Performa dan Kinerja PLN Bersumber Pada Pelayanan Listrik

oleh
Performa dan kinerja

Performa dan kinerja PT PLN merupakan hal yang sering ditanyakan dan dikeluhkan oleh konsumen kepada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Demikian disampaikan oleh Ketua Pengurus Harian yayasan konsumen ini, Tulus Abadi.

Untuk itulah, Tulus Abadi kemudian mengungkapkan pendapatnya. Menurut Tulus, pelayanan kelistrikan merupakan alat yang paling mudah untuk mengukur performa dan kinerja PT PLN.

Masalah Performa dan Kinerja Pelayanan

Masalah pertama yang paling sering dijumpai adalah pemadaman listrik oleh PLN yang bukan dikarenakan kekurangan daya tetapi karena pemeliharaan.

Masalah yang terjadi karena kebutuhan infrastruktur yang mendesak untuk dtingkatkan kualitasnya alias di-upgrade. Di lapangan butuh perbaikan, antara lain jaringan distribusi, trafo, gardu induk, jaringan transmisi, kapasitas yang berlebihan, dan usia yang sudah tua.

Akibatnya, Institute for Essential Service pada penelitian tahun 2018 menyebutkan, kualitas tegangan masih di bawah 220 volt. Bahkan, di kota-kota Pulau Jawa, termasuk Jakarta, tegangan hanya mencapai 170 volt.

Masalah selanjutnya yang dapat mengukur performa dan kinerja PLN adalah, kelebihan daya. PLN saat ini over suplai, khususnya di daerah Jawa, Bali, dan Madura. Kapasitas listrik yang dimiliki ketiga wilayah ini adalah 34.550 Megawatt dan belum digunakan optimal. PLN masih kesulitan menjual daya ke masyarakat.

Awalnya, PLN pernah mempunyai rencana “lepas setrum” untuk kategori rumah tangga sebesar 3,500 sampai 5.000 VA. Program yang diberikan kepada masyarakat untuk mengatasi turunnya sekering ketika menggunalan alat-alat rumah tangga. Namun, program masih tidak dapat dilakukan karena masyarakat masih berpikir harga listrik yang melambung.

Saat ini, PLN mensosialisaikan kompor dan sepeda listrik. Ini juga masih belum efektif mengatasi kelebihan daya yang masih menjadi penghalang performa dan kinerja PLN.
Sementara, PLN sendiri ditantang dengan kebijakan pemerintah untuk memasang listrik berbasis panel surya yang termasuk dalam energi baru terbarukan (EBT).

Peningkatan daya beli masyarakat dan kesadaran penggunaan EBT akan menambah masalah untuk performa dan kinerja PLN. Tidak hanya itu, pasokan energi primer yang digunakan saat ini adalah batu bara yang diolah pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Indonesia sebenarnya merupakan penghasil batu bara. Namun, harganya masih mengikuti harga internasional yang ditanggung konsumen.

Menggunakan sistem Domestic Market Obligation (DMO), PLN membayar 70 persen dari seharusnya. Kontrak sistem tersebut tahun 2019 ini selesai. Masih diragukan apakah PLN masih bisa melanjutkan atau mendapatkan harga lebih murah.

Tulus Abadi sendiri menyebutkan, meski masyarakat masih mempertanyakan performa dan kinerja PLN secara keseluruhan sudah bagus. PLN sudah dapat memperoleh laba meski banyak tantangan. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *