Connect with us
PERTAMINA

Finansial

Bank BRI Luncurkan Aplikasi BRISPOT

MediaBUMN

Published

on

Bank BRI

Bank BRI tidak mau ketinggalan oleh berbagai aplikasi fintech yang bisa melayani pinjaman langsung cair. Dengan aplikasi BRISPOT, mengajukan pinjaman di BRI bisa dicairkan dalam hitungan jam di hari yang sama.

Padahal, biasanya pengajuan kredit bank perlu waktu yang lebih lama karena berbagai syarat administrasi dan analisa dari pihak bank. Tapi, sekarang proses pengajuan kredit bisa dilakukan lebih cepat bersama Bank BRI dengan aplikasi digitalisasi ini.

Terobosan Bank BRI untuk Kredit Mikro

BRISPOT adalah sebuah terobosan digital dari Bank BRI untuk mempermudah proses kredit mikro yang lebih efisien, cepat, paperless dan digital base. Dengan aplikasi ini, peningkatan efektifitas tenaga pemasar mikro maupun mantri BRI bisa diminimalisir.

Corporate Secretary BRI Bambang Tribaroto mengatakan, bahwa rata-rata produktivitas tenaga pemasar saat ini meningkat sampai 30 persen. Namun, pengguna BRISPOT di segmen mikro oleh tenaga pemasar sendiri sudah mendekati 100 persen.

Aplikasi ini mengandalkan tingkat fleksibilitas untuk para mantri BRI, sehingga bisa leluasa melakukan fungsi pemasaran jemput bola. Proses pengajuan kredit pun bisa dilakukan tanpa harus datang ke kantor. Selain itu, prakarsa kredit dengan sistem end to end juga bisa dilakukan kapan dan di mana saja dengan BRISPOT karena bisa diakses melalui smartphone.

BRISPOT juga telah menerapkan mitigasi risiko yang memadai. Antara lain, fitur geotagging yang berfungsi untuk mendokumentasikan titik lokasi nasabah dengan akurat saat proses kredit dilakukan.

Teknologi tersebut jelas memudahkan pemutus kredit setiap saat untuk bisa melakukan pengecekan berdasar informasi yang ada di sistem. Ini dilakukan sebagai fungsi dual control serta pengawasan untuk memastikan kebenaran proses kredit itu.

Kinerja segmen mikro Bank BRI yang didorong kesuksesan digitalisasi ini berdampak pada proses bisnis lainnya. Salah satunya adalah turut berkontribusi dalam pencapaian kredit di segmen mikro ini. Hal tersebut dilihat dari pertumbuhan kredit mikro yang mencapai 14,5 persen setelah implementasi BRISPOT.

Ke depannya, BRI akan terus mengembangkan teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas dan bisnis perseroan. []

Perbankan

Penyaluran KUR Pertanian, Upaya Bank BUMN Tangkal Dampak Corona

GUNADI WITJAKSONO

Published

on

Penyaluran KUR pertanian

MEDIABUMN, Jakarta – Penyaluran KUR pertanian menjadi salah satu upaya yang dilakukan bank BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dalam menangkal dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19. Adapun Nilai yang dialokasikan untuk penyaluran KUR pertanian ini mencapai Rp50 triliun.

Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, dana KUR ini bisa dimanfaatkan para petani di seluruh Indonesia. penyaluran KUR pertanian oleh Bank BUMN dalam jangka pendek juga diharapkan dapat menangkal dampak pandemi Covid-19.

“Penyaluran KUR pertanian ini juga merupakan satu upaya menangkal dampak dampak pandemi ini agar tidak sampai memukul perekonomian petani. Maka sektor pertanian tidak boleh goyah akibat Covid-19,” kata Yasin Limpo.

Sementara itu Dirjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan mencatat, per 3 April 2020, pelaku usaha tani yang sudah mengakses KUR sebanyak 477.447 orang. Dengan jumlah dana senilai Rp 13.2 triliun. Penyerapan KUR pertanian masih didominasi sektor hulu karena lebih mudah diakses tanpa agunan.

Mentan pun mengajak para petani dan pimpinan daerah di tingkat provinsi dan kabupaten/kota memanfaatkan layanan KUR ini secara optimal untuk meningkatkan kinerja sektor pertanian.

“Program ini sudah ada aturan main yang cukup ketat karena langsung diawasi para pimpinan daerah. Kalau dana ini dimanfaatkan dengan baik, maka tidak perlu lagi petani ngambil pinjaman dari mana-mana yang bunganya besar,” ujarnya.

Dirjen Prasarana dan Sarana (PSP) Kementerian Pertanian, Sarwo Edhy menambahkan, tahun 2020 ini Kementan diamanahkan untuk menyalurkan dana KUR sebesar Rp 50 triliun. Bank yang melayani penyaluran KUR pertanian ini semuanya adalah bank milik pemerintah atau BUMN.

“Penyaluran KUR pertanian ini bekerja sama dengan bank milik BUMN. Syarat mendapat KUR pertanian juga mudah. Namun petani yang bisa mengakses KUR harus memiliki lahan garapan produktif, rancangan anggaran, dan berbagai syarat untuk kepentingan BI Checking,” jelas Sarwo Edhy.

Sejauh ini, Bank Rakyat Indonesia (BRI) menjadi bank penyalur KUR terbesar, yakni senilai Rp 8,4 triliun. kemudian Bank BNI Rp 1,1 triliun, dan Bank Mandiri Rp 1,5 triliun. Sementara Bank BUMN lainnya ditambah bank daerah sebesar Rp745 miliar.

Menurut Sarwo Edhy, pihaknya juga membuka kesempatan untuk bank milik Pemerintah Daerah juga bisa melayani penyaluran KUR. Melalui dana KUR, petani bisa mengembangkan budidaya komoditas pertanian, perkebunan, tanaman hortikultura dan juga peternakan. []

Continue Reading

Jasa Keuangan

Penyaluran Pinjaman Rp13 Triliun dibidik SMF Tahun Ini

CHRIESTIAN

Published

on

Penyaluran pinjaman

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Penyaluran pinjaman sebesar Rp13 triliun menjadi target penyaluran PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) / SMF di tahun 2020 ini.

Target penyaluran pinjaman tersebut sepertinya tidak terlalu terpengaruh oleh langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta perbankan yang sebelumnya memastikan bahwa debitur Kredit Pemilikan Rumah (KPR) berhak mendapat restrukturisasi imbas pandemi Covid-19.

“Kami sebagai perusahaan di sektor pembiayaan sekunder properti sampai saat ini belum merasa terdampak langsung atas kebijakan dari OJK karena counterparts kami yaitu para penyalur KPR,” jelas Direktur SMF Heliantopo (9/4).

Adapun lembaga keuangan yang menyalurkan KPR yaitu multifinance dan perbankan. Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan berdampak terhadap kinerja perusahaan yang menjadi mitra SMF menjadi tertekan.

“Tapi sampai sekarang kami terus mengkaji seberapa besar dampaknya terhadap perusahaan. Kami juga mengkaji akan seperti apa dan berapa lama pandemi covid-19 berlangsung,” pungkasnya.

Target penyaluran pinjaman SMF yang sebesar Rp13 triliun di tahun ini mengalami peningkatan sebesar 4,41 persen apabila dibandingkan dengan realisasi penyaluran pinjaman pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp12,45 triliun.

“Belum kami revisi target tersebut, tapi kami juga harus realistis melihat kondisi perekonomian termasuk properti akibat pandemic Covid-19,” tutupnya. []

Continue Reading

Perbankan

Indikator industri perbankan, dari Normal Kini Berstatus Waspada

CHRIESTIAN

Published

on

Indikator industri perbankan

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Indikator industri perbankan saat ini dalam status waspada. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyebut kondisi industri perbankan masuk level waspada dari sebelumnya berada dalam kondisi normal.

Tidak lain adalah pandemi Covid-19 sebagai biang keroknya! LPS berharap status waspada indikator industri perbankan ini tidak berubah status menjadi buruk.

“Mudah-mudahan indikator industri perbankan tidak memburuk. Namun dengan adanya Perppu 1/2020 dapat memberi keleluasaan untuk mengusulkan langkah strategis apabila kondisi berubah menjadi buruk,” pungkas Ketua Dewan Komisioner LPS Halim Alamsyah melalui video conference, Kamis (9/4).

Akibat pandemi Covid-19, menurutnya, terdapat kenaikan indikator dari normal kepada level waspada.

“Potensi naiknya kredit bermasalah adalah salah satu dampak pandemi tersebut,” tambahnya.

Walau demikian, LPS, imbuh Halim, belum melihat ada pertanda kondisi indikator industri perbankan memburuk.

“Kami juga belum melihat adanya penarikan dana dari para deposan. Jadi dalam waktu dekat ini kami belum terlihat ada tanda-tanda akan mengalami gagal bayar,” ujarnya.

Kondisi indikator industri perbankan yang terjadi saat ini, lanjut Halim, sangat tergantung dari likuiditas perbankan. Menurutnya, perbankan wajib menjaga kepercayaan masyarakat agar mereka tidak menarik dana secara besar-besaran.

“Pelonggaran likuiditas dari Bank Central sangat membantu perbankan menjaga likuiditas serta memberikan rasa kepercayaan terhadap masyarakat.
Salah satunya dengan membuka kesempatan (windows) lelang setiap hari, baik melalui instrumen term repo maupun forex swap.

Melalui kedua instrumen moneter tersebut, bank bisa mendapatkan likuiditas dengan menjaminkan Surat Utang Negara (SUN) yang dimiliki dalam lelang term repo dan valuta asing dalam lelang forex swap. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM