Connect with us
PERTAMINA

CEO TALK

Optimisme Pos Indonesia Berjuang Hadapi Gempuran

CHRIESTIAN

Published

on

Pos

MEDIABUMN.COM, Jakarta – PT Pos Indonesia (Persero) menjadi salah satu perusahaan yang masih bertahan di tengah disrupsi teknologi. Telatnya merespon perubahan landscape bisnis yang terjadi saat ini, pada akhirnya membuat Pos Indonesia memutar otak mencari bisnis model terbaru yang relevan dengan kebutuhan zaman. Sehingga Pos Indonesia pun harus berjuang berkompetisi melawan kompetitor yang pelayanannya dianggap jauh lebih cepat secara teknologi, yang justru mereka hadir di zona-zona yang selama ini Pos Indonesia tumbuh. Belum lagi isu penugasan negara yang pada akhirnya juga menjadi beban bagi perusahaan. Namun BUMN orange ini masih optimis menatap tahun 2020 dengan proyeksi pendapatan yang dinilai realistis yaitu sebesar Rp6 Triliun.

Bukan hanya persoalan disrupsi saja, justru isu yang menarik dari pasang surutnya bisnis perposan di tanah air adalah terkait Pos Indonesia sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki fungsi sebagai penugasan negara. Seperti diketahui bahwa BUMN selain memiliki fungsi yang berkaitan dengan mencetak profit, di sisi lain juga memiliki penugasan yang berorientasi terhadap persoalan sosial. Dimana kedua fungsi tersebut harus berjalan secara seimbang. Namun terkadang kedua fungsi tersebut pada kenyataannya tidak bisa berjalan sesuai harapan pemerintah karena adanya sejumlah hambatan, misalnya terbentur regulasi.

Sebut saja PT KAI, Pelni, Perum Bulog, dsb, sebagai perusahaan pelat merah yang sama dengan Pos Indonesia yang memiliki fungsi sebagai penugasan negara. Namun terkadang terjadi ketidaksetaraan dalam hal “kucuran dana” yang diberikan pemerintah dalam penugasan tersebut, sehingga membuat perusahaan menjadi berdarah-darah menjalankan roda korporasinya untuk terus berupaya menghadirkan fungsi BUMN lainnya yaitu mencetak profit.

Pos Indonesia dinilai sebagai perusahaan pelat merah yang pada kenyataannya hingga saat ini belum menerima bantuan yang optimal dari pemerintah. Perusahaan yang sudah berusia 273 tahun ini tengah berjuang menambal beban biaya penugasan tersebut di tengah disrupsi yang melanda. Oleh karenanya pemerintah dinilai perlu melakukan langkah-langkah yang konkret dan strategis untuk menyelamatkan Pos Indonesia. Seluruh kepentingan pembuat regulasi harus duduk bersama menyelesaikan apa yang semestinya dilakukan untuk Pos Indonesia. Sebab apabila persoalan ini tidak clear maka akan semakin berat bagi generasi penerus tongkat estafet kepemimpinan Pos Indonesia ke depannya.

Pemerintah Harus Selamatkan Pos Indonesia

Sesuai dengan Pasal 51 Undang-undang Nomor 38 Tahun 2009 tentang Pos disebutkan, pemerintah ditugaskan untuk melakukan penyehatan terhadap PT Pos Indonesia (Persero), sebagai BUMN untuk menghadapi akses pembukaan pasar global. Melalui kebijakan tersebut, pemerintah sudah seharusnya mengintervensi proses penyehatan Pos Indonesia. Namun kenyataannya, sejak 2009 saat aturan terbit sampai saat ini belum ada langkah konkret yang dilakukan pemerintah.

Sebagai anggota Universal Postal Union (UPU), Pos Indonesia memikul tugas sebagai Layanan Pos Universal. Dengan bantuan dana operasional dari pemerintah sebesar Rp345 miliar pada 2018 lalu, perusahaan mengelola kantor pos di daerah terpencil yang berjumlah 2.446 cabang.

Dalam prosesnya, Pos Indonesia diminta oleh pemerintah untuk melayani masyarakat dengan tarif yang sesuai ketentuan pemerintah sejak 2013. Penentuan tarif yang lebih rendah dari biaya operasional menimbulkan terjadi selisih biaya yang harus ditanggung perusahaan. Padahal jasa pengiriman tersebut banyak dipakai oleh para perusahaan perdagangan elektronik (e-commerce) yang tengah menjamur.

Kepada MEDIABUMN, Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero), Gilarsi W. Setijono menyebut jika persoalan Pos Indonesia dalam fungsi penugasan negara dinilai sebagai persoalan yang sampai dengan saat ini belum clear secara transaksional. Positioning Pos Indonesia sebagai BUMN setidaknya juga butuh kesetaraan (equal) sama halnya dengan BUMN lainnya yang juga memiliki fungsi penugasan.

Laman: 1 2 3 4

CEO TALK

Kinerja Positif Asuransi Asei di Tengah Pandemi

CHRIESTIAN

Published

on

Asuransi Asei

MEDIABUMN.CON, Jakarta – PT Asuransi Asei Indonesia yang pada tahun lalu berhasil mencetak kinerja positif semakin percaya diri melangkah melanjutkan tren kinerja tersebut di tahun 2020. Namun badai virus Corona (Covid-19) yang mengguncang dunia membuat seluruh industri mengalami tekanan besar tidak terkecuali sektor asuransi! Namun demikian, di tengah situasi sulit tersebut, Asuransi Asei tetap berusaha produktif sehingga mampu menorehkan kinerja yang cukup memuaskan meskipun tantangan ke depan dinilai cukup berat.

Sepanjang tahun 2019 lalu, Asuransi Asei semakin menunjukan jatidirinya sebagai pemain di sektor asuransi keungan yang handal. Hal tersebut tercermin dari keberhasilannya membukukan kinerja gemilang yang ditopang melalui portofolio bisnisnya yaitu asuransi keuangan yang berkontribusi sebesar 53 persen dan asuransi umum yang menyumbang 47 persen. Dimana pada tahun 2019, anak perusahaan BUMN PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) / Indonesia Re ini berhasil membukukan laba usaha sebesar Rp6,67 miliar atau tumbuh sebesar 87,14 persen apabila dibandingkan torehan laba pada tahun 2018 yang hanya sebesar Rp3,61 miliar (year on year). Sementara dari sisi perolehan premi pada tahun 2019 Asei berhasil menghimpun premi sebesar Rp415,86 miliar atau tumbuh 12,47 persen dibanding periode tahun 2018 (year on year).

Atas kinerja positif tersebut, perusahaan pun telah dinyatakan sehat. Hal ini tercermin dari catatan Risk Based Capital (RBC) dan Rasio Kecukupan Investasi (RKI) perusahaan sampai dengan 31 Des 2019 lalu telah tercatat diatas batas ketentuan minimal. Disamping itu tambahan pinjaman dana subordinasi dari induk usaha telah masuk sebesar Rp150 miliar pada 30 Des 2019.

Berbekal strategi penyehatan bisnis (efisiensi) dan penguatan bisnis di tahun 2019 menjadi key success atas torehan kinerja di tahun 2019. Capaian tersebut tentunya menjadi modal penting untuk melanjutkan tren kinerja yang jauh lebih baik di tahun 2020, hingga pada akhirnya wabah Covid-19 pun datang dan mengubah segalanya menjadi tekanan sekaligus tantangan yang begitu berat bagi seluruh industri tidak terkecuali bagi Asei.

Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia, Erickson Mangunsong mengatakan bahwa wabah Covid-19 memiliki dampak yang cukup besar terhadap performa bisnis perusahaan. Menurutnya hampir seluruh perusahaan asuransi termasuk Asei pada triwulan I/2020 memiliki kinerja yang positif, baik itu dari sisi top line maupun bottom line. Namun memasuki periode April mulai terlihat dampak dari wabah Covid-19 tersebut.

“Ada dua faktor yaitu dari sisi internal perusahaan melakukan mitigasi risiko dan faktor eksternal memang supply-nya juga turun. Karena bisnis kami kan sangat related dengan perbankan, dimana bank-bank juga melakukan pembatasan, dan juga relaksasi (strukturisasi) yang justru dampaknya ke asuransi sehingga kami juga tidak bisa serta merta dan pada akhirnya juga turut membatasi,” terang Erickson.

Lebih lanjut Erickson juga memaparkan dampak Covid-19 terhadap produk penjaminan Asuransi Asei, dimana produk ini difokuskan kepada project-project APBN yang saat ini banyak project yang tidak berjalan lantaran dialihkan pendanaannya untuk penanganan Covid-19.

“Banyak Kementerian dan Departemen yang merelokasikan dana-dana project untuk membantu menangani wabah Covid-19,” ujar Erickson.

Selain itu, lanjut Erickson, dampak pandemi pada akhirnya membuat Asuransi Asei mengubah kebijakan bisnisnya ke depan sehingga menjadi jauh lebih relevan dengan berbagai kebutuhan yang ada. Beberapa strategi bisnis yang dilakukan di tengah penyebaran wabah Covid-19 salah satunya dengan melakukan peningkatan prudent underwriting.

Meskipun dalam masa sulit, lanjut Erickson, namun tidak menyurutkan kepercayaan diri manajemen dan seluruh jajaran untuk meraih kinerja yang optimal khususnya pada fase bisnis di era new normal saat ini.

“Di sisa 6 bulan ke depan, perusahaan pun semakin agresif menggarap berbagai potensi dan optimis mampu mencetak kinerja yang tetap positif di akhir tahun 2020 nanti,” ujar Erickson.

Bagaimana kinerja perusahaan enam bulan pertama di tahun 2020? Erickson mengakui jika kinerja semester I/2020 secara pencapain gross masih jauh di bawah target yang ditetapkan.

Namun di tengah masa pandemi ini, lanjut Erickson, ada kabar yang cukup menggembirakan, dimana pada semester I/2020 Asei masih mampu menorehkan kinerja positif yang tercermin dari perolehan laba yang mencapai Rp11,76 miliar atau sebesar 91,43 persen dari target laba di tahun 2020 yang sebesar Rp12,86 miliar.

Selain itu hasil underwriting pun berhasil mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan mencapai Rp46,77 miliar atau tumbuh signifikan sebesar 116,82 persen secara year on year, meskipun dari sisi perolehan premi, diakui masih sangat tertinggal dengan perolehan hanya sebesar Rp120,45 miliar.

“Kami tetap berupaya menjaga kualitas bisnis yang baik dan berharap enam bulan ke depan kondisinya tidak lebih buruk dari semester I/2020 sehingga di akhir tahun nanti kinerja secara keseluruhan dapat terjaga dengan baik,” jelas Erickson.

Continue Reading

CEO TALK

“Potensi Perikanan Sangat Besar, Tapi Seberapa Besar Kemampuan Kita?”

MediaBUMN

Published

on

Dirut Perinus Dendi Agung Gumilang Bicara Soal Industri Perikanan

PT Perikanan Nusantara (Perinus) semakin menunjukan tren kinerja positif dari tahun ke tahun. Hal ini tentu tidak terlepas dari peran Dendi Anggi Gumilang sebagai Direktur Utama yang dianggap berhasil membangun kepercayaan diri SDM serta memecahkan masalah klasik perusahaan. Salah satunya yaitu persoalan birokrasi yang menjadi khas Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Berikut petikan wawancara mediabumn.com dengan sang nahkoda utama PT Perikanan Nusantara (Persero).

Bagaimana Bapak menilai Potret industri perikanan nasional?
Indonesia merupakan negara maritim dimana hampir 70% wilayahnya adalah laut dan sisanya terdiri dari daratan. Dengan fakta tersebut seharusnya pendapatan Indonesia yang terbesar bersumber dari laut. Namun pada kenyataanya berbeda. Dimana bertahun-tahun sektor maritim tidak mengalami kemajuan, sehingga Presiden Joko Widodo di awal menjabat bertekad untuk menjadikan laut Indonesia sebagai poros maritim. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar menjadi poros maritim dunia. Poros maritim merupakan sebuah gagasan strategis yang diwujudkan untuk menjamin konektifitas antar pulau, pengembangan industri perkapalan dan perikanan, perbaikan transportasi laut serta fokus pada keamanan maritim.

Artinya presiden melihat ini sebagai potensi dan tentunya sebagai tantangan. Sehingga sejalan dengan hal itu pemerintah harus tegas secara regulasi terkait dengan potensi tersebut. Dan hal ini ternyata in line dengan kebijakan Ibu Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan dan Perikanan-red) dimana beliau membatasi asing untuk menangkap ikan. Dimana di masa lalu kapal asing hampir menguasai laut Indonesia, sekarang dengan adanya moratorium sudah tidak terlihat lagi. Tentu ada plus dan minusnya, tapi itulah sebuah kebijakan.

Sekarang bagaimana industri dalam negeri mampu memanfaatkan potensi yang lebih besar atas kebijakan moratorium tersebut, termasuk peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Perinus melihat ini adalah sebuah peluang besar. Sebagai agent of development kita bisa memiliki peran yang lebih aktif lagi sehingga keberadaan BUMN Perinus menjadi salah satu brand yang “icon” dalam industri perikanan.

Jika pada sektor lain, batubara, misalnya! banyak pemain terkenal yang sangat “icon” pada sektor ini, sebut saja Adaro, Bukit Asam, dsb. Jika bicara properti ada Agung Podomoro, Sinarmas, dsb. Jika bicara industri perikanan? Kita tidak bisa menyebutkan siapa pemainnya. Tentu hal ini sangat ironis, dimana sektor perikanan justru memiliki sumber daya yang begitu besar dibandingkan batubara, properti, minyak dan sawit. Apakah ada pengusaha terkenal di Indonesia yang bermain di industri perikanan? Yang ada hanya pengusaha terkenal di Indonesia yang terkenal akrab bermain di sektor properti, energi, perkebunan, dsb.

Namun perlahan kita terus menangkap dan memanfaatkan sejumlah peluang besar yang ada sehingga kita bisa menunjukan kepada masyarakat bahwa Indonesia memiliki pemain di sektor Perikanan yaitu PT Perikanan Nusantara.

Continue Reading

CEO TALK

Direktur Utama PT Sarinah (Persero) – Gusti Ngurah Putu Sugiarta Yasa: “Siap Wujudkan Implementasi The Window of Indonesia”

MediaBUMN

Published

on

Keberadaan Sarinah selama lebih dari 55 tahun di Indonesia, sejatinya bukan hanya sekedar perwujudan sebuah icon gedung yang melegenda saja, namun banyak sekali pesan yang terkandung di dalamnya yang disampaikan oleh sang Proklamator RI, Ir Soekarno sebagai pencetusnya. Namun seiring pergeseran zaman, keberadaan dan makna historis yang terkandung di dalam tubuh Sarinah kini seakan redup seolah terlupakan khususnya bagi generasi milenial saat ini.

Baca Juga : Sarinah Targetkan penjualan Rp 500 miliar

Hampir rata-rata mereka menganggap keberadaan Sarinah saat ini tidak lebih dari sekedar tempat nongkrong dan meeting point yang strategis karena banyak cafe atau pun restoran di dalamnya. Tanpa banyak diketahui jika Sarinah merupakan sebuah misi Presiden Soekarno yang ingin memperkenalkan produk-produk asli Indonesia di mata dunia Internasional, dimana keberadaannya saat ini, Sarinah juga memiliki fungsi korporasi sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang juga dituntut harus memiliki profit melalui 3 core bisnisnya yaitu, retail, trading dan properti.

Bagaimana langkah manajemen untuk mewujudkan impian sang proklamator serta menjalankan fungsinya sebagai BUMN? Terlebih saat ini disrupsi terjadi di seluruh sektor bisnis karena adanya perubahan landscape bisnis yang menggeser pola konvensional menjadi digital. Bagaimana upaya Sarinah menghadapi tantangan tersebut? Bagaimana pula upaya optimalisasi aset Sarinah yang cenderung belum dimaksimalkan dari sisi bisnisnya?

Baca Juga : Jemput Bola! Pos Indonesia Hadirkan Inovasi ORANGER

Direktur Utama PT Sarinah (Persero), Gusti Ngurah Putu Sugiarta Yasa menyebut bahwa Sarinah merupakan icon atau legenda retail Indonesia yang diwariskan dari Presiden Soekarno yang sangat menginginkan ribuan produk anak bangsa bisa memiliki ruang untuk dipasarkan melalui keberadaan Sarinah itu sendiri. Beragam produk anak bangsa yang dimaksud yaitu berupa kelompok home decor, handycraft, furniture, fashion, food and beverage, dsb.

“Pesan inilah yang senantiasa akan terus diwujudkan oleh manajemen Sarinah saat ini. Kami ingin Sarinah betul-betul menjadi the windows of Indonesia yang mempresentasikan produk-produk karya anak bangsa,” papar pria yang akrab disapa Ngurah tersebut.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM