Connect with us
PERTAMINA

Farmasi

Kimia Farma Siap Ekspansi Lanjutkan Akuisisi

MediaBUMN

Published

on

Kimia Farma

Kimia Farma tengah bersiap untuk melaksanakan ekspansi di tahun 2019, perusahaan berencana bakal melanjutkan agenda akuisisinya. Perusahaan pelat merah tersebut sudah menyiapkan alokasi belanja modal sebesar Rp4,2 triliun. Sebanyak 70 persen sumber dana berasal dari pinjaman bank dan juga MTN, sedangkan sisanya berasal dari internal perusahaan.

I.G.N. Suharta Wijaya selaku Direktur Keuangan Kimia Farma (KAEF) menjelaskan, pengembangan bisnis baik dari organik ataupun anorganik. Perusahaan berencana akan memperkuat bisnis di seluruh bagian, terutama saat ini penguatan di bisnis hilir.

Saat ini Kimia Farma masih dalam proses membidik tiga rumah sakit untuk diakuisisi, dengan mengutamakan rumah sakit milik negara. Menurut beberapa catatan rumah sakit yang diincar merupakan segmen C dan D di Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

Alasan perusahaan itu, yaitu mengincar para pengguna fasilitas jaminan kesehatan yang disediakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. “Yang jelas kita ingin jadi pengendali saham di perusahaan tersebut. Minimal saham yang dimiliki menjadi 51 persen,” tambah Suharta.

Kimia Farma Turut Akuisisi PT Phapros

Selain itu, Kimia Farma juga akan meneguhkan proses akuisisi dengan PT Phapros Tbk (PEHA). Yang semula dimiliki oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI. Sebanyak 56,77 persen atau sekitar 476 juta lembar saham PEHA yang dimiliki RNI semuanya kini dimiliki oleh KAEF.

Suharta mengatakan bahwa, tiga bulan ke depan perusahaan akan melakukan post merger integration. Akan detailkan lagi apa yang jadi bagian Phapros dan apa yang jadi bagian KAEF.

Kimia Farma juga bakal mendirikan pusat pergudangan nasional sebesar 3,5 hektar di Cikarang. Yang nantinya akan menjadi pusat distribusi bagi seluruh Indonesia, serta menambah gudang-gudang lain yang akan menunjang distribusi.

Hal ini akan berujung dengan meningkatnya pendapatan, Kimia Farma optimistis dapat mencapai pendapatan di tahun 2019 hingga Rp11,5 triliun. Target ini naik sebesar 60,8 persen dibandingkan realisasi pendapatan tahun lalu yang sebesar Rp7,15 triliun. Bantuan pendapatan berasal dari rampungnya dua pabrik baru yang berlokasi di Jawa Barat, yaitu Banjaran (Bandung) dan Cikarang (Bekasi).

Pabrik di Banjaran merupakan pabrik obat cair dan tablet untuk pasar domestik. Sedangkan Produk dari Pabrik kosmetik di Cikarang sebesar 80 persennya diekspor ke Korea Selatan, dan sisanya untuk pasar domestik. Kontribusi ekspor masih sekitar 3 persen dari jumlah total penjualan. Ke depannya kontribusi bakal diperbesar seiring dengan penetrasi penjualan terutama di Arab Saudi. []

Farmasi

Produksi Vaksin Covid-19 Bio Farma Ditarget Mencapai 350 Juta

Alfian Setya Saputra

Published

on

Produksi vaksin

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Produksi vaksin covid-19 oleh PT Bio Farma (Persero) ditargetkan mampu memproduksi hingga 350 juta dosis vaksin pada 2021 mendatang.

Tingkat produksi itu diklaim bisa tercapai karena perusahaan pelat merah itu terus berupaya meningkatkan jumlah produksi vaksin covid-19.

Menurut Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga, untuk mengamankan kapasitas produksi vaksin covid-19 sebanyak 250 juta, PT Bio Farma telah mengamankan bahan bakunya.

“Stok bahan baku tersebut terus kami upayakan agar meningkat. Kami sudah mendapatkan tambahan bahan baku untuk 80 juta dosis. Jadi totalnya 250 juta,” kata Arya dalam acara Ngopi BUMN yang ditayangkan secara virtual, Kamis (24/9/2020)

Dalam acara ini, Arya juga menyampaikan bahwa Menteri BUMN Erick Thohir sudah pergi ke Korea Selatan sebagai bagian dari upaya pemenuhan bahan baku vaksin tersebut.

“Kemarin Pak Erick berangkat ke Korea Selatan juga merupakan bagian langkah-langkah pemenuhan vaksin ini,” imbuhnya.

Selain tengah berupaya menggenjot proses pengembangan dan produksi vaksin dalam negeri, Negara Indonesia melalui sejumlah Kementerian juga bakal menerima vaksin buatan negara lain.

Di antaranya vaksin dari Sinovac China dan G42 dari Uni Emirat Arab.

Menurut Arya, untuk jangka waktu dekat, Indonesia akan menggunakan vaksin dari negara lain terlebih dahulu sambil menunggu pengembangan vaksin Merah Putih rampung.

“Tetapi kita tetap fokus memproduksi sendiri vaksin ini karena kebutuhannya sangat besar dan berulang. Karena penggunaan vaksin ini belum tentu hanya sekali untuk seumur hidup. Maka kami akan fokus untuk mengadakan vaksin buatan dalam negeri,” tandasnya.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir mengatakan, Indonesia telah mendapatkan komitmen untuk memperoleh 20 juta dosis vaksin dari Sinovac di akhir tahun 2020.

Kemudian sebanyak 250 juta dosis vaksin covid-19 lainnya akan menyusul di tahun depan.

Erick yang juga menjabat Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional mengatakan, untuk kerja sama dengan G42, produsen vaksin menjanjikan akan mengirim 10 juta dosis vaksin di akhir tahun 2020 dan 50 juta dosis tambahan di tahun 2021.

“Jadi kurang lebih Insya Allah di akhir tahun ini ada 30 juta dosis vaksin dan di tahun depan ada 300 juta,” kata Erick. []

Continue Reading

Farmasi

Industri Bahan Baku Obat Bakal Digarap Pertamina

EKO PRASETYO

Published

on

Industri bahan baku obat

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Industri bahan baku obat akan dikembangkan oleh PT Pertamina (Persero) sebagai bisnis baru perusahaan.

Rencananya PT Pertamina akan menggarap industri bahan baku obat jenis parasetamol dari bahan baku Propylene dan Benzene dengan mengggandeng Kimia Farma.

General Manager PT Pertamina (Persero) Refinery Unit IV Cilacap, Joko Pranoto mengatakan, pengembangan industri bahan baku obat ini sudah dilakukan kajian oleh Pertamina.

Pertamina pun telah menetapkan bahwa produk petrokimia akan menjadi lini bisnis yang dapat diandalkan di masa depan.

“Pertamina memang mencoba mengidentifikasi peluang untuk masuk pada bahan baku farmasi dan logistik. Bersama Kimia Farma kami pun sudah melakukan penjajakan, bahkan telah dituangkan dalam nota kesepahaman,” kata dia.

Dijelaskannya, MoU itu ditandatangani Dirut PT Kilang Pertamina Internasional dan Dirut Kimia Farma secara virtual pada akhir Juli 2020 lalu.

Nantinya Kilang Pertamina di Cilacap akan memproduksi Benzene sebanyak 120 ribu ton per tahun dan Propylene 160 ribu ton per tahun.

Dengan angka tersebut, pihak Pertamina optimis mampu menjadi salah satu penopang kebutuhan industri bahan baku obat.

Sementara Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian RI, Muhammad Khayam mengapresiasi langkah Pertamina tersebut.

Menurutnya, Kementerian Perindustrian akan sangat mendukung upaya pengoptimalan nilai tambah produk petrokimia menjadi bahan baku obat.

“Kerja sama kedua BUMN untuk pengembangan industri bahan baku obat kami harapkan bisa meningkatkan daya saing industri kimia nasional,” ujar Khayam, saat mengunjungi Kilang Cilacap, Rabu, (16/9/2020).

Inisiatif dari Pertamina ini, menurutnya sejalan dengan arahan Presiden RI untuk meningkatkan kemandirian industri farmasi nasional.

Langkah ini juga akan membantu menurunkan defisit neraca perdagangan Indonesia di sektor farmasi, karena kebutuhan farmasi nasional masih didominasi barang impor hingga 95 persen.

Kerja sama industri bahan baku obat antara Kimia Farma dan Pertamina juga diharapkan dapat memberi manfaat yang signifikan kepada kedua pihak.

“Apalagi di saat pandemi covid-19 ini berbagai upaya ditempuh demi keberlangsungan roda perekonomian. Karena hampir semua sektor industri terkena imbasnya. Tapi industri farmasi masih mencatatkan kinerja positif karena adanya peningkatan permintaan obat dan suplemen untuk menghadapi wabah tersebut,” pungkasnya. []

Continue Reading

Farmasi

Bangun Pabrik Paracetamol, Erick Thohir: “BUMN Tekan Impor”

CHRIESTIAN

Published

on

Bangun pabrik

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Bangun pabrik Paracetamol di dalam negeri menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menekan impor.

Karena selama ini paracetamol menjadi salah satu obat yang harus di impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan bahwa pemerintah terus melakukan upaya strategis dalam menekan angka impor khususnya obat-obatan maupun alat kesehatan.

Erick menyebut jika perusahaan pelat merah yang berada pada klaster BUMN kesehatan dinilai sangta siap untuk bangun pabrik dalam hal ini paracetamol di dalam negeri.

Selain itu, lanjut Erick, upaya bangun pabrik tersebut menjadi salah satu bagian program konsolidasi BUMN klaster kesehatan.

“Bagian dari konsolidasi BUMN klasterisasi kesehatan dimana Bio Farma akan digabungkan dan refocusing Indo Farma dan Kimia Farma. Dimana Kimia Farma akan fokus dalam menekan impor obat,” Papar Erick (16/9).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa BUMN akan bangun pabrik paracetamol yang selama ini terus didatangkan dari luar negeri.

“Indofarma nantinya akan difokuskan kepada obat-obatan herbal,” ujar Erick.

Nantinya BUMN klaster kesehatan akan disinergikan dengan grup Rumah Sakit (RS) BUMN yang jumlahnya sudah mencapai 70 Rumah Sakit.

Bukan hanya BUMN kalster kesehatan, Seperti diketahui bahwa Kementerian BUMN tengah fokus melakukan konsolidasi klasterisasi secara keseluruhan yang saat ini berjumlah 12 klaster bisnis.

Antara lain yaitu klaster pariwisata dan pendukung yang terdiri dari hotel, ritek, Airport, kawasan wisata, serta industri penerbangan. Selain itu juga klaster produsen semen.

“Kita akan terus berupaya menciptakan ekosistem bisnis yang baik dengan swasta,” ujarnya.

Dengan adanya klasterisasi tersebut diharapkan akan mengundang ketertarikan investor baik dari luar maupun dalam negeri.

“Pemerintah juga tengah giat membangun kawasan industri seperti di Batang yang memiliki lahan seluas 4.000 hektare,” terang Erick. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM