Connect with us
PERTAMINA

Energi & Tambang

Pertamina Lakukan Restrukturisasi Organisasi

MediaBUMN

Published

on

Dalam rangka menghadapi tantangan bisnis ke depan sekaligus guna memberikan pelayanan kepada masyarakat secara maksimal, PT Pertamina (Persero) melakukan restrukturisasi organisasi dengan menghapus Direktorat Gas. Selanjutnya, Perseroan memperkuat struktur organisasi hilir dengan memecah Direktorat Pemasaran menjadi Pemasaran Ritel dan Pemasaran Korporat, serta Direktorat Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur termasuk menangani Energi Baru Terbarukan (EBT).

Baca Juga : Menteri BUMN Dukung Percepatan Konektivitas Udara dan Pertumbuhan Ekonomi

Perubahan struktur organisasi ini ditetapkan dalam Keputusan Menteri BUMN pada Jumat 9 Februari 2018 lalu. Dengan keputusan tersebut sekaligus memberhentikan dengan hormat saudari Yenni Andayani. Selanjutnya, menetapkan Nicke Widyawati Direktur SDM merangkap definitif sebagai Direktur Logistik, Supply Chain dan Infrastruktur yang juga menangani Energi Baru Terbarukan. Sementara, M Iskandar menjadi Direktur Pemasaran Korporat merangkap Direktur Ritel hingga ditetapkan pejabat yang definitif.

Hadir dalam pertemuan tersebut, Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Harry Sampurno, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Tanri Abeng serta jajaran Komisaris dan Direksi Pertamina di Kantor Kementerian BUMN.

Usai rapat, Tanri mengatakan, tantangan bisnis Pertamina ke depan akan semakin kompleks dimana kebutuhan energi nasional yang terus meningkat tidak dibarengi dengan ketersediaan dan infrastruktur harus dijawab dengan sistem dan manajemen yang handal.

“Organisasi baru ini diharapkan menjawab kompleksitas bisnis perseroan di masa depan dalam pemenuhan energi nasional, diantaranya memberikan pelayanan kepada masyarakat secara maksimal seperti dalam Program BBM Satu Harga, distribusi premium dan LPG 3 kg,” katanya.

Baca Juga : Pegadaian Menjadi Leader Sinergi BUMN Dalam Pengembangan Pariwisata Sumatera Barat

Selain itu, menurut Tanri, Pertamina juga harus berperan maksimal sebagai agen pembangunan dan sekaligus dapat berkinerja baik dan positif bagi BUMN. Agar mampu menjalankan peran dan tugas tersebut, Pertamina perlu mengubah strategi bisnisnya dari product oriented menjadi customer oriented. Untuk menjadi perusahaan customer oriented, diperlukan konsolidasi dari pekerjaan infrastruktur pemasaran untuk semua produk Pertamina diantaranya BBM, LPG, Avtur dan Pelumas.

“Contohnya Konsolidasi itu dalam bentuk integrasi storage produk Pertamina di berbagai wilayah Indonesia, termasuk pembangunan storage baru dan pemenuhan energi untuk di Indonesia Timur,” imbuhnya.

Menurutnya, untuk mengatur, menangani dan membangun berbagai kebutuhan infrastruktur pemasaran dan sekaligus mengatur logistik atau supply chain, akan dikoordinasikan dibawah Direktur Logistik dan Infrastruktur termasuk pengembangan teknologi, energi baru dan terbarukan. Sementara itu untuk menangani konsumen besar akan dijalankan oleh Direktur Pemasaran Korporat.

Laman: 1 2

Energi & Tambang

Kesepakatan Pertamina, Bukit Asam dan Air Products: Proyek Gasifikasi Batu Bara Guna Pangkas Impor LPG, Kembangkan Green Economy, dan Bawa Investasi ke Indonesia

MediaBUMN

Published

on

gasifikasi

MEDIABUMN.COM, Jakarta – PT Pertamina (Persero), PT Bukit Asam Tbk. (PTBA), dan Air Products & Chemicals Inc. (APCI) memastikan proyek gasifikasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) terus berlanjut untuk mengurangi ketergantungan pada impor Liquid Petroleum Gas (LPG). Hal ini sejalan dengan upaya mewujudkan ketahanan energi dan penguatan green economy di Indonesia sesuai arahan Presiden RI, Joko Widodo.

Proyek Strategis Nasional ini akan dilakukan di Tanjung Enim selama 20 tahun, dengan mendatangkan investasi asing dari APCI sebesar USD 2,1 miliar atau setara Rp 30 triliun. Dengan utilisasi 6 juta ton batu bara per tahun, proyek ini dapat menghasilkan 1,4 juta DME per tahun untuk mengurangi impor LPG 1 juta ton per tahun sehingga dapat memperbaiki neraca perdagangan. Selain itu, proyek ini diharapkan dapat memberikan multiplier effect antara lain menarik investasi asing lainnya, dan melalui penggunaan porsi TKDN di dalam proyek juga dapat memberdayakan industri nasional dengan penyerapan tenaga kerja lokal.

Kepastian berlanjutnya proyek gasifikasi tersebut ditandai dengan penandatangan Amandemen Perjanjian Kerja Sama Pengembangan DME antara Pertamina, PTBA dengan APCI yang berlangsung di Los Angeles, Amerika Serikat dan Jakarta, Indonesia (11/5/2021) oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, Direktur Utama PTBA Suryo Eko Hadianto dan President & CEO APCI Seifi Ghasemi, yang disaksikan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Pada kesempatan yang sama, juga dilakukan penandatanganan Perjanjian Pengolahan DME yang menjadi bagian dari kerja sama pengembangan DME tersebut.

gasifikasi

Menteri BUMN Erick Thohir menyambut baik kerja sama ini: “(Kerja sama) ini merupakan wujud dari eratnya hubungan ekonomi antara Indonesia dan Amerika Serikat. Gasifikasi batu bara memiliki nilai tambah langsung pada perekonomian nasional secara makro, karena sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo untuk mengurangi ketergantungan pada produk impor, juga transformasi ke green economy serta energi baru dan terbarukan. Kerja sama gasifikasi batu bara bisa menghemat cadangan devisa hingga 9,7 triliun rupiah per tahun dan menyerap 10 ribu tenaga kerja.”

Senada, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan sejalan dengan arahan Presiden melalui Grand Strategi Energi Nasional: transisi energi, green energy, dan circular energy menjadi prioritas. “Pertamina sebagai BUMN telah memformulasikan kembali strategi yang sejalan dengan arahan Pemerintah dalam pencapaian target bebas impor LPG pada tahun 2027 dan penurunan emisi karbon di tahun 2030,” ungkap Nicke.

Selain itu, Nicke menuturkan Pertamina juga memahami bahwa pengembangan dan produksi DME ini berkaitan dengan isu lingkungan. Karenanya, sesuai arahan Pemerintah, Pertamina akan menjalankan proyek DME secara paralel dengan proyek Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS) sehingga isu mengenai emisi karbon dapat ditekan hingga mencapai 45%. Pada kesempatan yg sama, Pertamina juga menjajaki potensi kerja sama dengan Exxonmobil terkait CCUS. Diharapkan melalui penerapan CCUS, emisi yang dihasilkan dari proses gasifikasi dapat digunakan untuk peningkatan produksi di sumur-sumur tua, sehingga mendorong terwujudnya green economy untuk proyek-proyek sejenis.

Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk (PTBA) Suryo Eko Hadianto menambahkan para pihak yang terlibat dalam penandatanganan pada hari ini akan bekerja keras untuk segera merealisasikan pembangunan proyek. “Kami percaya penandatanganan pada hari ini merupakan lompatan signifikan dalam perkembangan kerja sama proyek, dan kami optimis proyek ini dapat dijalankan tepat waktu,” ujarnya.

PTBA juga menegaskan kerja sama ini menjadi portofolio baru bagi perusahaan yang tidak lagi sekadar menjual batu bara, tetapi juga mulai masuk ke produk-produk hilirisasi untuk meningkatkan nilai tambah. []

Continue Reading

Energi & Tambang

BUMN Tambang Raih Capaian Berbeda, Ada Yang Untung Ada Rugi

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

BUMN Tambang

MEDIABUMN.COM, Jakarta – BUMN Tambang yang tergabung dalam Holding BUMN Tambang mencatat kinerja yang beragam selama Kuartal I 2021.

Sejak Januari hingga Maret, beberapa perusahaan ini ada yang pendapatannya naik, ada juga yang menurun.

Beberapa BUMN Tambang yang dimaksud yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Timah Tbk (TINS).

Seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), pendapatan yang dihasilkan mencapai Rp 3,99 triliun dalam 3 bulan terakhir.

Tapi jumlah itu masih lebih rendah 22,02 persen jika dibandingkan pendapatan di kuartal I tahun 020 sebesar Rp 5,12 triliun.

Kemudian untuk laba bersihya Rp500,51 miliar, juga menurun hampir setengah atau 44,58 persen dari raihan laba tahun lalu.

Direktur Utama Bukit Asam, Suryo Eko Hadianto mengatakan, penurunan kinerja perusahaannya tidak berhasil meraup laba di kuartal I akibat beberapa faktor.

Di antaranya karena curah hujan yang cukup tinggi membuat operasional perusahaan terkendala dan juga pengaruh pandemi covid-19.

Tak hanya soal laba dan pendapatan, dalam tiga bulan pertama, penjualan batubara PTBA juga menurun hingga 13,23 persen, dari sebelumnya 6,8 juta ton menjadi 5,9 juta ton.

Meski begitu, Suryo meyakini kinerja BUMN Tambang ini akan membaik di periode berikutnya.

Pihak perusahaan akan meng-cover ketidaktercapaian kinerja di kuartal I di kuartal kedua dari April hingga Juni.

Kinerja BUMN Tambang ANTAM dan Timah

Sementara untuk kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) justru meningkat, baik dari sisi pendapatan dan laba bersih.

Perusahaan di sektor pengelolaan logam mulia ini meraup pendapatan bersih senilai Rp 9,21 triliun di kuartal I.

Jumlah itu meningkat 77 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun 2020 sebesar Rp5,20 triliun.

Hasilnya, BUMN Tambang ini meraup laba bersih Rp630,37 miliar, dan beralih dari posisi rugi Rp281,84 miliar di kuartal I 2020.

Diketahui, pendapatan ANTM sepanjang tiga bulan ini ditopang oleh penjualan emas yang mencapai 6,59 triliun dari total pendapatan.

Secara volume, penjualan emas dari perusahaan ini mencapai 7.411 kg atau naik 45 persen dibanding tahun lalu.

Naiknya penjualan itu, tidak terlepas dari strategi perseroan yang kini fokus pada pengembangan basis pelanggan emas di pasar dalam negeri.

Kemudian capaian BUMN Tambang lainnya yakni PT Timah Tbk juga berhasil meraih laba bersih di kuartal I meskipun pendapatan perusahaan turun.

Laba bersih PT Timah hanya Rp10,34 miliar di kuartal pertama 2021, jauh lebih kecil dibandingkan periode tahun lalu yang mencapai Rp412,85 miliar.

Sementara dari sisi pendapatan, nilainya mencapai Rp 2,44 triliun, tapi jumlah itu turun hingga 44,78 persen dari hasil pendapatan tahun lalu sebesar Rp 4,42 triliun. []

Continue Reading

Energi & Tambang

Pertamina Fondation Konsisten Jalankan Keputusan Pengadilan

MediaBUMN

Published

on

Pertamina Foundation

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Pertamina Foundation (PF) berkomitmen untuk menutup peluang munculnya kembali kerugian negara dalam program Gerakan Menanam Pohon (GMP).

Berkaitan dengan permohonan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) yang diajukan oleh beberapa pihak yang mengklaim dirinya sebagai relawan, PF menilai permohonan PKPU yang diajukan justru bisa berpotensi membuat kerugian negara dapat terus berlanjut dan semakin besar jumlahnya.

Saat ini, PF sedang meminta pendapat dari instansi dan penegak hukum yang berwenang yang akan menjadi pertimbangan dalam memutuskan dan mengambil Langkah serta solusi dari permasalahan terkait pelaksanaan program GMP.

“Pertamina Foundation tetap menghormati proses persidangan permohonan PKPU saat ini. Namun, kami menghimbau semua pihak, termasuk para pemohon PKPU, untuk bersama-sama mencegah kerugian negara dalam program GMP yang dapat berlanjut dan semakin besar,” ujar Syahrul Hakim, Legal Officer Pertamina Foundation.

Syahrul mengungkapkan bahwa program tersebut diselenggarakan pada 9 tahun lalu dan saat ini telah memiliki keputusan pengadilan mengikat yang harus dipatuhi oleh semua pihak pasca ditetapkan adanya pelanggaran hukum yang merugikan negara dalam pelaksanaannya.

Pertamina Foundation

“Sebelumnya, GMP merupakan salah satu kegiatan Corporate Social Responsibility PT Pertamina (Persero) pada tahun 2012-2014 yang dilaksanakan oleh Pertamina Foundation. Berdasarkan putusan Mahkamah Agung RI tahun 2018 (Putusan Nomor 1132 K/PID.SUS/2018) yang telah berkekuatan hukum tetap, dinyatakan adanya perbuatan melawan hukum yang merugikan negara dalam pelaksanaan program GMP,” terang Syahrul.

“Sisa dana program GMP juga telah dikembalikan ke negara sesuai perintah dalam Putusan Pengadilan,” tambah Syahrul.

Presiden Direktur Pertamina Foundation Agus Mashud S. Ansgari menegaskan, sebagai organisasi nirlaba, PF tetap fokus pada kegiatan di bidang sosial kemanusiaan, terutama pada peningkatan kualitas pendidikan, pemberdayaan masyarakat, olahraga dan lingkungan hidup. PF juga terus bertransformasi dan mengembangkan dirinya untuk dapat terus meningkatkan efektivitas kegiatan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan/ CSR agar lebih fokus, berdampak luas, dan berkelanjutan.

Saat ini, PF mengembangkan program unggulan PFSeries dengan kegiatan pemberian beasiswa melalui melalui program PFprestasi. Pemberdayaan perempuan dan kelompok usaha melalui PFPreneur.

“Kami juga memfasilitasi gagasan dan invoasi melalui proyek-proyek kreatif dalam program PFmuda dan PFsains yang terbuka bagi seluruh generasi muda di negeri ini. PF juga hadir dalam berbagai aksi tanggap bencana dan pemberian bantuan termasuk membantu korban terdampak pandemi Covid-19 di Indonesia melalui program PFbangkit,” tandas Agus. []

Continue Reading

Label

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!