Connect with us
PERTAMINA

Konstruksi & Properti

Jalan Tol Inderalaya-Muaraenim Belum Digarap, Ini Penjelasan Hutama Karya

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Jalan Tol Inderalaya

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Jalan Tol Inderalaya-Muaraenim di Sumatera Selatan hingga kini pembangunannya belum digarap oleh PT Hutama Karya (Persero).

Padahal sebelumnya telah dilakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan mega proyek ini pada 9 April 2019 lalu.

Terkait belum digarapnya proyek tol tersebut, Manajer Proyek PT Hutama Karya (Persero) Hasan Turcahyo, menjelaskan pembangunannya masih terganjal penyediaan lahan oleh pemerintah kabupaten setempat.

“Sesuai kesepakatan, penyediaan lahan untuk Jalan Tol Inderalaya-Muaraenim adalah kewajiban pemerintah daerah. Sementara Hutama Karya yang mengerjakannya, pada prinsipnya kami sudah siap dari Agustus tahun lalu,” kata Hasan, Minggu (28/6/2020).

Hasan menjelaskan, pihak perseroan sudah menjalin komunikasi dengan pemerintah provinsi Sumsel terkait penyediaan lahan ini, karena seharusnya proyek jalan tol ini ditargetkan dimulai pada tahun 2020.

Namun jalan tol ini belum bisa dikerjakan meski Hutama Karya sudah memiliki dana dan kontraktornya.

Ia juga memastikan pembangunan Jalan Tol Inderalaya-Muaraenim tidak dihentikan sementara lantaran pandemi Covid-19 yang masih berlangsung.

Karena pemerintah sudah memutuskan bahwa proyek infrastruktur yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) tetap berlanjut dengan syarat menerapkan protokol kesehatan pencegahan covid-19.

“Kami berharap, instansi terkait segera mengupayakan penyediaan lahan tol agar kami bisa langsung bekerja. Alat-alat berat sebenarnya sudah siap di lokasi,” ujarnya.

Bahkan demi akselerasi dari pembangunan ruas Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ini, direksi Hutama Karya sebelumnya telah berkomunikasi dengan Direksi PTPN 7.
Karena beberapa kilometer Jalan Tol Inderalaya-Muaraenim yang direncanakan ini berada di lokasi usaha PTPN 7, tepatnya di wilayah Ogan Ilir.

“Sepanjang 10 km proyek jalan tol akan mengambil lahan perkebunan milik PTPN 7, namun sejauh ini baru 1,8 km yang terdata, itu Kalau diizinkan. Karena ini sama-sama BUMN, kami berharap bisa kerja dulu di lahan 1,8 km itu walau pembayaran ganti ruginya akan dilakukan belakangan,” jelas dia.

Investasi Jalan Tol Inderalaya-Muaraenim

Adapun pembangunan Jalan Tol Inderalaya-Muaraenim ditaksir bakal menelan anggaran sekitar Rp24,10 triliun.

Berasal dari ekuitas perusahaan senilai Rp16,87 triliun atau 70 persen dari total investasi dan sisanya sekitar Rp7,2 triliun dari pinjaman.

Proyek ini semula ditargetkan mulai dikerjakan pada akhir 2019 dengan harapan dapat selesai pada 2022.

Dengan rincian ruas Tol Indralaya-Prabumulih sepanjang 65 Km dan sisanya sepanjang 54 Km merupakan ruas Prabumulih-Muaraenim yang bakal dikerjakan oleh Waskita Karya.

“Jalan Tol Inderalaya-Muaraenim nantinya akan tersambung hingga Muaraenim-Bengkulu sehingga jalan ini menyambungkan Provinsi Sumatera Selatan dan Provinsi Bengkulu,” tandasnya. []

Konstruksi & Properti

Kontrak Baru Adhi Karya Hingga Mei Tercatat Rp3,2 Triliun

Alfian Setya Saputra

Published

on

Kontrak baru

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Kontrak baru Adhi karya pada akhir Mei 2020 tercatat mencapai Rp3,2 triliun yang didominasi oleh kontrak konstruksi dan energi.

Perolehan kontrak baru inni mayoritas dikontribusi dari proyek irigasi di Jawa Barat dan proyek landfill di Jawa Tengah.

Sekretaris PT Adhi Karya (Persero) Tbk Parwanto Noegroho mengatakan, perolehan kontrak baru pada Mei yaitu pembangunan proyek irigasi di Cipelang, Jawa Barat senilai Rp308,1 miliar.

“Sementara pembangunan Landfill di Jombang, Jawa Tengah nilainya Rp168,7 miliar,” kata Parwanto, Minggu (28/6/2020).

Ia menjelaskan, sepanjang Januari—Mei 2020, kontribusi perolehan kontrak baru Adhi Karya didominasi oleh kontrak di lini bisnis konstruksi dan energi yang nilainya mencapai 91 persen dari total kontrak baru.

Sementara sisanya sekitar 8 persen disumbang dari lini bisnis properti dan 1 persen dari lini bisnis lainnya.

Kalau dihitung berdasarkan tipe pekerjaannya, perolehan kontrak baru di perusahaan pelat merah ini terdiri dari proyek gedung sejumlah 30 persen, jalan dan jembatan 7 persen, serta proyek infrastruktur lainnya sebesar 63 persen.

“Kontributor terbesar pemberi kontrak kerja sepanjang periode tersebut adalah pemerintah, yakni sekitar 71 persen dari total kontrak baru. Kontribusi dari Badan Usaha Milik negara (BUMN) dan swasta masing-masing mencapai 19 persen dan 10 persen,” jelasnya.

Target Kontrak Baru

Parwanto menambahkan, jika dibandingkan perolehan kontrak hingga April senilai Rp2,6 triliun, terjadi penambahan kontrak sekitar Rp600 miliar.

Tapi jika dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama tahun 2019, akumulasi perolehan kontrak perseroan lebih rendah sekitar Rp1,4 triliun.

Noegroho menyatakan pada semester II tahun 2020, Adhi Karya memperkirakan perolehan kontrak akan lebih baik dibandingkan semester I.

Selain mengharapkan perbaikan kinerja dari skema new normal, secara tren perolehan kontrak menurutnya, memang biasanya akan meningkat pada periode tersebut (semester II).

“Industri konstruksi biasanya memang trennya seperti itu. Karena proses tender proyek-proyek besar di kuartal III, bahkan puncaknya justru di kuartal IV. Jadi bisa diproduksi menjadi pendapatan usaha di awal tahun selanjutnya,” jelasnya.

Adapun total kontrak baru tahun ini ditargetkan bisa mencapai Rp35 triliun, dengan pendapatan dan laba ditargetkan masing-masing Rp22,7 triliun dan Rp704 miliar.

Namun target ini dibuat pihak perseroan sebelum adanya pandemi virus corona atau Covid-19.

Maka perseroan mulai mengkaji ulang target-target perseroan pada tahun ini, menyesuaikan dengan perkiraan dampak pandemi kepada sektor konstruksi.

“Sebelum merevisi target kinerja, perseroan telah lebih dulu melakukan pemangkasan alokasi belanja modal. Perseroan memperkirakan belanja modal akan mencapai Rp1,4 triliun, turun dari proyeksi semula sebesar Rp5,5 triliun,” tandasnya. []

Continue Reading

Konstruksi & Properti

Proyek PLTMG Bangkanai Tahap 2 Dikebut, Dirut PTPP : September Rampung!

Alfian Setya Saputra

Published

on

Proyek PLTMG

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Proyek PLTMG (Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas) Bangkanai Tahap 2 saat ini tengah dikebut oleh PT PP (Persero) Tbk atau PTPP.

BUMN konstruksi ini mengerjakan Proyek tersebut dengan kapasitas sebesar 140 Mega Watt (MW).

Proyek PLTMG milik PT PLN (Persero) ini, berlokasi di Desa Karendan, Barito Utara, Kalimantan Tengah.

Desa Karendan adalah salah satu desa yang berada di Kabupaten Barito Utara yang masuk wilayah pedalaman.

Perjalanan menuju Karendan menempuh waktu cukup panjang, sekitar 10 jam hingga 12 jam dari Banjarmasin-Muara Teweh, dan 3 jam hingga 4 jam perjalanan dari Muara Teweh-Karendan.

Direktur Utama PTPP, Novel Arsyad, mengatakan dalam proses pengerjaan proyek PLTMG Bangkanai, material bangunan dan konstruksi juga harus didatangkan melalui perjalanan laut.

Yaitu dari Jakarta, Surabaya dan Banjarmasin kemudian menempuh perjalanan darat ke Desa Karendan.

“Dalam pembangunan proyek PLTMG ini, kami berperan sebagai kontraktor yang akan bertanggung jawab dalam penyelesaian proyek. Melalui kerja sama dengan partner konsorsium Wartsila Finland Oy dan Wartsila Indonesia,” ungkapnya, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (26/6/2020).

PTPP optimis dapat menyelesaikan proyek PLTMG Bangkanai Tahap 2 pada bulan September tahun 2020.

Tentunya dengan mengandalkan keberhasilan sebagai kontraktor EPC yang telah memiliki berbagai pengalaman dalam mengerjakan proyek-proyek minyak dan gas.

“Kami yakin dapat menyelesaikan proyek kelistrikan ini dengan hasil yang maksimal dan tepat waktu. Kita targetkan bulan September ini sudah rampung,” kata Novel Arsyad.

Nilai Kontrak Proyek PLTMG

Adapun nilai kontrak proyek PLTMG Bangkanai mencapai Rp 780 miliar, yang menggunakan mesin Duel Fuel Technology, yaitu bahan bakar mesin pembangkit listriknya dapat menggunakan gas ataupun BBM solar.

Mesin pembangkit jenis ini juga punya keunggulan lainnya yaitu efisien dalam penggunaan bahan bakar, dan ramah lingkungan.

Kedepannya, PLTMG Bangkanai Tahap 2 disiapkan untuk memperkuat dan mengalirkan listrik di daerah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.

“Suplai listrik yang baik dan berkualitas tentunya akan meningkatkan aktivitas warga dan mendukung geliat ekonomi masyarakat di wilayah Kalsel dan Kalteng,” tandasnya. []

Continue Reading

Konstruksi & Properti

Perbaikan Kinerja WIKA Ditargetkan pada 2021

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Perbaikan kinerja

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Perbaikan kinerja PT Wijaya Karya (Persero) Tbk ditargetkan dapat berjalan mulai tahun 2021 mendatang. Pihak perseroan optimistis masih memiliki prospek kinerja positif dalam jangka panjang untuk kembali meningkatkan peringkat perseroan yang sempat menurun.

Diketahui PT Wijaya Karya (Persero) Tbk mengalami penurunan peringkat dan outlook oleh Moody’s.

Moody’s menurunkan peringkat perseroan dari Ba2 menjadi Ba3, sementara outlook WIKA diturunkan dari stabil menjadi negatif.

Terkait hal itu, Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Mahendra Vijaya menyampaikan, meski terjadi penurunan peringkat, pihaknya tetap optimistis melakukan perbaikan kinerja.

“Penurunan peringkat itu tidaklah disebabkan permasalahan dari kondisi internal perseroan. Karena hal penurunan peringkat itu juga berlaku common pada korporasi lain sebagai imbas penyebaran pandemi Covid-19, melambatnya pertumbuhan ekonomi global, serta turunnya harga minyak dunia,” kata Mahendra, Kamis (25/6/2020).

Dia menyatakan, perseroan masih memiliki kemampuan yang lebih dari cukup untuk bangkit dari periode sulit ini.

Menurut Mahendra, tahun 2021 depan akan menjadi tahun pemulihan kinerja emiten berkode saham WIKA tersebut.

“Beberapa faktor yang menjadi modal utama perseroan untuk mencapai perbaikan kinerja, salah satunya adalah masih tingginya kepercayaan pemerintah terhadap korporasi di bidang konstruksi. Hal itu terlihat dari langkah pemerintah menawarkan sejumlah tender Proyek Strategis Nasional. Perseroan juga memiliki reputasi dan rekam jejak yang baik dalam mengerjakan proyek berskala besar,” ungkapnya.

Evaluasi Perbaikan kinerja

Tercatat, per akhir Mei nilai kontrak dihadapi Wijaya Karya mencapai Rp80,7 triliun.

Meski sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, posisi kontrak dihadapi WIKA masih menjadi yang tertinggi di antara seluruh BUMN konstruksi.

Sepanjang Januari—Mei 2020, Wijaya Karya mencatatkan kontrak baru senilai Rp3,14 triliun.

Namun, perolehan kontrak tersebut jauh lebih rendah dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun lalu yang nilainya mencapai Rp12,71 triliun.

Adapun, total kontrak bawaan (carry over) dari tahun lalu hingga Mei 2020 adalah sebesar Rp77,56 triliun.

Mayoritas kontrak atau 80,59 persen di antaranya merupakan proyek infrastruktur dan gedung.

Pada tahun ini, kontraktor pelat merah ini membidik kontrak baru senilai Rp65,5 triliun, dengan 37,35 persen di antaranya akan didapatkan dari BUMN.

Adapun, dari torehan kontrak baru hingga Mei, kontribusi BUMN mencapai 17,74 persen, sektor swasta menjadi penyumbang kontrak paling besar, yakni 50,11 persen.

Sisanya sekitar 32,15 persen merupakan kontrak dari pemerintah.

Mahendra menyatakan, bahwa perseroan masih mengkaji ulang Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) karena pandemi Covid-19.

“Evaluasi dilakukan terhadap target dan rencana investasi tahun ini. Untuk investasi kami masih mengkaji berdasarkan kebutuhan, secara detail mungkin akan bisa kami sampaikan setelah evaluasinya selesai,” katanya. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!