Connect with us
PERTAMINA

HIGHLIGHT BUMN

LRT Sumsel Bukti Prestasi Anak Bangsa

Published

on

Setelah dikerjakan selama kurang lebih 2,5 tahun, kereta api dalam kota Light Rail Transit Sumatera Selatan “LRT Sumsel” yang membentang dari sejauh 24 kilo meter di Kota Palembang dapat terselesaikan. Ini menjadi bukti prestasi anak bangsa bahwa sejatinya Indonesia mampu memenuhi sendiri kebutuhan infrastruktur modernnya dengan mengandalkan konten lokal hingga 95 persen.

Lebih membanggakan lagi, dana pembangunan sebesar Rp10,9 triliun ini ternyata jauh lebih murah jika dibandingkan dengan biaya pembangunan LRT di Malaysia dan Manila. Mengapa bisa lebih murah. Ternyata adanya penggunaan sumber daya manusia (SDM) lokal dan produk-produk dalam negeri yang menjadi keunggulannya.

PT Waskita Karya (BUMN) yang bertanggung jawab di bidang konstruksi melalui Direktur Utamanya I Gusti Ngurah Putra mengatakan untuk pekerjaan konstruksi diketahui menggunakan jasa SDM lokal hingga 100 persen. Konten impor hanya terjadi pada penyediaan bahan baku strand (kawat untaian) beton, karena ketidakadaan pabrik pembuatnya di dalam negeri. Namun, ini dinilai masih wajar karena total konten lokal bisa mencapai 95 persen.

Bukan hanya konstruksi, di sisi gerbong kereta api, LRT Sumsel yang didukung BUMN PT INKA (Persero) juga bisa menghemat sejumlah dana. Direktur PT Inka Budi Noviantoro mengatakan hal yang paling mencolok yakni soal desain, karena rancangan gerbong kereta LRT menggunakan SDM dalam negeri. Ini tidak seperti biasanya. “Ini kan yang desain makannya `pecel`, bayarnya rupiah. Beda jika kita pakai dari Jepang atau dari Eropa mesti bayar Euro,” kata Budi di seusai mendampingi Presiden Jokowi menaiki LRT Sumsel, Jumat (14/7).

Menurut dia, bilangan murah lainnya juga terlihat dari harga satu train set (enam gerbong) yang dipatok PT INKA (Persero) yang hanya Rp48,5 miliar. “Silahkan bandingkan sendiri dengan negara-negara lain,” kata Budi. Bukan itu saja, LRT Sumsel ini menjadi pertama di dunia dalam penggunaan rel yang tidak standar lantaran untuk menyesuaikan dengan adanya sejumlah tikungan tajam.

LRT Sumsel yang diproyeksikan untuk infrastruktur penunjang Asian Games XVIII pada Agustus 2018 ini, diharuskan selesai pada Juli 2018 sejak mulai dibangun pada Oktober 2014. Karena dikejar waktu, pemerintah tidak mau direpotkan oleh persoalan pembebasan lahan, sehingga diputuskan jalur kereta api dibangun di median jalan. Karena adanya sejumlah tikungan tajam itu maka demi keselamatan maka kecepatan kereta harus dipatok 50-60 kilometer per jam. Jika menggunakan rel yang standar, maka hal itu tidak dapat dilakukan maka dirancangkanlah rel khusus dengan ukuran tidak standar?

Maknanya, anak bangsa sudah bisa berinovasi sendiri dalam membangun infraktur modern yakni membangun konstruksi kereta api dalam kota. Terlepas dari kelebihan itu, jika berbicara daya saing sejatinya LRT buatan putera bangsa ini juga masih perlu ditingkatkan kemampuannya karena PT Inka masih mengimpor untuk mesinnya. Mesin didatangkan dari Jerman karena dalam negeri BUMN ini optimistis bakal mampu memproduksi mesin sendiri karena riset-riset di perguruan tinggi sudah menemukan titik terang.

Sembari menunggu, PT INKA (Persero) fokus pada pembuatan trainset yang sejauh ini sudah diekspor ke dua negara yakni ke Bangladesh berupa 500 gerbong kereta api penumpang, kemudian ke Filipina berupa tiga lokomotif dan enam KRT. Saat ini, Inka juga menerima permintaan dari Thailand, namun masih proses perundingan. Merespon kemampuan ini, Presiden Joko Widodo optimistis bahwa di masa mendatang, Indonesia bakal menjadi negara pembuat LRT kelas dunia. Bukan tidak mungkin, dalam satu hingga dua tahun ke depan mendapatkan pesanan dari negara lain. “Saat ini LRT Sumsel, nanti Jakarta, kemudian dalam perencanaan ada di Medan, Surabaya dan Bandung. Ke depan, bukan tidak mungkin kita ekspor,” kata Jokowi. []

Continue Reading
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

HIGHLIGHT BUMN

Kawasan Industri BUMN Banyak yang Tertinggal, Ini pesan Erick Thohir

Published

on

Kawasan Industri BUMN

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Kawasan Industri BUMN yang dikelola bersama pemerintah daerah saat ini masih banyak yang tertinggal.

Banyaknya kawasan industri yang tertinggal harus segera dibenahi agar industri dalam negeri mampu bersaing dengan luar.

Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan untuk menyelesaikan masalah tersebut, pemerintah telah mengkonsolidasikan berbagai sejumlah Kawasan Industri menjadi anak usaha PT Danareksa (Persero) Tbk.

Hal ini sudah mendapat persetujuan dari Presiden Joko Widodo dengan menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 113 Tahun 2021 tentang penyaluran PMN kepada Danareksa.

“Kita perlu melakukan pembenahan agar daya tarik agar kawasan industri itu bisa berkembang. Maka kami akan terus mengkonsolidasikan kawasan perindustrian milik BUMN,” ujar Erick Thohir dalam sambutannya di pembukaan Kawasan Industri Medan (KIM) Investment Expo 2021, Kamis (25/11/2021).

Erick menjelaskan, banyak negara di dunia telah melakukan pembenahan infrastruktur berbasis energi baru terbarukan (EBT) di kawasan industrinya.

Maka Indonesia juga sudah memulai proses konsolidasi Kawasan Industri milik perusahaan pelat merah dalam satu payung holding agar mendorong kinerja perusahaan yang dokus pada penggunaan EBT.

Gunakan EBT di Seluruh Kawasan Industri BUMN

Jika industri Indonesia ingin bersaing secara global, maka selain infrastruktur, jalan tol, bandara, pelabuhan dan lainnya harus mulai menggunakan EBT yang merupakan sumber energi ramah lingkungan.

“Pengembangan infrastruktur di kawasan industri milik BUMN harus kita mulai dengan orientasi keberlanjutan. Salah satunya dengan mulai menerapkan penggunaan EBT atau green energy,” bebernya.

Maka ia meminta seluruh kawasan industri yang akan dikonsolidasikan untuk berkolaborasi dengan PLN dalam menggunakan EBT.

Selain itu, pengelolaan limbah (waste management) dan pengelolaan air (water treatment) juga harus dipastikan berjalan dengan baik.

Sehingga akan tercipta ekosistem yang sehat yang membuat kawasan industri dapat bersaing.

Untuk diketahui, Danareksa telah ditetapkan sebagai induk holding BUMN yang akan membawahi sejumlah perusahaan pelat merah.

Mulai dari BUMN pengelola kawasan industri, sumber daya air, jasa keuangan, jasa konstruksi, konsultasi konstruksi, manufaktur, logistik, transportasi, hingga bidang media dan teknologi.

Terkait pengelolaan kawasan industri, sudah ada beberapa yang akan dikelola oleh Danareksa yaitu Kawasan Industri Medan, Kawasan Industri Makassar, Kawasan Industri Wijayakusuma, Kawasan Berikat Nusantara/KBN, Surabaya Industrial Estate Rungkut/SIER, dan Jakarta Industrial Estate Pulogadung/JIEP. []

Continue Reading

HIGHLIGHT BUMN

Laba BUMN Ditarget Rp40 Triliun, Erick Thohir: Masih Kekecilan!

Published

on

Laba BUMN

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Laba BUMN sepanjang tahun 2021 ini ditargetkan bisa tembus di angka Rp40 triliun.

Sejauh ini, capaian laba BUMN di kuartal III 2021 memang menunjukkan peningkatan yang signifikan, sehingga target tersebut diperkirakan bisa tercapai.

Sebab masih tersisa dua bulan lagi (November-Desember) yang bisa dioptimalkan seluruh perusahaan pelat merah untuk menggenjot pendapatan.

Namun bagi Menteri BUMN Erick Thohir, target laba BUMN tahun ini senilai Rp40 triliun menurutnya masih terlalu kecil.

Hal ini dinilai dari total pendapatan seluruh perusahaan milik negara yang bisa mencapai Rp1.900 triliun, tapi perbandingan dengan laba bersihnya sangat jomplang.

“Dari Rp1.900 triliun dapat laba bersih Rp40 triliun, mohon maat itu laba bersih sangat kecil!,” kata Erick.

Menurutnya, dengan kondisi seperti ini berarti ada pemborosan yang luar biasa di jajaran BUMN terutama di sektor belanja modal atau capex.

Erick mengaku saat ini memang laba BUMN sedang mengalami perbaikan jika dibandingkan tahun 2020 yang kondisi keuangan BUMN ‘babak belur’ akibat pandemi.

Bahkan di paruh tahun 2021 (Januari-Juni) laba bersih yang diraih BUMN sudah jauh melebihi capaian di tahun 2020 yaitu sebesar Rp13 triliun.

Menurutnya peningkatan ini terjadi karena didukung peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di jajaran BUMN.

Namun Erick tetap mengingatkan agar BUMN jangan terjebak dengan hasil laba bersih yang masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan total pendapatan.

“Jika dibandingkan dengan revenue atau pendapatan kita memang sudah lebih bagus jika dibandingkan dengan tahun 2020, yang konsolidasinya itu hanya Rp13 triliun sepanjang tahun,” katanya, dalam acara 3rd Indonesia Human Capital Summit 2021, Selasa (16/11/2021).

Dorong SDM Handal Realisasikan Target Laba BUMN

Selain penyiapan SDM yang handal, Erick juga mengingatkan pentingnya melakukan pembenahan bisnis berbasis digital dan melakukan efisiensi di berbagai lini usaha.

Ia juga mengingatkan pentinya membangun program yang adaptif dan harus berdampak pada penciptaan lapangan kerja.

“Kuncinya adalah peningkatan SDM yang mampu beradaptasi dengan era digitalisasi saat ini agar agar kinerja BUMN lebih efisien dan mendukung kemajuan bisnis perusahaan ke depan,” jelasnya.

Terkait penciptaan lapangan kerja, Erick mencontohkan saat ini ada 3 BUMN yang sudah digabung menjadi Holding Ultramikro yaitu BRI, PNM dan Pegadaian.

Hasil dari penggabungan ini mendorong terciptanya lapangan kerja dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang dijalankan oleh ibu-ibu.

Holding ini menyalurkan permodalan yang mudah dan murah, sehingga dapat menjangkau masyarakat ekonomi rendah untuk memulai usaha kecil-kecilan, yang akan berdampak untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. []

Continue Reading

HIGHLIGHT BUMN

Investasi Startup Menggiurkan, Erick Thohir Ingatkan BUMN!

Published

on

Investasi startup

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Investasi startup saat ini terus berkembang dan menjadi satu peluang bisnis yang menggiurkan.

Maka tak heran jika peluang investasi startup ini menjadi lirikan bagi perusahaan besar, termasuk Badan Usaha Milik Negara.

Namun Menteri BUMN Erick Thohir ternyata tidak begitu setuju jika perusahaan pelat merah berbondong-bondong masuk di bidang startup, apalagi jika perusahaan belum punya keahlian di bidang itu.

Menurut Erick, para pimpinan BUMN harus tetap memperhatikan lini bisnisnya untuk menjaga kinerja perusahaan.

“Saya tidak mau kalau sekarang tiba-tiba semua BUMN mau masuk di investasi startup,” kata Erick, dalam diskusi Kompas100 CEO Forum, Kamis (11/11/2021).

Untuk mengelola potensi startup, Kementerian BUMN akaan mengonsolidasikan seluruh investasi dari BUMN ke startup agar lebih terarah.

Saat ini, Kementerian BUMN sedang membentuk tim untuk mengonsolidasikan investasi dari BUMN sehingga pengelolaannya bisa lancar dan tepat sasaran.

Menurut Erick, saat ini ada beberapa perusahaan pelat merah yang mulai mencoba bisnis startup, di antaranya Telkom Indonesia, Telkomsel, Mandiri, dan BRI yang masuk ke startup keuangan.

“Kami mau mengkonsolidasikan semua investasinya karena proses itu penting. Sekarang kami sudah membentuk tim untuk menjadi kurasinya agar investasinya juga itu benar,” ujar Erick.

Menurut Erick Thohir, ada tiga standar yang harus dipenuhi startup agar bisa mendapat pendanaan atau investasi dari perusahaan milik negara.

Syarat itu yakni bisnis startupnya masuk ke pasar modal Indonesia, pendirinya orang Indonesia dan perusahaannya juga beroperasi di Indonesia.

“Jadi perusahaannya harus go public di Indonesia, karena kita ini kan merah putih yang harus mendukung kreator lokal,” tegasnya.

Meski ada tiga standar utama, Erick menyatakan bukan berarti BUMN harus anti dengan perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia.

Tetapi ia ingin agar investasi startup dari perusahaan BUMN kedepannya bisa memberikan dampak yang positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Intinya BUMN bukan anti sama asing, tapi kita tidak mau kalau market kita dipakai perusahaan asing untuk pertumbuhan negara mereka. Kita harus memastikan kalau market kita harus dioptimalkan untuk pertumbuhan negara kita,” pungkasnya. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!