Paruh Tahun, BRI Torehkan Laba Rp16,16 Triliun

oleh
BRI

BRI telah berhasil mencatatkan pertumbuhan laba konsolidasi sebanyak 8,19 persen. Atau berarti menjadi senilai Rp16,16 triliun secara tahunan atau year of year pada semester pertama tahun 2019 ini.

Suprajarto selaku Direktur Utama BRI mengakui bahwa, walaupun mencatatkan pertumbuhan laba terdapat perlambatan laba. Dibandingkan pada semester pertama tahun 2018 lalu pertumbuhan laba mencapai hingga 11 persen.

Lambatnya pertumbuhan laba pada semester pertama tahun 2019 ini dikarenakan adanya perubahan serta akuisisi anak perusahaan. Kala itu BRI mempunyai beragam masalah, jadi tumbuh hanya mencapai 8,19 persen saja. Akan tetapi, hal itu telah diperhitungkan valuasi saat pihak perusahaan akuisisi, sebab yakin dengan aset yang ada.

Pertumbuhan laba pada semester pertama tahun 2019 ini sangat didukung oleh beragam segmen tumbuh secara positif. Pada DPK atau Dana Pihak Ketiga, tumbuh sebanyak 12,48 persen menjadi ke posisi Rp945,05 triliun.

Proporsi DPK tersebut masih didominasi oleh dana murah atau CASA sebanyak 57,35 persen. “Selain pada DPK, kredit juga (ikut) tumbuh secara konsolidasian pada triwulan kedua 2019. Saluran kredit naik (hingga) 84 persen menjadi Rp388,2 triliun,” ujar Suprajarto.

BRI Dapatkan Pertumbuhan Laba dari Fee Based Income

Faktor lainnya yang menopang pertumbuhan laba BRI ialah fee based income atau KUR. Dengan pertumbuhan mencapai Rp12,11 triliun pada kuartal kedua tahun 2019. Bila dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp10,28 triliun year of year.

Sementara, untuk Kredit Usaha Rakyat atau KUR, sampai dengan akhir Juni 2019 berada pada posisi Rp50,29 triliun. Jumlah tersebut disalurkan kepada 1,2 juta debitur, yang setara dengan 57,8 persen dari target penyaluran kredit. Dari target breakdown oleh pemerintah untuk BRI pada tahun 2019 ini.

Sampai dengan akhir Juni 2019, BRI sudah mencatatkan total aset sebanyak Rp1,288,20 triliun. Atau berarti tumbuh sekitar 11,70 persen year of year. Sedangkan untuk kredit UMKM tumbuh hingga 13.07 persen menjadi sebanyak Rp681,50 triliun. Dan kredit ritel menenang juga naik 14,98 persen menjadi sebanyak Rp253,77 triliun.

Adapun pada kredit konsumer pada Triwulan kedua tahun 2019 meningkat 8,65 persen menjadi Rp133,65 triliun. Dan kredit korporasi naik 7,9 persen menjadi Rp206,83 triliun. Pencapaian itu selaras dengan strategi perusahaan yang kian memperbesar porsi penyaluran kredit pada segmen UMKM. Hal itu guna menstimulasi pertumbuhan ekonomi serta meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *