Connect with us
PERTAMINA

Agrobisnis & Pangan

Importir Gula Diminta Serap Hasil Gula Petani

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Importir gula

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Importir gula diminta untuk membeli gula hasil giling tebu pegani lokal yang harganya saat ini cenderung turun. Hal ini diungkapkan Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, Kamis (25/6) malam.

Agus Suparmanto mengaku setuju dengan usulan dari DPR agar perusahaan dan BUMN yang mendapatkan kuota impor untuk membeli gula petani.

Agus pun berjanji akan segera memberikan penugasan pada BUMN dan importir gula agar menyerap atau membeli gula petani yang dirugikan akibat kebijakan impor.

“Ya, baik akan kami tugaskan BUMN atau perusahaan pengimpor gula untuk menyerap gula petani,” kata Agus.

Pernyataan Agus ini menjadi kesimpulan rapat kerja Komisi VI DPR dan Menteri Perdagangan yang harus segera ditindaklanjuti.

Jawaban Menteri Perdagangan ini sekaligus menjawab usulan Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Partai Golkar Nusron Wahid.

Dalam raker tersebut, Nusron menyampaikan pentingnya kebijakan Mendag menugaskan importir gula menyerap hasil pertanian petani untuk menyelamatkan nasib para petani gula di musim panen kali ini.

“Beli dengan harga yang sama sesuai kesepakatan yaitu Rp 11.200 di harga distributor, sampai ke HET harga Rp 12.500. Itu Sesuai dengan Permendag yang Bapak buat Nomor 07 Tahun 2020,” ujar Nusron.

Ia pun menyoroti kebijakan Agus soal impor gula kristal mentah (raw sugar) yang diolah menjadi Gula Kristal Putih (GKP), menurutnya, kebijakan ini mematikan petani tebu.

Karena itu, Nusron mengingatkan agar penyerapan tebu petani segera direalisasikan agar petani punya kepastian gula hasil panen tebunya bakal dibeli.

Sebab saat ini para petani gula karena merasa tidak dilindungi pemerintah akibat kebijakan impor gula yang masih berlanjut.

Harga Mahal

Pada kesempatan itu, Nusron Wahid juga mencecar Menteri Perdagangan soal kebijakan pengendalian harga gula di tingkat konsumen.

Pasalnya, ketika terjadi kelangkaan pasokan gula, konsumen harus menanggung harga tinggi bahkan tembus Rp 18.000/kg di beberapa wilayah.

“Di dalam siklus supply chain ini ada 3 unsur utama yaitu unsur petani, produsen, dan konsumen yang semuanya harus dilindungi. Tapi yang terjadi di saat barang langka harusnya harga stabil, ternyata gagal karena impornya telat, konsumen pun dirugikan, harga sampai Rp 18.000/kg,” kata Nusron.

Sementara anggota Komisi VI DPR lainnya Mufti Anam mengatakan, seharusnya Mendag sudah bisa memprediksi kelangkaan stok gula sejak tahun 2019.

Sehingga, ketika stok gula kosong, maka pasokan gula impor segera masuk untuk menstabilkan lonjakan harga di dalam negeri.

“Seharusnya pada akhir tahun 2019 analisa ini sudah bisa dilakukan agar di tahun 2020 awal sudah tidak terjadi kelangkaan. Tapi nyatanya awal tahun terjadi kelangkaan sampai di tengah pandemi, sampai bulan Puasa,” jelas Mufti.

Dengan kondisi yang ada saat ini, Mufti juga meminta Mendag dapat mengendalikan distribusi GKP yang berasal dari raw sugar.

Mufti meminta Kemendag memprioritaskan penyerapan gula dari hasil giling tebu petani.

“Saya pikir Kemendag punya daya desak untuk melakukan ini, untuk mengintervensi pelaku-pelaku pasar agar ini disetop dulu. Agar petani bisa terserap dengan baik,” tutup Mufti. []

Agrobisnis & Pangan

Stok Pupuk Jelang Akhir Tahun Diperkuat

Alfian Setya Saputra

Published

on

Stok pupuk

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Stok pupuk dari PT Pupuk Indonesia (Persero) terus diperkuat jelang akhir tahun 2020 untuk memenuhi kebutuhan para petani.

Stok pupuk yang saat ini tersedia di PT Pupuk Indonesia yaitu mencapai 1.332.603 ton.

Terdiri dari Pupuk Urea sebanyak 646.517 ton, pupuk NPK sebanyak 379.757 ton, pupuk SP-36 sebanyak 104.153 ton, pupuk ZA sebanyak 86.390 ton dan pupuk organis sebanyak 151.786 ton.

Kepala Komunikasi Korporat PT Pupuk Indonesia (Persero) Wijaya Laksana mengatakan pihaknya memang memperkuat ketersediaan pupuk di lini III dan IV.

“Dengan peningkatan stok pupuk ini, kami yakin stok yang kami miliki cukup untuk memenuhi kebutuhan petani hingga akhir tahun 2020,” kata Wijaya dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/11/2020).

Untuk mengantisipasi kebutuhan petani yang kekurangan atau kehabisan alokasi pupuk, Perusahaan BUMN ini juga menyiapkan stok pupuk non subsidi di berbagai kios resmi yang jumlahnya mencapai 805.850 ton.

Menurut kebutuhan pupuk yang belum tercukupi harus disiapkan agar tidak mengganggu kegiatan pertanian.

Stok ini juga diperlukan para petani yang belum terdaftar dalam elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).

“Selaku holding BUMN pupuk, kami terus berupaya untuk menjaga ketersediaan pupuk di masa tanam melalui percepatan distribusi dan penambahan pasokan pupuk di berbagai daerah,” jelas dia.

Wijaya mencontohkan seperti di Provinsi Jawa Timur, Pupuk Indonesia memperkuat stok pupuk dengan menyiapkan cadangan dari produsen lain.

Perseroan juga mempercepat proses distribusi dari pabrik (lini I) hingga ke kios-kios pupuk, sembari menyediakan stok pupuk bersubsidi lebih dari 252 ribu ton.

Kemudian di Provinsi Jawa Tengah, Pupuk Indonesia sudah menyediakan pupuk bersubsidi sebesar 192 ribu ton lebih.

Stok Pupuk Aman

Menurut Wijaya, dalam menyediakan stok pupuk ini, pihaknya disupport oleh lima anak usahanya yang merupakan produsen pupuk nasional, yakni PT Pupuk Sriwidjaja, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Pupuk Kujang, PT Petrokimia Gresik, dan PT Pupuk Kaltim.

“Untuk distribusi pupuk sampai ke petani, kami didukung para distributor yang jumlahnya sebanyak 1.282 mitra, dan sekitar 30 ribu kios pupuk yang tersebar di semua wilayah,” ungkapnya.

Tercatat Pupuk Indonesia beserta anak usahanya telah menyalurkan pupuk bersubsidi sebanyak 7.740.724 ton hingga di bulan November 2020.

Adapun total alokasi pupuk subsidi yang ditetapkan oleh Kementerian Pertanian untuk tahun ini mencapai 8,9 juta ton. []

Continue Reading

Agrobisnis & Pangan

Produksi Gula di PTPN XI Dievaluasi, Begini Skemanya

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Produksi gula

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Produksi gula dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI terus dimaksimalkan secara kualitas maupun kuantitas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pihak perusahaan saat ini mulai melakukan evaluasi agar produksi gula nasional lebih maksimal dan mencegah terjadinya permasalahan kemudian hari dalam memproduksi gula.

Terlebih saat ini PTPN XI mulai memasuki masa giling akhir tahun 2020.

Menurut Direktur PTPN XI, R.Tulus Panduwidjaja, pihaknya mengevaluasi seluruh pabrik gula yang ada di berbagai tempat agar melakukan perbaikan kinerja.

“Evaluasi ini kita lakukan agar tahun depan hasilnya benar-benar maksimal,” ujar Tulus, Kamis (19/11/2020).

Menurut Tulus Panduwidjaja, ada beberapa upaya yang akan dilakukan oleh pihak perseroan, mulai dari memaksimalkan fungsi kontrol di setiap lini produksi, penyiapan bahan baku produksi, memacu kreativitas karyawan dengan utilisasi aset agar bisa produktif.

Pihaknya juga meminimalisir investasi yang dinilai tidak memberikan dampak langsung pada hasil produksi gula di PTPN XI.

“Langkah-langkah perbaikan yang kita lakukan mulai dari area perkebunan yang digarap petani hingga di lingkungan pabrik milik PTPN XI. Dalam hal ini kami siap menjembatani para petani tebu untuk mendapatkan pendanaan usaha dengan program PKBL dan menggandeng BUMN lainnya,” kata dia.

Hal ini menurut dia, akan turut mendukung program ketahanan pangan dalam hal ini gula melalui bantuan pinjaman modal kepada petani tebu.

Dengan skema ini, peran BUMN akan semakin memberikan dampak multiplayer efek, dimana para penati mampu menggarap kebun sesuai jadwal, dan protas tebu optimal.

Untuk bantuan bagi para petani tebu, direncanakan akan ada sinergi dengan PT Jasa Marga dalam penyaluran bantuan modal Rp15 miliar untuk petani di Pabrik Gula Pagottan.

Sedangkan dengan Askrindo akan disalurkan bantuan modal sebesar Rp11,4 milyar untuk petani mitra di Pabrik Gula Redjosarie dan Poerwodadie.

Sekretaris Perusahaan PTPN XI, M. Sholeh Kusuma mengatakan, pihaknya sudah melakukan survei untuk kelayakan petani mitra di pabrik gula.

Menurutnya, program sinergi BUMN masa tanam telah disalurkan total sebesar RPp55,5 miliar untuk membantu permodalan petani tebu rakyat yang berasal dari PT Pertamina, Perum Peruri, PT Biofarma, PT Askrindo dan PT Jasa Marga. []

Continue Reading

Agrobisnis & Pangan

Impor Garam Masih Terjadi, Erick ThohirAkan Caplok Tambang Garam Luar Negeri

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Impor garam

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Impor garam hingga kini masih terus dilakukan pemerintah untuk menutupi kebutuhan garam dalam negeri.

Untuk itu, Menteri BUMN Erick Thohir berencana untuk membebaskan Indonesia dari jerat impor garam dengan mengakuisisi tambang garam di luar negeri.

Selanjutnya tambang yang sudah diakuisisi ditargetkan akan menjadi penyuplai garam berkualitas bagi Indonesia dengan kandungan NaCl di atas 97 persen.

“Akusisi ini perlu dilakukan karena saat ini Indonesia masih defisit garam industri. Itu yang membuat kita masih terus impor garam,” ujar Erick, pada acara Jakarta Food Security Summit, Kamis (19/11/2020).

Untuk mewujudkan keinginan itu, Erick menjelaskan pihaknya sedang menyiapkan berbagai strategi, namun tetap melihat potensi keuntungan yang akan didapat oleh perusahaan.

Selain berupaya menekan impor garam, Erick juga bertekad melakukan perbaikan lain di sektor lainnya, seperti ketahanan pangan, energi, dan kesehatan masyarakat.

Untuk menggenjot ketahanan pangan, Kementerian BUMN sedang mengkonsolidasi BUMN yang bergerak di bisnis yang sama agar tergabung di dalam satu holding.

Erick menggabungkan beberapa BUMN agar tidak ‘saling bunuh’ dan menghindari persaingan tidak sehat, yaitu PT Berdikari, PT Perinus, Perum Perindo, dan PT Pertani.

BUMN pangan lainnya yang digabung yaitu PT Sang Hyang Seri, PT Garam, PT PPI, dan PT Bhanda Ghara Reksa menjadi satu kluster dengan induk perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia.

“Jadi BUMN ini menjadi satu perusahaan tapi fokus pada inti bisnisnya, jadi nggak tumpang tindih bahkan saling bunuh,” ungkapnya.

Erick mencontohkan, untuk PT Perinus dan Perindo saat ini sedang dilakukan evaluasi oleh Kementerian BUMN karena membidangi sektor yang sama, dan dinilai akan lebih baik jika dilakukan penyatuan (merger).

Hal serupa juga akan dilakukan terhadap Bhanda Ghara Reksa (BGR) dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) agar keduanya fokus pada sektor perdagangan dan distribusi.

Dalam hal ini BGR difokuskan untuk bisnis storage, dan PPI fokus pada perdagangannya.

Kemudian Pertani dan PT Sang Hyang Seri akan fokus menggarap komoditas jagung dan beras.

Sementara PT Berdikari fokus pada komoditas ayam dan sapi, Perindo dan Perinus fokus pada komoditas perikanan.

“Jadi ke depannya tidak ada lagi perusahaan di bawah Klaster Pangan saling bersaing,” tutupnya. []

Continue Reading

Label

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!