Connect with us
PERTAMINA

Agrobisnis & Pangan

Outlook Bisnis 2019: Perum Perindo Siap Dorong Ekspor

MediaBUMN

Published

on

Perum Perindo

Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) menilai outlook industri perikanan nasional di tahun 2019 memiliki potensi yang sangat besar khususnya pada pasar ekspor yang permintaannya terus mengalami peningkatan. Namun, di tengah peluang tersebut, justru kondisi industri perikanan di nasional dihadapi sejumlah tantangan besar salah satunya yaitu kurangnya supply untuk memenuhi permintaan pasar.

Kebijakan moratorium yang dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dinilai memiliki dampak positif terhadap sektor perikanan di tanah air. Bahkan adanya pemberantasan illegal fishing memiliki impact yang sangat terasa di seluruh dunia. Direktur Utama Perum Perindo, Risyanto Suanda menegaskan, yang patut dipahami bahwa illegal fishing merupakan suatu keniscayaan. Mungkin orang bertanya apakah kebijakan tentang illegal fishing akan berubah apabila menterinya diganti? Jawabannya adalah tidak! Kondisi pasar internasional saat ini sudah mengimplementasikan 100% market trustability.

Baca Juga: 2019 Krakatau Steel Bidik Produksi 6,5 juta Ton

“Artinya tidak ada lagi ruang untuk illegal fishing,” ujar pria kelahiran Karawang 24 Februari 1976 tersebut.

Sebagai contoh, sebuah kapal Indonesia melakukan penangkapan ikan yang dilakukan di perairan teritori Filipina untuk kemudian hasilnya dijual ke Amerika. Maka pihak Amerika tentu akan menanyakan surat atau legalitas atas tangkapan ikan tersebut. Ditangkapnya di perairan mana? Menggunakan kapal apa? kemudian kapal tersebut juga bisa dicek menggunakan vessel monitoring system.

“Maka dengan demikian akan dapat diketahui legal atau tidaknya hasil penangkapan ikan tersebut,” terangnya.

Dengan adanya kebijakan tersebut, tentunya sudah sangat terasa bagi para pemain besar di regional, contohnya seperti di Thailand yang sudah dinyatakan decline. “Mereka mau membeli tuna atau cakalang secara resmi ke Indonesia pun tidak bisa karena memang barangnya tidak ada akibat kurangnya supply.

Laman: 1 2 3 4

Agrobisnis & Pangan

Produksi Sawit dan Gula Jadi Fokus PTPN III

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Produksi sawit

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Produksi sawit dan gula akan menjadi fokus utama komoditas yang dikelola PT. Perkebunan Nusantara III (Persero).

Pasalnya Holding BUMN sektor perkebunan ini telah menyusun peta jalan (road map) usahanya untuk mendukung program ketahanan pangan dan ketahanan energi nasional.

Dengan fokus pada produksi sawit dan gula (tebu) maka hasil pertanian lainnya seperti karet dan teh akan dikurangi.

Direktur Utama PTPN III Holding, Mohammad Abdul Ghani mengatakan Menteri BUMN Erick Thohir sudah menugaskan PTPN untuk mendukung program ketahanan pangan dan energi.

“PTPN Grup telah merumuskan road map usaha yang fokus pada dua komoditas yakni kelapa sawit untuk kecukupan energi dan tebu untuk kecukupan pangan,” jelas Abdul Ghani dalam acara webinar Menuju Indonesia Emas 2045, Selasa (29/9).

Saat ini PTPN Grup memiliki lahan perkebunan sekitar 1,18 juta hektare dengan enam komoditas, yakni karet, kelapa sawit, tebu, kopi, teh, dan kakao.

Dari hasil pemetaan yang dilakukan pihak perseroan dalam lima tahun terakhir, komoditas karet dan teh justru memberikan kerugian karena beberapa persoalan.

Di antaranya harga komoditas karet yang seringkali tidak stabil lantaran dipengaruhi pasar internasional, sedangkan komoditas teh dinilai harus ada perubahan model bisnis yang baru.

Kemudian, komoditas teh dan karet jika dikaitkan dalam program ketahanan pangan dan energi tidak sesuai, karena hanya bias menambah lapangan kerja dan devisa ekspor.

Sementara kedua komoditas ini tidak terlalu signifikan untuk menopang kebutuhan pangan maupun energi nasional.

“Maka di dalam road map bisnis PTPN dalam lima tahun ke depan adalah mengurangi luasan area perkebunan terh dan karet untuk menambah areal tebu dan kelapa sawit,” kata Ghani.

Tujuan utama yang ingin dicapai perseroan, yaitu meningkatkan produksi Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah dan gula di dalam negeri.

Ia menyebutkan bahwa PTPN mendukung program kemandirian energi dengan memperluas areal perkebunan sawit untuk meningkatkan produktivitas.

Dorong Produksi Sawit Untuk Bio Fuel

Saat ini rata-rata tingkat produksi sawit di perkebunan PTPN sebanyak 4,5 ton per hektar, dan ditargetkan hasil panen itu akan meningkat menjadi 5 ton per hektar dalam 5 tahun mendatang.

“Indonesia lebih cocok membangun kemandirian energi berbasis bio fuel minyak sawit. Maka target kami ke depan bisa masuk ke industri hilir bahan bakar, di mana saat ini baru masuk di industri hilir fkrasi cair (olein),” ungkapnya.

Terlebih PTPN sudah menjalin kerjasama dengan PT Pertamina untuk memenuhi kebutuhan CPO di pabrik Sumatra Selatan dan kebutuhan RBDPO di plant Cilacap.

Dengan masuknya PTPN dalam industri energi terutama biofuel, diharpakan kemandirian energi biofuel akan semakin meningkat.

Sementara untuk komoditas gula, Abdul Ghani menyebut saat ini PTPN memiliki lahan seluas 55.000 hektare.

Hingga lima tahun ke depan, ditargetkan luasannya akan bertambah hingga dua kali lipat dengan yang ada saat ini.

Untuk mewujudkan hal itu, PTPN telah mengajak BUMN lainnya yaitu Perhutani untuk memanfaatkan areal hutan dan mengajak masyarakat untuk menanam komoditas tebu.

Selain memperluas area perkebunan, perusahaan pelat merah ini juga akan meningkatkan produksi pabrik gula dengan bekerjasama dengan sejumlah investor.

“Jika produksi gula meningkat, maka komitmen PTPN untuk membantu pemerintah menstabilkan harga gula ke konsumen juga akan tercapai. Tahun ini kami akan memasarkan gula ritel 40.000 ton, bisa jadi dalam 5 tahun ke depan bisa naik menjadi 400.000 ton,” pungkasnya. []

Continue Reading

Agrobisnis & Pangan

Holding BUMN Pangan Akhir Tahun Ini Ditarget Rampung

EKO PRASETYO

Published

on

Holding BUMN pangan

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Holding BUMN pangan yang digagas oleh Kementerian BUMN ditargetkan sudah terbentuk paling lambat akhir 2020.

PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI nantinya akan menjadi induk dai holding BUMN Pangan tersebut.

Febriyanto selaku Direktur Pengembangan dan Pengendalian Usaha PT RNI mengatakan, proses pembentukan holding BUMN Pangan hingga saat ini terus digenjot agar bisa rampung di akhir tahun ini.

“Kami ditunjuk oleh pemerintah sebagai induk BUMN Klaster Pangan. Alhamdulillah saat ini prosesnya untuk menjadi holding BUMN pangan terus berlangsung. Mudah-mudahan di akhir tahun 2020 ini paling lambat holding ini sudah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham dan pemerintah,” ujar Febriyanto, Kamis (24/9/2020).

Dalam pembentukan Holding BUMN Pangan ini, ada delapan perusahaan pelat yang akan digabung ke dalam holding.

Kedelapan perseroan tersebut di antaranya PT Perikanan Indonesia (Persero) untuk budidaya ikan, pengolahan ikan, dan layanan jasa kepelabuhanan perikanan.

Kemudian PT Berdikari (Persero) yang bergerak di sektor peternakan dan logistik, PT Garam (Persero) di sektor industri garam, dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) yang bergerak di bidang perdagangan dalam dan luar negeri.

Ada juga PT. Bhanda Ghara Reksa atau BGR Logistics yang begerak di bidang logistik provider dari hulu sampai hilir pangan.

Menurut Febriyanto, jika holding BUMN pangan sudah terbentuk, nantinya akan mampu menyediakan berbagai komoditas strategis bagi masyarakat.

Mulai dari beras, jagung, daging, ikan dan berbagai jenis pangan lainnya.

“Rantai produksi akan berjalan sisi hulu sampai hilir. Nantinya barang-barang kebutuhan ini akan kita beli dari teman-teman kita yang selama ini berperan dalam mata rantai penyediaan pangan,” kata Febri.

Dari rantai pasokan pangan ini PT RNI juga tidak akan bekerja sendiri, tetapi akan melibatkan berbagai pihak, mulai dari petani, nelayan, BUMDes dan koperasi.

“Tentunya kami tidak bekerja sendiri karena memang kita tahu bahwa jaringan pasar ritel cukup luas. Maka kita perlu melibatkan para pelaku bisnis di jaringan ritel itu untuk mendistribusikan komoditi pangan kita ke masyarakat,” tandasnya. []

Continue Reading

Agrobisnis & Pangan

Produksi Sawit PTPN V Pecah Rekor, Pendapatan Bisa Tembus Rp4,8 Triliun

Alfian Setya Saputra

Published

on

Produksi sawit

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Produksi sawit PTPN V atau PT Perkebunan Nusantara V berhasil mencatat rekor sepanjang sejarah.

Pasalnya, untuk kali pertama dalam sejarah PTPN V, produkditivas tandan kelapa sawit mencapai 23,9 ton per hektare.

Angka produksi sawit itu menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah sejak perusahaan pelat merah itu berdiri.

Chief Executive Officer PT Perkebunan Nusantara V, Jatmiko K. mengatakan, dengan produktivitas sawit itu, PTPN V menjadi salah satu anak perusahaan Perkebunan Nusantara yang berhasil meraih target kinerja yang ditetapkan perusahaan.

Sebagai perusahaan negara, kami memiliki dua bisnis utama yakni sawit dan karet.

“Dari unit Kebun Tamora, PTPN V meraih penghargaan dari holding usaha atas capaian mutu produk, produktivitas, dan indikator lainnya di semester 1 tahun ini. Jadi dari seluruh lingkungan PTPN Group, Tamora menjadi kebun sawit terbaik pertama di Indonesia,” ujar Jatmiko, Sabtu (20/9/2020).

Ia menjelaskan, untuk usaha karet, Tamora menempati posisi terbaik kedua di antara seluruh perkebunan karet di semua perusahaan negara milik negara.

Adapun untuk pabrik kelapa sawit (PKS) Sei Pagar yang ada di kabupaten Kampar juga menjadi PKS terbaik keempat di seluruh pabrik milik Holding Perkebunan Nusantara.

Optimis Produksi Sawit

Menurut Jatmiko, prestasi ini bisa diraih karena keakuratan data yang terus diperhatikan sebagai upaya mengembangkan data berbasis teknologi guna meningkatkan efektifitas pengawasan perkebunan.

Pelaksanaan SOP di perusahaan juga dilakukan secara ketat, tansparansi dan data yang akurat menjadi strategi perusahaan untuk menghasilkan kinerja terbaik.

Ia pun berharap, kinerja ini akan terus berlanjut dan terus lebih baik ke depan.

“Makanya, proses penanaman, perawatan hingga panen harus terus menjadi perhatian. Sebagai pimpinan PTPN V, saya sangat bangga dengan prestasi ini, semoga ini menjadi pelecut motivasi karyawan dan manajemen untuk mempertahankan kinerja positif dan lebih baik di masa mendatang,” ujar mantan Indonesia Tourism Development Corporation ini.

Pihaknya pun optimistis bisa menjaga tingkat produksi sawit sebesar 24,24 ton per hektar hingga akhir tahun 2020.

Optimisme itu didasari dari hasil produksi sawit dan operasional sejumlah unit kebun sawit dan karet milik PTPN V yang saat ini kondisinya sedang optimal.

Dengan produksi sawit sebesar itu, ditargetkan pendapatan PTPN V bisa menembus angka Rp4,8 triliun, atau mengalami pertumbuhan hingga 16,25 persen dari pendapatan tahun 2019.

Namun target itu, tidak seluruhnya didapat dari kebun PTPN V, karena sekitar 40 persen produksi sawit yang dikelola adalah hasil kebun sawit milik rakyat, baik petani swadaya mapun mitra plasma PTPN V.

“Sinergi ini sejalan dengan upaya perseroan dalam membantu memulihkan ekonomi di daerah setempat, dengan meningkatkan kesejahteraan petani binaan,” tutupnya. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!