Connect with us
PERTAMINA

Finansial

Bank BUMN Digadai ke China, Isu Ini jadi Pemicunya!

MediaBUMN

Published

on

Bank BUMN digadai

Bank BUMN digadai ke bank milik Cina menjadi berita keuangan yang ramai dibicarakan dan menjadi sorotan belum lama ini. Untuk itu, DPR mengadakan Rapat Dengan Pendapat (RDP) dengan Direktur Utama Bank BUMN.

Salah seorang anggota DPR dalam dengar pendapat, anggota DPR Komisi XI Eva Sundari mempertanyakan isu yang berkembang di atas. Menurut Eva, dirinya menggarisbawahi dua hal yang menyebabkan isu Bank BUMN digadai ke Cina.

Yang pertama, Bank BUMN memperoleh pinjaman dari Cina Develompent bank (CDB) beberapa waktu lalu. Sementara, kondisi keuangan di Indonesia dianggap sedang rapuh. Masyarakat khawatir jika utang kepada Cina tidak terbayarkan akan seperti Srilanka atau Afrika. Bank BUMN yang tidak dapat membayar utang akan disita karena sudah digadaikan.

Kedua, dikhawatirkan Bank BUMN tidak dapat membayar utang. Kondisinya sedang lemah karena harus membiayai banyak program pembangunan dan infrastruktur pemerintah. Eva sengaja mempertanyakan isu Bank BUMN digadai ke Cina karena ingin mendengar jawaban langsung dari Bank BUMN.

Bantahan Bank BUMN Digadai ke Cina

Menanggapi pertanyaan Eva, Direktur Utama Bank Mandiri, Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan bahwa, sebelumnya Bank Mandiri sudah dipanggil Komisi VI terkait dengan utang kepada CDB.

Pinjaman kepada CDB yang dilakukan Bank mandiri atas dana sebesar US$1 miliar atau sekitar 14 triliun skemanya business to business tanpa melalui Himbara atau Himpunan Bank Negara. Transaksi yang terjadi murni bisnis dan tidak menggadaikan Bank Mandiri sebagai salah satu Bank BUMN.

Direktur Utama Bank Mandiri juga menyampaikan, bahwa tidak ada Bank BUMN yang digadaikan. Contohnya, Bank Mandiri yang dipimpinnya. Total pembiayaan yang diberikan sangat kecil jika dibandingkan dengan total pembiayaan bank secara keseluruhan.

Aset semua Bank BUMN juga cukup besar sehingga tidak mungkin digadaikan. Bank Mandiri sendiri mempunyai aset sebesar Rp1.200 triliun, jauh lebih besar dari pinjaman yang sebesar Rp14 triliun.

Selain itu, pinjaman Bank BUMN tidak hanya ke Cina. Bank juga meminjam dana dari JP Morgan, Deutsche Bank. Statusnya sama, tidak ada masalah dengan pinjaman yang berskema business to business. Tidak ada yang namanya Bank BUMN digadai ke Cina. []

Perbankan

bjb PENtas Iringi Langkah Pemerintah, Wujudkan Infrastruktur & Pengembangan UMKM di Jawa Barat

MediaBUMN

Published

on

PEN

MEDIABUMN.COM, Jakarta – bank bjb konsisten berkontribusi dalam agenda percepatan pemulihan ekonomi nasional (PEN) lewat berbagai agenda dan program yang dijalankan, menyalurkan bantuan kebencanaan, melakukan pelatihan dan pendampingan kepada para pelaku UMKM serta distribusi dan ekspansi kredit memanfaatkan porsi penempatan uang negara sebagaimana PMK nomor 104/PMK.05/2020 tentang Penempatan Dana Dalam Rangka Pelaksanaan Program Pemulihan Ekonomi Nasional..

Suntikan permodalan kepada sektor produktif merupakan implementasi dari penyaluran dana program PEN yang dicanangkan pemerintah. bank bjb optimis target leverage dana PEN dari 2,5 triliun yang ditempatkan dapat terpenuhi sesuai target mengingat capaian penyaluran saat ini bisa ditorehkan dalam waktu singkat.

Bentuk perwujudan komitmen bank bjb untuk mendorong laju perekonomian khususnya di Provinsi Jawa Barat (Jabar) melalui program dengan sebutan bjb PENtas (Penguatan Ekonomi Nasional Tangguh dan Sejahtera) yang merupakan inisiasi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil salah satunya adalah melalui dukungan pembiayaan kepada segmen UMKM dan sektor produktif padat karya. Pada hari ini, Kamis (25/9/2020) bertempat di Gedung Pakuan, Jl. Cicendo No.1 Bandung, bank bjb melakukan penandatangan perjanjian kredit dengan PT. Jasa Sarana yang merupakan holding badan usaha milik daerah (BUMD) di bidang infrastruktur. Perjanjian Kredit ditandatangani oleh Pemimpin Divisi Korporasi & Komersial bank bjb, Dicky Syahbandinata dan Direktur Utama PT Jasa Sarana, Hanif Mantiq serta turut disaksikan oleh Direktur Komersial & UMKM bank bjb, Nancy Adistyasari, Direktur Utama bank bjb, Yuddy Renaldi dan Gubernur Provinsi Jawa Barat, Ridwan Kamil.

Direktur Utama bank bjb Yuddy Renaldi mengatakan dukungan keuangan ini disalurkan untuk mendorong upaya mengerek laju perekonomian di Jabar. Pembiayaan ini merupakan bagian dari program bjb Infrastruktur Daerah (INDAH) yang diperuntukkan untuk mendorong pembangunan infrastruktur.

“bank bjb selalu siap sedia menjadi mitra berbagai pihak dengan bertindak sebagai lead maupun arranger dalam mendorong pembangunan daerah. Kami memiliki peran sebagai agen pembangunan yang selalu diimplementasikan dengan dukungan-dukungan nyata, terutama dorongan keuangan guna mempermudah proses pembiayaan infrastruktur yang akan memberi dampak ekonomi dan sosial dalam skala lebih luas,” ujar Yuddy.

Pembiayaan infrastruktur ini diharapkan akan menghadirkan multiplier effect yang mendorong geliat aktivitas ekonomi. Dampak ekonomi dapat dirasakan selama proses pemanfaatan dana untuk pembangunan infrastruktur di mana diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan lebih luas serta dapat menyerap produk-produk dalam negeri.

Dampak ekonomi juga dapat dirasakan lewat manfaat pembangunan infrastruktur yang bertujuan untuk menghubungkan antar kawasan ekonomi mulai dari kawasan pariwisata, industri hingga sentra produksi. Keberadaan infrastruktur akan memperlancar arus distribusi barang, jasa, dan menunjang mobilitas manusia sehingga dapat menekan biaya komoditas serta ongkos perjalanan. Pada gilirannya, akses terhadap berbagai kebutuhan penunjang akan lebih terjangkau oleh masyarakat.

PT Jasa Sarana yang 79,11% sahamnya dimiliki Pemprov Jabar memiliki banyak portofolio investasi infrastruktur di wilayah Jabar baik melalui anak perusahaan maupun melalui skema afiliasi dengan pihak lainnya seperti proyek Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB), Jalan Tol Soreang Pasir Koja dan yang terbaru adalah proyek Jalan Tol Cisumdawu yang masih dalam proses pembangunan.
Jenis pembiayaan yang disalurkan bank bjb adalah kredit modal kerja sebesar Rp50 miliar untuk kebutuhan tambahan modal kerja. bank bjb juga telah menjalin kerja sama penyaluran kredit modal kerja kepada berbagai pihak termasuk dengan BUMD lainnya di Jabar dan Banten. Perseroan juga memastikan program bjb INDAH akan terus didorong demi menopang rencana pembangunan pemerintah daerah.

Untuk segmen UMKM, pada waktu yang bersamaan guna mendukung percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), dilaksanakan pencairan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Mesra atau (Masyarakat Ekonomi Sejahtera) yang diterima oleh beberapa pelaku UMKM dengan nilai pinjaman yang bervariatif. Kucuran pembiayaan ini merupakan bentuk implementasi komitmen bank bjb dalam mendukung penuh program percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) lewat penyaluran permodalan di berbagai sektor usaha produktif khususnya UMKM.

“Pada prinsipnya, kami selalu mendukung penuh berbagai program pemerintah yang berorientasi pada peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. bank bjb juga terus mendorong agar masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah daerah untuk memanfaatkan fasilitas pembiayaan yang kami keluarkan guna mendukung program maupun usaha yang dijalankan agar memberikan hasil optimal,” tutup Yuddy.

Sebagai infomasi, sampai dengan 20 September 2020, realisasi dana PEN yang telah disalurkan sudah lebih besar dari dana yang ditempatkan yaitu Rp2,6 triliun, 51% apabila leverage penyaluran sebesar 2 kali atau Rp5 triliun. Adapun lebih dari 80% penyaluran dana PEN tersebut disalurkan kepada sektor produktif dan padat karya.

Continue Reading

Perbankan

Supplier Adhi Karya Dapat Kredit PEN Bank Mandiri

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Supplier Adhi Karya

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Supplier Adhi Karya mendapat pembiayaan produktif dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebagai bagian dari pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Fasilitas kredit PEN ini akan diberikan kepada supplier atau subkontraktor PT Adhi Karya (Persero) Tbk yang mengerjakan proyek pembangunan di beberapa daerah.

Di antaranya pembangunan jalan tol Banda Aceh-Sigli dan pembangunan depo dan stasiun Light Rail Transit (LRT) Jabodebek.

Kerja sama pembiayaan ini ditandatangani oleh Direktur Utama Bank Mandiri Hery Gunardi dan Direktur Utama PT Adhi Karya Entus Asnawi Mukhson secara virtual di Jakarta, Rabu (23/9/2020).

Kredit PEN untuk supplier Adhi Karya ini nantinya akan digunakan untuk membiayai modal kerja dalam penggarapan proyek.

Dirut Bank Mandiri, Hery Gunardi mengatakan, kerja sama antar kedua perusahaan pelat merah ini adalah sinergi strategis untuk meningkatkan kelancaran roda bisnis perusahaan.

Khususnya untuk pembangunan konstruksi proyek strategis nasional (PSN) dan mendukung kesuksesan program PEN.

Hery berharap pembiayaan value chain ini dapat membantu para supplier Adhi Karya dalam percepatan penerimaan pembayaran.

“Hal itu nantinya akan meningkatkan likuiditas keuangan dan kualitas pengadaan barang dan jasa dalam kedua proyek besar yang masih berjalan,” kata Hery melalui keterangan tertulis, Rabu (23/9/2020).

Pihak Mandiri menargetkan dapat menyalurkan kredit PEN kepada supplier Adhi Karya sebesar Rp1 triliun untuk proyek depo dan stasiun Light Rail Transit Jabodebek.

Sementara untuk proyek pembangunan jalan tol Banda Aceh-Sigli dikeluarkan kredit sebesar Rp250 miliar.

Menurut Hery di tengah kondisi perekonomian yang masih diterpa pandemi, kerja sama yang terjalin ini akan menjadi kesempatan bagi supplier Adhi Karya untuk menjaga likuiditas.

“Ini untuk menjaga kelancaran pengerjaan kedua proyek besar tersebut. Bank Mandiri akan terus mendukung program PEN sebagai solusi permodalan bagi pelaku usaha yang terdampak pandemi Covid-19,” tandasnya.

Sistem pembiayaan yang dikelola oleh segmen SME Banking ini juga diharapkan bisa mendukung langkah pemerintah untuk memulihkan kembali ekonomi yang sempat menurun.

Sejauh ini, segmen SME Banking Bank Mandiri telah menyalurkan kredit PEN sebesar Rp9,61 triliun kepada lebih dari 2.600 debitur.

Adapun total penyaluran PEN dari Bank Mandiri untuk seluruh segmen telah disalurkan kepada 110 ribu debitur dengan nilai kredit Rp37,46 triliun. []

Continue Reading

Perbankan

Lembaga Sertifikasi Profesi BRI Jadi Percontohan BUMN

EKO PRASETYO

Published

on

Lembaga Sertifikasi Profesi

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) resmi diluncurkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebagai lembaga sertifikasi profesi perbankan pertama di Indonesia.

Peresmian LSP BRI ini dinilai bisa menjadi contoh bagi BUMN lainnya untuk peningkatan SDM di tengah perkembangan yang semakin cepat.
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, BUMN merupakan gabungan berbagai individu yang beragam.

Dengan kemajuan saat ini, dibutuhkan pekerja spesialis yang harus kompeten di bidangnya, termasuk manajerial, strategi, dan kepemimpinan yang lebih baik.

“BUMN jadi pabrik untuk membentuk talenta dan membangun SDM masa depan di berbagai bidang spesialisasi. BUMN akan menggerakkan pelatihan pengembangan, sehingga memiliki kompetensi dan spesialisasi masing-masing BUMN,” kata Kartika Wirjoatmodjo saat Launching Lembaga Sertifikasi Profesi BRI, Rabu (23/09/2020).

Kartika mengatakan, setiap BUMN harus ada memiliki spesialis masing-masing.

Seperti Bank BRI bisa sebagai contoh, ke depan akan berkembang ke bisnis dan kemampuan yang lebih spesialis.

“Jangan sampai punya orang-orang yang terlalu generalis, mereka harus bisa punya talenta yang masuk ke sub spesialisasi,” kata Tiko.

Menurut Tiko, permasalahan SDM selama ini adalah sistem pendidikan yang tidak mempersiapkan SDM yang siap bekerja, karena ilmu yang didapatkan kebanyakan teoritis.

Sayangnya hal itu tidak memberikan landasan berpikir untuk untuk adaptasi ke depan dan menghadapi dunia kerja nyata.

“Maka ke depan hanya ada 2 atau 3 kompetensi yang dipertajam. Meningkatkan kemampuan harus dilakukan setelah lulus dari dunia pendidikan agar SDM bisa mengikuti kemajuan zaman,” ujarnya.

Lembaga Sertifikasi Profesi Dorong Kualitas SDM

Hal senada disampaikan Direktur Utama PT BRI, Sunarso yang menyatakan kunci dari transformasi adalah peningkatan kualitas SDM, bukan hanya perkembangan teknologi.

Hal inilah yang membuat BRI mengidentifikasi bahwa karakter bisnis BRI berbeda dengan bank lain, karena lini bisnisnya fokus di sektor UMKM.

Maka talenta yang dicari oleh pihak BRI juga bukan hanya pintar, tetapi harus memiliki modal inteligensi yang kuat, modal sosial dan modal psikologi.

Hal itu menjadi salah satu landasan dari BRI untuk melaunching Lembaga Sertifikasi Profesi di bank pelat merah tersebut.

“Yang kami cari memang yang memiliki tiga modal besar itu. Hal yang penting adalah membangun human capital dan membangun kultur. Jika ingin membuat pondasi yang kuat, maka sistemnya lah yang harus kita ubah,” tandasnya. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM