Connect with us
PERTAMINA

Asuransi

Asuransi Jiwa, Pendapatan Tumbuh 31,9 Persen

MediaBUMN

Published

on

Asuransi Jiwa

Asuransi Jiwa pada semester I tahun 2019 mencatat pertumbuhan pendapatan yang mencapai 31,9 persen atau menjadi Rp118,32 triliun dari periode sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp89,73 triliun

Pertumbuhan pendapatan tersebut dikontribusikan oleh hasil investasi pada periode tersebut yang sebesar Rp22,84 triliun. Alhasil investasi Asuransi Jiwa meroket 373,4 persen dari sebelumnya minus Rp8,35 triliun.

Menurut Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon, kenaikan hasil investasi disebabkan membaiknya kondisi pasar modal. Ia menyebut jika pada tahun ini pasar lebih positif dibandingkan tahun sebelumnya.\

“Pertumbuhan klaim reasuransi juga menjadi faktor pertumbuhan pendapatan,” ujarnya.

Adapun pertumbuhan klaim reasuransi mencapai Rp2,66 triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 45,9 persen dari sebelumnya Rp1,83 triliun.

Premi Asuransi Jiwa Negatif

Asuransi Jiwa mencatat total pendapatan premi yang negatif di tengah pertumbuhan pendapatan yang cukup signifikan. Total pendapatan premi turun sebesar 3,6 persen atau menjadi Rp90,25 triliun dari periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp93,58 triliun

Kinerja yang kurang baik tersebut dikarenakan oleh premi bisnis baru yang juga terpantau tumbuh negatif yaitu sebesar 8,8 persen dari Rp59,85 triliun menjadi Rp54,57 triliun.

“Perlambatan premi bisnis baru dipengaruhi oleh lambatnya kinerja saluran agen sebesar 8,6 persen serta saluran distribusi bancassurance yang sebesar 16,8 persen ,” ujar Budi.

Namun demikian, lanjut Budi, premi lanjutan berhasil tumbuh 5,8 persen dari Rp33,73 triliun menjadi Rp35,68 triliun.

Lebih lanjut AAJI, menurut Budi pihkanya mencatat total aset asuransi jiwa pada semester I tahun 2019 sebesar Rp550,38 triliun.

“Total aset tersebut tumbuh 10,1 persen dari sebelumnya Rp499,78 triliun,” pungkasnya.

Selain itu AAJI dikatakan Budi juga mencatat jumlah agen berlisensi dimana pertumbuhannya mengalami penurunan sebesar 0,9 persen dari 603.605 orang menjadi 598.029 orang.

Sementara itu, menurut Ketua Bidang Operasional dan Perlindungan Konsumen AAJI Freddy Thamrin, terjadinya penurunan jumlah agen tersebut dikarenakan perusahaan asuransi anggota AAJI tengah meningkatkan kualitas agen-agen.

“Jadi agen-agen yang dinilai tidak aktif akan dikurangi, sehingga jumlahnya mengalami penurunan. Namun dari sisi kualitas kami yakin kualitas agen kami terus meningkat,” tutup Freddy. []

Asuransi

Jiwasraya dan Asabri Punya 13 Persen Saham PP Properti

Alfian Setya Saputra

Published

on

Jiwasraya dan Asabri

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Jiwasraya dan Asabri tengah menjadi sorotan tajam masyarakat menyusul gagal bayar dana nasabah Jiwasraya dan sejumlah dugaan korupsi di tubuh Asabri yang nilainya fantastis mencapai Rp10 triliun.

Adapun portofolio investasi kedua BUMN asuransi ini pada saham emiten-emiten di lantai bursa mengalami penurunan yang cukup tajam. Salah satunya investasi pada emiten PPRO (PT PP Properti Tbk).

Berdasarkan laporan BEI, sejak awal tahun hingga kemarin (20 Januari) harga saham PPRO terkoreksi hingga 16,18 persen ke level Rp57 per saham. Adapun dalam satu minggu terakhir nilai saham PPRO tergerus hingga minus 13,64 persen.

Kepada mediabumn Direktur Keuangan PT PP Properti Indaryanto mengatakan bahwa apabila dijumlah saham Jiwasraya dan Asabri pada PPRO mencapai 13 persen.

“Porsinya Jiwasraya dan Asabri masing-masing 13 persen dan 5 persen. Sampai dengan kemarin porsi kepemilikan saham kedua perusahaan pelat merah itu belum berubah,” terang Indaryanto.

Pergerakan saham PPRO yang volatil ini menurutnya diluar kendali perusahaan karena seluruh pergerakan saham mengacu terhadap mekanisme pasar.

“Pergerakan saham Jiwasraya dan Asabri yang turun pada PPRO adalah diluar kendali manajemen. Kami tidak tahu soal itu,” ujarnya. []

Continue Reading

Asuransi

Jiwasraya Memanas! Ini Pernyataan Erick Thohir

MediaBUMN

Published

on

Jiwasraya

MEDIABUMN.COM, Jakarta – Jiwasraya sampai dengan saat ini penyelesaiannya masih belum menemukan titik terang, bahkan saat ini isu berkembang menjadi bola panas yang liar.

Bahkan, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir pun tidak terlepas dari tuduhan terkait kasus gagal bayar oleh Jiwasraya. Erick dituduh turut merampok uang nasabah.

“Dibilang saya mengambil uang, saya bingung. Kan baru datang, kita baru mau bersih-bersih,” ujarnya di Tangerang (5/1).

Ia mengaku sangat kesal dengan adanya tudingan tersebut. Bahkan ia juga mendengar ada juga tudingan bahwa ada orang dalam istana terlibat kasus Jiwasraya.

“Bahkan nama Presiden Joko Widodo pun turut disebut-sebut. Ya mohon maaf sekarang banyak diplesetkan. Dibilanglah Pak Jokowi yang ambil, dibilanglah istana yang ambil. Ini kan jangan-jangan kebalik, yang neriak-neriak ini jangan-jangan yang ketakutan ini dibongkar,” tegas Erick.

Lebih lanjut Erick juga mendapat informasi bahwa akan ada demo pada pekan depan. Demo tersebut menyasar kantor Kementerian BUMN, KPK, dan depan Istana Negara.

“Mungkin karena banyak oknum-oknum yang gerah, yang selama ini menjarah Jiwasraya,” lanjutnya.

Pernyataan Erick Thohir Soal Isu Jiwasraya:

Kita membentuk holdingnisasi Jiwasraya. Di mana holdingisasi Jiwasraya ini akan ada cashflow Rp 1.5 triliun – Rp 2 triliun. Sehingga nasabah-nasabah yang selama ini tidak ada kepastian akan ada cashflow bergulir. Karena tidak boleh di setop.

Tetapi yang kita setop tadi, kembalinya oknum-oknum yang merampok Jiwasraya. Mohon maaf, sekarang banyak dipelesetkan, dibilanglah Pak Jokowi yang ambil, dibilanglah istana yang ambil.

Inikan jangan-jangan kita balik, yang teriak-teriak ini jangan-jangan yang ketakutan ini dibongkar.

Bahkan saya dengan minggu depan, Istana, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), dan Kantor BUMN akan di demo. Dibilang saya yang mengambil uang, saya bingung. Baru datang, kita mau bersih-bersih.

Nah ini yang saya tidak tahu. Mungkin banyak oknum-oknum yang gerah yang selama ini menjarah Jiwasraya. Nah sekarang, Pak Jaksa Agung sudah masuk untuk (ditindaklanjuti) ke proses hukum.

Tentunya untuk masalah hukum bukan wilayah saya dan Ibu Sri Mulyani (Menteri Keuangan). Saya dan Ibu Sri Mulyani memastikan nasabah itu mendapatkan kepastian dana yang wajib mereka terima.

Proses itu berlangsung 1-4 tahun. Kita juga cari skema-skema lainnya. Intinya Pemerintah Jokowi mencari solusi dan bertanggungjawab dan tidak melarikan diri.

Tapi kalau dituduh-tuduh dan dibilang kita ini rampok. Saya rasa teman-teman media tahulah siapa yang rampok. []

Continue Reading

Asuransi

Banyak Saham Gorengan di Jiwasraya, Ini Kata Kementerian BUMN & OJK

MediaBUMN

Published

on

saham gorengan

MEDIABUMN.COM, Jakarta – PT Asuransi Jiwasraya (Persero) saat ini sedang diterpa permasalahan serius. Salah satunya adalah banyaknya saham gorengan di Jiwasraya yang notabene perusahaan pelat merah.

Hal tersebut jugalah yang membuat Kementerian Badah Usaha Milik Negara (BUMN) angkat bicara.

Disampaikan Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga di Jakarta, Kamis (21/11), ada tiga persoalan utama yang menjadikan Jiwasraya belum bisa menunaikan kewajibannya kepada para nasabah.

Diketahui Jiwasraya saat ini memang sedang menghadapi masalah setelah terpaksa menunda pembayaran kewajiban polis jatuh tempo.

Hal ini juga membuat persuhaan kesulitan pembayaran polis jatuh tempo terdapat di produk bancassurance.

Apalagi, Jiwasraya pernah menawarkan skema roll over kepada pemegang polis yang pembayaran klaimnya ditunda.

Bahkan untuk nilai Produk JS Saving Plan yang ditunggak mencapai Rp 805 miliar.

Disinyalir persoalan di Jiwasraya semakin keruh hal ini salah satunya dikarenakan perusahaan tersebut sedang mengalami masalah keuangan lantaran kerugian investasi di saham-saham ‘gorengan’ yang dilakukan oleh manajemen Jiwasraya terdahulu.

“Namun ada tiga titik persoalan yang mengarah sulitnya keuangan di Jiwasraya dan tengah diupayakan, pertama produknya memberikan gain lebih tinggi dari produk asuransi lainnya,” kata dia.

Akan tetapi menurutnya hal tersebut agak sulit untuk diteliti lebih jauh.

“Kan produk ada persetujuan dari nasabah, jadi mereka bisa berkelit kalau hal tersebut sudah disetujui, kalau nggak layak kan nggak disetujui,” tambahnya.

Selanjutnya yang kedua, disampaikan Arya, saat ini yang tengah dilakukan adalah meminta untuk segera diselidiki Kejaksaan Agung apakah ada persekongkolan (kongkalikong) sampai membuat investasi yang dibuat jadi kolaps seperti saat ini.

“Karena jika dilihat lihat dari saham perusahaan yang diinvestasikan Jiwasraya adalah betul saham gorengan,” terangnya.

“Saya ini juga kan main saham, jadi tau kalau itu gorengan, fundamentalnya digoreng di saat tertentu. Makanya itu, kita minta Kejaksaan teliti,” tambahnya.
Ketiga disampaikannya, pihak Kementerian BUMN tengah mencari laporan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), laporan tersebut akan menjadi acuan atau pegangan bagi Kejaksaan.

Sementara, di tempat lain, Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Nasrullah juga ikut menanggapi kondisi Jiwasraya saat ini.

“Hal ini memang telah disampaikan. Saat ini Jiwasraya dalam proses penyehatan. Sudah dilakukan sinergi antara pemegang saham dengan manajemen yang baru, apalagi kan pemegang sahamnya itu sudah jelas (pemerintah),” kata Nasrullah.

Nasrullah juga mengatakan, saat ini juga Jiwasraya tengah dalam proses masuknya investor.

Kurang lebih, kata dia, ada 2 sampai 3 calon investor asing yang akan masuk untuk membantu Jiwasraya kembali sehat melalui anak usahanya, yakni Jiwasraya Putra. []

Continue Reading

Trending

Copyright © 2019 MEDIABUMN.COM