Connect with us
PERTAMINA

Energi & Tambang

Ibukota Baru, PGN Siap Bangun Jaringan Gas

MediaBUMN

Published

on

Ibukota baru

Ibukota baru yang telah ditetapkan pemerintah yaitu Kalimantan Timur akan banyak membutuhkan berbagai infrastruktur baru didalamnya termasuk jaringan pipa gas. PGN / PT Perusahaan Gas Negara Tbk sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sekor energi siap membangun infrastruktur tersebut.

Menurut Direktur Komersial PGAS Dilo Seno Widagdo, di Ibukota baru nanti, setidaknya PGN akan membangun sekitar 10.000 jaringan gas (jargas).

“Kami telah memiliki pipeline pembangunan jargas di wilayah tersebut. Sepanjang tahun ini, bahkan ada 5.000 jargas yang dibangun di tahun berikutnya. Jadi total sampai akhir tahun 2020 ada 10.000 jaringan gas,” ujarnya.

PGN, lanjut Dilo juga terus berdiskusi secara intens dengan Bappenas terkait upaya pembangunan jaringan gas di ibukota baru.

“Kami serius menggarap jargas. Kami bicara dengan Bappenas dalam merancang sistem pembangunan pipa gas di ibukota baru,” pungkas Dilo.

Secara keseluruhan PGN memiliki rencana untuk membangun sekitar 1,2 juta jargas hingga tahun 2025. PGN menyatakan kesiapnnya untuk membangun infrastruktur jargas di ibukota baru dengan nilai investasi yang diperkirakan akan menelan biaya Rp12 triliun.

“Saat ini masih dalam bentuk konsep dan akan lebih detail di tahun depan. Kami sangat antusias karena akan menggunakan energi yang ramah lingkungan dan di Kalimantan Timur itu kandungan gasnya sangat kaya,” tutup Dilo. [] –adikurniawan-

Energi & Tambang

Manfaatkan Silase, Santri Ponpes Metal Kembangkan Pakan Alternatif Ternak

MediaBUMN

Published

on

Ponpes

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Mengembangkan sistem peternakan yang efektif serta efisien kini banyak dilakukan beragam kelompok usaha di berbagai daerah. Termasuk yang dilakukan Ponpes Metal Al-Hidayah (Ponpes Metal) yang berada di Desa Rejoso Lor, Kec. Rejoso, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Kelompok usaha peternakan yang diinisiasi para santri Ponpes Metal saat ini tengah mengembangkan pembuatan pakan ternak alternatif dan terjangkau melalui kegiatan Bimbingan Teknis Pengembangan Pakan Ternak Alternatif yang dilaksanakan pada 1 Desember 2020. Kegiatan ini bekerjasama dengan PT Pertamina Gas Operation East Java Area (OEJA) dan Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan. Melalui bimbingan tersebut santri Ponpes Metal membuat produk olahan pakan ternak dengan teknologi silase.

Silase adalah pakan berkadar air tinggi yang telah difermentasi untuk diberikan kepada hewan ternak pemakan tumbuhan. Teknologi ini memanfaatkan campuran hijauan serta limbah pertanian atau perkebunan yang dalam hasil fermentasi kadar air tinggi, antara 40 hingga 80 persen). Di musim hujan, ketersediaan hijauan cukup melimpah, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan silase.

Penyuluh pada Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pasuruan, Syaifi menyatakan, keunggulan silase yaitu mudah dalam cara pembuatan, kandungan gizi tinggi, serta bersifat organoleptis atau bau harum dan asam yang cenderung disukai hewan ternak.

“Selain itu, silase juga memiliki daya tahan tinggi. Dapat disimpan hingga delapan bulan,” kata Syaifi.

Ponpes

Sebelumnya, selama merintis usaha peternakan berupa ayam, kambing, bebek, dan ikan lele, santri Ponpes Metal mengalami berbagai dinamika. Salah satunya pemenuhan kebutuhan pakan. Para santri mengeluhkan biaya pakan pabrik yang relatif mahal serta tingkat kebutuhan nutrisi yang berbeda di setiap jenis hewan. Hal ini menjadi tantangan berat bagi santri Ponpes Metal dalam menjalankan usaha peternakan mereka.

“Bebek, ayam, dan lele di sini sangat bergantung pada pakan pabrik,” ujar Makin, Ketua Pengurus Ponpes Metal.

Harga pakan itu mencapai Rp 300 ribu per sak. Untuk mereka yang baru merintis dan belajar beternak, angka itu sangat memberatkan. Maka itu, pelatihan pembuatan pakan itu menjadi jalan keluar yang sangat strategis dan juga praktis bagi mereka.

“Dengan pelatihan pembuatan pakan ini, kami kini dapat mengolah limbah organik yang tersedia di sini menjadi pakan yang berkualitas dengan nilai jual tinggi,” katanya.

Terkait dengan pelatihan ini, Head of QHSSE Pertagas OEJA Fithro Rizki menyatakan, program tersebut merupakan salah satu bagian realisasi komitmen pengembangan mitra binaan CSR Pertagas OEJA.

“Harapannya, penerapan teknologi Silase ini dapat merangsang para santri untuk terus berinovasi. Selain itu juga mendorong kemandirian dalam menjalankan bisnis peternakannya,” ujar Fithro. []

Continue Reading

Energi & Tambang

Pertamina RU III Ajak Masyarakat Kreasikan Limbah Non B3: Pemanfaatan Berbasis Pelestarian Lingkungan

MediaBUMN

Published

on

Limbah

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Limbah Non Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah Non B3) adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan berupa sisa, skrap, atau reja yang tidak termasuk dalam klasifikasi/kategori limbah bahan berbahaya dan beracun. Limbah Non B3 yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara optimal justru dilihat oleh Pertamina Refinery Unit III Plaju sebagai potensi yang memberikan kebermanfaatan.

Sebagai bentuk sinergi antara kilang dengan masyarakat mitra binaan (Ring I), Pertamina Refinery Unit III Plaju mengeluarkan limbah non B3 untuk dikreasikan di Kampung Kreasi, Kelurahan Talangbubuk, Kecamatan Plaju, Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan. Beberapa jenis limbah non B3 yang dapat dikreasikan berupa kayu palet bekas, jerigen bekas hand soap atau hand sanitizer, dan karung produk Polytam reject.

Limbah non B3 tersebut dikreasikan menjadi beberapa produk turunan yang bermanfaat dan bernilai jual, antara lain:

1. Kayu palet bekas dimanfaatkan untuk media penanaman – rak tanaman urban farming dan media budidaya, khususnya untuk pembesaran burayak ikan cupang.

2. Jerigen bekas hand soap atau hand sanitizer dimanfaatkan untuk pot tanaman, tempat sabun untuk wastafel portabel, tempat breeding ikan cupang, dan tempat tissue.

3. Karung Polypropylene (Polytam) reject yang dipadukan dengan kain Jumputan Palembang untuk goody bag dan pouch bernilai jual sekaligus dapat menambah penghasilan ibu rumah tangga yang memiliki skill menjahit.

Limbah

“Kami sangat terbantu dengan limbah non B3 dari kilang ini. Palet kemaren dimanfaatkan ibu-ibu untuk rak tanaman, baru dapat 5 rak. Selain itu juga, palet sama jerigen dijadikan kawan-kawan untuk budidaya ikan hias, Mbak. Yang buatnya para pemuda, suami, dan kakeknya. Hari ini ibu-ibu buat pot bunga dari kain handuk bekas dan semen. Alhamdulillah, bermanfaat dan semoga menjadi ladang amal untuk Pertamina juga”, ungkap Choirul Bahri di sela-sela penataan rak tanaman dari kayu palet bekas.

Tidak hanya itu, pemanfaatan limbah non B3 ini juga turut menjadi bagian dari penghilang stress di masa pandemi Covid-19.

“Alhamdulillah karena ada kayu palet dari kilang terus dibuat sama bapak-bapak jadi rak tanaman, ibu-ibu punya kegiatan, Mbak. Kami tanam bunga, sayur, cabai begitu di depan pekarangan sempit depan rumah. Lumayan, bikin gak stress mikir Covid terus. Belum lagi karungnya, bisa jadi goody bag juga, menghasilkan uang tambahan”, tambah Etawati, salah satu ibu rumah tangga yang memperoleh manfaat dari pemanfaatan limbah non B3 ini. s

Pemanfaatan limbah non B3 di Kampung Kreasi pun juga berdampak jangka panjang untuk pelestarian lingkungan sekaligus menumbuhkan usaha baru.

Area Manager Communication, Relations & CSR RU III Plaju, Siti Rachmi Indahsari, mengungkapkan bahwa ini merupakan bentuk kontribusi Pertamina agar saling menguntungkan dengan masyarakat, disisi lain limbah dapat mempunyai nilai tambah dan masyarakat dapat penghasilan tambahan.

“Dengan adanya program ini, masyarakat telah memperoleh tambahan pendapatan dan mampu bertahan di masa pandemi Covid-19. Kita juga cukup berkontribusi untuk pelestarian lingkungan yang jadi isu global saat ini. Bagi kami, senyum masyarakat adalah kebahagiaan kami di usia Pertamina yang hampir menginjak 63 tahun ini, Pertamina dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Mari kito bergandeng erat lawan pandemi, Pertamina sinergi, berkreasi bersama membangun negeri”, pungkasnya.

Continue Reading

Energi & Tambang

Reaktor Biodiesel B100 Digarap PT Barata, Gandeng Kementerian Pertanian

EKO PRASETYO

Published

on

Reaktor Biodiesel

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Reaktor Biodiesel B100 mulai dikembangkan oleh PT Barata Indonesia (Persero) dengan menggandeng Kementerian Pertanian.

Kedua belah pihak akan melakukan pengembangan bisnis industri mobile refinery untuk menghasilkan produk hilir yang bernilai tinggi.

Pengembangan bisnis ini merupakan kelanjutan dari perjanjian kerjasama antara Barata Indonesia dengan Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegaran (Balittri) Kementan tentang alih teknologi Reaktor Biodiesel Hybrid untuk bahan bakar nabati (BBN).

Proyek yang sudah ditandatangani di Balai Penelitian Tanaman Hias, Cianjur, beberapa waktu lalu, diharapkan dapat mengenjot pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur Operasi PT Barata Indonesia, Bobby Sumardiat Atmosudirjo, mengatakan kerja sama ini adalah Barata untuk mengembangkan inovasi dalam memenuhi kebutuhan energi alternatif.

Menurutnya, Biodesel B100 adalah energi yang ramah lindkungan untuk masa depan Indonesia.

Maka pengembangan reaktor Biodiesel B100 ini menjadi peluang besar bagi Barata untuk memberikan nilai tambah bagi tanaman sawit dengan produk akhir yang akan mendukung ketahanan energi nasional.

“Selama ini kami sudah berpengalaman dan punya kompetensi dalam pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit. Kemampuan yang akan kmai kembangkan untuk hilirisasi industri minyak sawit yang lebih efisien dan bernilai tinggi,” kata Bobby, Sabtu (28/11/2020).

Menurut Bobby, kepala sawit hingga saat ini masih menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar Indpnesia.

Sayangnya, jika hanya mengekspor sawit dalam bentuk mentah, harga jualnya lebih rendah bila dibandingkan dengan hasil produk turunan.

Atas kondisi itu, PT Barata Indonesia sebagai BUMN manufaktur dan EPC terus melakukan pengembangan bisnis bersama Balitri Kementerian Pertanian yaitu produk industri mobile refinery.

Reaktor Biodiesel Berdampak Positif

Pengembangan reaktor biodiesel B100, sambung dia, juga akan memberikan dampak positif terhadap pemanfaatan Bahan Bakar Nabati bagi masyarakat karena lebih ekonomis dan efisien.

Berdasarkan hasil ujicoba yang dilakukan Balitri Kementan, satu liter B100 mampu menempuh jarak 13,1 km atau 26,7 persen, lebih efisien dari bahan bakar solar dengan jumlah yang sama.

“Untuk pengembangan proyek ini, kami butuh dukungan kebijakan dari pemerintah agar bisa berkelanjutan dengan baik dan memberikan dampak pengganda bagi semua pihak,” ungkapnya.

Bobby menegaskan, proyek energi bersih dan ramah lingkungan bukan kali pertama digarap oleh Barata Indonesia.

Berbagai proyek sebelumnya telah dikerjakan oleh perusahaan pelat merah ini, salahsatunya Pembangkit Listrik Mini Hydro (PLTM) dengan kapasitas 5 MW.

Peluang bisnis energi baru terbarukan (EBT) ini akan terus dikembangkan oleh Barata sebagai komitmen perusahaan dalam mendukung industri kelistrikan ramah lingkungan dan mendorong kemandirian energi dalam negeri. []

Continue Reading

Label

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!