Connect with us
PERTAMINA

Agrobisnis & Pangan

Penjualan CPO PTPN V Raup Rp168,8 Miliar

Published

on

Penjualan CPO

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Penjualan CPO (crude palm oil) atau minyak sawti dari PT Perkebunan Nusantara V berhasil meraup pendapatan yang fantastis.

Total pendapatan yang diraup anak usaha Holding Perkebunan Nusantara III (Persero) dari penjualan CPO mencapai Rp168,8 miliar.

Adapun penjualan CPO dari PTPN V ini dibandrol dengan harga premium karena telah mengantongi dua sertifikasi internasional.

Kedunya Sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dan Sertifikasi International Sustainability & Carbon Certification (ISCC).

Senior Executive Vice President PTPN V, Rurianto mengatakan PTPN V menjadi perusahaan perkebunan BUMN yang pertama yang mengantongi sertifikasi standar Eropa ISCC di tahun 2018 lalu.

Bahkan hampir semua pabrik kelapa sawit (PKS) dan kebun milik perusahaan telah mengantongi sertifikasi standar Eropa.

Dengan mengantongi dua sertifikasi itu, memberikan keuntungan dalam penjualan CPO karena mendapat harga premium.

“Sejak tahun 2019 PTPN V mendapat keuntungan dengan harga premium yang didapat. Nilainya mencapai Rp168,8 miliar atau rata-rata Rp61 miliar per tahun,” kata Rurianto dalam keterangan resminya, Selasa (21/9/2021).

Menurut Ruri, 8 pabrik dan 10 kebun PTPN V telah mengantongi sertifikasi internasional, empat PKS dan kebun lainnya diperkirakan segera mengantongi sertifikasi itu pada 2023 mendatang.

Kontribusi yang didapat dari penjualan CPO ini juga akan bertambah setelah mendapat sertifikasi karena harganya menjadi USD10 hingga USD15 per ton.

“Tahun depan kita kembali melakukan sertifikasi, Insyaallah di tahun 2023 semua PKS dan kebun PTPN V seluruhnya tersertifikasi ISCC,” ujarnya.

Namun untuk meraih sertifikasi tersebut, pihak PTPN V harus memenuhi berbagai syarat, terutama adalah kadar gas rumah kaca (GRK) yang harus berada di bawah ambang batas 1.000 CO2Eq.

Namun hal itu bisa diwujudkan karena pihak perseroan juga tengah melakukan pembangunan empat Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PTBg) Cofiring di empat pabrik.

Pembangunan PLTBg ini ditargetkan rampung di tahun ini dan akan melengkapi dua PLTBg yang telah ada sebelumnya.

Sementara untuk sertifikasi tersertifikasi RSPO, saat ini masih berlangsung proses penilaian dan di tiga pabrik dan kebun, dan ditargetkan seluruhnya sudah sertifikasi di tahun 2022.

Ia menegaskan, bahwa PTPN V berkomitmen untuk terus menekan emisi gas rumah kaca dari seluruh kegiatan produksi perkebunan sawit.

“Produk yang kami hasilkan telah memenuhi standar energi terbarukan Uni Eropa. Ini juga bagian dari komitmen kami dalam menjaga lingkungan,” jelas Ruri.

Diketahui, BUMN yang berlokasi di Provinsi Riau ini memiliki lahan seluas 86 ribu hektare dan hasil produksi 500 ribu ton per tahun.

Hasil penjualan CPO dari perusahaan ini telah berhasil menembus pasar ekspor ke Benua Eropa. []

Agrobisnis & Pangan

Subsidi Bibit Tebu, PTPN III: “Untuk Ketahanan Gula Nasional”

Published

on

Subsidi bibit tebu

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Subsidi bibit tebu unggul resmi diluncurkan oleh Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero).

Program subsidi ini merupakan salah satu upaya Holding PTPN III dalam mendukung ketahanan gula nasional.

Subsidi bibit tebu ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam peningkatan produksi petani tebu yang merupakan mitra strategis dan garda terdepan dalam menyukseskan ketahanan gula nasional.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir telah meminta BUMN ini untuk dapat meningkatkan produksi gula dan mendukung swasembada pangan nasional.

Ia juga meminta keterlibatan petani tebu rakyat untuk keberlangsungan peningkatan produksi komoditi tebu guna meningkatkan ekspor gula dan menekan impor gula.

Atas hal itu, PTPN III terus berupaya meningkatkan kinerja, salah satunya dengan pemberian subsidi bibit tebu.

Pemberian subsidi bibit tebu ini dilakukan oleh Direktur Pengembangan dan Produksi Holding PTPN III, Mahmudi kepada petani binaan Pabrik Gula Ngadiredjo, salah satu PG milik PTPN X.

Dalam kesempatan ini, Holding PTPN memberikan bantuan bibit unggul untuk luasan lahan 496 Ha kepada 386 petani tebu binaan.

Mahmudi mengatakan program subsidi bibit tebu unggul ini adalah upaya perseroan meningkatkan produktivitas lahan.

Bantuan ini juga dihararapkan dapat menurunkan Harga Pokok Produksi (HPP) yang berujung pada peningkatan kesejahteraan para petani.

“Subsidi bibit ini akan meningkatkan potensi produksi per hektarnya. Ini tentunya diimbangi dengan pengawalan teknis budidaya tebu secara ketat dan berkelanjutan,” ujar Mahmudi dikutip Senin (18/10/2021).

Mahmudi menambahkan, pemberian subsidi bibit tebu unggul ini juga upaya untuk bersama-sama memberikan kontribusi terbaik dalam pencapaian swasembada gula secara nasional.

Subsidi Bibit Tebu Dorong Produktivitas

Diketahui, Holding PTPN III memberikan bantuan bibit unggul kepada petani binaan PTPN VII, PTPN IX, PTPN X, PTPN XI, dan PTPN XII.

Pada masa tanam tahun 2020-2021 lalu, BUMN ini telah menyalurkan subsidi bibit tebu untuk luasan lahan hingga 1.307 Hektar.

Sedangkan masa tanam 2021-2022, subsidi bibit tebu disalurkan dengan total luasan 1.563 Hektar dengan rincian tebu kategori PC 1.135 Hektar dan tebu kategori Bongkar Ratoon sebesar 428 Hektar.

“Bantuan subsidi bibit tebu ini meningat sebesar 19,6 persen jika dibandingkan tahun lalu, dan akan terus ditingkatkan. Untuk masa tanam tahun depan, kami akan menyalurkan bantuan subsisi bibit tebu seluas 4.167 Hektar,” ungkapnya.

Guna peningkatan produksi, Holding PTPN III juga terus menjalankan transformasi di sektor kinerja yang diikuti dengan perbaikan di sisi off farm.

Seluruh anak perusahaan yang tegabung di Holding ini juga melakukan pengawasan dan evaluasi dalam setiap periode giling untuk tercapainya target Holding.

Mahmudi menegaskan, transformasi adalah sebuah kewajiban, agar Holding PTPN III bisa memberikan hasil terbaik bagi bangsa.

“Langkah ini juga untuk mewujudkan Holding PTPN III menjadi perusahaan perkebunan kelas dunia, dan mendukung kesejahteraan petani yang merupakan mitra kami,” tandasnya.

Continue Reading

Agrobisnis & Pangan

Distribusi Pupuk, Petrokimia Gresik Gandeng PPI Jadi Distributor Eksklusif

Published

on

Distribusi pupuk

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Distribusi pupuk hasil produksi PT Petrokimia Gresik dikerjakan oleh PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) atau PPI.

Hal itu lantaran kedua perusahaan tersebut kembali menjalin kerjasama dalam distribusi pupuk, dimana cabang-cabang PPI di berbagai daerah menjadi distributor exclusive.

Adapun distribusi pupuk yang dijalankan PPI dikhususkan untuk pupuk nonsubsidi SP 26 Petro, Petroniphos, Nitralite.

Beberapa cabang PPI telah menandatangani kerjasama distribusi pupuk ini, mulai dari Cabang Aceh, Pekanbaru, Jambi, Surabaya, Madiun, Manado, hingga Palu.

Koordinator Wilayah Barat PPI Rahman Saidi mengatakan, kerjasama distribusi pupuk ini adalah solusi berbagai masalah pertanian di berbagai daerah.

Pihaknya berharap distribusi pupuk yang semakin lancar dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani.

Rahman optimis, dengan pengalaman panjang PPI dan keberadaan cabang, gudang-gudang, dan kendaraan operasional, distribusi pupuk Petrokimia akan semakin lancar.

“Sejak awal Oktober hingga sekarang, sudah ada beberapa cabang PPI yang menandatangani kerjasama sebagai distributor eksekutif di Petrokimia Gresik. Kolaborasi ini kita harapkan membantu petani di daerah dalam mendapatkan pupuk tersebut,” kata Rahman Saidi, Kamis 14 Oktober 2021.

Menurutnya, peran PPI dalam distribusi pupuk merupakan salah satu model bisnis setelah dimerger dengan PT BGR.

Merger dua BUMN ini sudah disetujui Presiden Joko Widodo melalui PP Nomor 97 tahun 2021 yang diteken pada 15 September lalu.

“Merger ini merupakan bagian dari pembentukan Holding BUMN Pangan, kami turut berperan dalam penguatan rantai ekosistem perdagangan dan logistik, termasuk distribusi pupuk ke berbagai daerah,” jelasnya.

Pengalaman Dalam Distribusi Pupuk

Adapun jenis-jenis pupuk nonsubsidi yang disalurkan cabang PPI yaitu pupuk SP-26 Petro untuk menyesuaikan unsur hara P dan alternatif atas penyesuaian alokasi pupuk SP-36 bersubsidi.

Pupuk berwarna abu-abu kecoklatan ini memiliki kandungan unsur hara makro Fosfor 26 persen, Sulfur 5 persen dengan granul yang ukurannya bervariasi.

Kemudian pupuk Petro Niphos mengandung unsur hara N minimal 20 persen, Fosfor minimal 20 persen dan Sulfur minimal 13 persen yang berbentuk granul, dan dikhususkan bagi komoditas sayuran daun dan pangan.

Ada juga pupuk Nitralite yang memiliki kandungan unsur hara Nitrogen sebesar 25 persen, Sulfur 9 persen, dan Kalsium 7 persen yang memiliki banyak manfaat untuk tanaman.

Di antaranya membuat tanaman lebih hijau segar, mempercepat dan meningkatkan pertumbuhan tanaman berupa jumlah cabang dan jumlah anakan, meningkatkan kandungan protein hasil panen, hingga memperbaiki struktur tanah.

Pihak PPI memastikan distribusi pupuk dari Petrokimia akan berjalan lancar, sebab PPI sudah berpengalaman dan memiliki 32 cabang di seluruh Indonesia. []

Continue Reading

Agrobisnis & Pangan

Produksi Listrik EBT di PTPN Group Capai 318 Mega Watt

Published

on

Produksi listrik EBT

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Produksi listrik EBT atau Energi Baru Terbarukan di Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) terus meningkat.

Saat ini produksi listrik EBT di Holding PTPN III sudah mencapai 318 Mega Watt (MW) atau setara 1.831.680 MWh per tahun.

Pemanfaatan produk listrik EBT di BUMN ini pun terus digenjot agar bisa mencapai target bauran EBT secara nasional sebesar 23 persen di tahun 2025 mendatang.

Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), M Abdul Ghani mengatakan, produk listrik EBT ini dapat dioptimalkan untuk operasional di perkebunan.

Dari total produksi listrik EBT ini mampu mengurangi emisi atau dekarbonisasi hingga 1,9 juta ton CO2 per tahun.

“Operasional di semua anak usaha group PTPN telah memanfaatkan produk listrik EBT sebagai sumber energi yang kita dapat dari beberapa pembangkit, seperti PLTA, PLTBm, PLTBg, dan PLTS,” ujar Ghani dalam keterangan tertulisnya Selasa (12/10/2021).

Diketahui, pembangkit yang telah menghasilkan produksi listrik EBT yang dimiliki PTPN Group memang sangat beragam.

Di antaranya 10 unit PLTA dengan kapasitas 17,14 MW, 2 unit pembangkit berbasis biomassa berkapasitas 9,2 MW, 9 unit pembangkit biogas dari POME berkapasitas 11,35 MW dan 1 unit Pembangkit Listrik Tenaga Matahari berkapasitas 2 MWp.

Target Produksi Listrik EBT

Ghani mengatakan, pihaknya mendukung penuh program pemerintah dalam menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29 persen di tahun 2030.

Target ini dijalankan melalui program kerja perusahaan dalam penggunaan biomassa perkebunan sebagai sumber energi utama, hilirisasi bisnis perkebunan, serta optimasi pembangkit listrik EBT lainnya.

Program peningkatan produksi listrik EBT ini dijalankan secara mandiri maupun bekerja sama dengan mitra strategis yang ahli di bidang tersebut.

Adapun penggunaan produksi listrik EBT di PTPN III yaitu seperti di pabrik kelapa sawit (PKS) dan pabrik gula (PG) milik BUMN tersebut.

Saat ini telah menggunakan biomassa sebagai bahan bakar utama yang mampu menghasilkan listrik untuk memenuhi kebutuhan operasional pabrik.

“Bahan bakar yang digunakan di PKS adalah cangkang dan serabut kelapa sawit, sementara di PG bahan utamanya bagas tebu,” jelasnya.

Tercatat jumlah PKS PTPN Group ada sebanyak 75 unit dan telah memanfaatkan produksi listrik EBT yang dihasilkan 80 MW.

Sementara total pabrik gula yang telah menggunakan produksi listrik EBT yaitu 31 unit dengan kapasitas yang dihasilkan 198 MW.

Saat ini, Holding PTPN terus memperluas kerja sama pengolahan limbah sebagai sumber energi berbasis EBT dengan beberapa mitra strategis. []

Continue Reading

BNI

Label

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!