Connect with us
PERTAMINA

Energi & Tambang

PLTS Atap Jadi Proyeksi Bisnis PLN

MediaBUMN

Published

on

PLTS Atap

PLTS Atap akan ditargetkan pemasangannya hingga satu juta (1juta) unit dalam empat tahun kedepan sampai 2023. Kapasitas tenaga yang ditargetkan mencapai satu gigawatt.Hal ini disampaikan pemerintah melalui Kementerian ESDM.

PLTS Atap kini tengah dikaji oleh Zulfikar Manggau, selaku Kepala Divisi Energi Baru dan Terbarukan PT PLN. Pihaknya masih melakukan pertimbangan prospek mekanisme dalam penjualan proyek ini secara besar-besaran ke depan.

Ia mengemukakan jika pihaknya hanya menangani masalah pemasangan serta perawatan melalui anak perusahaan PLN. Namun, diharapkan jika tahun depan telah ada mekanisme bisnis guna menjalankan proyek PLTS ini. Zulfikar juga menambahkan, pemanfaatan energi matahari ini bernilai strategis dan berpotensi menambah penghasilan bagi ragam bisnis PLN.

Meski demikian PLN masih tetap akan mengkaji dampak positif dan negatif baru bagi PO perusahaan. Terdapat 2 jenis upaya PLN untuk masuk ke dalam bisnis PLTS ini. Pertama, pembelian energi yang dimenangkan oleh perusahaan swasta. Yang kedua, dengan mengembangkan proyek ini secara mandiri (sendiri).

Proyeksi PLTS Atap

Zulfikar juga menuturkan jika PLN masih melihat perkembangan pasar PLTS ke depannya. Hal ini tentunya berpengaruh pada kemungkinan PLN memproduksi modul panel surya atap selanjutnya.

Pihaknya menilai jika industri terus bergerak dan berkembang sehingga kalau terdapat permintaan, maka perusahaan EBT (Energi Baru Dan Terbarukan) tidak akan menambah jumlah produksi karena fokus di permintaan saja.

Sejauh ini saja telah terdapat sekitar 600 (enam ratus) pelanggan PLN yang menggunakan PLTS Atap dengan kapasitas 5.500 VA. Data ini didapatkan khusus di wilayah Jabodetabek, untuk konsumsi rumah tangga. Dari jumlah awal 2019 sebesar 600 ini ditetapkan sebagai pelanggan dominan sekaligus paralel dengan PLN sebesar 5.500 VA.

Di wilayah Jawa Timur ditengarai juga telah banyak menggunakan proyek ini. Namun, belum tersebar secara masif. Semoga Proyek PLTS Atap ini mampu memberikan dampak positif bagi kesinambungan masyarakat secara keseluruhan di masa mendatang. []

Energi & Tambang

Masyarakat Pengguna PLTS Tumbuh Signifikan

MediaBUMN

Published

on

pengguna PLTS

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Pertumbuhan pengguna PLTS (pembangkit listrik tenaga surya) atap tercatat PLN dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sampai September 2019 sudah ada 1.435 PLTS Atap terpasang.

Hal tersebut diungkap Vice President Perencanaan dan Pengembangan Produk Inovatif PT PLN (Persero) Leo Basuki.

Leo mengatakan adanya payung hukum mengatur penggunaan PLTS Atap menjadi salah satu pendorong tumbuhnya pembangkit setrum energi hijau tersebut.

Ketika dirinci, kata Leo, kurang lebih ada 800 pelanggan pasang baru sejak payung hukum PLTS Atap diluncurkan Desember 2018 lalu.

Payung hukum penggunaan PLTS Atap tersebut telah diatur oleh Peraturan Menteri ESDM No 49 Tahun 2018 Tentang Penggunaan Sistem PLTS Atap oleh Konsumen PT PLN (Persero).

Diterangkannya, beleid tersebut selanjutnya direvisi Peraturan Menteri ESDM No 13 Tahun 2019 dan dilengkapi Permen ESDM No 12 Tahun 2019 tentang Kapasitas Pembangkit Tenaga Listrik untuk Kepentingan Sendiri.

Bahkan menurut Leo, pertumbuhan penggunaan PLTS Atap didorong juga dari komitmen sejumlah daerah.

“Terjadi peningkatan pengguna PLTS Atap mencapai 181% (Sejak diterbitkannya payung hukum),” jelas Leo.

Pihaknya pun optimisi atas pemanfaatan Energi Baru Terbarukan tersebut akan dapat mencapai 23% di tahun 2025.

Hal ini dikarenakan Provinsi-Provinsi juga sudah sama-sama bergerak memulai memanfaatkan PLTS Atap. Contohnya saja seperti Jawa Barat, Bali dan DKI Jakarta.

Dicontohkan Leo, Bali sendiri saat ini pun sudah menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) No 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih.

Dalam aturannya tersbut di Bali telah mewajibkan setiap bangunan pemerintah pusat dan daerah, bangunan komersial, industri, sosial dan rumah tangga dengan luas lantai lebih dari lima ratus meter persegi untuk memanfaatkan PLTS Atap mulai tahun 2021 hingga 2024.

Selanjutnya ada Provinsi DKI Jakarta sudah mengeluarkan Instruksi Gubernur memulai menggunakan PLTS Atap di setiap gedung-gedung Pemerintah Daerah, gedung olah raga, gedung sekolah dan fasilitas kesehatan.

Bahkan Leo mengungkapkan yang juga terjadi di Jakarta. Menurutnya, untuk mengurangi polusi udara, Gubernur Jakarta mengeluarkan Instruksi Gubernur memasang PLTS Atap di beberapa gedung sekolah masing-masing 15 KWp.

“Bahkan di tahun 2020 informasinya kantor dinas wajib dipasang PLTS Atap,” tuturnya.

Sebelumnya diketahui, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) F.X Sutijastoto menyatakan pihaknya tengah berupaya serius untuk panel surya ini dapat masuk ke industri.

Sampai-sampai, dikatakannya, pihaknya bersama kementerian, perusahaan BUMN dan sejumlah daerah memompa permintaan panel surya tersebut untuk masuk ke skala industri.

Bahkan disampaikan Sutijastoto, pihaknya menargetkan dapat menciptakan market panel surya 300 Megawatt dalam setahun. []

Continue Reading

Energi & Tambang

Target Produksi Migas Pertamina 2020 Capai 923 Ribu BOEPD

MediaBUMN

Published

on

produksi

MEDIABUMN.COM, Jakarta – PT Pertamina (Persero) memiliki target produksi minyak dan gas bumi (Migas) di tahun 2020 untuk bisa mencapai kenaikan produksi hingga 923 ribu barel setara minyak (Barel Oil Equivalent Per Day /BOEPD) pada 2020.

Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati mengatakan bahwa target produksi migas Pertamina di tahun 2020 ini dinilai lebih tinggi dibandingkan dengan tahun – tahun sebelumnya, termasuk di tahun 2019 yang hanya 906 ribu BOEPD.

Disampaikan Nicke, rincian target produksi migas tahun 2020 adalah 923 ribu BOEPD. Adapun target tersebut terdiri dari minyak 430 ribu barel per hari (bph) dan target produksi gas 2.857 juta kaki kubik per hari (mmscfd)‎.

“Pada tahun depan di 2020, produksi minyak dan gas bumi yang dihasilkan Pertamina ditargetkan mencapai 923 ribu barel setara minyak per hari,” terang Nicke.

Hal senada disampaikan Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu. Dijelaskannya, target produksi migas dengan besaran 923 ribu BOEPD yang akan dihasilkan Pertamina ini berasal dari dalam negeri dengan ksiaran 765 ribu BOEPD.

Selanjutnya 158 ribu BOEPD juga berasal dari lapangan migas luar negeri yang dikelola Pertamina.

Diakui Dharmawan, ada banyak tantangan dalam mencapai target produksi migas yang meningkat.

Dicontohkannya seperti memastikan pengadaan peralatan supaya tidak ada keterlambatan pengeboran.

“Kami harus dapat pastikan bahwa di setiap pengeboran tidak lagi telat, ini karena kemarin kami telat dalam melakukan pengadaan rig offshore,” kata dia.

Untuk diketahui juga, bahwa Pertamina memiliki target di tahun 2020 selain dalam hal produksi migas juga dalam hal pertumbuhan laba bersih sebesar 10 persen.

Laba tersebut diperoleh dengan mengandalkan peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas).

Sementara itu, dikutip dari bahan pemaparan kinerja Pertamina dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR, di Jakarta, sebelumnya (Kamis, 28/11).

Diketahui dalam RDP tersebut, laba pertamina di 2020 ditargetkan bisa mencapai USD 2,2 miliar atau setara Rp31 triliun (1 USD= 14.095).

Laba tersebut diketahui lebih tinggi dibanding dengan tahun 2019 ini yang hanya mencapai USD 2 miliar. []

Continue Reading

Energi & Tambang

Revolusi Industri 4.0, Ini Yang Dilakukan Pertamina

MediaBUMN

Published

on

revolusi

MEDIABUMN.COM, Jakarta – PT Pertamina (Persero) melakukan beberapa upaya di sektor minyak dan gas (migas) dalam ikut serta menghadapi revolusi industri 4.0.

Bahkan PT Pertamina sudah melakukan pengaplikasian revolusi industri 4.0 di sejumlah industri tanah air.

Salah satu yang dilakukan tombak energi Indonesia tersebut adalah program digitalisasi di sektor hulu hingga hilir migas.

Digitalisasi yang dilakukan Pertamina ini salah satunya terkait implementasi aplikasi penjadwalan dalam melakukan kilang.

Digitalisasi tersebut telah diterapkan di Kilang Balongan dan Kilang Dumai. Kedepannya, Pertamina juga akan memperluas aplikasi tersebut ke kilang lainnya, seperti Kilang Plaju, Kilang Cilacap dan Kilang Balikpapan.

Hal tersebut disampaikan VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman, Kamis (28/11).

Menurutnya, implementasi digitalisasi yang telah diaplikasikan tersebut bisa mencegah unplanned shutdown kilang.

Alhasil, kata dia, dapat meningkatkan kehandalan operasional dalam memenuhi kebutuhan energi nasional.

Sementara untuk di luar itu, dijelaskan Fajriyah, Pertamina telah melakukan enam program utama digitalisasi.

Contohnya, rinci Fajriyah seperti, digitalisasi kilang, pengetahuan pengelolaan dan praktik terbaik di hulu, loyalty program, digitalisasi korporat, pengadaan digital dan digitalisasi SPBU serta Terminal BBM.

Sementara itu, di sektor hulu Pertamina, pihaknya juga sudah melakukan beberapa program.

Salah satunya, seperti transformasi digital dengan membangun Upstream Cloud dan Big Data Analytic.

Pembangunan tersebut menurutnya akan digunakan sebagai bagian optimasi aplikasi Petrotechnical yang tersentralisasi dan terintegrasi.

Sementara itu terkait bidang pengolahan, saat ini Pertamina sedang mempersiapkan predictive maintenance terintegrasi melalui adopsi advanced analytics, sehingga dapat meminimalisir terjadinya unplanned shutdown.

Untuk di hilir, Pertamina juga terus melakukan program utamanya dibidang digitalisasi SPBU dan Terminal BBM.

Harapannya kedepan Pertamina dapat terus menerus memonitor ketahanan stok dan distribusi BBM secara nasional.

Lalu dibidang pengadaan barang dan jasa, Pertamina juga tengah menerapkan pengadaan digital yang menurutnya diprediksi memberikan kontribusi efisiensi terbesar sekitar Rp1,5 – 2 triliun per tahun.

Transformasi digital ini disampaikan Fajriyah, sebagai upaya Pertamina menjawab tantangan bisnis di masa mendatang dan cara Pertamina beradaptasi.

Tujuan utamanya adalah meningkatkan layanan Pertamina baik untuk pelanggan ataupun proses bisnis internal. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM