Connect with us
PERTAMINA

Farmasi

Bio Farma Ekspor 3.4 Juta Vaksin Untuk Afrika Tengah

MediaBUMN

Published

on

Bio Farma

Bio Farma kembali melepas ekspor produk terbarunya di Kantor Bio Farma Bandung. Adapun produk yang dimaksud adalah Monovalent Oral Polio Vaccine type 2 (mOPV2), yang dikirim ke Anggola sebanyak 3,4 juta dosis. Vaksin-vaksin tersebut akan dipakai untuk pencegahan penyebaran virus polio liar type 2 di kawasan Angola.

Menurut Sri Harsi Direktur Pemasaran, vaksin tersebut merupakan produk yang baru saja mendapatkan Prakualifikasi (PQ) WHO pada bulan Juni 2019 yang lalu. Di mana produk tersebut juga merupakan produk terbaru dari Bio Farma.

“Saat proses produksinya dibutuhkan penanganan khusus. Containment, biosafety dan biosecurity virus polio type 2 menjadi beberapa syarat utama yang harus ada dalam proses produksi produk tersebut,” ujarnya.

Dalam pelepasan ekspor perdana tersebut dihadir oleh Jajaran Direksi Bio Farma, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM) yang diwakilkan oleh Rita Endang sebagai Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika dan Prekursor dan Direktur Politik Luar Negeri dan Kerja Sama Pembangunan Internasional Kementerian PPN / Bappenas, Wisnu Utomo.

Bio Farma Dipercaya UNICEF

Penyediaan vaksin mOPV2 ini merupakan kepercayaan dari The United Nations Children’s Fund (UNICEF) kepada Bio Farma. Juga kelanjutan dari permintaan dari the Global Polio Eradication Initiative (GPEI) dan – WHO pada Agustus 2018, untuk melakukan stockpiling mOPV2 yang mana menjadi antisipasi utama bila terjadi global outbreak virus polio liar type 2.

Penyedian vaksin mOPV2 ini sendiri sudah tersedia sebanyak 60 juta dosis. Dan teknis pengiriman ke negara tujuan UNICEF yang mengatur semuanya. Setelah pengiriman vaksin ke Angola, rencana pengiriman berikutnya adalah Somalia dengan jumlah sebanyak 633 ribu dosis kemudian ke Ethiopia dengan dosisi sebanyak 1.14 juta. Komunika secara intensif terus terus dilakukan dengan UNICEF terkait jadwal pengirimannya.

Karena tidak hanya 60 juta dosis finished product, Bio Farma pun harus menyediakan 350 juta dosis mOPV2 dalam bentuk bulk (konsetrat vaksin mOPV2). Untuk penyediaan mOPV2 ke dalam bentuk bulk ini juga merupakan bagian dari the Global Bulk Stockpile sesuai permintaan GPEI-WHO melalui UNICEF sebagai procurement agency WHO.

Kepercayaan Dunia Terhadap Bio Farma

Direktur Produksi, Juliman menuturkan bahwa dengan dipilihnya Bio Farma sebagai penyedia tunggal bulk mOPV2 tersebut, merupakan gambaran kepercayaan dunia kepada Bio Farma, yang dapat mempertahankan kualitas produknya selama ini. Bahkan sudah sesuai dengan standar Badan Kesehatan Dunia (WHO) dan BPOM, yakni pada sisi safety, quality, efficacy dari produk-produk yang dihasilkan oleh Bio Farma.

Juliman mengatakan, vaksin yang akan digunakan untuk program imunisasi di negara yang berada di kawasan Afrika Tengah tersebut, merupakan vaksin terbaru buatan Bio Farma yang baru saja mendapatkan Pre-Qualification World Health Organization (PQ-WHO) pada bulan Juni 2019 yang lalu.

Kemudian berlanjut pada kepercayaan dunia kepada Bio Farma, untuk mendukung program WHO terutama dalam program eradikasi penyakit polio secara global, dan kepercayaan dari UNICEF ini juga sejalan (in-line) dengan program WHO. Yakni, “Polio Eradication and Endgame Strategic Plan 2019-2023”.

Adapun pihak yang turut berada dibelakang kesuksesan Bio Farma adalah seperti BPOM dan Indonesian National Authority for Containment (I-NAC)

Rita Endang selaku Direktur Pengawasan Produksi Obat, Narkotika, Psikotropika dan Prekursor, BPOM, mengatakan bahwa sudah menjadi komitmen BPOM untuk terus mendukung Bio Farma dan industri farmasi Indonesia lainnya agar bisa maju dan mengekspor produk ciptaan mereka.

Dengan keberhasilan Bio Farma ini, Rita sangat berharap agar PT Bio Farma dapat masuk ke pasar global secara lebih luas terhadap produk biologi lainnya membuka peluang kerja sama dengan negara lain. Terutama, untuk bidang alih teknologi bagi kemandirian industri. []

Farmasi

Industri Bahan Baku Obat Bakal Digarap Pertamina

EKO PRASETYO

Published

on

Industri bahan baku obat

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Industri bahan baku obat akan dikembangkan oleh PT Pertamina (Persero) sebagai bisnis baru perusahaan.

Rencananya PT Pertamina akan menggarap industri bahan baku obat jenis parasetamol dari bahan baku Propylene dan Benzene dengan mengggandeng Kimia Farma.

General Manager PT Pertamina (Persero) Refinery Unit IV Cilacap, Joko Pranoto mengatakan, pengembangan industri bahan baku obat ini sudah dilakukan kajian oleh Pertamina.

Pertamina pun telah menetapkan bahwa produk petrokimia akan menjadi lini bisnis yang dapat diandalkan di masa depan.

“Pertamina memang mencoba mengidentifikasi peluang untuk masuk pada bahan baku farmasi dan logistik. Bersama Kimia Farma kami pun sudah melakukan penjajakan, bahkan telah dituangkan dalam nota kesepahaman,” kata dia.

Dijelaskannya, MoU itu ditandatangani Dirut PT Kilang Pertamina Internasional dan Dirut Kimia Farma secara virtual pada akhir Juli 2020 lalu.

Nantinya Kilang Pertamina di Cilacap akan memproduksi Benzene sebanyak 120 ribu ton per tahun dan Propylene 160 ribu ton per tahun.

Dengan angka tersebut, pihak Pertamina optimis mampu menjadi salah satu penopang kebutuhan industri bahan baku obat.

Sementara Direktur Jenderal Industri Kimia Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian RI, Muhammad Khayam mengapresiasi langkah Pertamina tersebut.

Menurutnya, Kementerian Perindustrian akan sangat mendukung upaya pengoptimalan nilai tambah produk petrokimia menjadi bahan baku obat.

“Kerja sama kedua BUMN untuk pengembangan industri bahan baku obat kami harapkan bisa meningkatkan daya saing industri kimia nasional,” ujar Khayam, saat mengunjungi Kilang Cilacap, Rabu, (16/9/2020).

Inisiatif dari Pertamina ini, menurutnya sejalan dengan arahan Presiden RI untuk meningkatkan kemandirian industri farmasi nasional.

Langkah ini juga akan membantu menurunkan defisit neraca perdagangan Indonesia di sektor farmasi, karena kebutuhan farmasi nasional masih didominasi barang impor hingga 95 persen.

Kerja sama industri bahan baku obat antara Kimia Farma dan Pertamina juga diharapkan dapat memberi manfaat yang signifikan kepada kedua pihak.

“Apalagi di saat pandemi covid-19 ini berbagai upaya ditempuh demi keberlangsungan roda perekonomian. Karena hampir semua sektor industri terkena imbasnya. Tapi industri farmasi masih mencatatkan kinerja positif karena adanya peningkatan permintaan obat dan suplemen untuk menghadapi wabah tersebut,” pungkasnya. []

Continue Reading

Farmasi

Bangun Pabrik Paracetamol, Erick Thohir: “BUMN Tekan Impor”

CHRIESTIAN

Published

on

Bangun pabrik

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Bangun pabrik Paracetamol di dalam negeri menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menekan impor.

Karena selama ini paracetamol menjadi salah satu obat yang harus di impor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan bahwa pemerintah terus melakukan upaya strategis dalam menekan angka impor khususnya obat-obatan maupun alat kesehatan.

Erick menyebut jika perusahaan pelat merah yang berada pada klaster BUMN kesehatan dinilai sangta siap untuk bangun pabrik dalam hal ini paracetamol di dalam negeri.

Selain itu, lanjut Erick, upaya bangun pabrik tersebut menjadi salah satu bagian program konsolidasi BUMN klaster kesehatan.

“Bagian dari konsolidasi BUMN klasterisasi kesehatan dimana Bio Farma akan digabungkan dan refocusing Indo Farma dan Kimia Farma. Dimana Kimia Farma akan fokus dalam menekan impor obat,” Papar Erick (16/9).

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa BUMN akan bangun pabrik paracetamol yang selama ini terus didatangkan dari luar negeri.

“Indofarma nantinya akan difokuskan kepada obat-obatan herbal,” ujar Erick.

Nantinya BUMN klaster kesehatan akan disinergikan dengan grup Rumah Sakit (RS) BUMN yang jumlahnya sudah mencapai 70 Rumah Sakit.

Bukan hanya BUMN kalster kesehatan, Seperti diketahui bahwa Kementerian BUMN tengah fokus melakukan konsolidasi klasterisasi secara keseluruhan yang saat ini berjumlah 12 klaster bisnis.

Antara lain yaitu klaster pariwisata dan pendukung yang terdiri dari hotel, ritek, Airport, kawasan wisata, serta industri penerbangan. Selain itu juga klaster produsen semen.

“Kita akan terus berupaya menciptakan ekosistem bisnis yang baik dengan swasta,” ujarnya.

Dengan adanya klasterisasi tersebut diharapkan akan mengundang ketertarikan investor baik dari luar maupun dalam negeri.

“Pemerintah juga tengah giat membangun kawasan industri seperti di Batang yang memiliki lahan seluas 4.000 hektare,” terang Erick. []

Continue Reading

Farmasi

Vaksin Covid-19 Dari Pemerintah, Erick Thohir : Akan Dibagi Dua!

EKO PRASETYO

Published

on

Vaksin covid-19

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Vaksin covid-19 yang disiapkan pemerintah untuk imunisasi massal kepada masyarakat rencananya akan dibagi menjadi dua.

Pembagian yang dimaksud yaitu vaksin bantuan pemerintah untuk masyarakat yang membutuhkan dan vaksin mandiri kepada warga yang mampu.

Hal ini disampaikan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir dalam acara Dies Natalis 63 Tahun Universitas Padjajaran, Jumat (11/9/2020).

Menurut Erick, untuk vaksin covid-19 bantuan pemerintah diusulkan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Vaksin jenis ini hanya diberikan kepada masyarakat kurang mampu yang membutuhkan berdasarkan data BPJS Kesehatan.

“Untuk penerima vaksin, kita pakai data milik BPJS Kesehatan sesuai data PBI, jumlah pesertanya sekitar 93 juta masyarakat yang membutuhkan,” kata Erick.

Sementara bagi masyarakat yang ekonominya mampu diharapkan menggunakan vaksin secara mandiri.

Hal ini disampaikan berkaca pada penyaluran subsidi yang selama ini sudah dikucurkan tapi tidak tepat sasaran.

“Kami sangat mengharapkan masyarakat yang mampu itu agar bisa membantu keuangan negara, jadi vaksinnya tidak gratis. Karena banyak sekali subsidi-subsidi seperti listrik, pupuk dan banyak lagi justru dimanfaatkan individu yang tidak membutuhkan,” tegasnya.

Erick Thohir mengaku telah bertemu kalangan pengusaha salah satunya Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

Dari hasil pertemuan itu, pihak pengusaha memberikan respons positif dan berkomitmen membeli vaksin mandiri, bukan gratisan.

“Mereka ingin bagian vaksin mandiri yang mereka beli sendiri. Bahkan komitmen pegawainya pun mereka yang beli semua. Ini hal yang bagus mengurangi beban keuangan negaa,” tandasnya.

Keputusan Tepat

Di sisi lain, mantan Presiden Inter Milan ini mengatakan, lockdown menjadi wacana yang hangat dibahas saat awal pandemi Covid-19.

Namun, kebijakan itu tidak diambil oleh pemerintah Indonesia karena lockdown benar-benar dimatikan sebuah daerah.

Terkait hal itu, Erick menyebut keputusan Presiden Jokowi sudah tepat, dimana hasilnya saat ini di mana ekonomi Indonesia masih lebih baik dari pada negar-negara lain yang tergabung di G20.

Bahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih baik dibanding negara-negara Asia Tenggara.

“Saya yakin keputusan Bapak Jokowi sejak awal sudah tepat. Kalau kita lihat sekarang hasilnya, perlambatan ekonomi yang ada di Indonesia jauh lebih baik dibandingkan negara-negara G20. Seperti Prancis, Amerika, India, dan lain-lain. Termasuk di Asia Tenggara, negara-negara tetangga kita justru mengalami krisis yang lebih berat,” terangnya.

Maka itu, Erick berharap ekonomi Indonesia masih bisa bertumbuh 0 persen atau paling tidak tumbuh positif.

“Kita berharap di kuartal ketiga dan keempat atau sampai akhir tahun 2020, kita bisa bergerak dari 0 plus sedikit, kalau pun pertumbuhannya minus jangan banyak-banyak,” pungkasnya. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM