Connect with us
PERTAMINA

HIGHLIGHT BUMN

Maskapai Citilink Pindah ke Terminal 2 Bandara Soetta

MediaBUMN

Published

on

Maskapai Citilink

Maskapai Citilink, mulai kemarin (15/8) memindahkan kegiatan operasional mereka ke Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Hal itu dilakukan karena ada revitalisasi di Terminal 1C Bandara Cengkareng tersebut.

Pelaksana Harian Senior Vice President Corporate Secretary PT Angkasa Pura II (Persero), Achmad Rifai memberi keterangan tentang pemindahan tersebut. Menurutnya, proses keberangkatan serta kedatangan penumpang maskapai Citilink akan dilakukan seluruhnya di Terminal 2 Domestik. Karena itulah, persiapan perpindahan ini disiapkan sebaik mungkin supaya kegiatan operasional bisa tetap berjalan lancar.

Rifai menerangkan bahwa persiapan dan sosialisasi ini sudah dilakukan dari jauh hari termasuk oleh Citilink sendiri. Pihaknya meyakini perpindahan itu akan berjalan lancar serta tidak akan mengganggu operasional penerbangan. Rifai juga menghimbau para penumpang supaya tiba lebih awal di bandara supaya bisa memproses kegiatan penerbangan dengan lancar.

Catatan Jumlah Penumpang Maskapai Citilink

Dari laporan, didapat data bahwa jumlah penumpang maskapai Citilink di Bandara Internasional Soekarno Hatta untuk rute domestik sampai dengan 5,91 juta penumpang di tahun 2018. Sementara, untuk rute internasionalnya mencapai 91.478 penumpang. Sedangkan jumlah penerbangan Citilink di rute internasioanl serta domestik sepanjang tahun lalu mencapai 40.820 penerbangan.

Untuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta sendiri, saat ini telah dioperasikan oleh Skytrain. Skytrain ini menghubugkan terminal 1, 2, dan 3 hingga akan mempermudah perpindahan penumpang pesawat serta pengunjung bandara.

Perpindahan Citilink ke Terminal 2 Domestik tersebut akan dilakukan bertahap mulai besok, menyusul dilakukannya revitalisasi. Tahap pertama revitalisasi akan dilakukan di Terminal 1C, menyusul Terminal 1B dan 1A.

Revitalisasi ini dilakukan untuk menambah jumlah kapasitas Terminal 1 menjadi 18 juta penumpang per tahun. Saat ini, terminal tersebut hanya bisa menampung 9 juta penumpang saja. Revitalisasi dilakukan juga supaya bandara lebih nyaman dan lengkap dengan fasilitas digital.

Beberapa layanan digital yang ada di Terminal 1 itu antara lain smart baggage, Game Station, self check-in kioks, Digital Wayfinding dan sebagainya. Selain maskapai Citilink, Airfast dan Trigana juga memindahkan operasionalnya dari Terminal 1C ke Terminal 1B. []

HIGHLIGHT BUMN

Erick Thohir Ubah Konsep Super Holding Menjadi Subholding

EKO PRASETYO

Published

on

super holding

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menegaskan bahwa dirinya akan menghentikan rencana pembuatan super holding BUMN yang pernah diinisiasi oleh Menteri BUMN sebelumnya (Rini Soemarno).

Menurutnya pembentukan super holding tidak lantas akan membuat BUMN menjadi lebih efektif. Justru dengan mengubah kepada konsep klasterisasi pengelompokan BUMN atau subholding maka akan mempermudah pengawasan serta mendorong masing-masing klaster menjadi lebih baik.

“Super holding akan ditiadakan dan akan menjadi konsep subholding BUMN,” ujar Erick dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2020, Jakarta, (26/2).

Karena jumlah perusahaan pelat merah yang begitu banyak, maka dengan adanya klasterisasi akan semakin mempermudah pengawasan oleh Kementerian BUMN.

Lebih lanjut Erick menyebut dirinya memiliki target membentuk 20 klaster pelat merah. Dimana klaster-klaster tersebut akan sepenuhnya dalam pengawasan 2 Wakil Menteri BUMN.

“Tidak mungkin wamen BUMN masing-masing mengawasi kegiatan usaha BUMN sejumlah 142 perusahaan. Dengan adanya klasterisasi maka masing-masing wamen akan mengawasi 7-8 subholding BUMN,” jelas Erick.

Nantinya, lanjut Erick, akan ada klaster dengan kategori dead weight dimana akan diisi oleh perusahaan pelat merah yang kondisi keuangannya sekarat.

“Dengan adanya klaster tersebut maka akan mempermudah monitoring perseroan yang terbelit persoalan finansial,” tambahnya.

Sebelumnya pembentukan super holding pernah diinisiasi Presiden Joko Widodo ketika melakukan kampanye Pilpres 2019 silam. Pada saat itu Presiden Jokowi mengatakan pembentukan super holding BUMN diperlukan untuk memudahkan perusahaan pelat merah berkembang. []

Continue Reading

HIGHLIGHT BUMN

BUMN Sekarat Bakal dilepas ke Swasta?

Alfian Setya Saputra

Published

on

BUMN sekarat

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Ramai menjadi perbincangan soal BUMN sekarat yang terus menggerogoti uang negara menjadi salah satu tugas berat bagi Kementerian BUMN.

Adapun Kementerian yang digawangi Erick Thohir tersebut telah memiliki solusi menangani persoalan BUMN sekarat tersebut. Salah satu opsinya adalah melepas perusahaan pelat merah berkategori dead-weight alias sekarat itu ke pihak swasta.

Dimana opsi tersebut menjadi opsi kedua setelah sebelumnya Kementerian BUMN menyebut BUMN sekarat akan dilakukan likuidasi (tutup) atau digabung (merger). Menurut Wakil Menteri BUMN Budi Gunadi Sadikin menuturkan, semua opsi yang ada untuk persoalan BUMN sekarat tersebut masih dalam kajian.

“Berbagai opsi yang ada masih terus dikaji kemnudian masih terus dikonsolidasikan jadi satu, bisa didivestasikan kalau sudah mungkin lebih cocok dijalankan oleh pihak lain di luar BUMN, atau bisa diholdingkan jadi anak perusahaan yang lain. Pengkajian tersebut yang masih terus dilakukan,” ujar mantan bos PT Inalum tersebut (25/2).

Menurutnya hal terpenting yaitu adanya langkah konkret yang akan dilakukan kepada perusahaan pelat merah berstatus sekarat tersebut.

“Struktur bisnisnya yang terpenting harus jelas dilakukan,” tambahnya.

Lebih lanjut Budi mengatakan bahwa untuk dapat mengeksekusi BUMN sekarat tersebut, Kementerian BUMN tengah menunggu adanya revisi Peraturan Pemerintah (PP) yang berisi pengalihan kewenangan divestasi, merger, dan lainnya kepada Kementerian BUMN.

“Pak Erick tengah memprosesnya agar nantinya kewenangan dalam melakukan divestasi serta merger bisa dilakukan oleh pak Erick sehingga prosesnya bisa lebih cepat,” tutup Budi. []

Continue Reading

HIGHLIGHT BUMN

130 Bos BUMN Belum Setor Rencana Bisnis ke Erick Thohir?

MediaBUMN

Published

on

rencana bisnis

MEDIABUMN.COM, Jakarta – sebanyak 130 pimpinan di perusahaan pelat merah dinilai masih banyak yang belum menyetorkan rencana bisnis 5 tahun ke depan. Artinya dari sejumlah 140 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang ada baru 10 yang sudah melapor soal rencana kerja perusahaaan.

Kepada media, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan baru ada beberapa perusahaan yang melaporkan rencana bisnis yang berasal dari sektor perbankan, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

“Masa minta rencana bisnis (bisnis plan) saja tidak bisa? Yang rajin itu dari BUMN perbankan, PLN bahkan Pertamina juga sudah setor,” ujar Erick.

Adapun rencana bisnis perusahaan merupakan dokumen berkala yang menjadi pedoman terkait rencana manajemen untuk menjalankan bisnis pada periode tertentu. Rencana bisnis disediakan oleh kepala perusahaan sebagai penjabaran strategi dalam mencapai tujuan.Selain itu, rencana bisnis juga dibuat dengan tujuan untuk menggaet investasi dari pihak luar.

Dalam kesempatan tersebut, bos Mahaka Media ini juga menyebut akan meleburkan perusahaan pelat merah yang kinerjanya terus merugi dalam satu subholding. Untuk memudahkan kerja sang Menteri, rencananya Kementerian BUMN akan membentuk sebanyak 15 subholding, dimana masing-masing Wakil Menteri BUMN akan bertanggung jawab memegang sekitar 7 subholding.

“Nantinya kami ingin setiap wakil menteri memegang setidaknya ada 7 subholding atau lebih. Tapi belum final, masih dalam pemetaan,” tambah Erick.

Adapun sebelumnya, Menteri Erick telah menyampaikan rencana merger BUMN lainnya yang terus merugi antara lain PT PANN Multi Finance (Persero). []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM