Connect with us
PERTAMINA

Energi & Tambang

Pertamina Akui Cukup Sulit Kembangkan Energi Terbarukan

MediaBUMN

Published

on

energi terbarukan

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Pertamina diakui cukup kesulitan dalam kembangkan energi terbarukan atau yang disebut dengan renewable energy di Indonesia.

Hal ini disampaikan Senior Vice President Research and Technology Center (RTC) PT Pertamina (Persero), Dadi Sugiana, menyusul harga yang terlampau tinggi untuk dapat masuk ke arah hal tersebut.

“Energi terbarukan ini mahal,” kata Dadi, Rabu (27/11).

Tapi diyakininya bahwa ke depan energi terbarukan ini dapat dilakukan di Indonesia dan bisa lebih murah untuk dikembangkan.

“Hal ini tentunya tinggal mengikuti berjalannya waktu dengan produk-produk yang semakin massal, sehingga produk semakin murah. Namun memang di awal butuh kerelaan dari pemerintah dan konsumen,” jelasnya.

Dadi juga mengungkapkan bahwa pihaknya siap masuk ke dalam energi terbarukan tersebut.

Bahkan menurutnya BUMN di sektor minyak dan gas tersebut juga telah memiliki rencana untuk kedepannya, di antaranya melalui bahan bakar hidrogen dan nuklir.

“Jadi tahapannya kita masuk ke area hidrogen dan kemudian ke nuklir. Ini tren dekarbonisasi, tak lagi menginginkan yang ada karbonnya,” kata dia.

Untuk itu lanjutnya, hidrogen yang akan dicoba akan dikembangkan terlebih dahulu oleh pihaknya melalui hidrogen di use refinery.

Ini dilakukan dalam upaya untuk bisa memproduksi metanol dan mobility. Sementara itu yang akan dijadikan penggerak hidrogen nantinya akan menggunakan nuklir untuk bisa memproduksi energi murah.

Apalagi saat ini, kata dia, Pertamina telah memiliki pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan penghasilan sekitar 700 MW. Bahkan akan ditambah 55 MW pada 2020 mendatang.

Penambahan tersebut diakui Dadi juga banyak tantangan dalam pengembangan geothermal.

“Untuk komersial, geotermal saat ini kita sudah 700 sekian MW. Di 2020 akan dilakukan penambahan 55 MW, namun ini tentunya masih rendah bahkan ada banyak persoalan,” tandasnya.

Diketahui sebelumnya Dadi menyampaikan cukup sulit mengembangakan energi terbarukan di Indonesia.

Persoalan harga masih terlampau tinggi untuk dapat diarahkan ke hal tersebut. Demikian juga yang disampaikan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Rinaldy Dalimi.

Diungkapkannya, harga yang masih mahal adalah salah satu faktor yang menjadi tantangan bagi pengembangan energi baru terbarukan. []

Energi & Tambang

Kompetisi Sobat Bumi Digelar, Pertamina Siapkan Hadiah Rp900 Juta

Alfian Setya Saputra

Published

on

Kompetisi Sobat Bumi

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Kompetisi Sobat Bumi (KSB) tahun 2020 kembali digelar oleh PT Pertamina (Persero). Kompetisi yang ditujukan bagi mahasiswa, dosen, peneliti, penggiat energi terbarukan hingga masyarakat umum di seluruh Indonesia ini digelar untuk mendukung bibit-bibit unggul dalam inovasi energi baru dan terbarukan (EBT).

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, berbagai ide kreatif dan inovatif dalam memaksimalkan potensi energi di Indonesia perlu ditingkatkan agar mampu memenuhi kebutuhan energi di daerah terpencil, pelosok dan terisolir.

Dijelaskannya, Kompetisi Sobat Bumi tahun ini dibagi dalam dua kategori, yakni kategori Teori Sains dan kategori Proyek Inovasi Energi Baru Terbarukan.

“Total hadiah yang disiapkan untuk kedua kategori ini mencapai Rp 900 juta,” ujar Fajriyah Usman, Kamis (2/7/2020).

Untuk Kategori Teori Sains, dikhususkan bagi peserta dari mahasiswa perguruan tinggi negeri maupun swasta dari semua program studi atau jurusan.

Peserta bisa berasal dari Universitas, Institut, Sekolah Tinggi ataupun Politeknik.

Sementara Kategori Proyek Inovasi Energi Baru Terbarukan bagi para dosen, peneliti, praktisi, penggiat energi serta pengabdi masyarakat yang memiliki ketertarikan terhadap EBT.

Namun karena saat ini masih terjadi pandemi Covid-19, pelaksanaan Kompetisi Sobat Bumi tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu dilakukan secara virtual melalui website www.sobatbumi.id.

Kompetisi Sobat Bumi di Tengah Pandemi

Fajriyah menambahkan, Pertamina akan memfasilitasi seluruh masyarakat agar mampu menghadapi kondisi serba terbatas yang terjadi saat ini dan tetap leluasa mengeksplorasi daya pikirnya untuk menampilkan karya cipta yang mampu memberikan solusi bagi ketersediaan energi.

“Bagi para mahasiswa yang ingin ikut Kompetisi Sobat Bumi, bisa mendaftar di Kategori Teori Sains mulai tanggal 3 Agustus hingga 30 Oktober 2020. Seleksi akan dilakukan dua tahap yaitu seleksi tingkat daerah dan nasional,” ungkapnya.

Pada seleksi daerah, panitia menggelar babak penyisihan dengan metode Computer Based Test (CBT) secara online.

Kemudian seleksi nasional yang merupakan babak final yang dilakukan dalam dua tahap, yaitu seleksi semi final dan grand final.

Untuk pendaftaran kategori Proyek Inovasi EBT telah dibuka sejak 24 Juni dan akan ditutup pada 31 Juli mendatang. Peserta yang ingin mendaftar di kategori ini harus mengirimkan proposal tentangg ide inovasi energi.

Bagi 25 peserta terbaik akan diberikan pendanaan untuk membuat video paparan ide inovasi energinya. Lalu diseleksi lagi menjadi 10 terbaik yang akan didanai untuk nantinya mengikuti PF Sains Camp di Jakarta selama 3 hari.

“Selanjutnya panitia akan memilih 3 pemenang terbaik. Pemenang kategori Proyek Inovasi EBT akan diumumkan pada tanggal 10 November, bertepatan pada Hari Pahlawan. Seluruh pemenang nantinya akan kita hadirkan pada acara penganugerahan tanggal 10 Desember 2020, yang bertepatan dengan HUT Pertamina,” tutupnya. []

Continue Reading

Energi & Tambang

Utang Pemerintah Terkait Harga Jual Eceran BBM Hampir 100 Triliun

Alfian Setya Saputra

Published

on

Utang pemerintah

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Utang pemerintah atas pembayaran kompensasi selisih Harga Jual Eceran (HJE) BBM terbilang fantastis, mencapai Rp96,5 triliun. Rinciannya yakni tahun 2017 senilai Rp 0,78 triliun, tahun 2018 Rp 44,85 triliun dan tahun 2019 Rp 30,86 triliun.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan sesuai perjanjian utang piutang kompensasi antara Kementerian Keuangan dan PT Pertamina maka akan dibayarkan senilai Rp45 triliun pada tahun 2020, dan sisanya Rp 51,5 triliun dibayar setelah tahun 2020.

Untuk pembayaran tahap awal utang pemerintah di tahun 2020 ini, telah dibayarkan senilai Rp7,1triliun.

“Total utang kompensasi pemeritah atas selisih Harga Jual Eceran BBM sampai dengan 2019 tercatat senilai Rp96,5 triliun yang penugasan penyalurannya sudah dilakukan sejak 2017,” ujar Nicke Widyawati dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR, Senin (29/6/2020).

Nicke mengatakan bahwa pembayaran kompensasi ini akan berdampak besar terhadap arus kas perseroan ditengah masa sulit saat pandemi Covid-19.

Terlebih saat ini arus kas operasional Pertamina berada di posisi negatif pada periode April-Mei akibat penurunan harga minyak, penurunan penjualan, dan fluktuasi Rupiah terhadap dolar AS.

Untuk itu, pembayaran kompensasi HJE ini diharapkan bisa enjadi penambahan modal kerja untuk seluruh aktifitas Perusahaan pelat merah tersebut dalam memperbaiki keuangan.

“Sehingga kami bisa terhindar dari penurunan credit rating, dan mendapatkan alternatif pendanaan untuk membiayai proyek-proyek strategis nasional. Jadi ini terbantu ya mudah-mudahan segera juga pencairannya dilakukan,” ungkapnya.

Pembayaran Utang Pemerintah

Sementara Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini mengatakan pembayaran utang pemerintah tahun ini terdiri dari SJE solar dan premium pada 2017 sebesar Rp20,7 triliun, dan Rp24,2 triliun kompensasi pada 2018.

Mantan Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur itu menambahkan utang pemerintah tersebut tidak memasukkan cost of fund. Sehingga cost of fund tersebut menjadi beban yang harus ditanggung pihak perseroan.

Dalam kesempatan ini juga disampaikan total kebutuhan pendanaan PT Pertamina (Persero) tahun 2020 hingga 2026 mendatang mencapai Rp 1.862 triliun.

Dalam paparannya, kebutuhan pendanaan itu adalah total belanja modal (capital expenditure) dalam 6 tahun. Sumber dana 47 persen akan berada dari pendanaan internal, 10 persen dari project financing, 28 persem dari pembiayaan eksternal, dan 15 persen dari pembiayaan ekuitas. []

Continue Reading

Energi & Tambang

Harga Gas Bumi Turun, 13 Kontraktor Teken Perjanjian Dengan PLN dan PGN

EKO PRASETYO

Published

on

Harga gas

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Harga gas bumi yang sudah ditetapkan USD 6 per million british thermal units (MMBTU). Dengan adanya penurunan harga, sebanyak 13 kontraktor kontrak kerja sama atau KKKS menandatangani Letter of Agreement (LoA) untuk perjanjian jual beli gas dengan PT PLN (Persero) dan PT PGN Tbk (Persero) sebagai pembeli.

Penandatanganan kerja sama ini dilakukan sebagai bentuk penyesuaian harga gas bumi yang disaksikan Menteri ESDM Arifin Tasrif dan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Dwi Soetjipto, secara virtual pada Jumat (26/6).

Dwi Soetjipto mengatakan dengan adanya perjanjian tersebut, hingga saat ini telah diteken 25 dokumen perjanjian sebagai implementasi Kepmen 89K/2020.

Dengan total volume sebesar 522,3 BBTUD atau 43,3 persen dari total volume gas tahun 2020 dalam Kepmen 89K/2020.

Selain pasokan gas sesuai Kepmen 89K/2020, ada 24,9 persen pasokan gas atau sebesar 300 BBTUD yang tidak memerlukan perjanjian karena telah sesuai dengan kondisi saat ini.

“Total pasokan gas sebesar 822,3 BBTUD atau setara 68,2 persen sebagai pelaksanaan Kepmen 89K/2020 telah diselesaikan,” kata Dwi dalam keterangan tertulis.

Dengan penandatanganan ini, pembeli gas bumi di sektor industri maupun sektor kelistrikan, termasuk pelaku usaha industri hilir, diharapkan semakin mendapatkan kepastian pasokan gas sesuai volume yang ada di dalam kontrak.

Menurutnya, pihak pembeli juga harus meningkatkan serapan gas karena harga yang diberikan saat ini sudah lebih rendah.

“SKK Migas berkomitmen melakukan akselerasi agar pembahasan perjanjian-perjanjian antara SKK Migas, Kontraktor KKS, penjual dan pembeli segera difinalkan,” tandasnya.

Atas perjanjian kerjasama antara penjual dan pembeli gas bumi ini, Menteri ESDM, Arifin Tasrif memberikan apresiasi.

Arifin juga memberikan apresiasi baik kepada pimpinan KKKS, pimpinan Badan Usaha Niaga Gas Bumi, PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), dan industri pengguna gas bumi yang telah mendukung kebijakan penyesuaian harga gas bumi untuk sektor industri.

“Manfaat kebijakan ini juga untuk mendorong minat investasi industri sekaligus tetap mendorong pengembangan sektor hulu gas ke depan,” ujar Arifin.

Arifin juga mengharapkan dukungan dari semua pihak untuk terus mendorong penerapan kebijakan penyesuaian harga gas bumi untuk peningkatan daya saing industri nasional dan percepatan pertumbuhan ekonomi. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!