Connect with us
new year eve

Agrobisnis & Pangan

Kios Pupuk Komersial Ditambah, Pupuk Indonesia Target Buka 1.000 Unit

Published

on

Pupuk Komersial

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Kios pupuk komersial akan terus ditambah jumlahnya di berbagai daerah di Indonesia.

Penambahan kios pupuk komersial ini merupakan program dari PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk meningkatkan ketersediaan pupuk bagi para petani.

PT Pupuk Indonesia menargetkan akan membuka kios pupuk komersial sebanyak 1.000 unit pada tahun 2022 hingga 2023.

Dengan bertambahnya jumlah kios pupuk baru di berbagai wilayah, akan memperluas jangkauan pasar dan mendekatkan produk pupuk kepada petani.

Direktur Utama Pupuk Indonesia (Persero) Bakir Pasaman mengatakan, program ini sekaligus sebagai sarana edukasi dan informasi tentang manfaat pupuk.

Ia menjelaskan, kios pupuk komersial atau nonsubsidi akan menyediakan berbagai kebutuhan petani melalui jalur distribusi yang resmi.

Dahulu Pupuk Indonesia ini hanya menumpang di kios-kios untuk menjual pupuk komersial dan saat ini pihak perseroan ingin menguasai jalur distribusi dari pabrik sampai kios.

“Ini tujuannya untuk memenuhi kebutuhan pupuk bagi para petani yang sudah bisa mengakses kios yang barang atau produknya dari kami. Jadi kita tidak ingin lagi menumpang di kios orang lain,” kata Bakir Pasaman melalui keterangan pers tertulis, Senin (7/11/2022).

Menurut Bakir, pengembangan 1.000 kios pupuk nonsubsidi juga menjadi solusi untuk mengatasi kesulitan menjangkau atau membeli pupuk komersial di berbagai daerah.

Pasalnya kawasan pertanian di wilayah terpencil yang jauh dari jalur distribusi pupuk, sehingga petani kesulitan mendapat pupuk hasil produksi PT Pupuk Indonesia.

Untuk itu, perseroan merasa perlu untuk memperluas jaringan kios yang hanya menjual pupuk komersial karena anggaran untuk pupuk subsidi juga terbatas.

Untuk diketahui, pemerintah telah menetapkan kuota pupuk subsidi hanya 8 juta ton yang diatur dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 5 Tahun 2022.

“Hadirnya kios-kios pupuk yang baru akan mendukung program pemerintah dalam memajukan sektor pertanian di berbagai wilayah,” ungkapnya.

Bakir berharap progam 1.000 kios pupuk komersial akan menjawab keluhan petani yang kekurangan pupuk subsidi.

Ia pun memastikan kios-kios baru ini akan dihadirkan di lokasi-lokasi strategis di seluruh Indonesia terutama sentra pertanian.

“Anggaran pupuk subsidi meang masih terbatas dan kekurangannya bisa ditutupi dengan yang nonsubsidi, maka kios pupuk baru akan kami hadirkan di berbagai daerah agar kebutuhan petani bisa terpenuhi,” tutupnya. []

Continue Reading

Agrobisnis & Pangan

Produksi Minyakita Ditarget 3 Juta Liter per Bulan, PT INL: “Kami Siap!”

Published

on

Produksi Minyakita

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Produksi Minyakita dihadirkan oleh Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) sebagai solusi produk minyak goreng dengan harga terjangkau.

Sampai Agustus tahun 2022, produksi Minyakita ini telah didistribusikan sebanyak 208 ribu ton minyak goreng.

Ke depan, Holding PTPN III melalui anak usahanya PT Industri Nabati Lestari (INL) siap memulai produksi Minyakita guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), M Abdul Ghani mengatakan, produksi minyak goreng INL dibagi dalam tiga brand.

Pembagian brand minyak goreng kemasan ini diatur sesuai segmentasinya, yaitu Salvaco, Nusakita, dan kemasan sederhana INL.

Abdul Ghani menyebut, PT INL akan memproduksi minyak goreng kemasan rakyat dengan merk Minyakita sesuai dengan program pemerintah.

Hal itu sesuai arahan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan minyak goreng dengan harga yang terjangkau.

“Rencananya proses produksi secara massal akan dimulai pada 1 Oktober mendatang, dengan kapasitas 3 juta liter per bulan. Untuk ukurannya yaitu 1 liter untuk tiap kemasan,” kata Abdul, dalam keterangannya, Minggu (25/09/2022).

Ia menyebut, hal ini bagian dari upaya Holding PTPN III untuk turut berkontribusi menekan kenaikan harga minyak goring.

Untuk harganya, tiap kemasan 1 liter akan dijual Rp14 ribu, dan awal distribusinya dimulai dari wilayah Sumatera bagian utara, Jabodetabek, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

“Harga minyak goreng mengalami kenaikan drastic, maka PT INL siap merambah untuk produksi Minyakita agar masyarakat bisa dapat minyak goreng dengan harga murah,” jelasnya.

Abdul menambahkan, sebelumnya Menteri BUMN Erick Thohir juga telah memberi arahan agar PTPN ikut berperan aktif dalam menstabilkan harga minyak goreng di pasaran.

Ia berharap dengan produk berbentuk kemasan, dapat mempermudah distribusi serta menjaga kehigienisan produk.

Untuk diketahui minyak goreng kemasan Minyakita ini dirilis oleh Kementerian Perdagangan pada 6 Juli 2022 lalu.

Kemendag menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyakita dibanderol Rp 14 ribu/liter, namun di beberapa daerah masih ada yang menjual di atas HET.

Terkait hal itu, Kemendag akan terus melakukan pemantauan agar minyak ini dijual tetap pada HET, dan siap menindak apabila ditemukan pedagang maupun platform e-commerce yang melanggar. []

Continue Reading

Agrobisnis & Pangan

Produksi Garam Nasional Belum Optimal, Siapa Salah?

Published

on

Produksi garam

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Produksi garam lokal yang dihasilkan petambak garam Indonesia sampai saat ini masih cukup rendah.

Minimnya hasil produksi garam ini tidak bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga pemerintah harus impor garam hingga 2,83 juta ton sepanjang tahun 2021.

Kondisi ini pun dipertanyakan oleh Komisi VI DPR RI saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPR RI dengan PT Garam Indonesia, Senin, (05/09/2022).

Anggota Komisi VI DPR RI, I Nyoman Parta mengatakan, Indonesia sebenarnya punya lahan potensial yang besar untuk meningkatkan produksi garam lokal.

Namun sampai sekarang produk garam rakyat belum optimal, termasuk dalam pemanfaatan teknologi yang belum merata, ongkos produksi yang mahal serta harga jual yang tak menentu.

I Nyoman Parta mengatakan, produksi garam nasional tak bisa mencukupi kebutuhan nasional, yaitu hanya sebesar 1,09 juta ton di tahun 2021.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), jumlah itu turun 20,44 persen dari tahun 2020 yang mencapai 1,37 ton.

Bahkan jumlah produksi itu hanya mencapai 61,9 persen dari target nasional, yaitu sebanyak 2,1 juta ton sehingga pemerintah terpaksa mengimpor garam hingga 2,8 juta ton.

Wakil Rakyat dari Fraksi PDIP ini juga menyoroti beberapa faktor lain yang sering dialami oleh petani kecil, yaitu standarisasi produk.

Pasalnya garam yang dihasilkan petani sering dianggap kurang bermutu, seperti kandungan NaCL yang rendah di bawah 92 persen dan tidak bisa memenuhi standar kebutuhan infustri sebesar 97 hingga 99 persen.

Menurutnya, standarisasi yang dibuat terlalu tinggi justru menyusahkan produk garam lokal tidak terserap dan akhirnya menjadi kesempatan besar masuknya produk impor.

PRODUKSI GARAM RENDAH

Sementara Direktur Utama PT Garam Arif Haendra menjelaskan penyebab rendahnya jumlah produksi lokal karena tidak tidak semua pantai di Indonesia bisa menjadi tempat produksi garam.

Pasalnya lokasi yang cocok untuk pembuatan garam di Indonesia hanya berada di pantai utara Pulau Jawa, Jawa Timur, dan Madura.

Arif menjelaskan, untuk proses produksi membutuhkan radiasi panas yang sangat besar sehingga tidak mungkin bisa dilakukan di pantai Sumatera atau Sulawesi.

“Beberapa wilayah pantai di Indonesia radiasi panasnya tidak maksimal, selain itu wilayah yang terjalu terjal juga tidak cocok karena yang dibutuhkan adalah lahan datar di sepanjang pantai,” jelasnya.

Ia mencontohkan kualitas garam dari Australia jauh lebih baik karena di sana ada sistem aliran air laut sepanjang 40 km dari pantai dan dikeringkan di gurun.

Kemudian hasil garam itu masih dilakukan pencucian dan dijemur selama 3 sampai 5 tahun sebelum diekspor,sementara di Indonesia, hasil panennya langsung dijual.

Meski begitu, PT Garam berkomitmen untuk terus meningkatkan daya saing dari produk impor agar bisa memenuhi kebutuhan industri

Arif Haendra mengatakan, pada saat harga rendah, pihaknya akan berupaya mengejar harga dari garam impor.

BUMN ini juga menargetkan mulai tahun 2025 mendatang, tidak akan lagi menjual garam bahan baku ke pasar nasional, karena akan difokuskan menjadi soda es atau soda kaustik. []

Continue Reading

Agrobisnis & Pangan

Penyaluran Pupuk Subsidi Dijamin Tepat Sasaran, Ini Jurus Baru PT Pupuk Indonesia

Published

on

Penyaluran Pupuk Subsidi

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Penyaluran pupuk subsidi dipastikan akan semakin tepat sasaran dengan hadirnya ‘jurus’ baru dari PT Pupuk Indonesia (Persero).

Komitmen PT Pupuk Indonesia dalam penyaluran pupuk subsidi dilakukan melalui program Go Live Single Responsibility.

Program Single Responsibility merupakan langkah strategis perusahaan dalam meningkatkan layanan penyaluran pupuk subsidi, peningkatan kinerja dan optimalisasi fungsi Public Service Obligation (PSO).

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Bakir Pasaman mengatakan, program ini akan meningkatkan harmonisasi pengelolaan PSO, yaitu penugasan penyaluran pupuk bersubsidi anggota holding Pupuk Indonesia grup.

“Dengan hadirnya program ini pelayanan hingga distribusi pupuk akan semakin optimal dan tepat sasaran, karena ini memang menjadi perhatian khusus bagi perusahaan,” kata Bakir dalam keterangan tertulis, Senin (5/9/2022).

Ia menjelaskan, program adalah respon cepat PT Pupuk Indonesia setelah Menteri Pertanian mengeluarkan aturan baru mengenai pupuk bersubsidi dalam Permentan Nomor 10 Tahun 2022.

Maka BUMN ini sudah memiliki beberapa tujuan yang harus dijalankan sesuai program tersebut, di antaranya mengoptimalkan mekanisme penyaluran pupuk subsidi agar lebih fleksibel dan dinamis.

Pasalnya dalam aturan Menteri Pertanian yang baru, perubahan rayonisasi bisa dilakukan kapan saja agar tidak mengganggu penyaluran dan penjualan di wilayah tertentu.

Dengan program ini, PT Pupuk Indonesia juga mengembangkan kompetensi tenaga pemasaran khususnya Account Executive (AE) dan Assistant Account Executive (AAE).

Dengan kompetensi itu, diharapkan para insan perusahaan bisa meningkatkan keterampilan dalam pemasaran dan melayani masyarakat pelanggan.

Menurut Bakir, tenaga pemasaran yang sebelumnya hanya mengelola produk dari satu anak perusahaan, nantinya bisa mengelola semua produk di suatu wilayah.

“Maka kompetensi yang dimiliki para tenaga pemasaran juga akan meningkat dan lebih komprehensif. Jadi budaya kinerjanya akan lebih efektif, dan siapapun tenaga pemasaran yang ada di suatu wilayah harus bisa menangani semua produk,” ujarnya.

Meski begitu, perusahaan pelat merah ini tetap menyiapkan langkah-langkah antisipatif agar penyaluran pupuk berjalan dengan lancar dan tidak terganggu.

Maka pihak perseroan akan tetap menjalankan transformasi dan digitalisasi untuk pengendalian dan monitoring penyaluran pupuk melalui Integrasi Aplikasi REKAN, DIMAS, MARKISA dan WCM.

Ia berharap launching program Single Responsibility ini dapat terlaksana dengan baik, sehingga memberikan dampak yang positif terhadap perusahaan, petani dan sektor pertanian dalam negeri. []

Continue Reading

BNI

Label

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM