Komisaris Krakatau Steel Pilih Mundur

oleh
Komisaris Krakatau Steel

Komisaris Krakatau Steel Roy Maningkas mundur dari jabatannya, surat permohonan pengunduran diri. Telah diajukan kepada Kementerian Badan Usaha Milik Negara atau BUMN, selaku pemegang saham sejak tanggal 11 Juli 2019 lalu.

Keputusan tersebut dilatarbelakangi oleh pengoperasian pada proyek Blast Furnace yang proses pembangunannya dimulai sejak tahun 2011 lalu. Roy mengatakan, di proyek itu terdapat pembengkakan investasi akibat dari keterlambatan dalam penyelesaian proyek. Dari target yang sebelumnya hanya Rp7 triliun menjadi sebanyak Rp10 triliun.

Komisaris Krakatau Steel Mundur Sejak 11 Juli

Roy menuturkan, sebenarnya sejak tanggal 11 Juli 2019 sudah mengajukan permohonan pengunduran diri dari jabatannya sebagai Komisaris Krakatau Steel. Akan tetapi bukan untuk di konsumsi oleh publik.

Dalam pengoperasian fasilitas itu ada beberapa hal yang dirasa janggal, pertama ialah ketika uji coba. Target awal seharusnya enam bulan tetapi dipangkas menjadi dua bulan saja. Hal itu guna menghindari temuan dari Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK.

Perihal yang kedua, dalam ketersediaan bahan baku proyek Krakatau Steel yang belum pasti. Masalah selanjutnya ialah biaya pokok produksi slab dari fasilitas itu lebih mahal sebesar AS$82 per ton dibandingkan dengan harga pasar. Jika diproduksi sebanyak 1,1 juta ton per tahunnya, maka potensi kerugian yang dialami mencapai sekitar Rp1,2 triliun per tahun.

Fajar Harry Sampurno selaku Deputi Bidang Usaha Pertambangan Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN. Meminta Roy untuk tetap menjadi Komisaris Krakatau Steel hingga masa jabatannya habis pada bulan April 2020 mendatang.

Roy memastikan adanya solusi dalam masalah proyek tersebut, tetapi pengoperasian fasilitas harus tetap berjalan. Hal itu yang membuat keputusan mundur dari jabatan komisaris semakin bulat.
Pada akhirnya permintaan Roy untuk mengundurkan diri dari Komisaris Krakatau Steel dikabulkan. Dengan melalui pesan singkat pada aplikasi WhatsApp, yang secara resmi berlaku pada tanggal 11 Agustus 2019 mendatang.

Meskipun Roy menyayangkan hal itu, sebab seharusnya keputusan dilaksanakan melalui Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS. Dibalik itu Roy merasa tenang dapat melepaskan jabatan Komisaris Krakatau Steel. Dalam proses restrukturisasi utang dari Krakatau Steel yang bakal menjadi yang terbesar pada sepanjang sejarah BUMN. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *