Connect with us
PERTAMINA

CEO TALK

Cetak Pertumbuhan Signifikan! Premi Asuransi Asei Tumbuh 60,65% di Semester I/2021

Published

on

Premi

MEDIABUMN.COM, Jakarta – PT Asuransi Asei Indonesia semakin menunjukan jatidirinya sebagai pemain di sektor asuransi keuangan yang handal. Hal ini tercermin dari keberhasilannya membukukan kinerja gemilang pada semester I/2021 dengan memperoleh premi (bruto) sebesar Rp193,49 miliar, dimana capaian tersebut tumbuh sebesar 60,65% (year on year / yoy) berhasil dikontribusikan secara dominan melalui portofolio bisnis asuransi keuangan.

Meskipun tantangan pandemi Covid-19 masih berlanjut, namun Asei optimis mampu meraih seluruh target bisnisnya dengan mencetak pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II/2021 yang tercatat sebesar 7,07%, tentunya menjadi angin segar sekaligus sebagai trigger optimisme bagi pelaku industri dan bisnis di tanah air.

Pertumbuhan ekonomi tersebut tentunya sejalan dengan pertumbuhan yang terjadi pada industri asuransi, dimana industri asuransi secara umum berhasil mencatat pertumbuhan yang positif.

Data teranyar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat perkembangan industri asuransi nasional pada Juli 2021 berhasil menghimpun premi sebesar Rp21,2 triliun. Adapun nilai premi tersebut berasal dari industri asuransi jiwa sebesar Rp13,6 triliun serta industri asuransi umum dan reasuransi sebesar Rp7,6 triliun.

Menurut Direktur Teknik & Pemasaran PT Asuransi Asei Indonesia, Marah Kerma M. Manurung, catatan tersebut tentunya menjadi good opportunity bagi industri asuransi, khususnya bagi Asei sendiri tentunya menjadi peluang sekaligus tantangan dalam memperbesar pangsa pasar untuk bisnis asuransi perdagangan.

Adapun asuransi perdagangan merupakan bagian dari asuransi keuangan yang di dalamnya juga terdapat asuransi kredit dan penjaminan.

Seperti diketahui bahwa tren industri asuransi yang terus mengalami perubahan seiring dinamika yang berkembang membuat para pelaku di industri ini seolah berlomba menangkap peluang dan potensi yang ada.

Pada awal tahun 2021, Asei senantiasa tetap memfokuskan diri terhadap core business asuransi keuangan dengan menitikberatkan agresifitasnya pada segmen asuransi perdagangan.

Dimana sampai dengan semester I/2021, asuransi perdagangan berhasil melampaui target pencapaian pada semester I/2021 atau sebesar 66,02% terhadap target 2021.

Asuransi perdagangan merupakan asuransi yang memberikan ganti rugi terhadap tertanggung dalam hal ini yaitu penjual/eksportir, bank maupun Institusi Keuangan Non Bank (INKB) terhadap kemungkinan risiko kerugian akibat tidak diterimanya sebagian atau seluruh pelunasan pembayaran dari pembeli/importir atau Bank pembuka L/C yang disebabkan oleh risiko komersial dan/atau risiko politik.

Adapun dalam asuransi perdagangan, Asei menawarkan cakupan bisnis yang meliputi asuransi kredit ekspor, asuransi kredit perdagangan, asuransi pembiayaan tagihan ekspor dan asuransi pembiayaan tagihan domestik.

Laman: 1 2

CEO TALK

Asuransi Asei Dorong Penterasi Pasar Asuransi Perdagangan

Published

on

Perdagangan

MEDIABUMN.COM, Jakarta – PT Asuransi Asei Indonesia terus melakukan peningkatan portofolio bisnisnya dengan menyasar market yang potensial melalui berbagai saluran bisnis baik melalui direct sales maupun kerjasama dengan agen dan broker.

Menurut Direktur Teknik & Pemasaran PT Asuransi Asei Indonesia, Marah Kerma M. Manurung, untuk asuransi perdagangan, Asei memiliki strategi khusus melalui aliansi strategis dengan lembaga pemerintah, asosiasi dan mitra pengusaha/eksportir lainnya di seluruh wilayah operasional cabang Asei.

“Kami menggunakan istilah building partnership dimana Asei bersinergi dengan Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (DJPEN) dan asosiasi-asosiasi eksportir nasional,” ujar Kerma.

Asei juga mengarahkan seluruh kantor cabang untuk mengadakan pertemuan dengan para eksportir, baik perusahaan besar maupun Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Pertemuan dilakukan untuk mensosialisasikan Asei sebagai perusahaan, sekaligus mengenalkan produk-produk asuransi perdagangan ekspor.

Kantor cabang Asei juga berupaya melakukan pembinaan dan pelatihan kepada UKM di wilayah masing-masing. Hal itu terutama terkait prosedur melakukan ekspor dan pentingnya menggunakan asuransi ekspor dalam melakukan aktivitas perdagangan internasional.

Seperti yang belum lama ini dilakukan di Yogyakarta, dimana Asei melakukan sinergi dengan Kadin DIY dalam mendorong peningkatan serta pengembangan pasar ekspor di wilayah Yogyakarta, sekaligus mengoptimalkan layanan proteksi asuransi terbaik yang dapat diberikan oleh Asuransi Asei.

Dalam kolaborasi yang dibangun bersama Kadin DIY tersebut, ke depannya diharapkan mampu menjawab keraguan para ekportir sehingga mereka merasa terlindungi dan senantiasa terus melakukan penetrasi pasar ke negara-negara potensial sekaligus dapat terus mencetak eksportir baru yang handal dan berdaya saing.

Menurut Kerma, Asei terus melakukan sosialisi terkait adanya produk asuransi perdagangan khususnya kepada UKM-UKM yang tersebar di seluruh nusantara. Pasalnya, masih banyak yang belum mengetahui keberadaan adanya asuransi perdagangan.

“Ini yang menjadi PR bagi kami untuk terus melakukan campaign brand Asei itu sendiri! Banyak UKM-UKM yang masih belum mengetahui keberadaan Asei sebagai asuransi yang memberikan proteksi terhadap usaha perdagangan. Ini yang menjadi tugas kami mengudaksi kepada mereka betapa pentingnya proteksi terhadap keberlangsungan usaha mereka,” jelas Kerma.

Lebih lanjut Kerma mengatakan bahwa dalam rangka HUT PT Asuransi Asei Indonesia ke-7, Asei akan melakukan sosialisasi produk asuransi kredit perdagangan kepada target sekitar 400 eksportir.

“Dimana nantinya tentu akan disampaikan bahwa Asei hadir dengan menawarkan produk asuransi perdagangan yang mampu memberikan proteksi atas kegagalan pembayaran dari pembeli, sehingga para eksportir tidak perlu khawatir akan risiko-risiko yang akan dihadapi terutama terkait transaksi perdagangannya,” ujar Kerma.

Asei, seperti diketahui memiliki perjalanan panjang yang mampu mengasah pengalaman dan kemampuan dalam mengelola bisnis asuransi khususnya perdagangan (ekspor). Asei merupakan pelopor dalam penjualan Asuransi Perdagangan.

Berdasarkan sejarahnya, dimana sejak tahun 1985 (dengan nama awal PT Asuransi Ekspor Indonesia/Persero) perusahaan ini didirikan oleh pemerintah dalam rangka komitmen pemerintah untuk mendorong peningkatan ekspor nasional serta meningkatkan pembangunan ekonomi. Di sisi lain, Asei juga dipercaya pemerintah sebagai Export Credit Agencies (ECA) Indonesia (Lembaga Asuransi Ekspor Dunia).

“DNA-nya Asei itu adalah asuransi ekpor dalam hal ini adalah perdagangan! Dengan pengalaman tersebut, ke depan kami optimis mampu memenangkan persaingan dan dapat tumbuh sebagai market leader,” pungkas Kerma.

Asei juga memiliki hubungan yang sangat baik dengan jaringan bisnis internasional, dimana Asei memiliki memiliki sinergi dengan lembaga-lembaga Export Credit Agencies (ECA) internasional, seperti NEXI-Jepang, KSure-Korea, TEBC–Taiwan dan beberapa ECA lainnya.

“Asei terdaftar sebagai anggota asosiasi berskala internasional antara lain yaitu Berne Union (lembaga asuransi ekspor dunia) dan Aman Union atau dikenal dengan Export Credit Agencies (ECA),” pungkas Kerma.

DORONG DIGITALISASI

Asuransi Asei senantiasa terus mengedepankan pelayanan yang prima dengan memberikan beragam kemudahan bagi para nasabahnya. Dalam upaya mendorong pelayanan tersebut, Asei tentunya bersandar kepada pelayanan berbasis teknologi digital sebagai backbone dalam mendukung kelancaran proses operasional bisnisnya.

Terlebih di masa pandemi saat ini, dimana seluruh industri dipaksa bergerak cepat untuk beradaptasi dengan segala bentuk perubahan dan dinamikanya.

“Kami terus mendorong digitalisasi dalam segala proses bisnis utamanya di pandemi saat ini. Seluruh kebutuhan meeting manajemen baik itu dari kantor pusat maupun cabang dilakukan melalui zoom. Karena memang kondisi ini memaksa kita agar secepatnya bisa beradaptasi terhadap teknologi digital,” ujar Kerma.

Lebih lanjut Kerma mengatakan bahwa di tengah kondisi yang cukup sulit tersebut, manajemen Asei senantiasa terus melangkah untuk melakukan perbaikan di segala aspek pelayanan melalui dukungan sistem teknologi informasi.

“Kami terus melakukan improvement terhadap layanan yang diberikan kepada seluruh mitra bisnis melalui dukungan teknologi,” tambah Kerma.

Dengan proses pengembangan IT yang terus dilakukan, imbuh Kerma, ke depannya diharapkan keseluruhan kegiatan operasional perusahaan khususnya dalam pemberian layanan kepada nasabah dapat terintegrasi dan mudah diakses.

Saat ini Asei juga terus berupaya menghadirkan beberapa layanan yang berbasis mobile app. Sistem aplikasi ini hadir untuk menunjang kegiatan pemasaran yang lebih massif di seluruh wilayah operasional bisnis perusahaan, di tengah pemberlakuan social distancing saat pandemi Covid-19.

Selain itu, percepatan kinerja bisnis juga dilakukan melalui program host to host dengan sumber bisnis. Hal lain yang menjadi prioritas di tahun 2021 yaitu dukungan sistem IT dalam merespon keluhan dan saran dari nasabah.

Perdagangan

Karena menurut Kerma, Asei akan mampu mencapai pertumbuhan secara berkelanjutan apabila terus melakukan perbaikan dengan tetap memprioritaskan pelayanan yang prima.

Pengembangan teknologi tersebut tentu juga berjalan beriringan dengan pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia) Asei. Kerma mengatakan bahwa manajemen terus mendorong kompetensi SDM yang mampu berdaya saing pada industri.

“Selain softskill dan hardskill, SDM Asei yang rata-rata dihuni oleh generasi milenial ini tentu memiliki integritas yang tinggi dalam pekerjaan. Bukan hanya kemampuan dalam bekerja saja, manajemen juga senantiasa mendorong agar SDM Asei menanamkan sikap yang amanah dalam bekerja, berkompeten, harmonis terhadap lingkungan, loyal terhadap perusahaan, adaptif dan mampu bersinergi dengan baik (kolaboratif). Hal tersebut merupakan bentuk implementasi Asei terhadap core value AKHLAK BUMN yang gaungkan oleh Menteri BUMN Erick Thohir,” Tutup Kerma. []

Continue Reading

CEO TALK

275 Tahun Pos Indonesia: Menjalankan Dua Peran dengan Baik

Published

on

Pos Indonesia

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Pos Indonesia memiliki 2 peran strategis yaitu sebagai korporasi perseroan harus mencetak profit, sementara di sisi lain, sebagai perusahaan milik negara, Pos Indonesia juga mengemban tugas menjadi agen pembangunan.

“Sesuai arahan menteri BUMN, bagaimanapun BUMN itu patuh terhadap UU perseroan, tapi juga patuh terhadap UU BUMN dan UU anti monopoli. Kami membantu pemerintah sebagai agen pembangunan, tetapi juga harus profit,” paparnya.

Untuk menjalankan kedua peran tersebut secara seimbang, perusahaan berupaya melakukan perhitungan dan analisis bisnis secara matang. Hal itu dibutuhkan agar perusahaan tidak mengalami kerugian, terutama di masa kritis seiring kondisi pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Saat ini, perusahaan membantu pemerintah untuk menyalurkan bantuan sosial tunai kepada 10 juta keluarga. Tak hanya itu, Pos Indonesia juga membantu Perum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) untuk menyalurkan beras kepada 14 juta keluarga. Kedua tugas itu harus dilakukan secara efektif, efisien, dan cepat.

“Otomatis semua sumber daya kami kerahkan di seluruh cabang untuk menjalankan kedua tugas tersebut. Karena ini menyangkut kesejahteraan masyarakat, jadi harus terus berupaya dilakukan dengan cepat,” ujar Faizal.

Di sisi lain, imbuh Faizal, ketika menjalankan tugas negara, peran Pos Indonesia sebagai perusahaan yang mencari keuntungan menjadi sedikit tertunda. Untuk itu, perusahaan perlu mencari formulasi yang tepat agar kedua peran bisa berjalan secara seimbang.

Menurut Faizal, pada intinya adalah perusahaan selalu berupaya menyelesaikan tugas membantu program pemerintah secara optimal. Hal itu dilakukan tentu dengan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat.

“Seninya menjadi perusahaan negara di sini, bagaimana tugas pemerintah selesai, tapi bisnis juga harus tetap tumbuh. ini menariknya menjadi BUMN,” pungkas Faizal.

Terkait bisnis, Menteri BUMN Erick Thohir pernah berpesan kepada dirinya bahwa agar Pos Indonesia terus berfokus mengembangkan lini bisnis utama, yakni bisnis layanan logistik dan jasa keuangan.

Saat ini, lanjut Faizal, ongkos logistik nasional diperkirakan mencapai 23% terhadap produk Domestik Bruto (PDB). Artinya, angka ini sangat besar. Dia memberi gambaran, dalam aktivitas produksi barang, alokasi ongkos logistik di Indonesia mencapai 20% terhadap biaya. Padahal di negara-negara lain, ongkos logistik hanya berkisar 9%-13% dari komponen biaya.

Artinya, barang-barang buatan Indonesia akan sangat sulit untuk berkompetisi dengan produk buatan luar negeri. Maka itu, Erick Thohir meminta Pos Indonesia bersama dengan sejumlah BUMN lain untuk membantu pemerintah menekan ongkos logistik.

Selain itu, imbuh Faizal, Pos Indonesia juga diminta untuk meningkatkan inklusi finansial. Pasalnya, masih ada 40% lebih penduduk indonesia yang tidak memiliki rekening bank.

Maka itu, perusahaan harus berupaya membantu pemerintah melakukan literasi keuangan, agar masyarakat berpikir pentingnya melakukan transaksi non-tunai (cashless) demi efisiensi.

Saat ini, Pos Indonesia terus mendamping Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk melakukan literasi keuangan. Dalam hal ini, perusahaan menggarap kalangan yang tidak dijangkau oleh Himbara.

Ke depan, Faizal berharap masyarakat dapat menggunakan produk-produk Pos Indonesia, baik produk fisik maupun inovasi digital yang diciptakan oleh perusahaan, salah satunya Aplikasi Pospay.

Selain itu, Pos Indonesia juga menyiapkan kurir layanan pengiriman dalam waktu satu hari. “Sampai saat ini, tingkat ketepatan waktu pengiriman PT Pos juga sudah berada di atas 92%, baik pengiriman di dalam negeri maupun di luar negeri,” tutur Faizal.

Continue Reading

CEO TALK

275 Tahun Pos Indonesia: Solid Membangun Transformasi, Pos Indonesia Tiada Henti Berinovasi Hadapi Persaingan

Published

on

Pos Indonesia

MEDIABUMN.COM, Jakarta – 275 tahun menjadi perjalanan panjang bagi PT Pos Indonesia (Persero) untuk hadir melayani seluruh kebutuhan perposan di tanah air. Dengan pasang surut yang dialami dari masa ke masa, tentu telah mengasah pengalaman dan kemampuan perusahaan dalam menghadapi segala bentuk tantangan.

Seperti saat ini, dimana Pos Indonesia tengah dihadapi oleh persaingan yang begitu ketat. Namun dengan semangat transformasi yang tengah dibangun, Pos Indonesia kian solid dan optimis menghadapi berbagai tantangan dengan menghadirkan beragam inovasi yang tentunya sangat relevan dengan kebutuhan zaman.

Metamorfosa terus-menerus bergulir meskipun pada kenyataannya berbagai tantangan mampu dilalui BUMN orange ini dengan baik meskipun tidak mudah. Pos Indonesia mampu melewati berbagai fase perubahan zaman dengan tantangan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan di zamannya.

Namun sekali lagi, faktanya hingga kini Pos Indonesia masih berdiri kokoh menjalankan visinya menjadi postal operator, penyedia jasa kurir, logistik dan keuangan paling kompetitif.

Terkait tantangan di usia yang ke 275 tahun, Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero), Faizal Rochmad Djoemadi mengaku sangat optimis mampu mendayung kapal besar bernama Pos Indonesia untuk melaju dengan cepat mengejar sejumlah ketertingalan dari para kompetitor.

“Dunia bisnis sesungguhnya merupakan perang tanpa batas. Selama dunia ini diciptakan, selama itu pula peperangan bisnis terus berlangsung, dan baru benar-benar akan berhenti sampai zaman berakhir. Maka, siapa saja yang bisa bertahan dalam peperangan tanpa batas, korporasi itu adalah pemenangnya,” jelas pria kelahiran Blitar 12 Desember 1967 tersebut.

Menurut Faizal, korporasi yang hebat sesungguhnya bukanlah perusahaan yang selalu menang, tetapi yang pernah kalah dan bisa segera bangkit dari kekalahan. Di usia yang ke-275 tahun, Pos Indonesia terus belajar tentang kemenangan dan kekalahan. Hal ini menjadi modal luar biasa untuk melanjutkan kemenangan-kemenangan berikutnya di depan mata.

Saat ini, imbuh Faizal, Pos Indonesia mengalami sejumlah tantangan di seluruh portofolio bisnisnya. Perusahaan memiliki empat lini bisnis utama, yakni layanan jasa kurir, layanan keuangan, layanan logistik, dan layanan properti.

Selain itu, Pos Indonesia juga memiliki satu lini bisnis lain yakni afiliasi yang bergerak di bidang outsourcing, baik penyedia tenaga kerja maupun penyewaan kendaraan. Di dalamnya, terdapat pula aktivitas dua lembaga pendidikan milik perusahaan, yakni Politeknik Pos Indonesia dan Sekolah Tinggi Manajemen Logistik.

Tantangan 5 Portofolio Bisnis

Kelima portofolio bisnis perusahaan tentu memiliki tantangan sendiri-sendiri. Sebut saja pada portofolio layanan jasa kurir atau jasa pengiriman barang di bawah 30 Kilogram (Kg), perusahaan menghadapi persaingan yang cukup ketat dengan hadirnya lebih dari 500 pemain pada industri yang sama.

Hal itu terjadi seiring para pemain bisnis di industri jasa pengiriman telah memperoleh lisensi layanan pengiriman atau penyelenggara pos dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

“Bisnis jasa pengiriman sudah menjadi layaknya komoditas. Kompetisi yang tajam terjadi, baik pada jasa pengiriman yang berskala nasional, regional, maupun lokal,” tutur Faizal.

Continue Reading

BNI

Label

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM

error: Content is protected !!