Kinerja Kredit bank bjb Berhasil Tumbuh 12%

by

Bank bjb berhasil mencatatkan kinerja yang mengesankan sepanjang tahun buku (Full Year 2017) dengan mencetak laba bersih sebesar Rp1.6 Triliun atau tumbuh 1,5% apabila dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya. (year on year /y-o-y). Meskipun kondisi perkonomian yang bisa dikatakan belum sepenuhnya pulih, namun hal tersebut tidak menyurutkan upaya manajemen bank bjb dalam menciptakan kinerja yang tumbuh dan berkelanjutan.

Baca Juga : Bank bjb Bidik Pertumbuhan Kredit Infrastruktur di 2018

Laba bersih tersebut dikontribusikan dari berbagai sektor bisnis salah satunya yaitu kredit. Dimana kinerja kredit bank bjb berhasil tumbuh 12% atau mencapai Rp.70.7 Triliun jika dibandingkan kredit tahun sebelumnya (year on year / y-o-y).

Keberhasilan bank bjb tersebut tentunya tidak lepas dari berbagai strategi bisnis yang diterapkan Ahmad Irfan sebagai Direktur Utama bank bjb. Menurutnya perbankan senantiasa mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit karena sejak awal bank bjb benar-benar ingin menyalurkan kredit yang berkualitas.

“Kami sangat bersyukur atas pencapaian ini. Tren kinerja positif senantiasa kami raih berkat kerja keras seluruh manajemen bank bjb,” ujarnya lalu pada saat kegiatan analyst meeting FY2017 di Hotel Ritz Carlton Pasific Place, Jakarta (15/2).

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa pertumbuhan kredit tersebut dikontribusikan melalui berbagai segmen kredit, salah satunya yaitu kredit konsumer yang memiliki kontribusi terbesar dengan pertumbuhan sebesar 6,5% (y-o-y).

“Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan kredit konsumer tersebut yaitu terjadinya peningkatan kredit pensiunan yang mengalami kenaikan menjadi Rp10,1 Triliun. Kredit konsumer merupakan captive market bank bjb,” jelas Ahmad Irfan.

Baca Juga : Kinerja Aset Gemilang, Katrol Posisi bank bjb ke Posisi 13 Besar Nasional

Sepanjang tahun 2017, lanjutnya, kinerja saham (BJBR), senantiasa stabil sehingga BJBR masuk dalam perhitungan indeks LQ-45. BJBR memiliki nilai transaksi yang cukup tinggi pada Bursa Efek Indonesia (BEI) sehingga hal ini yang menjadi salah satu tolak ukur dalam perhitungan indeks LQ-45.

Bagaimana dengan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan / NPL)? Ahmad Irfan menuturkan bahwa kinerja positif sektor kredit tentunya diiukuti pula oleh penurunan NPL menjadi 1,51% atau turun sebesar 18 basis poin jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *