Connect with us
PERTAMINA

Farmasi

Holding BUMN Kesehatan Segera Dibentuk, Ini Bocorannya!

CHRIESTIAN

Published

on

Holding BUMN Kesehatan

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Holding BUMN Kesehatan dipastikan akan segera dibentuk, dimana pembentukan perusahaan pelat merah pada klaster kesehatan tersebut akan memperluas holding BUMN pada sektor farmasi.

Dalam acara Ngopi BUMN, Asisten Deputi Bidang Telekomunikasi dan Farmasi Kementerian BUMN Aditya Dhanwantara mengungkapkan bahwa rencana pembentukan holding BUMN kluster kesehatan tersebut sangat penting dilakukan.

Menurutnya sektor farmasi membutuhkan integrasi dengan layanan kesehatan lainnya menjadi alasana yang kuat dalam pembentukan Holding BUMN Kesehatan tersebut.

“Holding BUMN di sektor farmasi nantinya akan diperluas dengan membentuk Holding BUMN Kesehatan, dimana perusahaan di sektor farmasi nantinya akan memberikan layanakan kesehatan seperti Krakatau Medika, IHC Pertamedika serta banyak Rumah Sakit BUMN yang menjadi afiliasi,” jelas Aditya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa pembentukan holding pada klaster kesehatan ini membutuhkan beberapa tahapan.

Ia menegaskan jika Kemeterian BUMN tidak bisa serta merta membentuk Holding BUMN Kesehatan, tetapi ada beberapa tahapan kerjasama dengan sesame BUMN, kerjasama operasional, dsb.

“Tidak semudah itu, karena harus melalui sejumlah tahapan,” tambahnya.

Adapun Kementerian BUMN sebelumnya sudah mengesahkan beroperasinya holding farmasi pada awal tahun 2020.

Holding farmasi tersebut diisi oleh tiga perusahaan BUMN yaitu sebagai induk adalah PT Bio Farma (Persero) dengan anggota PT Indofarma (Persero) Tbk dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk. []

Farmasi

Bahan Baku Obat Impor Ditekan, Kimia Farma Target 74 Persen

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Bahan baku obat

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Bahan baku obat yang selama ini dipasok dari impor luar negeri mulai diturunkan jumlahnya oleh pemerintah.

Penurunan impor  ini ditargetkan hingga tahun 2024 mendatang untuk meningkatkan kemandirian industri farmasi nasional.

Saat ini perusahaan farmasi di Indonesia masih mengimpor bahan obat parasetamol hingga 7 ribu ton dengan senilai US$32,5 juta.

Namun BUMN Farmasi PT Kimia Farma Tbk. (persero) menyatakan target penurunan impor ini akan menjadi tantangan yang besar dan butuh kerjasama dari berbagai pihak.

Sekretaris Perusahaan Kimia Farma, Ganti Winarno mengatakan, pihaknya menargetkan dapat berkontribusi dalam penurunan impor bahan baku obat (BBO) hingga 74,48 persen pada tahun 2024.

Hal itu merupakan langkah yang dilakukan Kimia Farma untuk mewujudkan Kemandirian Industri Farmasi Nasional.

“Terutama untuk bahan baku obat yang masih mengalami ketergantungan impor cukup tinggi,” ujar Ganti, Minggu (25/10/2020).

Menurutnya, kontribusi Kimia Farma dalam produksi bahan baku obat akan didukung oleh PT Kimia Farma Sungwoon Pharmacopia dan PT Pertamina (Persero) dalam memproduksi parasetamol.

Namun ia belum menyebutkan nilai investasi yang akan dikucurkan oleh Kimia Farma dan Pertamina untuk menggarap industri ini.

Untuk mencapai target di tahun 2024 mendatang, pelaksanaan peraturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) industri farmasi menjadi penting.

Namun jika target produksi bahan baku obat berhasil terlaksana, akan menggantikan bahan bahan impor dari luar negeri.

Regulasi Bahan Baku Obat Impor

Untuk diketahui, Kementerian Industri telah mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi impor bahan baku obat sebesar 35 persen.

Pasalnya sekitar 90 persen dari 200 lebih perusahaan farmasi di dalam negeri masih fokus pada sektor hilir produksi obat-obatan.

Sebelumnya Menteri Perindustrian RI, Agus Gumiwang mengatakan pemerintah berupaya menekan impor bahan baku obat.

Untuk itu, diperlukan kerja sama dengan kementerian dan lembaga terkait dalam membuat regulasi dan kebijakan untuk menghadirkan ekosistem industri yang baik.

Dengan begitu, sektor industri farmasi akan lebih mandiri, berdaya saing dan mampu memenuhi kebutuhan nasional sekaligus menjadi penarik investasi dari dalam dan luar negeri.

“Terlebih untuk pembuatan obat dan alat kesehatan yang saat ini permintaannya sangat banyak di masa pandemi Covid-19,” ujarnya. []

Continue Reading

Farmasi

Harga Vaksin Covid-19 Sekitar Rp200 Ribu, Tiba Bulan Depan

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Harga Vaksin Covid-19

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Harga Vaksin Covid-19 yang disiapkan PT Bio Farma (Persero) ditetapkan di kisaran Rp200 ribu per dosis.

Vaksin yang dimaksud adalah produksi perusahaan asal China Sinovac, yang akan dikirim ke Indonesia mulai bulan depan.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir menilai, kisaran harga vaksin covid-19 ini tidak akan memberatkan pemerintah karena harganya masih terjangkau.

Sebelumnya sempat beredar kabar bahwa vaksin produksi Sinovac akan dijual seharga 1,96 dolar AS per dosis, lebih murah dari harga yang ditetapkan Bio Farma.

“Namun isu itu sudah dikonfirmasi oleh Bio Farma, dan dibantah oleh pihak Sinovac,” ujar Honesti, Selasa (13/10/2020).

Honesti menegaskan, Bio Farma sebagai BUMN tetap berkomitmen untuk mendukung upaya pemerintah dalam menyediakan vaksin Covid-19 dengan harga yang terjangkau.

Sehingga bisa memberi perlindungan bagi seluruh rakyat Indonesia dari wabah covid-19 yang penyebarannya terus meningkat.

Menurutnya ada beberapa faktor yang menentukan harga vaksin Covid-19, di antaranya nilai investasi dalam uji klinis dari tahap pertama hingga tahap akhir.

Untuk menjamin kualitas vaksin corona yang akan dikirim ke Indonesia, petugas dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan meninjau langsung ke pabrik Sinovac.

Tim inspeksi dari Kementerian Kesehatan MUI, dan Bio Farma akan melihat kualitas fasilitas produksi dan mengecek kehalalan vaksin.

Tak hanya di China, tim inspeksi juga akan menegecek fasilitas dan proses produksi vaksin di Bio Farma untuk menyesuaikan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).

Vaksin Tiba Bulan Depan

Selain dengan Sinovac, Bio Farma juga bekerjasama dengan dua perusahaan China lainnya yakni Cansino, G42/Sinopharm dalam pembuatan vaksin covid-19.

Pemerintah menargetkan, pembelian vaksin dari ketiga perusahaan ini sudah bisa berjalan mulai bulan depan.

Dirut Bio Farma Honesti Basyir mengatakan, jumlah vaksin yang disanggupi dari ketiga perusahaan berbeda, menyesuaikan kapasitas produksi dan komitmen dengan pembeli lain.

Perusahaan Sinovac menyatakan siap memproduksi 3 juta dosis vaksin hingga akhir tahun 2020, sebanyak 1,5 juta vaksin dikirim di bulan November dan sisanya di bulan Desember.

Kemudian Cansino hanya menyanggupi 100.000 dosis vaksin di bulan November 2020, tapi akan menambah 15 juta vaksin di tahun 2021.

Sementara perusahaan Sinophar akan mengirim 5 juta vaksin di bulan depan, dengan total keseluruhan sebanyak 15 juta vaksin hingga akhir 2020.

Indonesia sendiri butuh sebanyak 320 juta dosis vaksin untuk vaksinasi massal yang diikuti 160 juta penduduk, karena setiap orang akan mendapatkan dua kali suntikan.

“Pemerintah akan memanfaatkan jaringan puskesmas di seluruh daerah yang jumlahnya mencapai 11 ribu puskesmas. Jadi satu puskesmas bisa melakukan minimal 100 kali suntikan yang terus dilakukan bertahap hingga tahun 2022 mendatang,” tandasnya. []

Continue Reading

Farmasi

Tes Antigen Bakal Gantikan Rapid Test

Alfian Setya Saputra

Published

on

Tes antigen

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Tes antigen mulai disiapkan oleh PT Indofarma Tbk sebagai pengganti rapid test (tes cepat) antibodi dalam pemeriksaan gejala covid-19.

Pengantian rapid tes menjadi tes antigen ini sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Indofarma sebagai anggota holding BUMN farmasi menyatakan siap mendukung pengadaan tes antigen, namun saat ini regulasi untuk tes tersebut belum turun.

Direktur Utama PT Indofarma Tbk Arief Pramuhanto berharap dalam waktu dekat regulasi tes antigen segera keluar sehingga bisa ditindaklanjuti oleh Indofarma untuk pengadaannya.

Menurutnya, tes cepat antigen bisa dijadikan rujukan yang lebih akurat untuk mengetahui seseorang positif terinfeksi Covid-19 atau tidak.

“Tes PCR merupakan penyaringan awal untuk mendeteksi orang yang terinfeksi Covid-19. PCR masih jadi guidance standard, tapi di bawah itu ada yang namanya rapid test antigen dan memang sudah ada produk rekomendasi WHO yang masuk,” kata Arief Pramuhanto dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin (5/10/2020).

Ia pun berharap regulasi penggunaan tes antigen ini segera keluar guna menggantikan penggunaan rapid test.

“Kami mengharapkan pihak otoritas bisa memberikan aturan bahwa antigen ini bisa menjadi alternatif untuk menggantikan rapid test antibodi,” katanya.

Diketahui, WHO sudah menyampaikan rencana penyediaan tes antigen bagi negara-negara berpenghasilan kecil dan menengah yang jumlah alat tes PCRnya masih rendah.

Pemerintah Indonesia juga telah meminta WHO untuk mempertimbangkan Indonesia sebagai salah negara yang akan mendapatkan bantuan alat tes antigen dengan harga yang terjangkau.

Tes PCR Masih Mahal Diganti Tes Antigen

Dalam kesempatan yang sama, Arief Pramuhanto menyampaikan jika biaya untuk layanan tes polymerase chain reaction (PCR) untuk mendeteksi covid-19 masih tinggi.

Seperti yang disediakan oleh PT Farmalab Indoutama selaku anak usaha dari Indofarma, layanan PCR untuk satu orang mencapai Rp750 ribu sekali tes.

Harga itu memang sudah di bawah ketentuan harga maksimal yang ditetapkan pemerintah, yaitu Rp900 ribu per tes.

Layanan PCR di Farmalab dapat memeriksa 1.200 sampai 1.300 sampel per hari.

Selain tes PCR, perusahaan pelat merah inni juga menyediakan produk mobile diagnosis real time PCR, yaitu kendaraan roda empat yang menyediakan fasilitas tes PCR.

Kendaraan ini diproduksi sebanyak sepuluh unit per bulan untuk kebutuhan tes PCR di daerah.

Sementara Direktur Utama PT Biofarma Honesti Basyir selaku induk holding BUMN Farmasi, mengatakan saat ini holding farmasi dapat melakukan 1,5 juta kali test PCR dalam sebulan.

Ke depan, jumlah itu akan ditingkatkan hingga dua kali lipat untuk memenuhi target tes PCR sebanyak 80 ribu orang per hari.

“Hal ini menurut kami bisa tercapai karena Biofarma juga sudah mampu memproduksi reagen secara mandiri. Produksi reagen di bulan ini kapasitasnya sudah mencapai 1,5 juta tes per bulan. Saat ini sedang ditingkatkan hingga 3 juta tes per bulan,” ungkapnya.

Peningkatan produksi ini, kata dia sesuai arahan Presiden RI Joko Widodo yang mengharapkan sekitar 80 ribu tes PCR per hari.

Sehingga dibutuhkan minimal 2,4 juga hingga 2,5 juta reagen per bulan. []

Continue Reading

Label

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!