Connect with us
PERTAMINA

Energi & Tambang

Impor LPG Ditekan, Begini Strategi Pemerintah

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Impor LPG

MEDIABUMN.COM, Jakarta — Impor LPG atau Liquefied Petroleum Gas dari luar negeri masih terus dilakukan Negara Indonesia untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Saat ini, ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG setiap tahunnya masih terus meningkat.

Bahkan di tahun 2020, rasio ketergantungan impor LPG mencapai 300 persen, sementara produksi LPG dalam negeri terus menurun.

Kondisi ini pun dibenarkan oleh Sekretaris Jenderal Dewan Energi
Nasional Djoko Siswanto, bahwa Indonesia masih bergantung pada Impor LPG.

Namun bukan berarti pemerintah tidak berupaya menekan masuknya gas LPG dari luar negeri, dan sudah ada berbagai strategi yang dilakukan untuk menekan impor tersebut.

“Impor LPG dan bahan bakar minya masih terus meningkat karena kedua komoditas ini mengalami kiris lantaran belum ditemukan sumber daya yang signifikan. Regulasi terkait penyangga energi juga belum ditandatangani oleh presiden,” kata Djoko.

Menurutnya, pemanfaatan potensi dalam negeri terus dikembangkan untuk menekan angka impor, mulai dari penggunaan kompor induksi hingga pengembangan jaringan gas dalam kota.

Sementara, Alimuddin Baso selaku Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Kementerian ESDM menyebutkan penggunaan jaringan gas rumah tangga bisa menekan impor LPG sebesar 60.558 ton per tahun.

Di tahun 2020 Kementerian ESDM telah menggelontorkan anggaran senilai Rp1,42 triliun untuk membangun infrastruktur jaringan gas di 23 kabupaten/kota.

Guna mengejar target pembangunan jargas kota, pemerintah akan terus mendorong skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU) untuk menyelesaikan 4 juta sambungan rumah (SR) hingga tahun 2024 mendatang.

Menurut Alimudin, skema KPBU ini perlu didorong mengingat target pembangunan jaringan gas tahun ini sudah ditetapkan 266.070 Sambungan Rumah.

Namun jumlah itu direvisi menjadi 127.864 Sambungan Rumah akibat pemangkasan anggaran yang dialihkan untuk penanganan pandemi Covid-19.

Impor LPG Masih Dominan

Diketahui, PT PLN (Persero) telah meluncurkan Gerakan Konversi Satu Juta Kompor Elpiji ke kompor induksi.

Konversi dari kompor LPG ke kompor induksi ini bisa menghemat anggaran subsidi LPG yang telah dianggarkan sebesar Rp50,60 triliun di APBN 2020.

Direktur Utama PT PLN (Persero) Zulkifli Zaini mengatakan, konversi kompor gas ini juga akan meningkatkan ketahanan energi nasional karena mengubah penggunaan energi hasil impor menjadi energi yang diproduksi dari dalam negeri.

“Penggunaan LPG di Indonesia masih didominasi impor, sedangkan tenaga listrik kan kita produksi sendiri. Maka kami targetkan subsidi LPG dalam 5 tahun akan turun sekitar Rp4,80 triliun,” ujar Zulkifli.

Selain itu, kompor induksi ini juga dinilai lebih efisien dan biayanya lebih murah.

Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan, kompor induksi 1.200 Watt bisa memasak 1 liter air dengan dengan biaya listrik hanya Rp158.

Sedangkan dengan kompor elpiji tabung 12 kg biaya yang dibutuhkan sebesar Rp176. []

Energi & Tambang

Holding BUMN Panas Bumi Segera dibentuk!

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Holding BUMN Panas Bumi

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Holding BUMN Panas Bumi akan segera dibentuk, dimana Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah menyiapkan PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero) masuk dalam holding tersebut.

PLN, melalui Direktur Mega Proyek, M. Ikhsan Assaad mengaku jika pihaknya masih terus melakukan pembahasan bersama Pertamina.

“Kami dan Pertamina masih terus melakukan pembahasan dalam pembentukan holding BUMN panas bumi atau geothermal,” ujar Ikhsan (22/02).

Ikhsan menyebut holding BUMN panas bumi nantinya akan dilakukan oleh masing-masing anak perusahaan yaitu PLN Gas & Geothermal (PLN GG) dan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE).

“Masih berlangsung, masih pada tahap joint study untuk pengembangan geothermal di Ulu Belu dan Lahendong.

Sementara itu, menurut Direktur Operasi PLN Gas & Geothermal Yudistian Yunis terkait pembentukan holding BUMN panas bumi, Kementerian BUMN melibatkan PLN, Pertamina dan Geo Dipa.

PLN Gas & Geothermal sebagai anak usaha PLN di sektor panas bumi, sebut Yunis, sangat siap mendukung upaya Kementerian BUMN dalam pembentukan holding BUMN panas bumi.

“Pembahasan saat ini tengah masuk pada opsi mekanisme penggabungan usaha panas bumi yang ada,” ujarnya.

Menurut yunis, potensi energi panas bumi di Indonesia sangat melimpah, oleh karenanya perlu pembahasan yang matang dalam upaya akselerasi dan optimalisasi pemanfaatannya.

“Dari total potensi yang teridentifikasi baru 8 persen saja pemanfaatannya,” tambah Yunis. []

Continue Reading

Energi & Tambang

Produksi Emas Antam dan Target Penjualan Terus Menurun

EKO PRASETYO

Published

on

Produksi emas Antam

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Produksi emas Antam / PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada tahun ini ditargetkan hanya sebesar 1,37 Ton.

Adapun target produksi emas Antam tersebut mengalami penurunan dibandingkan realisasi produksi tahun 2020 yang mencapai 1,67 ton.

Target produksi tersebut tercatat turun sebesar 17,9 persen.

Bukan hanya produksi emas Antam, target penjualan ditahun ini yang sebesar 18 ton emas juga terlihat mengalami penurunan sebesar 17,39 persen dibanding realisasi penjualan pada tahun 2020 yang mencapai 21,79 ton.

Adapun penjualan emas perusahaan sepanjang tahun 2020 lalu juga mengalami penurunan yang cukup dalam mencapai 36 persen dari penjualan tahun 2019 lalu yang berhasil tercatat mencapai 34,02 ton .

Sementara dari sisi realisasi produksi emas antam tahun 2020 lalu juga mengalami penurunan hingga 17 persen dari tahun 2019 yaitu sebesar 1,9 ton.

Dalam keterangan resminya, Antam pada tahun ini memilih fokus pada pertumbuhan produksi dan penjualan pada komoditas fornikel, bijih nikel dan bijih bauksit.

Untuk komoditas emas, Antam memilih fokus dalam pengembangan logam mulia dalam negeri.

Hal ini seiring dengan semakin bertumbuhnya kesadaran masyarakat melakukan investasi emas. []

Continue Reading

Energi & Tambang

Kehadiran Mobil Listrik Bakal Ganggu Bisnis Pertamina?

CHRIESTIAN

Published

on

Kehadiran mobil listrik

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Kehadiran mobil listrik di Indonesia menjadi harapan besar bagi pemerintah saat ini yang tengah gencar menarik investasi ke dalam negeri.

Kehadiran mobil listrik menjadi solusi atas mulai menurunnya cadangan bahan bakar berbasis fosil, selain kehadiran mobil listrik yang sangat ramah dengan lingkungan.

Jika, masyarakat Indonesia sudah banyak beralih kepada kendaraan berbasis listrik, bagaimana nasib Pertamina yang selama ini berbisnis bahan bakar minyak?

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan jika 20 tahun mendatang 80 persen mayarakat Indonesia dipastikan beralih ke mobil listrik.

Untuk menambah daya kendaraan, masyarkat tentunya lebih memilih pengisian (charging) di rumah masing-masing, sehingga perlahan SPBU pun akan ditinggalkan.

“Tentu ke depan sangat berdampak terhadap bisnisnya Pertamina. 20 tahun ke depan diproyeksikan masyarakat Indonesia sebanyak 80 persen sudah beralih ke mobil listrik. Nanti orang banyak isi daya di rumah dan mulai meninggalkan pom bensin,” jelas Erick yang belum lama ini terpilih menjadi Ketua Umum Masyarakat ekonomi Syariah.

Oleh karena itu, lanjut Erick, pemerintah akan merancang strategi ke depan agar bisnis Pertamina tidak terganggu dikemudian hari.

“Tentu kehadiran mobil listrik dimana nantinya banyak masyarkat yang meninggalkan kendaraan berbahan bakar minyak adalah sebuah keniscayaan. Namun kita akan terus memikirkan bagaimana ke depan agar bisnis Pertamina bisa berkontribusi di dalamnya dan tetap tumbuh,” tutup Erick. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!