Connect with us
PERTAMINA

Konstruksi & Properti

Direksi WIKA Dirombak, Agung Budi Waskito Jadi Dirut

Published

on

Direksi WIKA

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Direksi WIKA atau PT Wijaya karya (Persero) Tbk mengalami perombakan besar-besaran oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Dalam perombakan ini, Erick mencopot Tumiyana dari kursinya sebagai direktur utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, dan menunjuk Agung Budi Waskito sebagai penggantinya.

Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perusahaan dengan kode saham WIKA itu pada hari Senin (8/6/2020).

Sebelumnya, Agung merupakan sebagai Direktur Operasi I di perusahaan pelat merah itu sejak 24 April 2018 lalu.

Agung juga pernah menduduki posisi sebagai Manajer Divisi Operasi 4 Sipil Umum II tahun 2014-2016, General Manager Departemen Pemasaran pada 2016-2017 dan menjadi General Manager Departemen Sipil Umum I pada 2017-April 2018.

Selain jabatan direktur utama, Erick Thohir juga menunjuk lima direksi WIKA yang baru, yaitu Hananto Aji sebagai Direktur Operasi I, Harum Akhmad Zuhdi sebagai Direktur Operasi II, Sugeng Rochadi sebagai Direktur Operasi III, Rudi Hartono sebagai Direktur Quality, Health, Safety, and Environment dan Mursyid sebagai Direktur Human Capital dan Pengembangan.

Melalui RUPST ini Kementerian BUMN juga merombak jajaran komisaris. Imam Santoso yang sebelumnya menjabat Komisaris Utama digantikan Jarot Widyoko yang merupakan Dirjen SDA Kementerian PUPR.

Berikut susunan Komisaris dan Direksi WIKA

Direksi

Direktur Utama: Agung Budi Waskito
Direktur Keuangan: Ade Wahyu
Direktur Quality,Health, Safety, and Environment: Rudy Hartono
Direktur Human Capital, dan Pengembangan: Mursyid
Direktur Operasi I: Hananto Aji
Direktur Operasi II: Harum Akhmad Zuhdi
Direktur Operasi III: Sugeng Rochadi

Komisaris

Komisaris Utama: Jarot Widyoko
Komisaris: Edy Sudarmanto
Komisaris: Firdaus Ali
Komisaris: Satya Bhakti Parikesit
Komisaris Independen: Adityawarman
Komisaris Independen: Harris Arthur Hedar
Komisaris Independen: Suryo Hapsoro Tri Utomo

Harapan Direksi WIKA yang Baru

Sekretaris Perusahaan Mahendra Vijaya mengatakan dengan adanya komisaris dan direksi WIKA yang baru maka diharapkan memperkuat posisi perusahaan, terutama untuk memastikan keberlangsungan bisnis Wijaya Karya di tengah dampak pandemi Covid-19.

Hingga April 2020, kata dia, Wijaya Karya telah mencatatkan kontrak baru sebesar Rp2,83 triliun.

Sebagian besar kontrak baru disumbang oleh sektor industri, disusul dengan bangunan dan infrastruktur, properti, dan sektor energi.

“Dari segi kepemilikan, mayoritas kontrak baru tersebut berasal dari swasta. Disusul kepemilikan pemerintah dan sebagiannya lagi merupakan sinergi BUMN. Dengan kontrak baru ini, Wijaya Karya kini telah memiliki kontrak sebesar Rp80,68 triliun,” ujarnya.

Dalam RUPST ini, perseroan juga memutuskan pembagian dividen kepada para pemegang saham sebesar 20 persen dari total laba bersih.

Tahun 2019, Wjaya Karya berhasil meraup laba bersih senilai Rp 2,28 triliun, sehingga total dividen yang dibagikan kepada pemegang saham yaitu Rp 457 miliar. []

Dengan dividen per saham senilai Rp 50,95, maka pemerintah sebagai pemegang 5,83 miliar unit saham Wijaya Karya mendapat dana dividen senilai Rp 297,28 miliar. []

Konstruksi & Properti

Modal Kerja WIKA Cair Rp700 Miliar dari SMI

Published

on

Modal kerja WIKA

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Modal kerja WIKA atau PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dikucurkan oleh pemerintah melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero).

Total modal kerja WIKA yang dikucurkan mencapai Rp700 miliar yang akan digunakan untuk memenuhi permodalan perseroan.

Selain modal kerja WIKA, PT SMI juga memberikan dana jaminan pelaksanaan proyek sebesar Rp1,66 triliun.

Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, Wijaya Karya Mahendra Vijaya mengungkapkan pihaknya telah mendapatkan fasilitas pembiayaan dan jaminan dari PT SMI.

Dijelaskannya, objek transaksi ini yaitu Pemberian Fasilitas Pembiayaan Modal Kerja WIKA dan Pemberian Jaminan berupa tagihan atau piutang atas proyek yang akan dibiayai.

“Nilai dana untuk modal kerja WIKA yang diberikan adalah sebesar Rp700 miliar, dan nilai jaminan sebesar Rp1,66 triliun. Transaksi ini dilaksanakan pada Senin, 18 Oktober 2021,” ujarnya, Kamis (21/10/2021).

Mahendra menjelaskan, ada hubungan afiliasi antara pihak yang bertransaksi yaitu antara PT Wijaya Karya dengan PT SMI.

Keduanya merupakan BUMN ini sahamnya mayoritas dimiliki oleh Pemerintah, sehingga hubungan afiliasi terjadi karena keduanya dikendalikan oleh pemegang saham yang sama.

Modal Kerja WIKA Dorong Penyelesaian Proyek

Adapun pertimbangan penyaluran modal kerja WIKA dan dana jaminan ini agar pihak perusahaan dapat menyelesaikan pembangunan beberapa proyek infrastruktur.

Berbagai proyek strategis yang masih digarap oleh PT WIKA di antaranya Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Sirkuit Mandalika, Rumah Sakit di Ternate, dan berbagai proyek di sejumlah daerah.

Sementara pembangunan Terminal Multipurpose Wae Kelambu Pelabuhan Labuan Bajo NTT baru saja selesai dirampungkan oleh PT Wijaya Karya senilai Rp98 miliar.

Saat ini, BUMN karya ini juga tengah menggenjot kontrak baru sebelum akhir tahun 2021.

Mahendra Vijaya menyatakan, pihaknya optimis bisnis perseroan akan semakin mocer karena situasi pandemi saat ini sudah semakin terkendali dan kondusif.

Pada semester pertama, kontrak baru yang diperoleh BUMN ini mencapai Rp10,5 triliun.

Sementara di semester II, perusahaan pelat merah ini masih terus mengikuti beberapa tender dengan target kontrak Rp25 triliun.

Jika kondisi ke depan semakin kondusif, Vijaya optimis besaran tender yang didapat bisa lebih dari target, bahkan di kisaran Rp35 triliun.

“Ini sejalan dengan melandainya gelombang ke dua Covid-19. Vaksinasi juga kita lihat sudah semakin luas, maka pasar konstruksi dalam negeri juga akan kembali pulih,” ungkapnya.

Namun, ia menyebutkan kondisi ini hanya bisa berjalan bila pemerintah dan seluruh masyarakat tetap disiplin dan konsisten menjalankan protokol kesehatan serta membagun ketahanan kesehatan komunal. []

Continue Reading

Konstruksi & Properti

Utang Waskita Karya Menumpuk, Ini Penjelasan Wakil Menteri BUMN

Published

on

Utang Waskita

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Utang Waskita Karya menjadi salah satu pembahasan rapat kerja antara Wakil Menteri BUMN II, Kartika Wirjoatmodjo bersama Komisi VI DPR RI.

Dalam rapat tersebut, Kartika menyampaikan awal mula utang Waskita Karya yang nilainya sudah mencapai mencapai Rp93,47 triliun.

Ia mejelaskan, bahwa tingginya beban utang Waskita Karya terjadi karena banyak mengakuisisi proyek jalan tol dari pihak swasta.

Langkah akuisisi ini dilakukan oleh PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) sejak tahun 2015 hingga tahun 2017.

“Proyek strategis yang digarap seperti Tol Sumatera dan Trans Jawa yang totalnya ada 16 ruas. Waskita juga mengerjakan transmisi di Sumatera sehingga total dana yang dibutuhkan mencapai Rp27,8 triliun,” jelas dia di hadapan Anggota DPR RI, Selasa (28/9/2021).

Menurutnya, utang Waskita Karya itu adalah akumulasi utang bank dan vendor, yakni Rp70,9 triliun bersumber dari pinjaman bank dan obligasi, dan sisanya utang dari vendor.

Pria yang akrab disapa Tiko ini juga menyebutkan, kondisi pandemi Covid-19 semakin membuat pendapatan perseroan menurun.

Penurunan terjadi dari berbagai aspek, mulai baik dari bisnis konstruksi, maupun pengelolaan jalan tol yang juga terdampak dari penurunan arus lalu lintas.

Maka untuk penyelamatan bisnis perusahaan atas utang Waskita Karya, Kementerian BUMN telah melakukan delapan skema.

Yaitu dengan restrukturisasi secara menyeluruh, penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) dan recycling aset perusahaan.

Restrukturisasi Utang Waskita

Ia menjelaskan, Asset recycling dilakukan secara bertahap, mulai dari 2019 sudah ada 5 ruas dan sekarang sedang menyelesaikan ruas Cibitung-Tanjung Priok yang dibeli oleh PT Pelindo.

“Sejak tahun 2017 hingga 2019, Waskita Karya juga tidak mendapatkan PNM, justru melakukan pengerjaan proyek terlebih dulu baru meminta penyertaan modal,” ungkapnya.

Penyelesaian berbagai proyek tol ini, membuat utang Waskita Karya meningkat hingga empat kali lipat.

Maka langkah yang ditempuh pihak perseroan untuk menurunkan beban utang yaitu dengan melepas lima ruas tol.

Namun Tiko memastikan bahwa BUMN ini akan kembali menjalankan bisnis inti yaitu konstruksi mulai tahun 2025 mendatang setelah sejumlah aset tol yang dikelola dilepas ke pihak lain.

Sehingga Waskita Karya nantinya tidak lagi menjadi investor, tapi kembali fokus menggarap sektor konstruksi terutama, jalan, kereta api dan SDA.

Sementara, manajemen perusahaan sebelumnya menyampaikan bahwa restrukturisasi utang Waskita Karya telah disepakati bersama 21 bank.

Utang Waskita Karya yang direstrukturisasi senilai Rp29,2 triliun dengan perpanjangan tenor hingga 5 tahun, dan bunga pinjaman yang ringan.

Dirut Waskita Karya, Destiawan Soewardjono mengatakan restrukturisasi ini merupakan salah satu langkah transformasi bisnis yang dijalankan sesuai 8 langkah penyehatan keuangan.

Destiawan pun mengapresiasi penuh dukungan dari pihak perbankan yang telah memahami kondisi sulit yang dialami Waskita. []

Continue Reading

Konstruksi & Properti

Kontrak Wijaya Karya Masih Diburu Senilai Rp22 Triliun

Published

on

Kontrak Wijaya Karya

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Kontrak Wijaya Karya yang baru masih terus diburu oleh perusahaan di sisa tahun 2021.

Perusahaan pelat merah ini sedang mengikuti sejumlah tender dengan total kontrak sekitar Rp22 triliun untuk menambah kontrak Wijaya Karya di tahun ini.

Tercatat hingga bulan Agustus lalu, kontrak Wijaya Karya yang baru sebesar Rp12,7 triliun.

Jumlah itu masih terbilang rendah, yakni setara dengan 36 persen dari target kontrak Wijaya Karya tahun ini, yang ditetapkan sebesar Rp35 triliun.

Untuk itu, di sisa tahun ini dari Oktober hingga Desember, perseroan menargetkan tambahan kontrak Wijaya Karya di bidang bendungan, pembangkit listrik dan jalan tol.

Sekretaris PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, Mahendra Vijaya menjelaskan, pihaknya terus mengikuti berbagai tender baru yang dibuka hingga akhir tahun.

“Masih akan ada tender-tender baru sampai akhir tahun. Kita mengikuti tender senilai 22 triliun,” kata Mahendra, Minggu (26/9/2021).

Namun Mahendra tidak merinci tender proyek apa saja yang sedang diincar itu dalam menambah nilai kontrak Wijaya Karya.

Yang jelas, pihaknya tidak hanya berburu proyek infrastruktur di dalam negeri, tapi juga ke berbagai negara seperti Uni Emirat Arab dan Filipina.

Selain itu, nilai investasi atau belanja modal yang akan dikucurkan perusahaan untuk menggarap proyek tersebut belum ada keterangan secara rinci.

Namun untuk garapan di dalam negeri, BUMN konstruksi ini masih mengerjakan puluhan Proyek Strategis Nasional (PSN).

Target Kotrak Wijaya Karya

Tercatat, ada sebanyak 28 PSN yang sedang digarap WIKA, terdiri dari proyek bendungan, jalan tol, pelabuhan dan EPC.

PSN yang ditarget rampung pada Kuartal IV tahun ini yaitu Bendungan Cipanas, Jalan Tol Serang Panimbang Seksi I, Bendungan Kuwil Kawangkoan Paket I dan Bendungan Sukamahi.

Sebelumnya, pihak perseroan menyampaikan bahwa target kinerja yang telah ditentukan di tahun ini akan direvisi.

Pasalnya kasus Covid-19 di Indonesia yang sempat naik drastis beberapa bulan lalu ternyata berdampak pada operasional perusahaan.

Direktur Wijaya Karya Ade Wahyu mengatakan, salah satu target yang akan direvisi di dalam Rancangan Kerja dan Anggaran belanja (RKAB) adalah nilai kontrak Wijaya Karya.

“Sebelumnya nilai kontrak Wijaya Karya yang baru bisa tumbuh hampir 100 persen. Namun target ini akan diturunkan, dengan proyeksi kontrak baru hanya sekitar 20 persen hingga 27 persen di tahun ini,” ujarnya.

Di sektor pendapatan, perseroan juga menargetkan bisa tumbuh hingga 78 persen di tahun ini, tapi akan diubah di kisaran 20 persen hingga 24 persen.

Untuk target laba bersih WIKA juga akan diturunkan, dari yang awalnya ditarget bisa naik hingga 300 persen, nantinya hanya di angka 20 persen. []

Continue Reading

BNI

Label

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!