Bulog: Stop Impor Hingga Tahun 2020

oleh
Bulog

Bulog melalui Direktur Utama Budi Waseso menyatakan bahwa Indonesia tidak perlu mengimpor beras hingga tahun 2020. Meski saat ini kemarau, stok beras di perusahaanumummiliknegarainisudahsangatmelewatibatasaman.

Diketahui bahwa beras yang berada dalam penyimpanan sampai saat ini telah mencapai 2,5 juta ton. Diperkirakan hingga akhir tahun 2019 penyimpanan akan mencapai 3 juta ton. Ini disebabkan karena masih ada beberapa wilayah yang belum melalui masa panen raya.

Lebih lanjut Budi Waseso mengatakan di Jakarta bahwa stok negara 2,5 juta ton di Perusahaan Umum Bulog sangat aman. Stok aman 1 juta sampai 1,5 juta ton. Artinya batas sudah terlewati.

Kondisi penyimpanan yang melimpah di atas membuat Budi Waseso yang akrab disebut Buwas ini berani menjamin bahwa tidak akan ada impor beras hingga 2020. Dengan sistem yang sudah ada Buwas sangat yakin dengan prediksinya. Pada tahun 2018 saja Bulog melalui Buwas sudah menolak 2 juta ton impor beras. Apalagi dengan kondisi saat ini yang sudah berlebih.

Selama tahun 2019, sudah 2 juta ton beras pula yang ditolak impornya. Minimal, masih menurut Buwas impor beras tidak akan dilakukan hingga akhir tahun 2019. Pihak Bolog ingin memajukan petani dan menstabilkan harga beras di pasaran dengan lebih fokus pada beras dalam negeri.

Penyerapan beras dari petani tetap terus dilakukan selama kualitas sesuai standar dan harga sesuai aturan yang ditetapkan.

Penyaluran beras Bulog juga masih bagus. Selama ini, penyaluran beras yang berada dalam penyimpanan melalui mekanisme bansos yang beralih kepada Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Selain itu, ada pula program Ketersediaan Pasok dan Kestabilan Harga melalui operasi pasar.

Buwas, yang pernah menjabat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian Negara Republik Indonesia memang sangat yakin dengan prediksinya. Pengalaman selama di Kepolisian menjadi bekal.

Sebelumnya, Buwas dengan berseru pernah menyatakan bahwa ada mafia beras dan bawang putih di Indonesia. Sekelompok orang yang ingin memperoleh keuntungan sendiri dengan membuat harga tidak stabil.

“Saya paham betul dengan kondisi di lapangan. Penolakan impor beras dilakukan untuk negara dan Bangsa Indonesia, khususnya petani,” tutupnya. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *