephone atau Jawatan PTT, kemudian menjadi Perusahaan Negara Pos dan Telekomunikasi atau PN Postel.

Seiring perubahan di sektor Pos dan Telekomunikasi, PN Postel kembali mengalami perubahan status menjadi Perusahaan Negara Pos dan Giro atau PN Pos dan Giro pada tahun 1965.

Tak berhenti sampai di sana, pada 1978, perusahaan Kembali berubah menjadi Perum Pos dan Giro. Sejak itu ditegaskan sebagai badan usaha tunggal dalam menyelenggarakan dinas pos dan giropos, baik untuk hubungan dalam negeri maupun luar negeri. Setelah berstatus Perum selama 17 tahun, pada Juni 1995 berubah menjadi Perseroan Terbatas dengan nama PT Pos Indonesia (Persero) hingga saat ini.

Seiring berjalannya waktu, Pos Indonesia telah berkembang hingga ke 58.700 titik layanan yang menjangkau 100% kabupaten/kota. Jejaring Pos Indonesia juga sudah memiliki lebih dari 3.800 Kantor pos daring atau online, serta dilengkapi Mobile Postal Services di beberapa kota besar.

Untuk perayaan hari jadi Pos Indonesia kali ini, perusahaan memilih tema “Untuk 276 Tahun ke Depan”. Hal itu berarti, perusahaan tak ingin terus bernostalgia dengan menengok ke masa lalu, melainkan ingin menjadikan masa lalu sebagai pelajaran yang berarti dan meletakkan pondasi kokoh tersebut untuk menjalani masa depan dan menjawab berbagai tantangan yang ada di depan mata.

TRANSFORMASI JADI KUNCI

Meski diterpa oleh berbagai guncangan berupa perubahan dan disrupsi dari berbagai sisi, Pos Indonesia tetap bertahan dan tak pernah sekalipun tertidur. Hal itu menunjukkan kekuatan besar yang dimiliki Pos Indonesia.

Disrupsi akibat perubahan teknologi tak hanya sekali dialami oleh Pos Indonesia, melainkan berulang kali. Mulai dari munculnya teknologi telepon dan pesan singkat, kemudian internet, hingga ke platform digital yang berteknologi canggih seperti, aplikasi transportasi, logistik, dan layanan finansial. Seluruhnya mengubah kondisi bisnis Pos Indonesia menjadi lebih sulit, namun tak sekalipun perusahaan keok dibuatnya.

Kunci pertahanan Pos Indonesia tak lain adalah melakukan sejumlah transformasi. Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Faizal Rochmad Djoemadi mengungkapkan, perusahaan menjalani transformasi pada tujuh elemen. Ketujuh elemen yang dimaksud antara lain:

(1) Transformasi pada sektor bisnis, yang dilakukan demi meningkatkan pangsa pasar di bidang bisnis inti, yaitu kurir, jasa keuangan dan logistik.

(2) Transformasi produk dan saluran, yang dilakukan melalui pembaruan operasional dan layanan teknologi informasi dari semula fisik menjadi digital.

(3) Transformasi proses, yaitu melakukan program transformasi proses dari manual menjadi otomasi dengan digitalisasi dan sentralisasi proses.

(4) transformasi teknologi. yaitu untuk meningkatkan kelincahan, ketersediaan, keandalan, dan penguatan fitur pada setiap platform yang dimiliki Pos Indonesia.

(5) Transformasi sumber daya manusia (SDM), melalui program transformasi dengan membangun SDM yang kompetitif. Selain itu, membangun kinerja yang produktif, dengan membangun sistem manajemen karyawan.

(6) Transformasi organisasi dengan memperkuat proses penjualan dan operasional.

(7) Transformasi budaya, yaitu dalam rangka mengubah dari perilaku menjadi karakter untuk membangun soliditas dan tim yang terpercaya. []

Continue Reading

CEO TALK

Rencana Bisnis Bank Papua: Kuatkan Daya Saing

Published

on

Bank Papua

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Pada dasarnya, Bank Papua memiliki sejumlah target kinerja yang tercantum dalam rencana bisnis periode 2023-2027. Secara garis besar meliputi, peningkatan daya saing, penguatan ketahanan kelembagaan, dan peningkatan kontribusi terhadap pembangunan daerah.

Secara rinci dijelaskan, Bank Papua akan melakukan penguatan berkelanjutan terkait platform bisnis. Inisiatif strategis dan eksekusi dititikberatkan pada bidang terkait pondasi dan pendukung pada rencana strategis 2017-2022 yang masih memerlukan penyempurnaan.

Selain itu, perusahaan juga akan memperkuat pemasaran dan penjualan untuk akselerasi pertumbuhan sektor terseleksi. Inisiatif strategis dan eksekusi dititikberatkan pada penguatan perangkat pemasaran dan penjualan produk dana dan kredit produktif UMKM untuk perluasan basis konsumen.

Strategi utama akan dieksekusi melalui 7 Bidang Utama yang menjadi prioritas alokasi dan utilisasi sumber daya Bank Papua 2023-2027. Ketujuh bidang utama yang dimaksud antara lain: (1) Layanan, Marketing dan Sales (dana dan kredit produktif UMKM). (2) Risk Management dan Kepatuhan. (3) Human Capital Management dan Corporate Culture. (4) Jaringan Distribusi dan Organisasi. (5) Teknologi. (6) Pengendalian Keuangan. (7) Pemulihan dan Penyelesaian Kredit.

KONTRIBUSI BAGI PEMBANGUNAN TANAH PAPUA

Status Bank Papua sebagai bank pembangunan terbesar di Tanah Papua menuntut perusahaan berkontribusi secara signifikan untuk meningkatkan perekonomian Pulau Cendrawasih.

Namun dalam perjalanannya, Bank Papua mengalami banyak tantangan. Salah satu tantangan yang dihadapi perusahaan di tengah upaya mendorong ekonomi kawasan Papua ialah, ketidakpastian pasar keuangan global masih berlanjut di tengah penyebaran Covid-19 varian Omicron dan pengumuman siklus pengetatan kebijakan moneter the Fed yang lebih cepat.

Hal tersebut mengakibatkan terbatasnya aliran modal dan tekanan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini juga berakibat pada tersendatnya aliran modal ke Tanah Papua.

Tantangan lain yang dialami Bank Papua dalam berkontribusi terhadap ekonomi Papua adalah, penyaluran kredit di Tanah Papua sebagian besar disalurkan oleh Bank BUMN, alih-alih bank pembangunan daerah.

Hal ini ditunjukkan dengan pangsa kredit Bank BUMN yang mendominasi selama lima tahun terakhir. Pangsa kredit Bank BUMN pada posisi September tahun 2021 sebesar 59,60%, meningkat dibandingkan dengan posisi Desember 2020 yaitu 51,09%.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan Peta Jalan atau Roadmap Tahap 2 Keuangan Berkelanjutan periode 2021-2025. Dalam rancangan tersebut, bank harus menyelaraskan operasional bisnis dengan memperhatikan lingkungan dan memberdayakan masyarakat sekitar sehingga bisnis bank dapat tumbuh berkelanjutan.

Rancangan ini menjadi tantangan bagi Bank Papua untuk terus mendorong perekonomian wilayah Papua secara agresif. Kendati menghadapi sejumlah tantangan, Bank Papua juga memiliki banyak peluang untuk turut mendongkrak ekonomi di Tanah Papua. Dalam hal ini, perekonomian Papua pada kuartal III 2021 mengalami pertumbuhan sebesar 14,54% dalam perhitungan tahunan atau year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 3,51% (yoy).

Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan pengeluaran pada kuartal II 2021 didorong oleh meningkatnya kinerja ekspor dan investasi dari sisi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB).

Kontribusi sektor usaha terbesar terhadap PDRB Provinsi Papua pada kuartal III disumbang oleh sektor pertambangan, yakni 37,86%, sektor konstruksi 13,80%, dan sektor pertanian sebesar 10,74%.

Continue Reading

BNI

Label

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!