Connect with us
PERTAMINA

Farmasi

Holding BUMN Farmasi! Siapa menjadi Induk?

MediaBUMN

Published

on

Holding BUMN Farmasi

Holding BUMN Farmasi terus bergulir pembentukannya. Namun hingga saat ini masih menemukan sejumlah kendala. Padahal sebelumnya Deputi Bidang Usaha Industri agro dan Farmasi Kementerian BUMN, Wahyu Kuncoro, mengatakan bahwa holding BUMN farmasi akan teralisasi pada semester pertama. Wahyu optimis karena sudah ada pembahasan antar kementerian yang terkait perihal pembentukan holding.

Holding BUMN Farmasi, rencananya akan menyatukan emiten farmasi BUMN, seperti PT Kima Farma Tbk (KAEF), PT Indofarma Tbk (INAF), dan PT Bio Farma. Pemerintah belum memastikan BUMN farmasi mana yang akan menjadi induk holding farmasi.

Padahal, tiga BUMN tersebut sudah siap menjalankan aksi korporasi dan sudah berbagi tugas. Baik KAEF dan INAF masih terkendala berbagai hal untuk menjadi induk holding.

Holding BUMN Farmasi Urung Terwujud

Pemerintah sempat menyebutkan bahwa kemungkinan PT Kimia Farma atau PT Bio Farma yang akan menjadi induk holding BUMN farmasi. Ini dimungkinkan perkembangan kedua farmasi ini dinilai cukup bagus.

Apalagi PT Kimia Farma di tahun 2019 ini sudah mengakuisisi alias membeli saham mayoritas PT Phapros Tbk (PEHA) dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang juga perusahaan pelat merah. Sementara PT Rajawali Indonsia juga memiliki saham 56,8 persen saham Phapros.

KAEF dan INAF tetap masih sulit menjadi induk holding meski KAEF sudah mengakuisisi Phapros. Hal tersebut dikarenakan praktik holding yang pernah dilakukan sebelumnya oleh emiten BUMN lain. Induk hoding BUMN farmasi yang sudah ada merupakan perusahaan yang 100 persen menjadi milik negara. dalam hal ini seluruh saham milik kementerian BUMN.

Sedangkan PT Kimia Farma Tbk merupakan perusahaan terbuka. Tidak seluruh saham dimiliki kementerian BUMN. Sejumlah 554 juta saham atau setara dengan 9,97 persen dari total saham dimiliki oleh investor lain atau investor publik.

Dengan tidak berpeluangnya KAEF dan INAF menjadi induk holding, peluang terbuka pada PT Bio farma. Namun, manajeman Bio Farma belum mau memberikan komentarnya perihal holding farmasi.

Head of Corporate Communications PT Bio Farma, Iwan Setiawan menjelaskan bahwa kewenangan holding terletak pada kementerian BUMN. Begitu pula dengan penunjukan induk holding, KAEF dan INAF, atau Bio Farma semua menjadi wewenang Kementerian BUMN sebagai pemegang saham. []

Farmasi

Industri Bahan Baku Obat Bakal Digarap Pertamina

EKO PRASETYO

Published

on

Industri bahan baku obat

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Industri bahan baku obat akan dikembangkan oleh PT Pertamina (Persero) sebagai bisnis baru perusahaan.

Rencananya PT Pertamina akan menggarap industri bahan baku obat jenis parasetamol dari bahan baku Propylene dan Benzene dengan mengggandeng Kimia Farma.

General Manager PT Pertamina (Persero) Refinery Unit IV Cilacap, Joko Pranoto mengatakan, pengembangan industri bahan baku obat ini sudah dilakukan kajian oleh Pertamina.

Pertamina pun telah menetapkan bahwa produk petrokimia akan menjadi lini bisnis yang dapat diandalkan di masa depan.

“Pertamina memang mencoba mengidentifikasi peluang untuk masuk pada bahan baku farmasi dan logistik. Bersama Kimia Farma kami pun sudah melakukan penjajakan, bahkan telah dituangkan dalam nota kesepahaman,” kata dia.

Dijelaskannya, MoU itu ditandatangani Dirut PT Kilang Pertamina Internasional dan Dirut Kimia Farma secara virtual pada akhir Juli 2020 lalu.

Nantinya Kilang Pertamina di Cilacap akan memproduksi Benzene sebanyak 120 ribu ton per tahun dan Propylene 160 ribu ton per tahun.

Dengan angka tersebut, pihak Pertamina optimis mampu menjadi salah satu penopang kebutuhan industri bahan baku obat.

Sementara Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian RI, Muhammad Khayam mengapresiasi langkah Pertamina tersebut.

Menurutnya, Kementerian Perindustrian akan sangat mendukung upaya pengoptimalan nilai tambah produk petrokimia menjadi bahan baku obat.

“Kerja sama kedua BUMN untuk pengembangan industri bahan baku obat kami harapkan bisa meningkatkan daya saing industri kimia nasional,” ujar Khayam, saat mengunjungi Kilang Cilacap, Rabu, (16/9/2020).

Inisiatif dari Pertamina ini, menurutnya sejalan dengan arahan Presiden RI untuk meningkatkan kemandirian industri farmasi nasional.

Langkah ini juga akan membantu menurunkan defisit neraca perdagangan Indonesia di sektor farmasi, karena kebutuhan farmasi nasional masih didominasi barang impor hingga 95 persen.

Kerja sama industri bahan baku obat antara Kimia Farma dan Pertamina juga diharapkan dapat memberi manfaat yang signifikan kepada kedua pihak.

“Apalagi di saat pandemi covid-19 ini berbagai upaya ditempuh demi keberlangsungan roda perekonomian. Karena hampir semua sektor industri terkena imbasnya. Tapi industri farmasi masih mencatatkan kinerja positif karena adanya peningkatan permintaan obat dan suplemen untuk menghadapi wabah tersebut,” pungkasnya. []

Continue Reading

Farmasi

Bangun Pabrik Paracetamol, Erick Thohir: “BUMN Tekan Impor”

CHRIESTIAN

Published

on

Bangun pabrik

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Bangun pabrik Paracetamol di dalam negeri menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menekan impor.

Karena selama ini paracetamol menjadi salah satu obat yang harus di impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan bahwa pemerintah terus melakukan upaya strategis dalam menekan angka impor khususnya obat-obatan maupun alat kesehatan.

Erick menyebut jika perusahaan pelat merah yang berada pada klaster BUMN kesehatan dinilai sangta siap untuk bangun pabrik dalam hal ini paracetamol di dalam negeri.

Selain itu, lanjut Erick, upaya bangun pabrik tersebut menjadi salah satu bagian program konsolidasi BUMN klaster kesehatan.

“Bagian dari konsolidasi BUMN klasterisasi kesehatan dimana Bio Farma akan digabungkan dan refocusing Indo Farma dan Kimia Farma. Dimana Kimia Farma akan fokus dalam menekan impor obat,” Papar Erick (16/9).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa BUMN akan bangun pabrik paracetamol yang selama ini terus didatangkan dari luar negeri.

“Indofarma nantinya akan difokuskan kepada obat-obatan herbal,” ujar Erick.

Nantinya BUMN klaster kesehatan akan disinergikan dengan grup Rumah Sakit (RS) BUMN yang jumlahnya sudah mencapai 70 Rumah Sakit.

Bukan hanya BUMN kalster kesehatan, Seperti diketahui bahwa Kementerian BUMN tengah fokus melakukan konsolidasi klasterisasi secara keseluruhan yang saat ini berjumlah 12 klaster bisnis.

Antara lain yaitu klaster pariwisata dan pendukung yang terdiri dari hotel, ritek, Airport, kawasan wisata, serta industri penerbangan. Selain itu juga klaster produsen semen.

“Kita akan terus berupaya menciptakan ekosistem bisnis yang baik dengan swasta,” ujarnya.

Dengan adanya klasterisasi tersebut diharapkan akan mengundang ketertarikan investor baik dari luar maupun dalam negeri.

“Pemerintah juga tengah giat membangun kawasan industri seperti di Batang yang memiliki lahan seluas 4.000 hektare,” terang Erick. []

Continue Reading

Farmasi

Vaksin Covid-19 Dari Pemerintah, Erick Thohir : Akan Dibagi Dua!

EKO PRASETYO

Published

on

Vaksin covid-19

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Vaksin covid-19 yang disiapkan pemerintah untuk imunisasi massal kepada masyarakat rencananya akan dibagi menjadi dua.

Pembagian yang dimaksud yaitu vaksin bantuan pemerintah untuk masyarakat yang membutuhkan dan vaksin mandiri kepada warga yang mampu.

Hal ini disampaikan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dalam acara Dies Natalis 63 Tahun Universitas Padjajaran, Jumat (11/9/2020).

Menurut Erick, untuk vaksin covid-19 bantuan pemerintah diusulkan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Vaksin jenis ini hanya diberikan kepada masyarakat kurang mampu yang membutuhkan berdasarkan data BPJS Kesehatan.

“Untuk penerima vaksin, kita pakai data milik BPJS Kesehatan sesuai data PBI, jumlah pesertanya sekitar 93 juta masyarakat yang membutuhkan,” kata Erick.

Sementara bagi masyarakat yang ekonominya mampu diharapkan menggunakan vaksin secara mandiri.

Hal ini disampaikan berkaca pada penyaluran subsidi yang selama ini sudah dikucurkan tapi tidak tepat sasaran.

“Kami sangat mengharapkan masyarakat yang mampu itu agar bisa membantu keuangan negara, jadi vaksinnya tidak gratis. Karena banyak sekali subsidi-subsidi seperti listrik, pupuk dan banyak lagi justru dimanfaatkan individu yang tidak membutuhkan,” tegasnya.

Erick Thohir mengaku telah bertemu kalangan pengusaha salah satunya Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Dari hasil pertemuan itu, pihak pengusaha memberikan respons positif dan berkomitmen membeli vaksin mandiri, bukan gratisan.

“Mereka ingin bagian vaksin mandiri yang mereka beli sendiri. Bahkan komitmen pegawainya pun mereka yang beli semua. Ini hal yang bagus mengurangi beban keuangan negaa,” tandasnya.

Keputusan Tepat

Di sisi lain, mantan Presiden Inter Milan ini mengatakan, lockdown menjadi wacana yang hangat dibahas saat awal pandemi Covid-19.

Namun, kebijakan itu tidak diambil oleh pemerintah Indonesia karena lockdown benar-benar dimatikan sebuah daerah.

Terkait hal itu, Erick menyebut keputusan Presiden Jokowi sudah tepat, dimana hasilnya saat ini di mana ekonomi Indonesia masih lebih baik dari pada negar-negara lain yang tergabung di G20.

Bahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih baik dibanding negara-negara Asia Tenggara.

“Saya yakin keputusan Bapak Jokowi sejak awal sudah tepat. Kalau kita lihat sekarang hasilnya, perlambatan ekonomi yang ada di Indonesia jauh lebih baik dibandingkan negara-negara G20. Seperti Prancis, Amerika, India, dan lain-lain. Termasuk di Asia Tenggara, negara-negara tetangga kita justru mengalami krisis yang lebih berat,” terangnya.

Maka itu, Erick berharap ekonomi Indonesia masih bisa bertumbuh 0 persen atau paling tidak tumbuh positif.

“Kita berharap di kuartal ketiga dan keempat atau sampai akhir tahun 2020, kita bisa bergerak dari 0 plus sedikit, kalau pun pertumbuhannya minus jangan banyak-banyak,” pungkasnya. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM