Connect with us
PERTAMINA

Jasa Keuangan

Laba PPA Dari Pengelolaan BUMN “Sakit” Capai Rp53 Miliar

Published

on

Laba PPA

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Laba PPA atau PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) pada Semester I tahun 2021 tercatat mencapai Rp53,43 miliar.

Laba PPA tersebut mengalami peningkatan signifikan hingga 27,08 persen secara tahunan (year on year).

Dimana pada semeter I tahun lalu laba PPA tercatat di angka Rp42,044 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan PPA di Bursa Efek Indonesia (BEI), selain besaran laba PPA yang meningkat, pendapatan perusahaan juga tumbuh 5,63 persen secara tahunan.

Semester I tahun ini pendapatan PPA mencapai Rp1,72 triliun, sementara di semester I tahun lalu Rp1,62 triliun.

Sementara pendapatan bunga pada perusahaan pelat merah ini juga tak mau ketinggalan, yaitu naik 3 kali lipat, dari Rp33,16 miliar menjadi Rp9,72 miliar.

Kemudian bagian laba PPA dari ventura bersama juga naik menjadi Rp50,33 miliar dari semester I tahun lalu Rp21,54 miliar.

Namun dari data keuangan tersebut, disampaikan pula bahwa penghasilan lain-lain justru mengalami penurunan drastis, dari sebelumnya Rp18,05 miliar menjadi Rp5,86 miliar.

Sedangkan beban bunga dan keuangan PPA juga menurun tipis dari Rp38,85 miliar di semester I 2020 menjadi Rp38,62 miliar di semester I tahun ini.

Selanjutnya dilihat dari nilai aset PPA mengalami peningkatan signifikan, Dimana pada akhir Desember 2020 lalu nilainya Rp12,95 triliun, sekarang menjadi Rp17,86 triliun.

Rincian aset PPA itu yakni terbagi atas aset lancar sebesar Rp7,19 triliun dan aset tak lancar sebesar Rp10,68 triliun.

Untuk liabilitas, terjadi penurunan sepanjang menjadi Rp8,12 triliun, padahal sebelumnya Rp9,29 triliun, dengan liabilitas jangka pendek Rp5,19 triliun dan jangka panjang Rp2,93 triliun.

Kemudian ekuitas PPA mencapai Rp9,74 triliun, naik dari posisi akhir Desember lalu sebesar Rp3,65 triliun.

Untuk diketahui BUMN ini tengah disiapkan untuk menjadi lembaga National Management Asset Company (NAMCO).

Pembentukan lembaga ini bertujuan untuk penyehatan dan restrukturisasi aset-aset dari perusahaan yang bermasalah, sehingga lembaga keuangan tetap sehat.

Restrukturisasi Dorong Laba PPA

Saat ini PPA bertugas mengelola sejumlah BUMN ‘sakit’ yang sedang mengalami masalah keuangan.

Dalam menjalankan bisnisnya, PPA fokus pada tiga pilar, yaitu pengelolaan NPL perbankan, restrukturisasi dan revitalisasi perusahaan BUMN Titip Kelola, dan solusi inovatif dan efektif SSF.

Kementerian BUMN telah memberikan kepercayaan penuh kepada PPA untuk melakukan revitalisasi dan restrukturisasi bagi BUMN sakit.

Hal itu terbukti dengan dikeluarkannya Surat Kuasa Khusus untuk menangani 23 perusahaan BUMN Titip Kelola, dan telah diterbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2021 tentang pengalihan saham minoritas negara.

Dari laporan keuangan PPA, diketahui dana pinjaman yang diberikan untuk restrukturisari BUMN sakit yaitu kepada PT Merpati Nusantara Airlines Rp665,68 miliar, PT Dirgantara Indonesia Rp605 miliar dan PT Penataran Angkatan Laut Rp270,75 miliar.

Kemudian PT Kertas Kraft Aceh Rp141,61 miliar, PT Iglas Rp89,08 miliar, dan PT Industri Kapal Indonesia Rp28,51 miliar. []

Jasa Keuangan

Laba PT SMF ‘Terjun Bebas’ 37 Persen Sejak Januari hingga Juni 2022

Published

on

Laba PT SMF

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Laba PT SMF (Sarana Multigriya Finansial) sepanjang tahun 2022 ini menunjukkan hasil negatif.

Hal itu terlihat dari besaran laba PT SMF pada Semester I 2022, yakni Januari hingga Juni mengalami penurunan hingga 37,38 persen secara tahunan (yoy).

Pada Semester I 2022 laba PT SMF secara bersih mencapai Rp310 miliar, namun di periode yang sama tahun ini hanya Rp194,22 miliar.

Selain laba PT SMF yang ‘terjun bebas’ total pendapatan perusahaan pelat merah ini juga bernasib sama.

Dimana pada semester I tahun lalu pendapatan perseroan mencapai Rp1,2 triliun, di tahun ini hanya tercatat Rp897 miliar.

Mengutip laporan keuangan perusahaan, disebutkan besaran laba PT SMF yang turun drastis hingga 37 persen adalah dampak langsung dari turunnya total pendapatan.

Meski kinerja keuangan SMF sedang menurun, namun pihak perseroan masih mampu menahan beban yang harus dibayar, yaitu sekitar 19,48 persen menjadi Rp 663,77 miliar.

Jika dirinci, beban bunga turun dari sebelumnya Rp739,66 miliar menjadi Rp589 miliar, beban umum dan administrasi dari Rp45,51 miliar juga turun menjadi Rp 40,77 miliar.

Sementara untuk total aset BUMN yang bernaung di bawah Kementerian Keuangan ini juga turun menjadi Rp30,35 triliun dari sebelumnya Rp33,73 triliun di akhir tahun 2021.

Untuk total ekuitas perusahaan hanya mengalami kenaikan tipis dari Rp14,02 triliun di akhir lalu menjadi Rp14,09 triliun semester I 2022.

Launching Program Baru

Di tengah hasil kinerja yang merosot, PT Sarana Multigriya Finansial tidak mengendorkan berbagai upaya untuk bangkit.

Bahkan SMF baru saja meresmikan pembiayaan HOME Syariah dan memberikan fasilitas pembiayaan bagi nasabah PNM Mekaar Syariah.

Program ini dikerjasamakan dengan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan dilaunching di Kantor SMF pada hari ini, 26 Juli 2022.

Kolaborasi dau BUMN ini bertujuan untuk keperluan nasabah PNM Mekaar bagi yang ingin melakukan renovasi rumah yang juga digunakan sebagai tempat usaha.

Peluncuran program HOME Syariah ini juga untuk sebagai bentuk dukungan PT SMF selaku Perusahaan Pembiayaan Sekunder Perumahan.

Dalam prosesnya, program ini dijalankan dengan prinsip syariah yang menggunakan akad mudharabah muqayyadah dan merujuk kepada ketentuan syariat Islam.

Direktur Utama PT SMF, Ananta Wiyogo menyebutkan peluncuran program ini adalah komitmen SMF untuk memberikan akses pembiayaan rumah kepada seluruh kalangan masyarakat, termasuk warga non fix income.

Ananta mengatakan, hal itu sesuai dengan Peraturan OJK Nomor12 Tahun 2022 yaitu untuk memaksimalkan peran SMF dalam menjalankan mandat Pemerintah. []

Continue Reading

Jasa Keuangan

Laba Jamkrindo Tahun 2021 Tembus Rp1 Triliun, Naik Lebih Dua Kali Lipat!

Published

on

Laba Jamkrindo

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Laba Jamkrindo sepanjang tahun 2021 mengalami peningkatan drastis meskipun dalam situasi pandemi covid-19.

Total laba Jamkrindo yang diraih dalam setahun mencapai Rp1,07 triliun, meningkat 2,3 kali lipat dari laba tahun 2020 yaitu sebesar Rp456,13 miliar.

Kenaikan laba Jamkrindo ini ini merupakan dampak dari besarnya volume penjaminan perseroan sampai dengan periode Desember 2021 yang mencapai Rp247,61 triliun.

Selain itu, perusahaan pelat merah ini juga mencatatkan cadangan klaim sebesar Rp5,66 triliun atau naik 41 persen dari tahun 2020 dengan jumlah cash flow yang positif.

Direktur Utama PT Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), Putrama Wahju Setyawan mengatakan, laba bersih yang didapat di tahun 2021 kenaikannya mencapai 134 persen secara tahunana (yoy).

Ia menjelaskan, pertumbuhan pencadangan klaim adalah strategi perusahaan untuk memitigasi risiko dan menjaga kinerja perseroan di tahun berikutnya.

Menurutnya, pembentukan cadangan klaim yang kuat juga bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga service excellent pembayaran klaim kepada mitra bisnis secara tetap waktu dan tepat jumlah.

“Dengan begitu, tingkat kepercayaan dan reputasi perusahaan selalu terjaga dengan baik, sebab pengelolaan risiko bisnisnya terukur, terkendali dan sehat,” kata Putrama Wahju Setyawan dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin, (25/7/2022).

Putrama memaparkan, nilai aset perusahaan di tahun 2020 sebesar Rp19,12 triliun dan dalam setahun meningkat 33 persen menjadi Rp25,35 triliun.

Sementara untuk ekuitas perusahaan dari sebelumnya Rp8,86 triliun naik 45 persen menjadi Rp12,83 triliun, dengan Return on Equity (ROE) sebesar 9,83 persen.

Menurutnya, program bantuan dari pemerintah juga menjadi motor penggerak penjaminan Jamkrindo sepanjang tahun 2021.

Di antaranya untuk penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Rp144,87 triliun dan penjaminan Kredit Modal Kerja (KMK) sebesar Rp17,63 triliun yang masuk dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

“Pertumbuhan bisnis yang positif di tahun 2021 ini menunjukkan bahwa transformasi yang kami jalankan mampu menciptakan resiliensi di tengah masa pandemi itu. Laporan keuangan ini juga mencerminkan upaya Jamkrindo dalam pengembangan digitalisasi produk,” ungkapnya.

Langkah transformasi yang dijalankan di BUMN ini, di antaranya pada bidang manajemen SDM, organisasi, tata kelola, manajemen risiko, sistem teknologi informasi, bisnis, operasional dan serta keuangan.

Dengan pembenahan di seluruh sektor, pihak perseroan telah menunjukkan kontribusinya terhadap efisiensi biaya, penyediaan layanan prima, dan besaran laba Jamkrindo yang melonjak.

Putrama menegaskan, Jamkrindo merupakan perusahaan penjaminan terbesar di Indonesia yang memiliki berbagai produk, baik produk penjaminan program maupun penjaminan non-program.

Maka Jamkrindo berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi pada bisnis keuangan, terutama untuk layanan penjaminan yang akuntabel, transparan dengan tata kelola perusahaan yang baik. []

Continue Reading

Jasa Keuangan

Obligasi PT SMI Rp3,36 Triliun Siap Dilunasi

Published

on

Obligasi PT SMI

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Obligasi PT SMI yang jatuh tempo di tahun 2022 dipastikan akan dilunasi oleh pihak perusahaan.

Total obligasi PT SMI yang jatuh tempo pada Semester II tahun ini mencapai Rp3,36 triliun yang terdiri dari tiga obligasi.

Rinciannya, Obligasi Berkelanjutan II SMI tahap II 2019 seri B jatuh tempo pada 28 Agustus (Rp1,3 triliun) dan Obligasi Berkelanjutan I SMI tahap II 2017 Seri C jatuh tempo pada 15 November (Rp1,34 triliun).

Kemudian Obligasi Berkelanjutan II SMI tahap III pada tahun 2019 Seri B senilai Rp727,5 miliar yang jatuh tempo pada 30 Oktober mendatang.

Meski nilai obligasi ini terbilang besar, PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) memastikan ketiga obligasi yang jatuh tempo di tahun bisa bisa dibayarkan.

BUMN yang bergerak di bidang pembiayaan proyek pemerintah ini sudah menyiapkan pelunasan sebagai bagian dari manajemen aset dan liabilitas.

Direktur Keuangan Sarana Multi Infrastruktur Darwin Trisna menyakini dengan kondisi keuangan yang sangat baik, perseroan memiliki fleksibilitas untuk pelunasan obligasi.

“Tentu kami akan melunasi kewajiban obligasi PT SMI sebelum jatuh tempo, sumbernya berasal dari dana kas perusahaan dan fasilitas perbankan,” kata Darwin, Minggu (24/7/2022).

Selain pelunasan obligasi PT SMI, pihaknya juga telah mengaktifkan fasilitas pendanaan dari pasar obligasi melalui Penawaran Umum Berkelanjutan III senilai Rp20 triliun untuk obligasi.

Kemudian Penawaran Umum Berkelanjutan II dengan fasilitas sebesar Rp5 triliun untuk sukuk.[]

Continue Reading

BNI

Label

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!