Connect with us
PERTAMINA

Konstruksi & Properti

Pendapatan WIKA Turun 37,23 Persen

EKO PRASETYO

Published

on

Pendapatan WIKA

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Pendapatan WIKA atau PT Wijaya Karya (Persero) Tbk pada semester I tahun ini mengalami penurunan sebesar 37,23 persen. Tercatat dalam waktu enam bulan pertama 2020, WIKA meraih pendapatan bersih sebesar Rp7,13 triliun.

Jumlah menurun drastis jika dibandingkan semester I tahun 2019 yang berhasil meraih pendapatan sebesar Rp11,36 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan yang dirilis, Selasa (18/8/2020), penurunan pendapatan perseroan juga berimbas pada penurunan laba usaha perusahaan.

Pada semester I, BUMN konstruksi ini membukukan laba hasil usaha senilai Rp1,08 triliun, turun 37,2 persen dibandingkan keuntungan pada periode yang sama tahun 2019 senilai Rp1,72 triliun.

Penurunan ini juga berdampak pada penurunan laba bersih perusahaan hingga 71,89 persen.

Dimana pada tahun semester I 2019, Wijaya Karya meraih laba bersih senilai Rp890,88 miliar, sementara di tahun ini hanya sebesar Rp250,41 miliar.

Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Mahendra Vijaya mengatakan, untuk pos liabilitas jangka pendek, pihaknya juga mencatatkan kenaikan dari pinjaman jangka pendek pihak berelasi dari Rp1,22 triliun menjadi Rp3,09 triliun.

Kemudian pinjaman dari pihak ketiga yang melonjak dari Rp3,88 triliun menjadi Rp7,67 triliun.

“Perseroan berhasil menekan jumlah liabilitas jangka panjang dari Rp12,54 triliun di akhir tahun 2019 menjadi Rp5,14 triliun. Secara keseluruhan total liabilitas di angka Rp43,87 triliun, naik sedikit dari posisi akhir tahun 2019 senilai Rp42,89 triliun,” ujarnya.

Pendapatan WIKA Terus Digenjot

Sementara itu, arus kas neto yang digunakan untuk aktivitas investasi atau capex mengalami penurunan, dimana per bulan Juni 2020, perseroan mencatatkan capex sebesar Rp762,97 miliar.

Meski mengalami penurunan pendapatan, Mahendra Vijaya mengatakan, WIKA menargetkan dapat mengantongi nilai kontrak baru hingga Rp18 triliun pada pada semester II tahun ini.

Menurutnya akan ada sebanyak 80 persen kontrak yang berasal dari pemerintah dan BUMN, 20 persen lainnya dari swasta dan luar negeri.

“Saat ini WIKA sedang mengikuti tender untuk penggarapan proyek di Filipina dan Taiwan yang nilainya mencapai Rp2 triliun. Untuk total nilai tender yang sedang kami ikuti saat ini mencapai Rp16 triliun,” jelasnya.

Ia pun optimis, di semester II tahun ini akan ada beberapa tender lagi yang bisa diikuti sampai di akhir tahun 2020.

Pada paruh kedua ini, WIKA akan fokus pada pengerjaan proyek yang memililki capital recycle yang lebih cepat untuk menjaga likuiditas dan arus kas perusahaan tetap stabil.

Untuk menjaga arus kas tetap sehat, BUMN ini juga akan melakukan efisiensi biaya usaha dan melakukan optimalisasi biaya produksi dengan mengoptimalkan supply chain management yang terintegrasi.

“Penggunaan teknologi terkini juga terus kami lakukan agar membuat pengerjaan proyek menjadi lebih efektif dan efisien. Sehingga tidak berdampak pada kas perusahaan,” tandasnya. []

Konstruksi & Properti

Proyeksi Bisnis 2021, Ini Target Waskita Karya!

CHRIESTIAN

Published

on

Proyeksi bisnis

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Proyeksi bisnis sejumlah korporasi tentunya masih sangat mempertimbangkan dampak pandemi yang diproyeksikan masih berlanjut.

Namun, program vaksinasi yang digencarkan pemerintah setidaknya memberikan harapan bahwa perekonomian akan kembali tumbuh dan berdampak baik terhadap bisnis.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk sebagai BUMN di sektor konstruksi misalnya, memiliki proyeksi bisnis yang cukup optimis dimana perseroan membidik kontrak baru mencapai Rp31,6 triliun di tahun 2021.

Menurut Direktur Utama PT Waskita Karya Tbk, Destiawan Soewardjono kontrak baru yang dibidik itu mengalami kenaikan sebesar 16,6 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya.

“Proyeksi bisnis kami sangat optimis dengan target kontrak baru sebesar Rp31,6 triliun yang berasal dari proyek pemerintah dan sebagian dari pengembangan investasi perseroan,” jelasnya.

Untuk kontrak baru dari proyek-proyek pemerintah, lanjut Destiawan, perseroan menargetkan sebesar 30 persen kemudian dari BUMN sebesar 25 persen, swasta 22 persen dan sisasnya bersumber dari pengembangan investasi.

“Kami targetkan dari kontrak baru tersebut bersumber sebesar 30 persen dari proyek pemerintah, BUMN dan swasta masing-masing 25 persen dan 20 persen kemudian sisanya berasal dari pengembangan investasi Waskita Karya dari sektor properti, tol dan non tol,” paparnya.

Proyeksi Bisnis Pengembangan Investasi

Destiawan Soewardjono memaparkan proyeksi bisnis terkait pengembangan invesatasi perseroan. Menurutnya di tengah rencana melepas 9 ruas tol di tahun 2021, perseroan mempunyai strategi dalam memutar kembali dana yang diraih sehingga mampu menciptakan peluang baru dalam berinvestasi.

Namun Destiawan menegaskan jika tidak semua ruas tol tersebut akan di lepas, namun sebagian akan didivestasi. Meski Cuma sebagian yang didisvestasi tapi tidak semua hasilnya akan digunakan melainkan sebagian akan kembali diinvestasikan.

“Perseroan telah menetapkan beberapa ruas tol yang memiliki recurring income jangka pendek sehingga pendapatan kami di 2021 bisa mencapai target yang dibidik,” terangnya.

Meskipun investasi jangka panjang perseroan berpotensi lepas, tetapi Wakita Karya meyakini mampu berinvestasi yang lebih besar di tahun ini.

“Tidak semua akan dilepas walau potensi kami akan kehilangan. Namun dari pendapatan dan keuntungannya kami yakini di tahun ini perseroan akan berinvestasi yang lebih besar,” tutupnya. []

Continue Reading

Konstruksi & Properti

Saham ADHI Meroket! Ini Kata Perseroan

CHRIESTIAN

Published

on

Saham ADHI

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Saham ADHI / PT Adhi Karya (Persero) Tbk beberapa waktu lalu terus mengalami kenaikan. Dalam sepekan harga saham ADHI naik hingga 16,94 persen.

Manajemen perseroan menilai terdapat beberapa sentimen positif yang mempengaruhi naiknya harga saham ADHI.

Beberapa faktor tersebut antara lain perolehan 6 penghargaan MURI dan pekerjaan pengecoran bentang panjang terakhir dari pembangunan proyek LRT Jabodebek.

“Perseroan melakukan penandatanganan kontrak baru proyek jalan tol Solo Yogya serta tol Serang-Panimbang dengan nilai mencapai Rp8,7 triliun,” tulis Direktur Keuangan ADHI Agung Dharmawan dalam keterbukaan informasi.

Pelat merah ini pada bulan November 2020 juga berhasil meraih kenaikan kontrak baru yang tumbuh 130,7 persen apabila dibandingkan perolehan pada bulan sebelumnya tahun yang sama.

Dimana pada bulan Oktober 2020 ADHI hanya memperoleh kontrak sebesar Rp7,5 triliun kemudian naik menjadi Rp17,2 triliun pada November 2020.

“Ini juga menjadi salah satu sentimen positif bagi saham ADHI,” ujarnya.

Selain itu, beroperasinya pelabuhan Patimban dimana perseroan berkolaborasi dengan BUMN Konstruksi juga memberikan sentiment yang positif terhadap pasar.

“Sentimen positif juga terlihat dari anggaran infrastruktur APBNI 2021 yang naik menjadi Rp414 triliun serta penandatanganan pembentukan Lembaga Pengelolaan Investasi,” tambahnya.

Adapun lembaga tersebut akan bernama Indonesia Investment Authority (INA). Pembentukan INA hingga sekarang ini masih dalam tahap finalisasi, jadi belum ada proyek ataupun terkait pendanaan dari INA.

Di tahun 2021 perseroan diproyeksikan akan memperoleh pendapatan yang sangat baik, mengingta berbagai kontrak baru di tahun 2020.

Selain itu ADHI juga membidik perolehan kontrak baru yang naik 20 persen di tahun 2021 menjadi Rp24 sampai Rp25 triliun.

“Untuk laba bersih di tahun depan tentunya kita targetkan tumbuh lebih baik dibanding tahun 2020, meskipun masih belum pulih seperti perolehan di tahun 2019,” tutupnya. []

Continue Reading

Konstruksi & Properti

PT Wijaya Karya Serang Panimbang, Diguyur WIKA Rp2,35 Triliun

EKO PRASETYO

Published

on

PT Wijaya Karya Serang Panimbang

MEDIABUMN.COM, Jakarta – PT Wijaya Karya Serang Panimbang sebagai anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk / WIKA mendapatkan pinjaman sebesar Rp2,35 triliun.

WIKA Sebagai Induk Perusahaan menyuntik dana tersebut dimana nantinya akan digunakan untuk kelancaran proyek tol Serang Panimbang, salah satunya dalam membayar kontraktor.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) beberapa waktu lalu, Sekretaris Perusahaan WIKA Mahendra Vijaya mengatakan bahwa transaksi tersebut merupakan transaksi afiliasi karena WIKA merupakan salah satu pemegang saham PT Wijaya Karya Serang Panimbang.

“Perseroan memiliki saham atas di PT Wijaya Karya Serang Panimbang yaitu sebesar 83,42 persen,” tambahnya.

Selain WIKA, terdapat juga PT PP Tbk dan Jababeka Infrastruktur yang masing-masing memiliki porsi saham sebesar 15,64 persen dan 0,94 persen.

Lebih lanjut Mahendra mengatakan jika transaksi tersebut bukan transaksi material karena jumlahnya hanya 14,47 persen dari total ekuitas perseroan.

Setelah pencairan pinjaman PT Wijaya Karya Serang Panimbang dilakukan maka kas dan setara kas perseroan akan turun menjadi Rp4,72 triliun dari sebelumnya yang sebesar Rp7,07 triliun. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!