Connect with us
PERTAMINA

Energi & Tambang

Kebutuhan Batu Bara PLTU Tahun Ini Diperkirakan Turun

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Kebutuhan batubara

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Kebutuhan batubara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) hingga akhir tahun 2020 diperkirakan akan menurun secara signifikan.

Hal itu terjadi akibat dampak pandemi covid-19 yang mengakibatkan pertumbuhan konsumsi listrik ikut melambat.

Kepala Divisi Batubara PT PLN (Persero) Harlen mengatakan, PT PLN memproyeksikan konsumsi batu bara PLTU hanya akan mencapai 87,7 persen dari perkiraan kebutuhan yang telah direncanakan.

Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2020, PLN telah merevisi perkiraan kebutuhan batu bara PLTU, dari semula 109 juta ton menjadi 95,6 juta ton.

Angka itu mencakup kebutuhan untuk PLTU milik PLN maupun PLTU milik produsen listrik swasta (IPP).

“Kebutuhan batu bara tahun ini diperkirakan turun 2,14 persen dibandingkan realisasi konsumsi tahun 2019 yang mencapai 97,7 juta ton. Kalau lihat RUPTL kebutuhan batu bara tahun ini hanya di angka 109 juta ton. Akibat pandemi covid-19 memang terjadi perubahan signifikan dalam konsumsi batubara,” ujarnya, Selasa (15/9/2020).

Ia mengatakan, konsumsi listrik selama Januari hingga Juli 2020 tercatat hanya mengalami peningkatan 0,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selama periode itu, konsumsi listrik pada segmen pelanggan rumah tangga memang cenderung meningkat sekitar 10,08 persen dengan diberlakukannya bekerja dari rumah.

Namun konsumsi listrik pada segmen industri mengalami penurunan hingga 8,22 persen dan pelanggan bisnis 7,43 persen.

Meski demikian, pihak PLN tetap yakin kebutuhan batu bara masih berpeluang meningkat di tahun 2020 bila kondisi pandemi mulai membaik pada bulan-bulan mendatang.

“Perkiraan kebutuhan batu bara awalnya hanya 87 juta ton saja. Tapi melihat perkembangan konsumsi listrik di bulan Juni dan Juli ternyata kami menghitung kebutuhannya sebanyak 95,6 juta ton. Dan realisasi sampai Agustus ternyata terus membaik. Maka kami perkirakan untuk kebutuhan di angka 100 juta ton bisa tercapai,” jelas dia dalam acara The 5th Save Indonesian Coal 2020 Perhapi.

Tercatat hingga Agustus 2020, realisasi pasokan batu bara untuk PLTU sudah mencapai 68,7 juta ton.

Sementara dalam skenario pascapandemi, kebutuhan batu bara PLTU diperkirakan terus berkurang hingga di tahun 2024 mendatang.

Tren kenaikan konsumsi batu bara baru diperkirakan baru akan terjadi mulai tahun 2025 sampai dengan tahun 2029. []

Energi & Tambang

Gasifikasi Batu Bara Dikebut, PTBA Target Komersial 2025

Alfian Setya Saputra

Published

on

Gasifikasi batu bara

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Gasifikasi batu bara terus dikebut oleh PT Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk memenuhi kebutuhan gas di dalam negeri.

Gasifikasi sendiri merupakan Proses mengubah bahan padat seperti batu bara menjadi senyawa gas dengan pencampuran sejumlah zat.

PTBA memastikan akan terus menjalankan proyek hilirisasi batu bara di Tanjung Enim, Sumatera Selatan meski saat ini perekonomian Indonesia mengalami penurunan akibat terdampak pandemi covid-19.

Terlebih proyek pengembangan Dimethyl Ether (DME) ini diyakini akan mengurangi ketergantungan impor gas minyak bumi atau Liquified Petroleum Gas.

Menurut Direktur Utama PTBA, Arviyan Arifin, Indonesia bisa memenuhi kebutuhan LPG sendiri melalui proses hilirisasi batu bara karena cadangan batu bara RI sangat melimpah, mencapai 39,9 miliar ton pada Januari 2020.

“Hilirisasi batu bara tetap kami jalankan. Saat ini sekitar 70 persen masyarakat masih menggunakan LPG sebagai bahan bakar, baik untuk rumah tangga, industri, restoran, dan perhotelan,” kata Arviyan, dalam paparan publik secara daring, Rabu (30/9/2020).

Tercatat sejak tahun 2014 hingga 2018, konsumsi gas LPG di dalam negeri naik dari 6,1 juta ton menjadi 7,5 juta ton.

Data ini menunjukkan adanya kenaikan kebutuhan LPG mencapai 5,3 persen per tahun.

Sementara produksi gas LPG dalam negeri justru mengalami penurunan dari 2,4 juta ton menjadi 2 juta ton atau mengalami penurunan 4,4 persen per tahun.

Naiknya kebutuhan gas LPG tidak diimbangi dengan kenaikan produksi membuat Indonesia terpaksa mengimpor LPG untuk memenuhi kebutuhannya.

Perbandingannya, produksi domestik untuk memenuhi kebutuhan LPG hanya 25 persen, sisanya 75 persen dipasok dari luar negeri.
Untuk itu, PTBA terus berupaya mengejar proses gasifikasi batu bara dengan menggandeng Pertamina dan Airproducts.

“Perjanjian kerja sama sudah diteken pada tahun 2019 kemudian di tahun ini dilanjutkan dengan tahap rancangan engineering lebih detail untuk persiapan pembangunan pabrik Coal to Chemicals. Juga untuk mempersiapkan hal terkait pra-konstruksi pembangunan pabrik.,” ungkap Arviyan.

Pabrik untuk gasifikasi batu bara ini ditargetkan mulai berproduksi komersial di tahun 2025 mendatang dengan konsumsi batu bara sekitar 6 juta ton per tahun selama minimal 20 tahun.

Sementara besaran produksinya ditargetkan mampu menghasilkan 1,4 juta ton DME per tahun.

Arviyan berharap untuk signing bisa rampung di triwulan III tahun ini dan dalam waktu 36 hingga 48 bulan, pabrik ini sudah beroperasi.

“Dengan cara ini kita akan kurangi impor LPG yang membebani devisa kita. Rencananya, pabrik gasifikasi batu bara akan dibuka di mulut tambang Batu Bara Peranap, di Provinsi Riau,” jelasnya. []

Continue Reading

Energi & Tambang

Pengembangan Baterai EV Dibangun, Inalum Gandeng Pertamina dan PLN

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Pengembangan baterai EV

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Pengembangan baterai EV atau baterai khsusus kendaraan listrik akan diseriusi oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Holding BUMN Tambang akan menggandeng PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero) untuk mewujudkan pengembangan baterai EV (electric vehicle) tersebut.

Direktur Utama Inalum, Orias Petrus Moedak mengatakan Menteri BUMN Erick Thohir kini telah membentuk tim untuk pengembangan industri baterai kendaraan listrik.

Komisaris Utama PT Inalum Agus Tjahajana Wirakusumah ditunjuk sebagai ketua tim pengembangan.

Menurut Orias, untuk pengembangan baterai EV, sedang dilakukan kajian oleh tim tersebut.

“Sudah ada tim yang sudah dibentuk oleh Pak Erick, saat ini sedang melakukan kajian, kerja samanya dengan Pertamina dan PLN,” kata Orias di Gedung DPR RI, Selasa (29/09/2020).

Diketahui Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia dan Menteri BUMN Erick Thohir belum lama ini berangakat ke Korea Selatan untuk menindaklanjuti berbagai rencana investasi.

Salah satunya adalah rencana pengembangan baterai EV untuk kendaraan listrik.

Menurut Bahlil Lahadalia, Pemerintah perlu menunjukkan keseriusan dalam menjemput investasi dari Korea, karena data hasil realisasi investasi dari negara ini terus meningkat.

Seperti di triwulan II tahun 2020, total investasi dari Korsel mencapai US$ 552,6 juta atau melonjak sebesar 340 persen dari total investasi di triwulan I sebesar US$ 130,4 juta.

“Peningkatan investasi ini menjadi sinyal positif bahwa Indonesia masih dilirik oleh investor meski di tengah pandemi. Jadi kita harus serius memfasilitasi, terlebih dari arahan Presiden, investasi yang kita dorong untuk mendukung transformasi ekonomi dan ada nilai tambah,” ungkapnya.

Kementerian BUMN Dorong Pengembangan Baterai EV

Sementara Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan, pihaknya menargetkan PT Pertamina (Persero) ke depan tidak hanya menjadi pemasok energi dari BBM.

Tapi juga mulai menyiapkan diri sebagai pemasok energi untuk kendaraan listrik dalam bentuk baterai.

“Pertamina telah diminta untuk menghitung cadangan bahan bakar fosil sampai kapan bisa bertahan. Hal ini perlu dilakukan untuk mempersiapkan diri menjadi penyedia bahan bakar untuk kendaraan listrik,” ungkapnya.

Untuk itu, Pertamina diminta mulai melakukan pengembangan batre EV sebagai pengganti energi fosil yang suatu saat akan habis.

Dia mengatakan, Menteri BUMN Erick Thohir juga telah datang ke Korea Selatan untuk bernegosiasi dengan produsen baterai EV agar mau memproduksi baterai ini di Indonesia.

Selain Korea Selatan, produsen lainnya dari China saat ini juga digaet oleh pemerintah untuk berinvestasi di dalam negeri. []

Continue Reading

Energi & Tambang

Jaringan listrik PLN di Pulau Maratua Kaltim Akhirnya Tersambung

EKO PRASETYO

Published

on

Jaringan listrik

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Jaringan listrik di darah 3T atau Terdepan, Tertinggal dan Terluar terus dikerjakan oleh PT PLN (Persero).

Salah satunya yang baru diresmikan yaitu di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yang mencakup Desa Teluk Harapan, Desa Bohe Silian, dan Desa Payung-Payung.

Arus listrik ini disuplai dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Maratua dengan potensi minimal 600 pelanggan yang dapat menikmati listrik PLN.

General Manager PLN UIW Kaltimra, Sigit Witjaksono, untuk jaringan listrik di Pulau Maratua, perseroan sudah merampungkan pembangunan jaringan tegangan menengah (JTM) sejauh 18 Kilometer sirkuit (kms).

Kemudian jaringan tegangan rendah (JTR) sejauh 15 kms dan memasang 8 unit trafo berkapasitas 800 kVA.

“Dengan jaringan listrik ini, maka 77,84 persen desa di Kaltim sudah berlistrik PLN per September 2020. Jumlah desa di Kalimantan Timur sebanyak 1.038 desa, sebanyak 808 desa sudah dialiri listrik,” ujarnya.

Menurut Sigit, untuk membangun jaringan listrik di desa-desa terpencil memang memiliki tantangan yang besar, terutama kondisi medan yang sulit.

Seperti yang terjaddi di Pulau Maratua, untuk mengangkut material besar hanya bisa lewat jalur laut, dan sering dihantam menghadapi cuaca buruk dan ombak besar.

“Tapi hal itu tidak menjadi hambatan bagi kami untuk terus menerangi negeri hingga ke berbagai daerah terpencil,” ungkapnya.

Selain di Kutai Timur, PLN juga berhasil menyambungkan jaringan listrik untuk Desa Kaubun dan Desa Muara Pantun di Kabupaten Kutai Timur.

Untuk melistriki Desa Kaubun, petugas PLN telah membangun JTR sepanjang 14 kms, JTM 13.7 kms, dan memasang 7 unit travo berkapasitas total 500 kVA.
Di Desa Kaubun yang jarak tempuhnya selama 4 jam dari ibukota Kutai Timur, PLN telah mengaliri listrik ke hingga 901 pelanggan.

Sementara di Desa Muara Pantun, PLN memasang JTM sepanjang 6.8 kms, JTR 8.8 kms dan 5 unit trafo berkapasitas total 450 kVA.

Jaringan listrik ini akan menyambungkan listrik untuk 269 pelanggan di desa tersebut untuk meningkatkan kualitas hidup warga.

“Ini merupakan kebanggaan bagi kami karena bisa menyelesaikan pembangunan jaringan listrik hingga ke daerah terpencil. Kami akan terus upayakan pemerataan listrik, sesuai misi PLN,” tandasnya.

Apresiasi Jaringan listrik PLN

Apa yang dikerjakan oleh PT PLN (Persero) ini mendapar apresiasi dari Pemda setempat.

Wakil Bupati Berau Agus Tantomo mengatakan, jaringan listrik PLN untuk Pulau Maratua sudah lama diharapkan oleh warga setempat.

Pasalnya, listrik merupakan kebutuhan yang amat penting untuk menggerakkan roda perekonomian di Pulau Maratua yang sumber penghasilannya didominasi nelayan dan pelaku wisata.

“Kami sangat gembira dengan adanya jaringan listrik PLN ke Pulau Maratua. Kami mengapresiasi upaya PLN yang tentu akan mendukung dunia pariwisata. Pulau Maratua dikenal dengan keindahan alam bawah lautnya, dan menjadi destinasi wisata bahari favorit di Kabupaten Berau,” ujarnya. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!